Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peran Kepala Madrasah sebagai Digital Leader dalam Menghadapi Tantangan AI Education Ahmad Khoirul Fahmi; Muthliatul Azizah; Shafira Farhah; Lukmanul Hakim
Journal of Humanities Education Management Accounting and Transportation Vol. 3 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/hemat.v3i1.8083

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran kepala madrasah sebagai digital leader dalam merespons peluang dan tantangan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan Islam. Melalui telaah kritis terhadap buku, artikel jurnal, prosiding, dan dokumen kebijakan terkait kepemimpinan digital, AI Education, dan pendidikan madrasah, studi ini mengkonstruksi model peran kepala madrasah yang memadukan dimensi visi digital, kompetensi teknologi, manajemen perubahan, dan integritas spiritual Islami. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepala madrasah berperan strategis dalam menyusun visi pemanfaatan AI yang berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan akhlak, membangun infrastruktur dan budaya inovasi, mengembangkan kapasitas guru, serta merumuskan kebijakan etika pemanfaatan AI berbasis maqāṣid al-sharī‘ah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepala madrasah sebagai digital leader tidak hanya dituntut cakap teknologi, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga nilai (value guardian) agar transformasi AI Education di madrasah berjalan seimbang antara keunggulan akademik dan penguatan spiritualitas peserta didik.
Inovasi Pembelajaran Nilai-Nilai Kemuhammadiyahan untuk Membangun Peradaban Islam Modern Aldi Ganda Kurnia Ganda Kurnia; Pickit Birahmatika; Syarifah Zainab Al Habsyi; Fachrizal Muttaqin; Lukmanul Hakim
Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences Vol. 4 No. 1 (2026): Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences
Publisher : Penerbit Minhaj Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62083/masterpiece.v4i1.214

Abstract

The development of information and communication technology has fundamentally transformed the landscape of da'wah and community empowerment. This research aims to examine the application of Muhammadiyah concepts in the context of the digital era, focusing on relevant core values, their implementation in realizing Progressive Islam, as well as the challenges and opportunities faced by Muhammadiyah. This study employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods through library research on official Muhammadiyah documents, books, scientific journals, and relevant digital publications. Data analysis was conducted using content analysis methods through stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing with source triangulation techniques. The research findings indicate that the core values of Muhammadiyah relevant to the digital era include tajdid (renewal), rationality and ijtihad, amar ma'ruf nahi munkar, brotherhood and ukhuwah, as well as independence and community empowerment. The application of these values has been implemented through three strategic areas: digital da'wah transformation, education digitalization, and digital-based community economic empowerment. Muhammadiyah faces challenges including digital literacy gaps, competition of religious narratives, hoaxes and disinformation, as well as limited human resources. However, the digital era also opens strategic opportunities such as unlimited geographical reach of da'wah, organizational efficiency, and development of integrated digital ecosystems. This research recommends comprehensive strategies including the development of a digital transformation roadmap, human resource investment, digital infrastructure development, and strengthening of cybersecurity to enhance the implementation of Muhammadiyah concepts in the digital era. Abstraksi Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah lanskap dakwah dan pemberdayaan umat secara fundamental. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep kemuhammadiyahan dalam konteks era digital, dengan fokus pada nilai-nilai utama yang relevan, implementasinya dalam mewujudkan Islam Berkemajuan, serta tantangan dan peluang yang dihadapi Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan terhadap dokumen resmi Muhammadiyah, buku, jurnal ilmiah, dan publikasi digital yang relevan. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai utama kemuhammadiyahan yang relevan dengan era digital meliputi tajdid (pembaruan), rasionalitas dan ijtihad, amar ma'ruf nahi munkar, persaudaraan dan ukhuwah, serta kemandirian dan pemberdayaan umat. Penerapan nilai-nilai ini telah diimplementasikan melalui tiga bidang strategis: transformasi dakwah digital, digitalisasi pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat berbasis digital. Muhammadiyah menghadapi tantangan berupa kesenjangan literasi digital, kompetisi narasi keagamaan, hoaks dan disinformasi, serta keterbatasan sumber daya manusia. Namun, era digital juga membuka peluang strategis seperti jangkauan dakwah tanpa batas geografis, efisiensi organisasi, dan pembangunan ekosistem digital terintegrasi. Penelitian ini merekomendasikan strategi komprehensif meliputi pengembangan roadmap transformasi digital, investasi SDM, pembangunan infrastruktur digital, dan penguatan keamanan siber untuk memperkuat implementasi kemuhammadiyahan di era digital.
Analysis of the Appropriateness of Grammatical Rules in the Seventh-Grade Arabic Language Textbook of Junior High School Based on the Independent Curriculum Nifa Mahfudotun Solehah; Moh Aman; Lukmanul Hakim
Syaikhuna: Jurnal Pendidikan dan Pranata Islam Vol 15 No 1 (2024): March
Publisher : STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62730/syaikhuna.v15i1.7810

Abstract

Teachers, as classroom role models, are required to demonstrate competence and creativity to foster effective interaction and support students' understanding during the learning process. In the Merdeka Belajar curriculum, textbooks serve as key learning media, including Arabic-language textbooks that cover linguistic rules. However, the unsystematic arrangement of these rules often limits students' ability to comprehend the intended grammatical concepts. This study aims to analyze the presentation of linguistic rules in a seventh-grade Arabic textbook and to evaluate their conformity to nahwu and sharf. Using a descriptive qualitative method supported by observation, analysis, and documentation, the study finds that the textbook's linguistic components are generally appropriate with respect to learning outcomes and content scope. Nevertheless, their alignment with classical Arabic grammatical principles is considered inadequate due to the absence of a systematic sequence in the presentation of the rules.
Studi Kasus Manajemen Pendidikan Agama Islam bagi Karakter Peserta Didik yang Tumbuh di Keluarga Brokenhome Hurien Ain Istigfariyah; Isti’anatul Afaf; Faiz Hidayaturrohman; Samsul Aditya; Lukmanul Hakim
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.14481

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi peserta didik yang tumbuh dalam keluarga broken home. Latar belakang keluarga yang tidak utuh seringkali berdampak pada kondisi psikologis, motivasi belajar, serta pembentukan karakter dan nilai-nilai keagamaan peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Fokus kajian meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran PAI yang diterapkan oleh guru dalam menghadapi peserta didik dari keluarga broken home, serta strategi pendekatan yang digunakan untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritual dan moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen PAI yang efektif memerlukan pendekatan personal yang empatik, kolaborasi antara guru, konselor, dan pihak sekolah, serta penyesuaian metode pembelajaran yang responsif terhadap kondisi psikososial peserta didik. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan dalam merancang strategi pembelajaran PAI yang inklusif dan berpihak pada peserta didik dari latar belakang keluarga yang kurang kondusif. ABSTRACT This study aims to examine the management of Islamic Religious Education (PAI) for students who grow up in broken home families. A non-intact family background often has a significant impact on students' psychological conditions, learning motivation, as well as the formation of their character and religious values. This study employs a qualitative approach using a case study method, conducted through observation, in-depth interviews, and documentation. The focus of the study encompasses the planning, implementation, and evaluation of PAI learning applied by teachers in addressing students from broken home families, as well as the engagement strategies used to foster spiritual and moral values. The findings indicate that effective PAI management requires an empathetic and personal approach, collaboration among teachers, counselors, and school stakeholders, as well as adaptation of learning methods that are responsive to the psychosocial conditions of students. The implications of this research are expected to serve as a reference for educational institutions in designing inclusive PAI learning strategies that are supportive of students from less conducive family backgrounds.
An Islamic Education-Based Empowerment Model for Generation Z through the Utilization of Artificial Intelligence to Strengthen Religious Moderation in Tangerang City Milana Abdillah Subarkah; Lukmanul Hakim; Nasrulloh Nasrulloh; Muhammad Ilhamsyah Akbar
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 24 No. 3 (2026): Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/alqodiri.v24i3.288

Abstract

This study examined how Generation Z in a madrasah-centered setting in Tangerang City engages with digital religious information and Artificial Intelligence (AI), and it developed an Islamic education-based empowerment model for strengthening religious moderation in digital spaces. The study used a qualitative case study design with a Participatory Action Research (PAR) orientation. Data were obtained from Generation Z students at MTsN 1 Tangerang City and supporting stakeholders, including Islamic Education (PAI) teachers, the madrasah principal, and a representative of the Ministry of Religious Affairs of Tangerang City, through participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, documentation, and literature review. The findings showed that religious moderation within the madrasah environment was generally perceived as harmonious, while concerns were concentrated in digital spaces where students frequently encounter religious information through social media and AI. Students demonstrated strong familiarity with digital technologies but still required support in evaluating source authority, verifying AI-generated religious information, and applying digital ethics. Across stakeholder accounts, AI was considered useful for learning and content creation when it remained a supporting instrument rather than a substitute for teachers or authoritative religious sources. Based on these findings, the study formulated a five-stage empowerment model comprising needs assessment, strengthening AI and religious literacy, mentoring and information verification, production of moderate Islamic content, and reflection and evaluation. The model provides a context-grounded framework for integrating Islamic educational values, critical AI use, teacher guidance, and student agency in efforts to strengthen religious moderation.