Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Representasi Budaya Patriarki Go Ah In dalam Episode 1 Serial “Agency” di Netflix Fitri, Aulia; Prathisara, Gibbran
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.56232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya patriarki dalam episode pertama serial drama Korea “Agency” dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori semiotika John Fiske. Fokus utama penelitian ini adalah karakter Go Ah-in, yang diperankan oleh Lee Bo-young sebagai simbol perjuangan wanita dalam sistem patriarki analisis, yaitu: Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologi yang dapat membantu memahami bagaimana budaya patriarki disampaikan melalui teks media. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan adegan-adegan dalam serial yang mempresentasikan budaya patriarki, analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan lingkungan sekitar, ekspresi wajah, percakapan, hingga sinematografi yang digunakan dalam adegan-adegan dalam serial “Agency”. Pada level realitas drama ini menampilkan gestur, dialog, dan interaksi yang merefleksikan subordinasi wanita ditempat kerja yang didominasi oleh pria. Pada level representasi teknik naratif dan visual seperti sudut kamera, penempatan karakter, dan pencahayaan menegaskan isolasi serta perjuangan tokoh utama dalam menghadapi diskriminasi gender. Sementara itu, pada level ideologi, drama ini mengkritis norma-norma patriarki yang mengakar dalam masyarakat Korea Selatan khususnya dalam industri periklanan. Hasil analisis menunjukkan bahwa episode pertama “Agency” secara efektif menggambarkan bagaimana budaya patriarki memengaruhi dinamika kekuasaan, hubungan interpersonal, dan ekspetasi sosial terhadap wanita. Go Ah-in dihadirkan sebagai karakter yang berusaha melampaui batasan-batasan gender sehingga menjadi simbol pemberontakkan terhadap sistem patriarki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa drama ini tidak hanya merefleksikan realitas sosial tetapi juga mengajak penonton untuk mempertanyakan struktur patriarki yag masih kuat dalam masyarakat modern.
Representasi Ajaran Agama Islam Pada Film “Siksa Kubur” Satria, Benny Adje; Prathisara, Gibbran
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i8.61122

Abstract

Tujuan peneletian ini untuk mempresentasikan pesan yang tersirat pada film siksa kubur, film yang bergenre horror dengan memperlihatkan dua bersaudara yang mengalami tragedi bom bunuh diri yang membuat kedua orang tuanya wafat yang mengakibatkan sita kakak perempuannya aidil menjadi tidak percaya dengan ajaran agama dan adanya siksa kubur. Penelitian ini bertujuan agar penonton mengetahui bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi film juga sebagai media penyampaian pesan yang tersirat. Penelitian ini menggunakan semiotika roland barthes dengan pendekatan kualitatif untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi dari film tersebut ada denotoasi, konotasi dan mitos seringkali penonton lupakan pada film tersebut dan akhirnya hanya sekedar menikmati filmnya saja. Dengan adanya media edukatif bagi penonton agar bisa memahami dan merefleksikan isu-isu sosial serta sejarah melalui penyampaian naratif dan representasi visual yang kuat. Menyampaikan nilai-nilai islam tentang kematian dan adanya siksa/azab kubur setelah kematian yang merepresentasikan agama islam dalam film siksa kubur.
Representasi Pesan Moral Dalam Film Yowis Ben 3 Rachmadani Setyawan; Prathisara, Gibbran
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i8.61292

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk merepresentasikan pesan moral dalam film Yowis Ben 3, yang merupakan film bergenre drama dan menggambarkan perjuangan remaja dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, seperti menghormati orang lain, bertanggung jawab, menjaga integritas, serta berusaha membuktikan kemampuan diri di tengah keterbatasan. Film yang disutradari oleh Fajar Nugros dan Bayu Skak ini secara konsisten menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pesan moral dalam film Yowis Ben 3 direpresentasikan, khususnya dalam bentuk hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan diri sendiri, serta hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkungan sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes, melalui identifikasi makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam beberapa adegan yang terdapat dalam film Yowis Ben 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman masyarakat mengenai pentingnya nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, serta memperkuat peran film sebagai media komunikasi yang mampu merefleksikan realitas sosial dan menyebarkan nilai-nilai budaya. Dengan demikian, analisis terhadap representasi pesan moral dalam film Yowis Ben 3 tidak hanya memberikan wawasan baru dalam kajian film, tetapi juga menunjukan bagaimana film lokal dapat berfungsi sebagai alat edukasi dan transformasi sosial yang efektif.