Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Persepsi dan Partisipasi Masyarakat terhadap Pengelolaan Terumbu Karang di Pulau Lembongan, Bali I Nyoman Dodik Prasetia; . Supriharyono; Sutrisno Anggoro; Lachmuddin Sya’rani
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol. 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem terumbu karang Pulau Lembongan memiliki nilai sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Pemanfaatan terdiri dari kegiatan: perikanan tangkap; budidaya perairan; perhubungan; dan pariwisata. Tingginya pemanfaatan kawasan terumbu karang dapat menurunkan daya dukung lingkungan. Beberapa indikator ke arah penurunan kualitas dan kuantitas terumbu karang adalah: 1. Pemanfaatan kawasan terumbu karang yang berlebihan; 2. Kegiatan pariwisata yang tidak ramah lingkungan; 3. Kegiatan investasi yang tidak sehat; dan 4. Perebutan kawasan pesisir antar stakeholder. Penelitian bertujuan untuk mengetahui persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Penelitian dilakukan dengan penyebaran kuisioner dan wawancara. Penelitian menunjukkan masyarakat Pulau Lembongan menyadari terumbu karang memberikan manfaat terhadap kehidupan seperti: terumbu karang sebagai rumah ikan dan karang berfungsi memecah gelombang. Persepsi masyarakat terhadap kondisi karang 10 tahun yang lalu dengan sekarang adalah terjadinya penurunan dalam kuantitas dan kualitas. Tingkat pastisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dalam kategori tinggi, dimana: 1) masyarakat menyatakan siap melakukan upaya pelestarian lingkungan; dan 2) masyarakat ingin terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan. Hal ini menunjukkan masyarakat menyadari ada kaitan antara karang dengan kehidupan masyarakat.Kata kunci: terumbu karang, masyarakat Pulau Lembongan, persepsi dan partisipasi
Keanekaragaman dan Kelimpahan Nudibranch di Pantai Penimbangan Buleleng Bali Jasmine Masyitha Amelia; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Iwan Setiabudi
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35005

Abstract

Pantai Penimbangan terletak Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng merupakan kawasan pusat kota Kabupaten Buleleng, Bali yang memiliki hamparan pasir hitam. Kegiatan konservasi penyu di kawasan ini meningkatkan gairah masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang. Salah satu biota yang beriteraksi di ekosistem terumbu karang adalah nudibranch. Keberadaan nudibranch di Pantai Penimbangan diharapkan mampu menjadi alternatif potensi wisata yang bisa dikembangkan, sehingga antusiasisme masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir akan terus terjaga.  Penelitian bertujuan untuk memperkuat data dasar ekologi tentang keanekaragaman dan kelimpahan nudibranch. Penelitian populasi nudibranch dinilai dengan sensus visual mengikuti line intercept transect. Penelitian nudibranch di Pantai Penimbangan menunjukkan bahwa terdapat 12 famili yaitu  Chromodorididae, Phyllidiidae, Discodorididae, Aeolidiidae, Elysiidae, Aglajidae, Bornellidae, Facelinidae, Flabellinidae, Hexabranchidae, Limapontiidae, dan Pleurobranchidae, dengan 42 jenis. Kelompok Chromodorididae dan Phyllidiidae adalah kelompok yang umum dijumpai di Perairan Pantai Penimbangan.  Kedua kelompok ini memanfaatkan patahan karang yang menjadi subsrat perairan sebagai tempat berlindung. Komposisi substrat sangat menentukan kekayaan nudibranch, kategori substrat yang menentukan keberadaan nudibranch adalah dead coal with alga, sponge, dan hard coral. Tingginya persentase dead coral with alga, dan sponge berbanding lurus dengan keanekaragaman nudibranch, dan hard coral berbanding terbalik dengan keanekaragaman nudibranch.  Kriteria indeks keanekaragaman tinggi dengan nilai 2,6199, Indeks keseragaman 0,7055 dan nilai dominansi 0,0342.  Tingkat kelimpahan tertinggi pada jenis Hypselodoris tryoni. Penimbangan Beach is located in Baktiseraga Village, Buleleng District, which is the downtown area of Buleleng Regency, Bali which has a stretch of black sand. Turtle conservation activities in this area increase the enthusiasm of the community in preserving the coral reef ecosystem. One of the biota that interacts in the coral reef ecosystem is the nudibranch. The existence of nudibranchs at Penimbangan Beach is expected to be an alternative tourism potential that can be developed, so that public enthusiasm for preserving coastal ecosystems will continue to be maintained. This study aims to strengthen the basic ecological data on the diversity and abundance of nudibranchs. The study of the nudibranch population was assessed by visual census following the line intercept transect. Research on nudibranchs at Penimbangan Beach showed that there were 12 families namely Chromodorididae, Phyllidiidae, Discodorididae, Aeolidiidae, Elysiidae, Aglajidae, Bornellidae, Facelinidae, Flabellinidae, Hexabranchidae, Limapontiidae, and Pleurobranchidae, with 42 species. Chromodorididae and Phyllidiidae groups are common groups found in Penimbangan Beach. Both of these groups take advantage of coral fractures which become the substrate of the waters as a shelter. Substrate composition greatly determines the richness of nudibranchs, the substrate categories that determine the presence of nudibranchs are dead coral with algae, sponges, and hard corals. The high percentage of dead coal with algae, and sponges is directly proportional to nudibranch diversity, and hard coral is inversely proportional to nudibranch diversity. The criteria for the high diversity index are 2.6199, the uniformity index is 0.7055 and the dominance value is 0.0342. The highest abundance level was in Hypselodoris tryoni. 
Development of Artificial Live Rock in Supporting Ornamental Coral Cultivation Activities Imam Safii; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Ari Yudasmara
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 27, No 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.272-279

Abstract

Artificial live rock is an artificial live rock that is shaped like living rock in nature. Artificial live rock is designed to mimic natural living rock which is capable of being a substrate for corals, a habitat for epibenthic and the biological filter of a saltwater aquarium.  The purpose of this research is to know the technique of making artificial live rock and the development of artificial live rock that are suitable for export on an export scale. The method used in this research is an experimental method with quantitative descriptive analysis. The level of suitability and product standards uses a simultaneous regression coefficient test analysis or the F test.  The manufacture of artificial live rock does not have a special pattern, but artificial live rock is made as attractive as possible and resembles the shape in nature. Product standardization is carried out by using artificial live rock materials consisting of: 1 kg of pumice stone, ½ kg of cement, ½ kg of sand, 500 grams of calcium and 1.5 liters of water. The type of substrate that is good and ideal for algae on the surface of artificial live rock is an area with a bottom of coral sand mixed with coral rubble. Artificial live rock can be harvested for 3 months in water, with the characteristics of the surface of the artificial live rock covered algae which is then cleaned and placed in a treatment pond before being exported
Potensi Muck Dive di Perairan Kecamatan Buleleng Bali I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Iwan Setiabudi; Kadek Lila Antara; Jasmine Masyitha Amelia; Gressty Sari Br Sitepu; Made Dwipa Kusuma Maharani; Dewi Wulandari; I Nyoman Suardana
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i2.50061

Abstract

Kawasan Pesisir  Kecamatan Buleleng terdiri dari Pantai Desa Kalibukbuk, Anturan, Tukad Mungga, Pemaron, Baktiseraga, Banyuasri, Kaliuntu, Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, dan Penarukan merupakan kawasan perairan yang berada di pusat Kabupaten Buleleng.  Perairan Kecamatan Buleleng memiliki karakteristik subsrat perairan berupa hamparan terumbu karang, patahan karang, pasir yang didominasi oleh pasir hitam, dan berlumpur.  Kondisi subsrat memiliki potensi pengembangan wisata muck dive sebagai alternatif wisata bahari yang berkelanjutan.  Muck dive merupakan jenis penyelaman yang dilakukan di subsrat berlumpur dengan berfokus untuk menemukan jenis langka dan samar yang jarang ditemukan di terumbu karang.  Penelitian bertujuan mengetahui potensi muck dive dengan memperkuat data identifikasi jenis, kelimpahan dan keanekaragaman organisme yang dapat dijadikan sebagai ikon obyek wisata selam.  Peneltian menggunakan metode underwater visual sensus dengan mengikuti line transect. Penelitian menunjukkan Perairan Kecamatan Buleleng memiliki potensi pengembangan wisata muck dive dengan karakteristik di setiap perairan desa yang beragam berdasarkan tipe subsrat perairan.  Kelimpahan dan keanekaragaman jenis organisme sebagai obyek muck dive tertinggi terdapat di Pantai Desa Baktiseraga, Banyuasri, dan Kaliuntu, sedangkan terendah di Desa Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, dan Penarukan. Potensi wisata muck dive layak dikembangkan sebagai alternatif  wisata bahari yang dikelola secara berkelanjutan.   The coastal area of Buleleng districts consists of Kalibukbuk, Anturan, Tukad Mungga, Pemaron, Baktiseraga, Banyuasri, Kaliuntu, Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, and Penarukan are water areas located in the center of Buleleng Regency. The Buleleng districts water have the characteristics of the water substrate in the form of coral reefs, coral fractures, sand dominated by black sand, and muddy. Substrate conditions have the potential to increase muck dive tourism as an alternative to sustainable marine tourism. Muck dive is a type of diving that is carried out in muddy substrates with a focus on finding rare and rare species that are rarely found in coral reefs. This study aims to determine the potential of muck dive by strengthening the identification data of species, abundance and diversity of organisms that can be used as icons of diving tourism objects. The research uses the underwater visual census method by following the line transect.The research shows that the Buleleng districts waters have the potential to develop muck dive tourism with different characteristics in each village waters based on the type of substrate. The highest abundance and diversity of organisms as muck dive objects was found in Baktiseraga, Banyuasri, and Kaliuntu Beaches, while the lowest was in Kampung Anyar, Bugis, Kampung Baru, Banyuning, and Penarukan villages. This potential to be the one of alternative for marine tourism which is must managed sustainably.
Uji Evektifitas Perendaman Air Kelapa Dengan Konsentrasi Berbeda Terhadap Maskulinisasi Ikan Guppy (Poecilia reticulata) Siluh Made Maria Theresia Putri Puspitha; I Nyoman Dodik Prasetia; Dewi Wulandari
Juvenil Vol 4, No 3: Agustus (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i3.20443

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan menguji pengaruh dan konsentrasi air kelapa yang tepat untuk proses maskulinisasi ikan guppy. Penelitian menggunakan kuantitatif eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan terdiri dari: 20% air kelapa (A), 30% air kelapa (B), Hormone 17α-metiltestosterone 2 ppm (C), dan kontrol (D). Perendaman dilakukan pada larva berusia dua hari selama 24 jam. Pengamatan persentase kelamin jantan dilakukan dengan melihat gonopodium pada ikan guppy berumur 45 hari. Hasil analisis menunjukan bahwa pemberian air kelapa memberikan pengaruh berbeda nyata (P0,05) pada proses maskulinisasi ikan guppy. Persentase paling tinggi ditunjukan sebesar 58,03%±5,78c (C), 56,69%±6,05bc (B), 48,64%±1,17ab (D) dan 44,43%±3,51a (A). Perlakuan B (30% air kelapa) menghasilkan persentase jantan yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan C (Hormone 17α-metiltestosterone 2 ppm). Tingginya persentase kelamin jantan pada perlakuan B yang diperoleh menunjukan penggunaan larutan air kelapa 30% memberikan peluang sebagai bahan alternatif Hormone 17α-metiltestosterone. Kelangsungan hidup selama perendaman yang tertinggi sampai terendah adalah 100% (C), 100% (D), 98,98% (A) dan 97,36% (B). Tingkat kelangsungan hidup selama pemeliharaan tertinggi sampai terendah adalah 96,49% (C), 96,32% (A), 95,59% (B) dan 93,85% (D). Hasil uji menunjukan air kelapa tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan guppy selama perendaman dan pemeliharaan. Kata kunci: Air kelapa, maskulinisasi, larva ikan guppyABSTRACTThe purpose of this research was to test the influence and concentration of coconut water for the process of masculinizing guppy fish. This research used quantitative methods with a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and three replications. The treatment is coconut water 20% (A), coconut water 30% (B), 17α-metiltestosterone hormone 2 ppm (C), and control (D). This research conducted immersion on two-day old larvae for 24 hours. Observation of male percentage based on gonopodium in male guppy fish after 45 days of treatment. The result of the experiment gave significant differences (P0,05) in guppy masculinization. The highest percentage of male guppy were 58.03%±5.78c (C), 56.69%±6.05bc (B), 48.64%±1,17ab (D), and 44.43%±3.51a (A). Treatment B (coconut water 30%) has no significant difference with treatment C (17α-metiltestosterone hormone 2 ppm). The high percentage in treatment B was provided by 30% coconut water as an alternative 17α-metiltestosterone hormone. Survival rates in immersion from the highest were 100% (C), 100% (D), 98.98% (A), and 97.36% (B). Survival rates in maintenance from the highest were 96.49% (C), 96.32% (A), 95.59% (B) and 93.85% (D). The result showed coconut water had no significant effect on survival rate when immersioning and maintaning guppy fish. Keyword: Coconut water, masculinization, larvae of guppy fish
Indonesia Coral Reef Garden Sanur Bali: Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Restorasi Terumbu Karang Putri, Putu Indah Dianti; Sudiarta, I Ketut; Prasetijo, Rahmadi; Prasetia, I Nyoman Dodik
International Journal of Community Service Learning Vol. 7 No. 2 (2023): May 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v7i2.56525

Abstract

Perairan Sanur memiliki bentangan terumbu karang yang menjadi potensi utama dalam memacu perkembangan wisata bahari. Melihat begitu pentingnya keberadaan ekosistem terumbu karang diperlukan upaya pengelolaan secara aktif. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka percepatan penanganan pandemi Covid-19 dan mengatasi kondisi perekonomian melakukan program restorasi terumbu karang dengan metode transplantasi yang dikenal sebagai Indonesia Coral Reef Garden (ICRG). Program ini dilaksanakan melalui kegiatan padat karya dengan melibatkan masyarakat pesisir Sanur dan wilayah sekitar yang terkena dampak pandemi Covid-19. Program ini bertujuan memberikan stimulus ekonomi yang selanjutnya dapat berdampak pula pada pelestarian ekosistem pesisir laut daerah Sanur serta penumbuhan mata pencaharian alternatif melalui pengembangan wisata bahari. Sejumlah 12.700 unit struktur kebun karang berhasil dikerjakan. Restorasi terumbu karang yang dilakukan di perairan Sanur mencapai luas 8 (delapan) ha. Secara nyata program ini dapat memberikan dampak terhadap pemulihan perekonomian kepada masyarakat baik yang dirasakan secara langsung maupun tidak langsung.
Development of Artificial Live Rock in Supporting Ornamental Coral Cultivation Activities Imam Safi’i; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Ari Yudasmara
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 3 (2022): October
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.272-279

Abstract

Artificial live rock is an artificial live rock that is shaped like living rock in nature. Artificial live rock is designed to mimic natural living rock which is capable of being a substrate for corals, a habitat for epibenthic and the biological filter of a saltwater aquarium. The purpose of this research is to know the technique of making artificial live rock and the development of artificial live rock that are suitable for export on an export scale. The method used in this research is an experimental method with quantitative descriptive analysis. The level of suitability and product standards uses a simultaneous regression coefficient test analysis or the F test. The manufacture of artificial live rock does not have a special pattern, but artificial live rock is made as attractive as possible and resembles the shape in nature. Product standardization is carried out by using artificial live rock materials consisting of: 1 kg of pumice stone, ½ kg of cement, ½ kg of sand, 500 g of calcium and 1.5 L of water. The type of substrate that is good and ideal for algae on the surface of artificial live rock is an area with a bottom of coral sand mixed with coral rubble. Artificial live rock can be harvested for 3 months in water, with the characteristics of the surface of the artificial live rock covered algae which is then cleaned and placed in a treatment pond before being exported
Development of Artificial Live Rock in Supporting Ornamental Coral Cultivation Activities Safi’i, Imam; Prasetia, I Nyoman Dodik; Yudasmara, Gede Ari
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 3 (2022): October
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Artificial live rock is an artificial live rock that is shaped like living rock in nature. Artificial live rock is designed to mimic natural living rock which is capable of being a substrate for corals, a habitat for epibenthic and the biological filter of a saltwater aquarium. The purpose of this research is to know the technique of making artificial live rock and the development of artificial live rock that are suitable for export on an export scale. The method used in this research is an experimental method with quantitative descriptive analysis. The level of suitability and product standards uses a simultaneous regression coefficient test analysis or the F test. The manufacture of artificial live rock does not have a special pattern, but artificial live rock is made as attractive as possible and resembles the shape in nature. Product standardization is carried out by using artificial live rock materials consisting of: 1 kg of pumice stone, ½ kg of cement, ½ kg of sand, 500 g of calcium and 1.5 L of water. The type of substrate that is good and ideal for algae on the surface of artificial live rock is an area with a bottom of coral sand mixed with coral rubble. Artificial live rock can be harvested for 3 months in water, with the characteristics of the surface of the artificial live rock covered algae which is then cleaned and placed in a treatment pond before being exported
REKRUTMEN KARANG DI KAWASAN WISATA LOVINA Dodik Prasetia, I Nyoman
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 1 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.699 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v1i2.6037

Abstract

Rekrutmen karang merupakan masuknya individu karang baru ke populasi terumbu karang karena reproduksi atau migrasi. Kemampuan rekrutmen karang adalah kemampuan dari suatu koloni individual atau suatu sistem terumbu karang untuk mempertahankan diri dari dampak lingkungan, menjaga kemampuan pemulihan dan perkembangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Oktober 2011, bertujuan mengetahui pola penyebaran planula karang, jenis, kelimpahan dan pola bertahan hidup planula karang serta  kondisi fisik, kimia, dan biologis perairan. Penelitian dilakukan pada kedalaman 5 meter dengan 3 buah rak penelitian pada setiap stasiun penelitian. Sebuah rak terdiri dari 24 buah substrat dengan 4 posisi yang berbeda terhadap arus. Planula karang yang ditemukan terdiri dari jenis 9 karang dan 109 individu.  Planula karang ditemukan pada semua stasiun penelitian dengan jumlah terbesar pada Stasiun 3 sebanyak 59 individu. Kondisi fisik, kimia, dan biologis perairan di Lovina relatif masih mendukung pertumbuhan dan perkembangan planula karang untuk dapat menjadi koloni karang.
STRUKTUR KOMUNITAS TERUMBU KARANG DI PESISIR KECAMATAN BULELENG SINGARAJA Dodik Prasetia, I Nyoman
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.368 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v4i2.6050

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu sumberdaya alam kelautan yang dimiliki Kabupaten Buleleng, dimana sumberdaya alam ini mempunyai peran penting baik ditinjau dari aspek konservasi, produksi maupun pariwisata dan rekreasi. Penelitian Struktur Komunitas Terumbu Karang di Pesisir Kecamatan Buleleng, bertujuan untuk mengetahui potensi dan kondisi ekosistem terumbu serta struktur komunitas ekosistem terumbu karang di Pesisir Kecamatan Buleleng. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi dan kondisi ekosistem terumbu karang untuk dapat memberikan data sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kawasan terumbu karang yang lestari.  Metode yang akan dipergunakan adalah manta tow survey, line intercept transect, survey sensus dan analisa sifat fisik kimia perairan. Penelitian menunjukkan penutupan karang hidup di pesisir Kecamatan Buleleng dari 3 stasiun penelitian dengan kategori buruk sampai baik, pada kedalaman 3 meter berkisar antara 16,78 % sampai 51,98 % dan kedalaman 10 meter dengan penutupan 19,06% sampai 22,98%.  Ikan karang yang berasosiasi dengan karang ditemukan 34 jenis dengan jumlah 665 individu pada stasiun 1, stasiun 2 dengan jumlah 359 individu dari 26 jenis, serta di stasiun 3 ditemukan 36 jenis dengan 186 individu.  Kondisi fisik dan kimia air laut yang masih dalam ambang batas kategori toleransi pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang.