Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

KEMAMPUAN MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA DALAM MEMECAHKAN MASALAH DI AWAL DAN AKHIR SEMESTER PERTAMA Jackson Pasini Mairing
Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jmp.2017.9.2.2866

Abstract

Problem solving ability is main goal of students in learning mathematics. Lectures should be able to improve the ability. This reasearch aimed to describe ability ofstudents at the beginning and end of first semester academic year 2016/2017 in solving mathematical problems. The research subjects were 71 students of mathematicseducation program class of 2016 from one of the universities in Central Kalimantan, Indonesia. At the beginning and the end of first semester, each subject was given sixmathematical problems. The problems at the beginning and the end of semester were similar only differently in numbers. The result showed that average score of the students at the beginning and the end of first semester were 7.97 and 9.18 (scale 0 - 24), respectively. The scores increased significantly with a 95% confidence level. Theincreasng caused 8.4% of the students who were classified as naive problem solvers increased their ability becomed routine problem solvers. No students have improved their ability becomed good problem solvers.
“Saya Sangat Mampu”: Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Komputer Pada Matakuliah Analisis Data Jackson Pasini Mairing
Edumatica : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5 No 01 (2015): Edumatica: Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Program Studi Pendidikan Matemarika PMIPA FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.302 KB) | DOI: 10.22437/edumatica.v5i01.2667

Abstract

Kemampuan menganalisis data diperlukan mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya. Mahasiswa belajar menganalisis data pada matakuliah Statistika Dasar dan Analisis Data. Pembelajaran konvensional belum dapat mendorong mahasiswa untuk memahami makna konsep-konsep Statistika dan memiliki kemampuan menganalisis data. Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) yang terintegrasi dengan dua perangkat lunak yaitu Minitab dan Microsoft Excel pada matakuliah Analisis Data. Hasilnya menunjukkan bahwa 81% mahasiswa memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah secara mandiri. Ada 71% mahasiswa yang semula takut belajar menjadi senang dalam belajar setelah mengikuti matakuliah Analisis Data. Selain itu, semua mahasiswa memiliki kemampuan dalam menganalisis data. Salah satu mahasiswa berkata, “saya sangat mampu” pada saat peneliti memintanya untuk menganalisis data dengan komputer di depan kelas. Kata Kunci: Perangkat lunak komputer, Analisis data, Pembelajaran berbasis masalah, Statistika
Pemahaman Siswa Pada Materi Fungsi Eksponen Ditinjau Dari Teori APOS Di Kelas X MAN Kota Palangkaraya Oktaviana Ainun Ratnawati; Emy Artuti; Jackson Pasini Mairing
EQUALS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol 5 No 2 (2022): Equals: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/equals.v5i2.1564

Abstract

Hasil Ujian Nasional (UN) SMA pada mata pelajaran matematika di tahun 2018 mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu 4,67% dibandingkan dengan hasil UN di 2 tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman siswa ditinjau dari teori APOS (Aksi, Proses, Objek, dan Skema) untuk mengetahui penyebab turunnya hasil UN dengan letak pemahaman siswa. Jenis penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif dilaksanakan di kelas X MIPA-5 MAN Kota Palangkaraya pada tahun ajaran 2018/2019 dengan subjek penelitian 23 siswa dan diperoleh 3 siswa sebagai wakil subjek yang memenuhi kriteria pemilihan subjek. Urutan analisis data dimulai dari subjek berkemampuan sedang 2 siswa dan berkemampuan tinggi 1 siswa ditinjau dari teori APOS dan dilanjutkan dengan memetakan ke salah satu level dari triad perkembangan skema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek dengan kemampuan sedang (S18) hanya berada pada tahap Aksi, jika dipetakan pada teori triad perkembangan skema hasilnya subjek tidak masuk level manapun dari triad. Subjek dengan kemampuan sedang (S16) berada pada tahap aksi dan proses, jika dipetakan pada teori triad perkembangan skema hasilnya subjek berada di level intra (level 0). Subjek dengan kemampuan tinggi (S03) berada pada tahap aksi, proses, dan objek jika dipetakan pada teori triad perkembangan skema hasilnya subjek berada di level inter (level 1).
Pendampingan Guru dalam Mengembangkan Tes Hots pada Mata Pelajaran Matematika SD Sri Tresnaningsih; Tri Dyah Prastiti; Suparti Suparti; Jackson Pasini Mairing; Sulistiyono Sulistiyono
Wikrama Parahita : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/jpmwp.v6i2.3770

Abstract

Hasil survey tim abdimas menunjukkan bahwa siswa-siswa SD di Sidoarjo. Jawa Timur belum memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dikenal dengan HOTS (higher order thinking skills). Keterampilan tersebut dikembangkan melalui belajar menyelesaikan tes yang memuat masalah HOTS. Karena itu, guru perlu memiliki kompetensi dalam mengembangkan masalah dan mengukur HOTS. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan pendampingan bagi guru-guru SD dalam mengembangkan tes HOTS pada mata pelajaran matematika SD, mengukurnya, serta menerapkannya dalam kelas. Kegiatan ini diikuti oleh 45 guru dimana 35 diantaranya menyelesaikan pre test dan post tes secara daring. Tim mengembangkan e-Modul, dan google form untuk tagihan produk akhir. Kegiatan ini dilaksanakan melalui webinar pada Rabu, 11 Agustus 2021 karena pandemi Covid-19 di Jawa Timur yang berada di level 4 pada saat kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan guru-guru mengenai konsep dan cara mengembangkan tes HOTS, serta pengukurannya. Selain itu, guru-guru mampu mengembangkan tes HOTS dengan mengirim produk akhir pada tiga hari setelah webinar. Kegiatan dilanjutkan dengan tim ke sekolah untuk mendampingi guru-guru dalam menerapkan tes HOTS ke siswa-siswanya. Hasilnya adalah siswa-siswa belajar menyelesaikan masalah mulai dari memahami masalah, membuat rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Aktivitas tersebut membantu siswa memperoleh rata-rata nilai sebesar 70,25 (skala 0-100).
Peningkatan Higher Order Thinking Skills dengan Pembelajaran Berbasis Masalah Ervina; Jackson Pasini Mairing; Yumiati
JURNAL PENDIDIKAN Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpn.v23i2.5306

Abstract

Higher Order Thinking Skills (HOTS) or higher order thinking skills are demands of today's curriculum. However, the facts at SMPN 2 Kapuas Tengah Satu Roof show that students at the school do not yet have this ability. This study is intended to describe the effect of problem-based learning on HOTS. His research uses a quantitative approach with a quasi-experimental type. The population is junior high school students in Kapuas Tengah District, Kapuas Regency. The samples were class VII A and VIII A (experimental class), and class VII B and VIII B (control class). The instruments are pre-test and post-test. Data were analyzed using N-gain and covariate analysis. The conclusion shows that the increase in HOTS from pre-test to post-test as measured using N-gain in students who learn with problem-based lea[1]rning is better than those who learn using conventional learning. Problem-based learning has an effect on HOTS which is indicated by the HOTS of students in problem-based learning classes more than students in conventional learning classes.
NUMERASI SISWA SMA IPA DAN IPS SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENIADAAN JURUSAN DI KURIKULUM PROTOTYPE Jackson Pasini Mairing; Dita Monita; Dony Apriatama; Wiyogo
JURNAL PENDIDIKAN Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpn.v23i2.5330

Abstract

The prototype curriculum has the characteristics of eliminating majors and emphasizing literacy. This study aims to describe the differences in mathematical literacy (numbering) between students majoring in science and social science. Numeration is a student's ability to solve problems in the context of everyday life. Will the elimination of this department has an impact on the successful implementation of the prototype curriculum? This study uses a quantitative approach. The type of research is experimental with post-test two groups design. The population is high school students from one of the public schools in North Barito Regency, Central Kalimantan. The sample was selected using purposive sampling because face-to-face learning is limited to a shifting system. The instruments are two numerical problems. The results showed that the mathematical literacy of science students was more than social science students. However, overall student literacy is still low. These conditions need to be anticipated in the prototype curriculum by creating learning that encourages social interaction, positive dependence, and emphasizes the use of mathematical problems.
Kajian Pengaruh Sekolah Adiwiyata Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Aprianto; Nopriawan Berkat Asi; Jackson Pasini Mairing; Maya Erliza Anggraeni; Revianti Coendraad; Eriawaty; Lola Cassiophea; Whendy Trissan
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang Vol 14 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Publisher : FKIP Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jikt.v14i1.207

Abstract

This study aims to study the influence of the adiwiyata school movement on the quality of education. This type of research is experimental research with a quantitative approach. This study compares environmental literacy, attitudes towards the environment, reading literacy, and numeracy literacy between adiwiyata schools and schools with adiwiyata potential. Data in the form of numbers obtained from reading literacy tests, numeracy literacy tests, environmental literacy tests and environmental care attitude questionnaires. The population in this study were 9 junior high schools with details of 3 schools that had achieved adiwiyata in the last five years and 6 public junior high schools with adiwiyata potential in Jekan Raya sub-district. Samples were taken randomly, where one school represented an adiwiyata school and one school represented adiwiyata potential. The sampling technique uses cluster random sampling (clustered random sampling). The result is that SMPN 9 Palangka Raya represents an adiwiyata school and SMPN 11 represents adiwiyata potential. The instruments used to collect data in this study were in the form of a questionnaire (questionnaire), objective test items, and interview guidelines and observation guidelines as supporting instruments. Data were analyzed statistically using Minitab software. The results of the study showed (1) the environmental literacy of SMPN 11 students was higher than that of SMPN 9 with a 95% confidence level, which means that there was no influence of adiwiyata schools on environmental literacy. (2) Students' attitudes towards the environment at SMPN 11 are better than SMPN 11 with a 95% confidence level, which means that there is no influence from Adiwiyata schools on students' attitudes towards the environment. (3) The reading literacy of SMPN 9 students is the same as SMPN 11 with a 95% confidence level, which means that there is no influence of adiwiyata schools on reading literacy. (4) The numeracy literacy of SMPN 11 students is more than SMPN 9 with a 95% confidence level, which means that there is no influence of adiwiyata schools on environmental literacy in numeracy. (5) Student achievement in both schools in the last five years is relatively the same.
The effect of problem-based learning on mathematics problem solving ability and self-regulated learning Dewi Fatimah; Jackson Pasini Mairing; Endang Wahyuningrum
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 9 No 1 (2023): Januari - April 2023
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33654/math.v9i1.2107

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar sangat penting dimiliki siswa terutama dalam menyelesaikan masalah matematika yang merupakan kompetensi dasar mempelajari matematika. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika; (2) pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemandirian belajar. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian yang digunakan pretest posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X MIPA SMAN di Kecamatan Gunung Bintang Awai. Penarikan sampel menggunakan multistage random sampling yang dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama memilih sekolah dan tahap berikutnya memilih kelompok. Instrumen penelitian menggunakan tes kemampuan pemecahan masalah sebanyak 3 butir soal uraian dan kuesioner kemandirian dengan skala Likert sebanyak 10 butir pernyataan. Data penelitian dianalisis menggunakan aplikasi Minitab 19.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika; (2) pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemandirian belajar.
KEMAMPUAN MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA DALAM MEMECAHKAN MASALAH DI AWAL DAN AKHIR SEMESTER PERTAMA Jackson Pasini Mairing
Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika (JMP) Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika (JMP)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jmp.2017.9.2.2866

Abstract

Problem solving ability is main goal of students in learning mathematics. Lectures should be able to improve the ability. This reasearch aimed to describe ability ofstudents at the beginning and end of first semester academic year 2016/2017 in solving mathematical problems. The research subjects were 71 students of mathematicseducation program class of 2016 from one of the universities in Central Kalimantan, Indonesia. At the beginning and the end of first semester, each subject was given sixmathematical problems. The problems at the beginning and the end of semester were similar only differently in numbers. The result showed that average score of the students at the beginning and the end of first semester were 7.97 and 9.18 (scale 0 - 24), respectively. The scores increased significantly with a 95% confidence level. Theincreasng caused 8.4% of the students who were classified as naive problem solvers increased their ability becomed routine problem solvers. No students have improved their ability becomed good problem solvers.
TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI SISWA KELAS VII SMP BERDASARKAN TEORI VAN HIELE Jackson Pasini Mairing
Aksioma Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/aksioma.v5i1.119

Abstract

Abstrak: Tingkat berpikir geometri menggambarkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep geometri. Pemahaman tersebut berpengaruh terhadap kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah geometri. Van Hiele membagi kemampuan geometri menjadi tingkat 0 (Visualisasi), 1 (Analisis), 2 (Deduksi Informal), 3 (Deduksi) atau 4 (Rigor). Guru seharusnya membantu siswa untuk meningkatkan tingkat kemampuan geometrinya dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Langkah awalnya adalah guru mengidentifikasi tingkat kemampuan geometri siswa saat ini. Caranya dengan memberikan soal yang berkaitan dengan setiap tingkat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan geometri siswa-siswa SMP kelas VII dari salah satu sekolah di kota Palangka Raya berdasarkan teori Van Hiele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 97,2% siswa memiliki kemampuan tingkat 0 dan 2,8% siswa memiliki tingkat 1. Lebih lanjut, peneliti juga menguraikan jawaban-jawaban siswa di setiap tingkatan dan adanya tingkat transisi dari 0 ke 1 (tingkat pra-Analisis) dan dari 1 ke 2 (tingkat pra-Deduksi Informal). Kata kunci: tingkat berpikir geometri siswa SMP, teori Van Hiele, pra-Analisis, pra-Deduksi Informal. Abstract: Level of geometri ability describe student’s understanding of geometry concepts. The understanding has effect to student’s ability to solve some geometry problems. Van Hiele divided student ability of geometry in level 0 (Visualization), 1 (Analysis), 2 (Informal Deduction), 3 (Deduction) or 4 (Rigor). Teachers should help the students to develop their geometry ability from one level to higher level. The first step to develop the ablity was teacher identify the actual student ability of geometry. The manner was teacher give some problem related to Van Hiele levels. The aim of the research was describe seventh grade students’ geometri ability from one of the schools in Palangka Raya based on Van Hiele theory. The result of the result was 97,2% of the students has level 0 geometry ability and 2,8% of the students has level 1. Furthermore, the researcher also decribed student’s anwers of the problems on each levels and existence of transistion levels from 0 to 1 (pre-Analysis level) and from 1 to 2 (pre-Informal Deduction level). Keywords: secondory students’ level of geometric thinking, Van Hiele theory, pre-Analysis, pre-Informal Deduction