Claim Missing Document
Check
Articles

The Impact of Yellow Leaf Curl Disease Stage During Vegetative and Generative Phases on The Growth and Yield of Curly Red Chili Pepper OR Twist 42 Suprayogi, Syahtian; Widyawati, Nugraheni; Herawati, Maria Marina
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 14, No 2 (2025): April 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v14i2.483-493

Abstract

Curly chili (Capsicum annum L.) is one of the vegetable commodities widely cultivated in Indonesia which has a high selling value. Although it has a high selling value, chili cultivation has many obstacles, one of which is the attack of pathogens that reduce the yield of curly chili, especially yellow curly leaf disease on agricultural land. Yellow curly leaf disease is always found in chili cultivation and is the main production obstacle in Indonesia that reduces the harvest. This study aims to see the impact of yellow curly disease attacks in the vegetative and generative phases on the growth and yield of curly red chili cultivation. The study was conducted from August 2023 to March 2024 using the field observation method from the beginning of growth to harvest. Observations were made by measuring the parameters of plant height, stem diameter, number of branches, number of productive branches, fallen flowers, fruit weight, fruit length and observation of yellow curly disease pathogens. The results of the study showed that attacks of yellow curly disease in the vegetative and generative phases had a significant effect on the growth parameters and yield of curly red chili plants. From the results of the analysis of yellow curly disease attacks in the vegetative phase, the number of fruits and fruit weight were lower, namely 10.90 and 32.04 grams/tree, compared to attacks in the generative phase which produced 24.27 and 77.67 grams/tree. Keywords: Begomovirus, Generative, Vegetative, Whitefly, Yellow curl.
EFEKTIFITAS KOMPOS “LAMPISLUR” TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI PAGODA (Brassica narinosa L.) Priotomo, Galih Bagus; Widyawati, Nugraheni
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3812

Abstract

Market demand for pagoda mustard greens is increasing, but this increase in demand has not been matched by adequate quality and quantity of production. Providing “Lampislur” compost fertilizer containing high NPK can be an alternative to improving the quality of pagoda mustard greens production. “Lampislur” compost fertilizer is an organic compost fertilizer made from three main ingredients, namely lamtoro leaves, banana peels, and egg shells. Apart from being able to meet plant nutrient needs, this fertilizer is also safe for the environment. This research was conducted using a RAK design with five doses (0 gram, 10 gram, 20 gram, 30 gram, and 40 gram) and five repetitions. Data analysis was carried out using the ANOVA method followed by the 5% BNJ test, and then a correlation test was carried out to determine the effect of planting media on growth and yield variables. The most appropriate mixture of lamtoro leaves, egg shells, and banana peels for growing pagoda mustard greens is 40 grams of fertilizer, which has the best growth and yield qualities for pagoda mustard greens.  Keywords: Banana peels, Egg shelss, Lamtoro leaves, Pagoda Mustard INTISARIDewasa ini, permintaan pasar terhadap sawi pagoda meningkat, namun peningkatan permintaan tersebut belum diimbangi dengan kualitas dan kuantitas produksi yang memadai. Pemberian pupuk kompos Lampislur yang mengandung NPK tinggi dapat menjadi alternatif peningkatan kualitas produksi sawi pagoda. Pupuk kompos Lampislur adalah pupuk kompos organik yang dibuat dari tiga bahan utama, yaitu daun lamtoro, kulit pisang dan cangkang telur, yang mana selain dapat memenuhi kebutuhan zat hara tanaman, pupuk ini juga aman bagi lingkungan. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain RAK dengan lima dosis (0 gram, 10 gram, 20 gram, 30 gram, 40 gram) serta lima kali pengulangan. Analisis data dilakukan dengan metode ANOVA dilanjutkan dengan uji BNJ 5%, kemudian dilakukan uji korelasi untuk mengetahui pengaruh media tanam terhadap variable pertumbuhan dan variable hasil. Campuran daun lamtoro, cangkang telur dan kulit pisang yang paling tepat untuk pertumbuhan sawi pagoda adalah 40 gram pupuk yang memiliki kualitas pertumbuhan dan hasil dari sawi pagoda yang paling baik. Kata kunci: sawi pagoda, lampislur, lamtoro, kulit pisang, cangkang telur
APLIKASI PUPUK ORGANIK CAIR DARI CANGKANG TELUR DAN AMPAS TAHU UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA MERAH PADA SISTEM HIDROPONIK RAKIT APUNG : Yustika Yustika; Nugraheni Widyawati
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Vol 25 No 1 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jipi.25.1.7-11

Abstract

[APPLICATION OF LIQUID ORGANIC FERTILIZER FROM EGGSHELL AND TOFU DREGS ON PROMOTING GROWTH AND YIELD OF LETTUCE UNDER FLOATING RAFT HYDROPONIC SYSTEM]. Eggshell waste and tofu pulp contain nutrients that have the potential as plant fertilizers. The use of liquid organic fertilizer (LOF) from eggshells, and tofu dregs can be a source of nutrition in hydroponic cultivation at a relatively low price. The optimal growth of red lettuce plants requires a proper concentration of nutrients. This study aimed to examine the effect of the concentration of LOF from eggshells and tofu dregs that are most effective in increasing the growth and yield of red lettuce in floating raft cultivation systems. This research was conducted from December 2020 to February 2021 at the Kartini Experimental Garden, Faculty of Agriculture and Business, Satya Wacana Christian University. This study used a Randomized Complete Block Design with liquid organic fertilizer made from egg shells and tofu dregs  with different concentrations and AB mix as a comparison. The treatment consists of five levels, namely AB mix, LOF 10 mL/L, LOF 20 mL/L, LOF 30 mL/L, and LOF 40 mL/L. Observation parameters include plant height, number of leaves, leaf area, root length, and fresh and dry weight of the plant. The results of the observations were analyzed using the analysis of variance (F test 5%). On average, the HSD Tukey test followed the treatment with a confidence interval of 5%. This study showed an influence on the treatment of eggshell LOF concentration and tofu dregs  20 mL/L resulting in the highest red lettuce with 9.15 leaves, root length 38.75 cm, header fresh weight 36.33 g and highest root fresh weight 16.22 g at LOF treatment 10 mL/L. These results have not matched the application of ABmix fertilizer, which reached the fresh weight of 74.79 g.  
Program Adiwiyata “School Garden for Better Future” Sekolah Dasar (SD) Kristen Satya Wacana Salatiga Yuliawati, Yuliawati; Setiawan, Andree Wijaya; Sutrisno, Alfred Jansen; Widyawati, Nugraheni; Prihtanti, Tinjung Mary; Pudjihartati, Endang
Jurnal SOLMA Vol. 13 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v13i2.15182

Abstract

Background: Pendidikan lingkungan hidup di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap keberlanjutan lingkungan. Keterlibatan siswa dalam kegiatan yang mendukung pelestarian alam sejak dini sangat penting untuk membentuk perilaku yang pro-lingkungan. Program "School Garden for Better Future" di SD Kristen Satya Wacana Salatiga dirancang untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya pelestarian alam dan keterampilan praktis dalam pertanian. Metode: Mitra pengabdian dalam program ini adalah 52 siswa kelas 4 di SD Kristen Satya Wacana Salatiga. Metode partisipatif digunakan, dan melibatkan tahapan pertemuan koordinasi, pembuatan taman, monitoring, edukasi, evaluasi, dan integrasi kegiatan pengabdian ke dalam kurikulum sekolah. Data dikumpulkan melalui kuisioner, observasi langsung, dan wawancara, kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil: Taman sekolah telah berhasil dibentuk sebagai sarana pembelajaran lingkungan yang dinamis. Edukasi tentang tanaman hias dan panduan pemeliharaan meningkatkan pemahaman siswa mengenai lingkungan hidup. Evaluasi melalui pengisian kuisioner menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi di antara peserta edukasi, dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis yang signifikan. Integrasi kegiatan pengabdian masyarakat ke dalam kurikulum sekolah dan program ekstrakurikuler mendukung keberlanjutan program ini dengan melibatkan partisipasi aktif dari siswa dan guru. Kesimpulan: Implementasi Program "School Garden for Better Future" di SD Kristen Satya Wacana Salatiga telah berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu memberikan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya pelestarian alam serta keterampilan praktis dalam pertanian berkelanjutan.
Respon Pertumbuhan Sawi Pakcoy (Brassica rapa L.) Var. Astri Terhadap Dosis Kompos Daun Lamtoro, Kulit Pisang dan Cangkang Telur Kristi, Yosia; Widyawati, Nugraheni
AGRITROP Vol 21, No 2 (2023): Agritrop: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agritrop.v21i2.21086

Abstract

Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan terganggunya mikroorganisme dalam tanah. Solusi untuk meninimalkan dampak dari pemakaian pupuk anorganik salah satunya yaitu penggunaan pupuk kompos dari campuran bahan organik seperti daun lamtoro, kulit pisang, dan cangkang telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kompos daun lamtoro, kulit pisang, dan cangkang telur terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor dosis pupuk kompos daun lamtoro, kulit pisang, dan cangkang telur yaitu P1 (0 gram/ tanaman), P2 (20 gram/ tanaman), P3 (40 gram/ tanaman), P4 (60 gram/ tanaman), P5 (80 gram/ tanaman). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis kompos berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot akar basah, bobot akar kering, bobot tajuk basah, bobot tajuk kering, bobot brangkasan basah, dan bobot brangkasan kering, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap total klorofil. Perlakuan dosis kompos 80 gram/ tanaman memberikan hasil terbaik dalam memacu komponen pertumbuhan dan hasil sawi pakcoy.
The Performance of Potted Chrysanthemum (Dendranthema grandiflora) Due to Growth Retardant and Terminal Bud Pinching Widyawati, Nugraheni
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.426 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.128-134

Abstract

Kajian pengaruh perlakuan retardant dan pemangkasan pucuk terhadap penampilan tanaman krisan pot (Dendranthema grandiflora) dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas tujuh perlakuan dengan empat ulangan, yaitu: P1) Kontrol tanpa retardan dan pemangkasan pucuk; P2) Penyemprotan retardan saat pindah tanam bibit; P3) Penyemprotan retardan 1 minggu setelah pindah tanam bibit; P4) Penyemprotan retardan 2 minggu setelah pindah tanam bibit; P5) Pemangkasan pucuk saat pindah tanam bibit; P6). Pemangkasan pucuk 1 minggu setelah pindah tanam bibit; P7) Pemangkasan pucuk 2 minggu setelah pindah tanam bibit. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA dan BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retardan meningkatkan kandungan klorofil daun, tanaman menjadi lebih pendek, diameter tajuk lebih kecil, jumlah bunga per pot lebih sedikit dan diameter bunga lebih kecil. Pemangkasan pucuk menurunkan tinggi tanaman, meningkatkan jumlah bunga per tanaman dan jumlah bunga per pot. Perlakuan retardan dan pemangkasan pucuk menyebabkan mekarnya bunga kurang serentak. Penampilan krisan pot dengan perlakuan retardan lebih ideal dibandingkan kontrol dan pemangkasan pucuk. Kata kunci : pembungaan, pertumbuhan, krisan pot, paclobutrazol, pemangkasan pucuk
Letak Benih, Kultivar Pepaya, dan Pemacu Tumbuh dalam Perkecambahan Benih Pepaya (Carica papaya L.) Susila, Arif; Widyawati, Nugraheni; Winarto, Budi
Vegetalika Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.93892

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman buah penting di Indonesia, namun ketersediaan tanaman berkualitas yang berasal dari benih terseleksi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh letak benih, kultivar pepaya, dan pemacu tumbuh terhadap keberhasilan perkecambahan benih pepaya. Penelitian dilaksanakan dari Juli sampai dengan Desember 2023 di rumah kaca di Kelurahan Langensari, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Letak benih dipanen dari bagian (1) ujung, (2) tengah dan (3) pangkal; tiga kultivar pepaya, yaitu: (1) Thailand, (2) Mojosongo, dan (3) California; tiga jenis pemacu adalah (1) ekstrak bawang merah (50 g/l), (2) GA3 (150 ppm), (3) Trichoderma viride (3 × 1014 konidia/ml), dan (4) air bersih (sebagai control) digunakan dalam penelitian ini. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan 3 ulangan, Hasil penelitian mengungkapkan bahwa benih yang dipanen dari 1/3 bagian tengah buah memiliki jumlah kecambah normal mencapai 67,1; 77% Potensi Daya Kecambah Benih (PDKB); 27.8% perkecambahan hari pertama (PHP); dan 8,3 nilai indeks kecambah (NIK). Pepaya California memiliki kecambah normal mencapai 76,7% benih; 88,0% daya kecambah benih; 43,7% perkecambahan hari pertama; dan 11,9 Indeks Daya Kecambah (IDK). Keunggulan papaya California dipertegas dari hasil percobaan kedua dengan kecambah normal mencapai 86,4; 88,5% PDKB; 3,6% PHP; dan 8,9 NIK. Perendaman benih dengan 150 ppm GA3 merupakan pemacu tumbuh yang terbaik dibanding pemacu tumbuh yang lain. Perlakuan ini meningkatkan persentase kecambah normal hingga 10%, 35,1% PHP; dan 10,2% NIK. Selanjutnya kombinasi California dan GA3 menghasilkan 92,3% kecambah normal dan 94,7% PDKB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan perkecambahan benih pepaya sangat dipengaruhi oleh kultivar pepaya, asal benih dan pemacu tumbuh yang digunakan.
PENGARUH JENIS PUPUK KANDANG DALAM MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK BATANG TANAMAN LADA (Piper Nigrum L.) VARIETAS NATAR Cahyono, Yulius Eko; Widyawati, Nugraheni
Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 7 No. 2(is) (2023): Pengembangan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Yang Berkelanjutan
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v7i2(is).4361

Abstract

Abstrak Kebutuhan lada dunia mencapai 350.000 ton/tahun. Kontribusi Indonesia sebagai pengekspor lada sebesar 29% dari kebutuhan dunia. Produksi lada nasional tahun 2014 mencapai 91.941 ton. Karena produksi lebih sedikit dibandingkan dengan permintaan maka diperlukan cara untuk mengoptimalkan produksi lada. Produksi tanaman dipengaruhi oleh pertumbuhan pada tanaman, ada dua faktor yang memepengaruhi yang pertama dari faktor pembibitan dan faktor ketersediaan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaplikasian berbagai jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan stek tanaman lada varietas natar 1 (Piper nigrum L.).Penelitian ini dilakukan pada bulan februari sampai bulan mei 2023 di kebun percobaan kartini Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Terdapat 4 Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini antara lain: Pupuk kandang Ayam(P1), Pupuk kandang Kambing(P2), Pupuk kandang Sapi (P3) dan Kontrol (P4). Setiap perlakuan diulang sebanyak 7 kali sehinga didapat 28 satuan percobaan, setiap perlakuan terdiri dari dari 5 sampel. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak kelompok (RAK), hasil dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan diuji lanjut dengan uji DMRT dengan taraf nyata 5%.Dari penelitian ini perlakuan P1 mendapatkan hasil terbaik dengan tinggi tunas, Panjang akar dan Kadar krorofil daun berturut-turut 11,45 ,  4,85 dan 33,37.Kata kunci : lada (Piper Nigrum L.), Stek batang lada, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, pupuk kandang sapi. 
Permeabilitas dan Perkecambahan Benih Aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.) Widyawati, Nugraheni; Tohari, ,; Yudono, Prapto; Soemardi, Issirep
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 37 No. 2 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.493 KB) | DOI: 10.24831/jai.v37i2.1408

Abstract

The characteristics of seed coat delay the germination of sugar palm seeds. A research was carried out to investigate the permeability of sugar palm seeds and accelerate the germination. The research consists of four experiments with purposes: 1. to investigate the distribution of water content of sugar palm seed (RCBD Factorial between part of seed : whole seed, seed coat, endosperm and embryo under three conditions: control; soaking in water and germinate, 5 replications); 2. to investigate seed permeability (RCD, 6 soaking periods, 4 replications); 3. to investigate the content of lignin and tannin in seed (RCD, 8 seed ages, 4 replications); 4. to accelerate seed germination (RCBD, 6 treatments of scarification, 4 replication).  The results showed that the permeability of sugar palm seeds to water absorption declined with seed maturity because of the increasing in lignin and tannin content. Seed germination can be accelerated with scalding on the operculum site to increase water absorption.   Key words: Sugar palm, seeds, permeability, germination
The Impact of Yellow Leaf Curl Disease Stage During Vegetative and Generative Phases on The Growth and Yield of Curly Red Chili Pepper OR Twist 42 Syahtian Suprayogi; Nugraheni Widyawati; Maria Marina Herawati
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 14 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v14i2.483-493

Abstract

Curly chili (Capsicum annum L.) is one of the vegetable commodities widely cultivated in Indonesia which has a high selling value. Although it has a high selling value, chili cultivation has many obstacles, one of which is the attack of pathogens that reduce the yield of curly chili, especially yellow curly leaf disease on agricultural land. Yellow curly leaf disease is always found in chili cultivation and is the main production obstacle in Indonesia that reduces the harvest. This study aims to see the impact of yellow curly disease attacks in the vegetative and generative phases on the growth and yield of curly red chili cultivation. The study was conducted from August 2023 to March 2024 using the field observation method from the beginning of growth to harvest. Observations were made by measuring the parameters of plant height, stem diameter, number of branches, number of productive branches, fallen flowers, fruit weight, fruit length and observation of yellow curly disease pathogens. The results of the study showed that attacks of yellow curly disease in the vegetative and generative phases had a significant effect on the growth parameters and yield of curly red chili plants. From the results of the analysis of yellow curly disease attacks in the vegetative phase, the number of fruits and fruit weight were lower, namely 10.90 and 32.04 grams/tree, compared to attacks in the generative phase which produced 24.27 and 77.67 grams/tree. Keywords: Begomovirus, Generative, Vegetative, Whitefly, Yellow curl.