Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Evaluasi Kinerja Jaringan dan Layanan Perkeretaapian Berdasarkan Prinsip Pembangunan Transportaasi di DKI Jakarta Nur Bella Octoria; Ayomi Dita Rarasati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.376 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i1.5745

Abstract

DKI Jakarta merupakan Ibukota Indonesia dengan tingkat kemacetan tertinggi ke 10 di dunia bedasarkan traffic index 2019. Selain itu, berdasarkan World Air Quality Report pada tahun 2019 menunjukan konsentrasi tingkat polusi udara di DKI Jakarta 49,4 g dan menempati urutan ke-5 polusi udara tertinggi di dunia. Suatu perkotaan dengan tingkat mobilitas yang cukup tinggi saat ini sangat perlu dilakukan penilaian terhadap tingkat efisiensi dari infrastruktur transportasi yang berkembang. detail literatur review dari paper yang berfokus kepada indikator keberlanjutan transportasi massal berbasis rel maupun transportasi umum lainnya dan upayanya untuk meningkatkan keberlanjutan. Penilaian ini dilakukan oleh responden sampel pengguna transportasi yang ada di DKI Jakarta dan beberapa unit kerja pelaksana dalam perencanaan, pembangunan maupun pengoperasian transportasi massal berbasis rel. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemetaan pembobotan dengan metode AHP dan penilaian dengan metode scoring. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek kinerja jaringan dan tingkat pelayanan memiliki tingkat yang cukup baik terhadap penilaian tingkat kepentingan penumpang dalam preferensi pemilihan transportasi. Penelitian ini menunjukkan perlu adanya peningkatan dalam hal alternatif untuk meningkatkan sistem persinyalan dalam upaya menambah kapasitas dan mengembangkan Kawasan transit (Transit Oriented Development) untuk meningkatkan integrasi antar moda.
Faktor-Faktor Paling Berpengaruh Terhadap Penyediaan Perumahan dan Aksesibilitas Pembiayaan Perumahan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Neysa Dianesdhika Jasrul; Ayomi Dita Rarasati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.048 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i1.6059

Abstract

Setiap negara memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan akan hunian yang berkualitas bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam bentuk pelaksanaan program perumahan terjangkau. Meskipun program-program perumahan terjangkau marak diadakan di berbagai negara, terdapat beragam permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Di Indonesia sendiri, penyediaan perumahan dengan berbagai program bantuan pembiayaan yang ada tergolong belum terjangkau, terutama bagi MBR. Hal tersebut mendorong untuk dirancangnya strategi yang dapat meningkatkan penyediaan perumahan dan aksesibilitas pembiayaan perumahan bagi MBR. Guna merancang strategi yang tepat untuk meningkatkan penyediaan perumahan dan aksesibilitas pembiayaan perumahan bagi MBR, dibutuhkan analisis yang mendalam terlebih dahulu terhadap permasalahan yang tengah dihadapi dalam penyelenggaraan perumahan. Makalah ini menganalisis permasalahan-permasalahan penyelenggaraan perumahan dalam Program Sejuta Rumah sebagai program perumahan terjangkau di Indonesia guna mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap penyediaan perumahan dan aksesibilitas pembiayaan perumahan bagi MBR. Permasalahan-permasalahan penyelenggaraan perumahan dalam program perumahan terjangkau tersebut dianalisis menggunakan Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk menentukan hubungan timbal balik antara permasalahan-permasalahan tersebut. Hasil analisis dari permasalahan-permasalahan tersebut pun berupa permasalahan yang paling berpengaruh terhadap permasalahan lainnya dalam penyelenggaraan perumahan, yang mana menjadi masukan untuk mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap penyediaan perumahan dan aksesibilitas pembiayaan perumahan bagi MBR. Makalah ini pun menyimpulkan bahwa faktor dukungan pemangku kepentingan, faktor bidang lahan, serta faktor regulasi mengenai perumahan dan kawasan permukiman merupakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap permasalahan penyelenggaraan perumahan dalam Program Sejuta Rumah sebagai program perumahan terjangkau di Indonesia.
Identifikasi Proses Pengembangan Standar Manajemen Pengawasan Dalam Upaya Peningkatan Kinerja Perancangan dan Pelaksanaan Proyek Konstruksi Riki Handri Muchlis Sakuntara; Ayomi Dita Rarasati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.12969

Abstract

Artikel ini memaparkan proses dalam mengidentifikasi pengembangan standar manajemen pengawasan untuk meningkatkan kinerja perancangan dan pelaksanaan proyek konstruksi di Dinas Angkatan Udara. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengembangkan standar manajemen pengawasan yang dapat diterapkan dalam perancangan dan pelaksanaan pengawasan proyek konstruksi. Berdasarkan hasil penelitian ini, standar panduan pengawasan pekerjaan konstruksi, perpipaan, dan mekanikal elektrikal dapat meningkatkan sistem manajemen pengawasan proyek konstruksi di Dinas Angkatan Udara.
Indikator Kinerja Penyelenggaraan KPBU di Indonesia Yudhi Nopryan Dinata; Ayomi Dita Rarasati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.13109

Abstract

Keterbatasan anggaran pemerintah untuk pendanaan infrastruktur mengharuskan pemerintah untuk memanfaatkan skema pembiayaan inovatif, salah satunya berupa skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Berdasarkan data Bappenas, sampai dengan tahun 2022, terdapat 30 proyek KPBU yang masuk dalam kategori Success Story. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator kinerja yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja penyelenggaraan KPBU di Indonesia. Kuesioner survei digunakan untuk menangkap persepsi tingkat kepentingan indikator kinerja dari pihak pemerintah dan pihak swasta. Peringkat tingkat kepentingan setiap indikator kinerja disusun berdasarkan metode TOPSIS. Berdasarkan persepsi dari keseluruhan responden, lima indikator kinerja penyelenggaraan KPBU peringkat teratas adalah; komitmen dan tanggung jawab antara sektor publik dan swasta; alokasi risiko yang optimal, pembagian risiko, dan transfer risiko; kelayakan teknis proyek, kemampuan untuk dibangun, dan kemampuan pemeliharaan; pengadaan tanah yang optimal; dan studi kelayakan yang komprehensif.
Strategi Meningkatkan Tingkat Kematangan Pengadaan Berbasis Keberlanjutan Menggunakan Sustainable Procurement Maturity Model Untuk Meningkatkan Kinerja Proses Pengadaan Barang dan Jasa di PT United Tractors TBK Ilma, Rahma Nur; Rarasati, Ayomi Dita
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i12.63297

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kematangan pengadaan berbasis keberlanjutan di PT United Tractors Tbk serta merumuskan strategi peningkatan yang tepat guna mendukung kinerja proses pengadaan barang dan jasa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan Sustainable Procurement Maturity Model (SPMM) sebagai kerangka untuk mengukur kematangan organisasi pengadaan dalam aspek keberlanjutan yang mencakup dimensi tata kelola, kapabilitas sumber daya manusia, proses, kepatuhan, serta kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada pihak internal perusahaan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menggambarkan kondisi aktual tingkat kematangan pengadaan. Selanjutnya, analisis gap dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kondisi ideal. Berdasarkan hasil tersebut, disusun strategi peningkatan menggunakan pendekatan benchmark best practices yang bertujuan untuk mendorong pengadaan yang lebih berkelanjutan dan selaras dengan target kinerja perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dimensi pengadaan berada pada level performing dan enabling, namun masih terdapat gap signifikan pada aspek kolaborasi dengan pemasok dan penguatan kebijakan internal. Oleh karena itu, strategi peningkatan difokuskan pada penguatan sistem tata kelola, pelatihan berkelanjutan, serta integrasi aspek keberlanjutan dalam evaluasi kinerja vendor.