Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Changes in the chemical characteristics of acid sulfate soil applied to oyster mushroom baglog waste compost Ahmad Wahyudianur; Jumar Jumar; Tuti Heiriyani; Riza Adrianoor Saputra; Nukhak Nufita Sari
TROPICAL WETLAND JOURNAL Vol 8 No 1 (2022): Wetland Agricultural Issues
Publisher : Postgraduate Program - Lambung Mangkurat University (ULM Press Academic)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/twj.v8i1.105

Abstract

Acid sulfate soils are one of the potential lands for agriculture with appropriate treatment. The main problem in these soils is the chemical properties, which is high in acidity and limited nutrients availability and Fe and Al toxicity. Amelioration techniques are needed to improve the chemical properties of the soil, which is oyster mushroom baglog waste compost. This research aims to study the effect of oyster mushroom baglog waste (OMBW) compost to soil chemical properties, also to know the best dosage which affects chemical properties. The research was conducted at the greenhouse of the Agroecotechnology Department and the Laboratory of the Soil Department, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru. The research was started from August-October 2020. One-factor completely randomized design (CRD) with five treatments and five replications was used, the b0 treatment was not OMBW compost, b1 was 5 t ha-1, b2 was 10 t ha-1, b3 was 15 t ha-1, and b4 was 20 t ha-1. The application of the OMBW compost significantly affected the soil pH and decreased soluble-Fe and Al, but did not significantly affect the Eh value at 2 WAA (Week After Application). The best concentration of dose of OMBW compost was 10 t ha-1 which improved soil pH, decreased soluble-Fe and Al.
Pengaruh bokashi ampas kelapa terhadap hasil panen tanaman pakcoy Nur Hikmah; Tuti Heiriyani; Antar Sofyan
Agrovigor Vol 15, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v15i2.14925

Abstract

Ampas kelapa merupakan sisa dari buah kelapa yang sudah diambil santannya. Selama ini ampas kelapa hanya dibuang begitu saja, padahal ampas kelapa berpotensi untuk dijadikan bokashi karena mengandung unsur hara yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Maka ampas kelapa perlu dijadikan bokashi untuk diaplikasikan pada tanaman salah satunya yaitu Pakcoy. Pakcoy merupakan tanaman sayuran yang banyak disukai masyarakat, tetapi di Kalimantan produktivitasnya masih rendah karena kesuburan tanah yang rendah, sehingga perlu dilakukan pemupukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis terbaik dari pemberian bokashi ampas kelapa terhadap hasil panen tanaman pakcoy. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2022 bertempat di Kebun Percobaan Samping Rumah Kaca Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu bokashi ampas kelapa yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu p0 = Kontrol (Tanpa pemberian bokashi ampas kelapa) p1 = 25 gram polybag-1, p2 =, p3 = 75 gram polybag-1. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 ulangan sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Pemberian bokashi ampas kelapa berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman umur 21 hst dan 28 hst, serta pada jumlah daun berpengaruh nyata pada umur 21 hst dan 28 hst. Pada parameter bobot segar menunjukkan berpengaruh nyata. Dosis terbaik dari perlakuan pemberian bokashi ampas kelapa yaitu p3 = 75 gram polybag-1.
Pengaruh konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh terhadap mortalitas ulat tritip (Plutella xylostella) Taslia Taslia; Tuti Heiriyani; Rabiatul Wahdah
Agrovigor Vol 15, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v15i2.13429

Abstract

Tanaman sawi merupakan tanaman sayuran yang cukup populer dan banyak ditanam di Indonesia. Petani Indonesia terus meningkatkan produksi dan kualitas tanaman sayur budidayanya, namun mengalami beberapa kendala. Salah satu kendala budidaya tanaman sawi adalah adanya serangan hama utama yaitu hama ulat tritip (Plutella xylostella), oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian. Pestisida nabati dapat digunakan untuk pengendalian ulat tritip (Plutella xylostella) yang tidak bersifat racun bagi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh terhadap mortalitas dan waktu kematian ulat tritip (Plutella xylostella). Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada bulan April sampai bulan Juni 2021 dan dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan perlakuan b1 (kontrol), b2 (10% ekstrak daun belimbing wuluh), b3 (20% ekstrak daun belimbing wuluh), b4 (30% ekstrak daun belimbing wuluh) dan b5 (40% ekstrak daun belimbing wuluh). Perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga didapat 20 satuan percobaan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun belimbing wuluh berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas ulat tritip (Plutella xylostella) namun tidak berpengaruh terhadap waktu kematian. Perlakuan terbaik terdapat pada b2 yaitu konsentrasi 10% dengan mortalitas 1,25% dan waktu kematian 1,50 ekor/jam pada pengamatan jam ke 12 dan 0,75 ekor/jam pada pengamatan jam ke 24.
Keanekaragaman Arthropoda pada Tanaman Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) yang Diberi Perlakuan Bokashi Jerami Padi Difa Nanda Gemilang; Tuti Heiriyani; Nukhak Nufita Sari
Agroekotek View Vol 5, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v5i3.3730

Abstract

Arthropods or commonly known as segmented animals are closely related to the cultivation of plants such as vegetables. This is because arthropods can act as pests or natural enemies for plants. The existence of pests and natural enemies can be affected by various conditions, one of which is soil fertility. The use of rice straw bokashi in red spinach cultivation is expected to provide information on whether rice straw bokashi has an effect on the diversity level of arthropods in red spinach cultivation. This study used the RAK method (Randomized Block Design) 1 factor, consisting of 5 treatments with 4 groups, with a total of 20 experimental units in the form of J0: negative control, J1: positivecontrol (NPK Mutiara), J2: Bokashi 4 t.ha-1, J3: Bokashi 5 t.ha-1, J4: Bokashi 6 t.ha-1. From the observations obtained 12 arthropod orders, namely aranae, diptera,  lepidoptera, blattodea, hemiptera, coleoptera, isoptera, orthoptera,  hymenoptera, polydesmides,  odonata and spirostrepsids. The results showed that the administration of bokashi in various doses had no effect on the diversity, dominance, evenness and richness of arthropod species in red spinach. The diversity index is in the medium criteria, the dominance index is at the low criterion, the evenness index is at the high criterion, and the species richness index is at the low criterion.
Respon Pertumbuhan Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) pada Pemberian Pupuk NPK, Pupuk Kandang, Campuran Pupuk NPK dan Pupuk Kandang Habibah Habibah; Tuti Heiriyani; Nurlaila Nurlaila
Agroekotek View Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v5i1.3249

Abstract

Jagung Manis Merupakan tanaman yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis dan banyak mengandung karbohidrat. Tanaman ini layak dibudidayakan karena memiliki nilai jual yang tinggi. Salah satu perilaku petani di Banjarbaru dalam pemberian pupuk NPK sangat bergantung pada tingkat kesuburan tanaman jagung manis, apabila tanaman jagung manis terlihat kurang baik maka petani akan meningkatkan dosis pupuk NPK yang diberikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi dan pupuk mana yang terbaik antara NPK, pupuk kandang, campuran NPK dan pupuk kandang berdasarkan kebiasaan petani di Banjarbaru terhadap pertumbuhan dan perkembangan jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan pada bulan Mei - Agustus 2020. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan secara berurutan. untuk mendapatkan 20 unit eksperimen. Setiap unit percobaan terdiri dari 40 tanaman. Parameter pengamatan dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan waktu kemunculan bunga jantan. Pemberian pupuk NPK, pupuk kandang, campuran NPK dan pupuk kandang berdasarkan perilaku petani di Banjarbaru terhadap pertumbuhan dan perkembangan jagung manis Berpengaruh terhadap jumlah daun umur 5 WAP dan 6 MST, panjang daun 2 MST, lebar daun berumur 6 MST dan 7 MST serta waktu kemunculan bunga jantan, tetapi tidak mempengaruhi tinggi tanaman. Perlakuan terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan jagung manis adalah J3 yaitu 10 ton / ha kotoran ayam + 0,1 ton / ha pupuk NPK.
Respon Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus L.) Terhadap Pemberian Trichokompos dan NPK Siti Syahila Rahmah; Akhmad Gazali; Tuti Heiriyani
Agroekotek View Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v4i3.2980

Abstract

The cucumber plant (Cucumis sativus L.) is a plant that has the advantage of being cultivated, because it can be marketed both domestically and abroad. Cucumber production is still very low, an average of 10 tonnes ha-1. In an effort to increase cucumber yields, it is necessary to have precise cultivation tecniques, the use of the right dosage fertilizers (organic and inorganic), superior varieties and spacing. Trichokompost is a form of compost organic fertilizer which contains the antagonistic fungi Trichoderma sp which can support plant growth. Meanwhile, NPK fertilizer itself is a compound fertilizer containing complete nutrients needed by plants during their growth period. This study aims to determine the effect of the interaction between trichocompost and NPK fertilizers on the highest cucumber yield and to determine the dosage of trichocompost and NPK fertilizers wihch can produce cucumber fruit. This study uses a 2-factor RAK. The first factor was the trichocompost dos with 3 treatment levls, the two factor was the NPK fertilizer dosage which consisted of 3 treatment levels, so that 9 treatment combinations were obtained. until treatment was repeated 3 times, in order to obtain 27 units. This research was conducted in February-April 2020 at the Experimental Field of the Banjarbaru Faculty of Agriculture. The study indicated that application of trichocompost and NPK fertilizers at different doses had an effect on cucumber yields (number and weight of cucumber) on a single factor. The best combination of dosage treatments for the number of cucumber fruit plants is in the T220 treatment (Trichokompos 480 grams / plant). While the best combination of dosage treatments for fruit weight was found in N1 treatment (NPK dose of 48 grams / plant).
Keanekaragaman Hama dan Musuh Alami pada Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) yang Diberi Pupuk NPK, Pupuk Kandang, Kombinasi Pupuk NPK dan Pupuk Kandang Fahrurazi Fahrurazi; Tuti Heiriyani; Rila Rahma Apriani
Agroekotek View Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v5i2.3314

Abstract

Prospek serapan pasar terhadap komoditas jagung manis akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, karena itu komoditas jagung manis harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenuhi permintaan pasar. Permasalahan yang sering timbul pada tanaman jagung manis yakni, ketidakseimbangan keanekaragaman antara hama dan musuh alami yang berdampak pada produktivitas hasil jagung manis yang disebabkan penggunaan dosis pupuk NPK dan pupuk kandang yang tidak sesuai. Faktor abiotik dan biotik juga dapat mempengaruhi keanekaragaman hama dan musuh alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keanekaragaman hama dan musuh alami pada tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) yang diberi pupuk NPK, pupuk kandang, kombinasi pupuk NPK dan pupuk kandang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor dengan empat perlakuan yang terdiri dari J1 = Kontrol, J2 = 10 ton/ha pupuk kandang, J3 = 100 kg/ha NPK + 10 ton/ha pupuk kandang, J4 = 100 kg/ha NPK + 20 ton/ha pupuk kandang. Variabel pada pengamatan ini yaitu tingkat keanekaragaman hama dan musuh alami yang terperangkap, dilakukan sebanyak 1 kali setiap minggu yaitu dimulai pada  minggu ke 2 setelah tanam pada tanaman jagung manis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat status keanekaragaman hama dan musuh alami pada tanaman jagung manis sedang, perlakuan yang paling efektif terdapat pada perlakuan J2, karena pada perlakuan J2 tidak berbeda nyata dengan J1 (kontrol), J3 dan J4, baik pada indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, kemerataan jenis dan indeks dominasi, hal ini karena penggunaan pupuk NPK, kandang dan kombinasi tidak berbahaya bagi organisme dilingkungan tersebut, melainkan perlakuan tersebut berpengaruh terhadap perilaku pertumbuhan yang berdampak pada ketertarikan hama dan musuh alami. pemberian pupuk yang sesuai akan menentukan kelimpahan jenis hama dan musuh alami dalam suatu ekosistem. Hal ini dikarenakan ekosistem tersebut dapat memberikan makanan yang cukup bagi hama dan musuh alami untuk berkembang biak Fitriani (2016).
Pengembangan dan Pertambahan Nilai Pada Produk Purun Inovatif Berpeluang Lolos Kurasi Ekspor Hesty Heryani; Tuti Heiriyani; Dessy Maulidya Maharani; Arif Pangestu
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 2, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v2i4.8290

Abstract

Kampung Purun, Palam, Banjarbaru is well-known as the development of creative industries making purun woven products. The products are in the form of various bags, hats, mats and tissue boxes as well as many other various products. The resulting product has a variety of colors, but in the coloring process the craftsmen still use chemical dyes which are not environmentally friendly. Besides that, the product design is still not varied. This service aimed at innovating purun products produced by the villagers of Kampung Purun, especially the Galoeh Bandjar group by redesigning and innovating the dyes used, namely using natural dyes to boost the chances of purun products being able to pass the export curation. Natural dyes were produced from a combination of jengkol skin and sappan wood, with various formulations developed based on previous research results. The best formula used was 12 : 1 : 7 consisting of water : cup : jengkol skin. The jengkol skin used was waste from the Jaring culinary production process. Dyes were made by boiling the two ingredients. Furthermore, the production stages by designing, coloring, determining color composition and evaluating product quality were carried out at the Banjarbaru Government Packaging House. The resulting color was brownish red and ready to be applied to purun products. The results of the curation by the Packaging House stated that the innovative purun product was feasible to be marketed from a quality standpoint. The selling price of the product was set at Rp. 46,000, - with a production cost of Rp. 36,621, - per unit. This means that there is an additional value of IDR 10,379.
Tingkat Pengetahuan Petani Terhadap Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit serta Pengendaliannya pada Kebun Swadaya Masyarakat di Kecamatan Pelaihari Chotibul Niam; Dewi Fitriyanti; Tuti Heiriyani
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 1 No 2 (2018): Edisi Juni 2018
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di 3 Desa yaitu desa Sungai riam, desa Kampung Baru dan desa Panggung Baru di Kecamatan PelaihariKabupaten Tanah Laut. Penelitian dilakukan dengan metode survey. Penggunaan sampel dilakukan dengan pengambilan contoh secara sengaja(purposive sampling). Responden ditentukan kepada petani yang usaha budidaya komoditas tanaman Kelapa Sawit. Jumlah responden yangdiperlukan setiap desa yaitu 20 petani. 60 orang respoden dari 3 desa yaitu desa Sungai Riam, desa Panggung Baru, dan desa Kampung BaruKecamatan Pelaihari. Tingkat Pengetahuan petani terhadap hama dan penyakit tanaman Kelapa Sawit pada Desa Sungai Riam (100%), desaKampung Baru (95%) dan desa Panggung Baru (95%) yaitu tergolong kategori tinggi.Tingkat pengetahuan petani terhadap pengendalian hamadan penyakit kelapa sawit pada desa Sungai Riam (85%), desa Kampung Baru (95%) dan desa Panggung Baru (90%) yaitu tergolong kategoritinggi.
POTENSI BIJI JARAK PAGAR SEBAGAI RODENTISIDA ALAMI Edo Legianto Pratama; Tuti Heiriyani; Riza Adrianoor Saputra
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Vol 23 No 2 (2021)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jipi.23.2.98-105

Abstract

[JATROPHA SEED POTENTIAL AS A NATURAL RODENTICIDE]. The controlling of rat's pest attacks often use chemical control that adversely affects non-target animals and leaves a residue for the environment. One of the recommended controls is to use natural rodenticides derived from jatropha seeds and do not harm non-target animals that are environmentally friendly. This research aims to determine the interaction and the best combination of bait mixed with jatropha seeds on the death of Mus musculus, as well as the type of bait and the best dose of jatropha seeds on the death of Mus musculus. The design in this study used a completely randomized design consisting of two factors, the first factor was the bait and the second factor was the dose of jatropha seeds. The results showed that there was an interaction between the type of bait and the dose of jatropha seeds on the amount of feed consumed by Mus musculus. The combination of bait type and dose of jatropha seeds that was best for the mortality of Mus musculus was found in the treatment of rice flour with 3.0 g of jatropha seeds, cornflour with 3.0 g of jatropha seeds, and fish meal with 3.0 g of jatropha seeds. The best dose of jatropha seeds in reducing the bodyweight of Mus musculus, accelerating the time of death, and increasing the percentage of death was 3.0 g of jatropha seeds with an average decrease in body weight of Mus musculus reaching 75%, and the fastest death for five days, and able to kill 100% of Mus musculus.