Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Fantasi dengan Model Pembelajaran Project Based Learning pada Siswa Kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar Tahun Pelajaran 2024/2025 I Ketut Suar Adnyana; I Gusti Ayu Putu Istri Aryasuari; Ni Nyoman Ayu Riptayani
Widya Accarya Vol. 16 No. 2 (2025): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/wa.16.2.1735.216-235

Abstract

Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa SMP kelas VII adalah memiliki keterampilan dalam membuat cerita fantasi. Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan daya imaji siswa. Daya imajinasi yang diharapkan  adalah daya imajinasi yang terstruktur. Siswa diharapkan menuangkan kemampuan imajinasinya ke dalam bentuk struktur cerita fantasi yang terdiri dari orientasi, konflikasi, resolusi, dan koda. Berdasarkan kajian awal yang dilakukan di kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar, keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi masih rendah. Dari 31 siswa, hanya  hanya 17 orang (55%)  siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (80). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mengalami kendala dalam proses pembelajaran.  Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar dalam menulis cerita fantasi dengan menerapkan model pembelajaran Proyek based Learning (PjBL).  Implementasi PjBL memungkinkan siswa untuk merancang dan mengembangkan tulisan melalui berbagai tahapan, seperti perencanaan, penulisan, revisi, dan penyajian karya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian jenis ini dalam pelaksanaannya memungkinkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa  dalam menulis cerita fantasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar melalui model Project Based Learning (PjBL). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B, sedangkan objek penelitian keterampilan menulis teks cerita fantasi. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif (statistik deskriptif) dan kualitatif (reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan) untuk menggambarkan perkembangan kemampuan siswa dalam menulis cerita fantasi. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil kajian pada siklus I, hanya 15 (48,3%)  siswa yang tuntas. Ada 16 (51,61 %) siswa yang belum tuntas. Persentase jumlah ketuntasan masih tergolong kecil. Kendala yang dialami siswa dalam menulis cerita fantasi setelah diterapkannya model pembelajaran PjBL adalah sebagian besar siswa belum memahami struktur cerita fantasi dengan baik.  Hal ini menyebabkan struktur cerita fantasi yang dibuat siswa tidak sistematis. Sebagian besar siswa belum memaparkan komflikasi dengan baik. Komflikasi yang dibuat siswa terkesan terburu-buru dan siswa secara cepat ingin mencari resolusi terhadap komplikasi tersebut. Setelah dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan dilakukan pembelajaran pada siklus II, keterampilan siswa dalam menulis teks cerita fantasi mengalami peningkatan yang signifikan.  Dari  31 siswa,  sebanyak 30 (96,7%)  dinyatakan  tuntas dalam siklus II. Hanya 1 (3,22%)  orang siswa yang mendapatkan skor di bawah KKM. Hal ini menandakan bahwa PjBL efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra tahun pelajaran 2024/2025 dalam menulis cerita fantasi.
INCLUSIVE EDUCATION IN DENPASAR CITY JUNIOR HIGH SCHOOLS: A STUDY OF SYSTEMIC BARRIERS AND SCHOOL-BASED IMPLEMENTATION STRATEGIES Wayan Meter; I Ketut Suar Adnyana; Putu Ronny Angga Mahendra
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 7 No. 4 (2026): Volume 7 Number 4 (October 2026)
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jpm.v7i4.5874

Abstract

This study aims to analyze systemic barriers in the implementation of inclusive education at junior high schools in Denpasar City and to formulate strengthening strategies oriented toward sustainability and educational equity. The research employed a qualitative approach with a case study design conducted in 12 inclusive junior high schools. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and document analysis, and analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the implementation of inclusive education faces interconnected systemic barriers across three main dimensions: structural, pedagogical, and cultural. Structural barriers include limited operational policies at the school level, the absence of special education teachers, sporadic professional training, high teacher–student ratios, and inaccessible physical infrastructure. Pedagogical barriers are reflected in the limited implementation of differentiated instruction, the absence of systematic Individualized Education Programs (IEPs), and homogeneous teaching practices. Cultural barriers relate to stigma toward students with special needs and a school culture that prioritizes standardized academic achievement. These interconnected barriers create a form of hidden exclusion, where inclusive education operates administratively but not yet substantively. The study recommends strengthening school-level operational policies, providing special education teachers, implementing continuous professional development, improving infrastructure based on universal design principles, and transforming school culture toward valuing diversity as key strategies for achieving equitable and sustainable inclusive education.
PENDIDIKAN INKLUSIF DI SMP KOTA DENPASAR : HAMBATAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASINYA I Ketut Suar Adnyana
Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Keislaman
Publisher : STAI Darul Qalam Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55883/jipkis.v6i2.194

Abstract

Inclusive education is an educational approach that emphasizes the fulfillment of the learning rights of all students, including children with special needs (ABK), in regular education units. Although supported by national policies, the implementation of inclusive education in schools still faces various challenges, both in terms of human resource readiness, infrastructure, and school and community culture. This study aims to identify obstacles faced by schools in implementing inclusive education and formulate strategies to strengthen the implementation of inclusive education that is equitable and sustainable. This study uses a qualitative approach with a case study design conducted at 12 junior high schools (SMP) that provide inclusive education in Denpasar City. The research subjects included school principals, subject teachers, special assistant teachers (if available), parents of students, and students through non-intrusive observation. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, non-participatory observation, and documentation studies. Data analysis used an interactive analysis model that includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions.The research results show that the implementation of inclusive education in junior high schools in Denpasar City has not been optimal, despite government policy support. Implementation still faces various obstacles, including low teacher preparedness, limited disability-friendly infrastructure, high teacher-to-student ratios, minimal support from professional staff, an adaptive curriculum, and weak collaboration between schools, families, and the community. Furthermore, stigma and social resistance toward children with special needs remain major obstacles. These findings indicate that inclusive education is still understood as simply accepting children with special needs without adequate pedagogical and structural support. Therefore, strengthening operational policies, improving teacher competency, developing an adaptive curriculum, providing inclusive facilities, and implementing a continuous evaluation system are necessary.