Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Resepsi Khalayak terhadap Narasi Pemberitaan Medali ‘Giveaway’ di Metro TV Florentina, Regina; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33307

Abstract

Framing is the way the media conveys information to influence the audience's perception and interpretation of an event. This study aims to understand how audiences interpret the term “giveaway” in the news narrative of Gregoria Mariska Tunjung's medal win reported by Metro TV. The theories used include mass communication, the role of the media in influencing public perception through framing, as well as reception theory by Stuart Hall to analyze the audience's position in understanding media messages. The research approach used is qualitative with a case study method. Data were collected through structured interviews with 10 informants who have different backgrounds and are aware of the news of the 'giveaway' medal, as well as documentation from various sources. The data were analyzed using thematic analysis techniques. The results showed that the majority of respondents were in the Dominant-Hegemonic, Negotiated, and Oppositional Positions, where they had various interpretations of the media messages conveyed by Metro TV. This research concludes that audiences are not passive in receiving media messages, but actively interpret them based on ideology, culture, and individual understanding. This research also emphasizes the importance of proper framing in news reporting in order to better respect the context and struggles being reported. Framing merupakan cara media menyampaikan informasi untuk mempengaruhi persepsi dan interpretasi khalayak terhadap suatu peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana audiens menginterpretasikan istilah “giveaway” dalam narasi berita kemenangan medali Gregoria Mariska Tunjung yang dilaporkan oleh Metro TV. Teori yang digunakan meliputi komunikasi massa, peran media dalam mempengaruhi persepsi publik melalui framing, serta teori resepsi oleh Stuart Hall untuk menganalisis posisi audiens dalam memahami pesan media. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan 10 informan yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan mengetahui pemberitaan medali ‘giveaway’ tersebut, serta dokumentasi dari berbagai sumber. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada Posisi Dominant-Hegemonic, Negotiated, dan Oposisional, di mana mereka infroman memiliki pemaknaan beragam terhadap pesan media yang disampaikan Metro TV. Penelitian ini menyimpulkan bahwa audiens tidak pasif dalam menerima pesan media, melainkan aktif menginterpretasi berdasarkan ideologi, budaya, dan pemahaman individu. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya framing yang tepat dalam pemberitaan agar lebih menghormati konteks dan perjuangan yang dilaporkan.
Krisis Kepercayaan pada Fenomena Kabur Aja Dulu Studi Resepsi Gen Z dalam Perspektif Komunikasi Krisis Franco, Joe; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36299

Abstract

The “Kabur Aja Dulu” phenomenon reflects a growing trust crisis among Indonesian Gen Z toward the government, driven by social, economic, and political conditions that they perceive as failing to meet their expectations. This study aims to analyze Gen Z’s reception of the phenomenon and how they interpret it as a form of trust crisis using a communication perspective. Two theoretical frameworks are applied: Coombs’ Situational Crisis Communication Theory (SCCT) to examine attribution of government responsibility, and Stuart Hall’s Encoding/Decoding model to identify Gen Z’s reception positions. This research employs a descriptive, qualitative method through in-depth interviews with five Gen Z participants and one expert to validate the data. The findings indicate that Gen Z predominantly occupies dominant and negotiated positions, reflecting general acceptance of the phenomenon as an expression of dissatisfaction toward the government. Participants attribute significant responsibility to the government, reinforced by negative reputation, corruption cases, and defensive crisis communication. Many also view migration as a rational response to limited domestic opportunities and perceived inconsistencies in public policy. This study highlights that restoring public trust requires systemic reforms, transparency, and a more empathetic, consistent communication approach from the government that aligns with the expectations of younger generations.     Fenomena “Kabur Aja Dulu” mencerminkan meningkatnya krisis kepercayaan generasi muda terhadap pemerintah, terutama dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi Gen Z terhadap fenomena tersebut serta memahami bagaimana Gen Z mengaitkannya dengan krisis kepercayaan dalam perspektif komunikasi krisis. Dua kerangka teori digunakan, yaitu Situational Crisis Communication Theory (SCCT) Coombs untuk melihat atribusi tanggung jawab pemerintah, dan teori Encoding/Decoding Stuart Hall untuk menelaah posisi resepsi Gen Z terhadap makna fenomena ini. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dengan lima narasumber Gen Z serta satu narasumber ahli sebagai validasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi Gen Z berada pada posisi dominan dan negosiasi, menandakan penerimaan umum bahwa fenomena ini adalah bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah. Gen Z memberi atribusi tanggung jawab besar kepada pemerintah, diperburuk oleh reputasi negatif, kasus korupsi, dan komunikasi krisis yang dinilai defensif. Narasumber juga memandang migrasi sebagai pilihan rasional akibat keterbatasan peluang dan kualitas kebijakan dalam negeri. Studi ini menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan publik mensyaratkan transparansi, perbaikan sistemik, serta komunikasi pemerintah yang lebih empatik, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan generasi muda.
Makna Prasangka sebagai 'Monster' dalam Film Monster (2023) Meliana, Agdelia; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36457

Abstract

Film is a medium in mass communication that functions to convey messages to audiences through audio-visual forms. This study aims to analyze the meaning of prejudice as a ‘monster’ in the Japanese film Monster (2023) using Roland Barthes’ semiotic analysis and Edwin M. Lemert’s labeling theory. The focus of this research is on visual and narrative signs that indicate social prejudice toward the Other within the context of social relations in Japanese society. The main concepts employed include mass communication, film as a medium of mass communication, prejudice, the concept of monsters in Japanese culture, Roland Barthes semiotics, and labeling theory. This study adopts a qualitative approach with semiotic text analysis to examine denotative, connotative, and mythic meanings presented in the film. The findings show that the ‘monster’ in the film does not refer to a physical being, but rather to a social construct formed through rigid cultural systems and social institutions. Labeling mechanisms, normative pressures, and Japanese cultural values play an important role in transforming difference into stigma. Thus, Monster conveys a social critique of society’s efforts to maintain superficial harmony by excluding individuals who are considered different. The film essentially addresses the failure of social systems to protect individuals. Prejudice and the labeling of "monsters" arise from a rigid society that chooses to exclude the other in order to maintain social harmony.   Film menjadi salah satu media dalam komunikasi massa yang berfungsi menyampaikan pesan kepada audiens melalui bentuk audio-visualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna prasangka sebagai ‘monster’ dalam film Jepang Monster (2023) dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dan teori labelling Edwin M. Lemert. Fokus penelitian diarahkan pada tanda-tanda visual dan naratif yang menunjukkan prasangka sosial terhadap liyan (the other) dalam konteks relasi sosial masyarakat Jepang. Konsep-konsep utama yang digunakan meliputi komunikasi massa, film sebagai media komunikasi massa, prasangka, konsep monster dalam budaya Jepang, semiotika Roland Barthes, serta teori labelling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis teks semiotika untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘monster’ dalam film tidak merujuk pada sosok fisik, melainkan pada konstruksi sosial yang terbentuk melalui sistem budaya dan institusi sosial yang kaku. Mekanisme pelabelan, tekanan norma, serta nilai budaya Jepang berperan penting dalam mengubah perbedaan menjadi stigma. Dengan demikian, film Monster menyampaikan kritik sosial terhadap upaya masyarakat mempertahankan harmoni semu dengan cara menyingkirkan individu yang dianggap berbeda. Film sejatinya merujuk pada kegagalan sistem sosial dalam melindungi individu. Prasangka dan pelabelan ‘monster’ muncul dari masyarakat yang kaku, yang memilih untuk menyingkirkan liyan (the other) demi mempertahankan harmoni sosial.