Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Media Farmasi

Pemanfaatan Pati Singkong Tergelatinasi Sebagai Pengikat Tablet Asetosal Yang Dibuat Dengan Metode Kempa Langsung Hesty Setiawati; Ariyani Buang; Rusli Rusli; Hendra Stevani; Ratnasari Dewi
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1819

Abstract

Direct compression is the simplest and most efficient method of making tablets, but not all additives adopt this method. This research aims to analyze the ability of gelatinized cassava starch (Manihot utillissima) as an additive for the manufacture of tablets by direct compression using the acetosal active ingredient with a concentration of 100 mg. Furthermore, the cassava starch made from tubers (Manihot utillissima) is gelatinized by heating and then used as an additive in the manufacturing of acetosal tablets by direct compression. The results showed that the gelatinized cassava starch (Manihot utillissima) powder had good flow and compressibility properties and the acetosal acetosal tablets produced had good physical properties and solubility, therefore it was concluded that it is used as an additional ingredients in manufacturing acetosal tablets with direct compression methodKeywords : Gelatinized Cassava Starch (Manihot utillissima), Direct Compression, AsetosalKempa Langsung merupakan metode pembuatan tablet yang paling sederhana dan efisien, namun tidak semua bahan tambahan tablet dapat digunakan dalam metode kempa langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pati singkong (Manihot utillissima) yang tergelatinasi sebagai bahan tambahan dalam pembuatan tablet secara kempa langsung dengan menggunakan bahan aktif asetosal dengan konsentrasi 100 mg. Pati singkong dari umbi singkong (Manihot utillissima) dibuat tergelatinasi dengan pemanasan lalu digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan tablet asetosal dengan metode kempa langsung. Hasil penelitian menunjukan serbuk pati singkong (Manihot utillissima) tergelatinasi memilki sifat Alir dan kompresibilitas yang baik dan tablet Asetosal asetosal yang dihasilkan memilki sifat fisik dan kelarutan yang baik, sehingga dapat disimpulkan Pati Singkong tergelatinasi dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan tablet Asetosal dengan meode kempa langsungKata kunci : Pati Singkong (Manihot utillissima) tergelatinasi, Kempa Langsung, Asetosal 
Aktivitas Antioksidan pada Kopi Arabika (Coffea arabica L.) yang Diolah Dengan Mesin Espresso dan Manual Brew Pour Over V60 Rina Asrina; Zulfiah Zulfiah; Sainal Edi Kamal; Alfreds Roosevelt; Gerfan Patandung; Murniati Murniati; Achmad Amiruddin; Agust Dwi Djajanti; Rusli Rusli
Media Farmasi XXX Vol 17, No 2 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2305

Abstract

Arabica coffee (Coffea arabica L.) is a type of coffee that is very popular with the public, usually consumed in the form of a drink by brewing coffee grounds where the content of saponins, phenols, chlorogenic acid, mangiferin and flavonoids shows the presence of antioxidant activity that is needed to fight free radicals. Coffee connoisseurs can choose coffee processing methods to obtain high antioxidants. This study aims to determine the antioxidant activity of Arabica coffee processed with an espresso machine and manual brew pour over V60. The design of this study was a laboratory observation study using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method. Antioxidant activity was determined by comparing the IC50 values. The results showed that the highest % inhibition of each filtrate based on espresso machine processing and manual brew pour over v60 was 73.750% and 77.632%, respectively. The IC50 values for espresso and manual brew filtrates were 324,289 ppm and 447.352 ppm, respectively. As for ascorbic acid as a comparison, the inhibition percentage was 79.585% with an IC50 value of 6.185 ppm. With this it can be concluded that the highest antioxidant activity is found in coffee filtrate processed with an espresso machine, but both coffee bean filtrates have very weak antioxidant activity because they are in the range > 200 ppm.Keywords: Antioxidant, arabica coffeeKopi arabika (Coffea arabica L.) merupakan jenis kopi yang sangat digemari masyarakat, biasanya dikonsumsi dalam bentuk minuman dengan menyeduh bubuk kopidimana kandungan senyawa saponin, fenol, asam klorogenat, mangiferin dan flavonoid menunjukan adanya aktivitas antioksidan yang sangat diperlukan untuk melawan radikal bebas. Penikmat kopi bisa memilih metode pengolahan kopi untuk memperoleh antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan kopi arabika yang diolah dengan mesin espresso dan manual brew pour over V60. Desain penelitian ini adalah penelitian observasi laboratorium menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Aktivitas antioksidan ditentukan dengan membandingkan nilai IC50nya. Hasil penelitian menunjukkan %inhibisi tertinggi masing-masing filtrat berdasarkan pengolahan mesin espresso dan manual brew pour over v60 yaitu sebesar 73,750% dan 77,632%. Nilai IC50 filtrat espresso dan manual brew adalah 324,289 ppm dan 447,352 ppm. Sedangkan untuk asam askorbat sebagai pembanding %inhibisinya yaitu 79,585% dengan nilai IC50 6,185 ppm. Dengan ini  dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi terdapat pada filtrat kopi yang diolah dengan mesin espresso, namun kedua filtrat biji kopi tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat lemah karena berada pada range >200 ppm.Kata kunci : Antioksidan, kopi arabika
IDENTIFIKASI MEDICATION ERROR FASE COMPOUNDING PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR Raimundus Chalik; Rusli Rusli; Nurul Hasanah
Media Farmasi XXX Vol 13, No 2 (2017): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.206 KB) | DOI: 10.32382/mf.v13i2.829

Abstract

Compounding error adalah suatu kesalahan yang terjadi pada proses peracikan, peracikan obat umumnya menjadi solusi terhadap keterbatasan formula obat untuk anak, yang berkaitan dengan medication error (ME). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kejadian ME fase compounding. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif rangcangan penelitian adalah cross sectional study. Hasil penelitian menemukan bahwa terjadi kesalahan pada Kebersihan alat dan meja racik 19,33%, obat tumpah pada saat pembuatan kapsul/puyer 14,66%, tidak mencuci tangan/memakai sarung tangan pada saat meracik obat 19,33%, perhitungan obat yang kurang akurat (seperti dibelah) 13,33%, dosis kurang karena menempel pada mortir dan blender 13,33%, dan meracik menggunakan blender 11,33%. hasil penelitian menyimpulkan bahwa terjadi medication error pada fase compounding. Kata kunci : medication error, compounding error