Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

The Community Structure of Phytoplankton in Seagrass Ecosystem and its Relationship with Environmental Characterstics Setiabudi, Gede Iwan; Bengen, Dietriech G.; Effendi, Hefni; Radjasa, Ocky Karna
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 8, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v8i3.6549

Abstract

The aimed of this study was to determine the plankton communities and its relationship with the chemical and physical condition in seagrass ecosystem at Pegametan Bay. The composition and abundance of plankton were observed in the sea water underneath the surface and were identified based on the guideline of Illustration of the Marine Plankton of Japan. The water quality was measured in situ using WQC HI 9829. The water sample was measured using closed reflux spectrometry for COD, TOC analyzer for DOC and APHA 2102 (4500) method for Nt and Pt. There are 27 species of plankton identified, which can be classified into three groups. Diatom group consists of 18 species with a 74.56% abundance. The non-litoral group consists of 6 species with a 23.35% abundance. Moreover, dinoflagellate group consist of 3 species with a 2.09% abundance. An abundance of plankton greater than 104 cell.L-1 was found in diatome group (Nitzschia sp., Thalassiosira sp., Chaetoceros sp., Flagillaria sp., Thalassiothrix sp., and Melosira sp.) and non-litoral group (Oscillatoria sp. and Spirogyra sp.). The abundance of those species indicated the algae bloom phenomenon. Dinophysis sp. was also identified, which was harmful algal blooms.How to CiteSetiabudi, G. I., Bengen, D. G., Effendi, H., & Radjasa, O. K. (2016). The Community Structure of Phytoplankton in Seagrass Ecosystem and its Relationship with Environmental Characterstics. Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education, 8(3), 257-269.
DIVERSITAS SPESIES IKANPADA EKOSISTEM PESISIR DESA PACUNG KABUPATEN BULELENG BALI Setiabudi, Gede Iwan; Merta, Gede; Sakti, Maria Niken Tri Ubaya; Mariasa, I Putu Mangku
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diversitas ekosistem pesisir Desa Pacung Kecamatan Tejakula Buleleng, Bali. Hal tersebut berkaitan dengan pencadangan desa tersebut untuk RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Perairan dan pulau-pulau Kecil) di kawasan perairan Kabupaten Buleleng. Hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan zonasi wilayah perairan. Metode yang digunakan mengambil data dibagi 2 yaitu wawancara dan untuk data bawah air digunakan tehnik penyelaman, videografi dan fotografi. Pengambilan data dilakukan pada 18 stasiun di bulan Maret 2018. Jumlah ikan yang berhasil diidentifikasi adalah 73 spesies. Jumlah tersebut berasal dari 10 ordo yaitu Callionimiformes, Gobiiformes, Perciformes, Pleuronectiformes, Scombriformes, Scorpaeniformes, Tetraodontiformes dan Trachiniformes. Ordo yang mendominasi adalah Perciformes, sebesar 80,2%. Delapan ordo ikan yang teridentifikasi berasal dari kawasan dengan tutupan terumbu karang yang rendah.Kata Kunci: Diversitas, Ikan, Ordo, Perciformes, Pacung
“ULVA” PENGEMBANGAN TEKNIK PENANDA ALAMI PADA BUDIDAYA ABALON (Haliotis squamata) Gusti Ngurah Permana; Ibnu Rusdi; Gigih Satria Wibawa; Gede Iwan Setiabudi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 5, No 1 (2021): JFMR VOL 5 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.01.7

Abstract

"ULVA" NATURAL MARKING TECHNIQUES DEVELOPMENT IN ABALONE CULTURE (Haliotis squamata)  By  Gusti Ngurah Permana,, Ibnu Rusdia,  Gigih Satria Wibawaa and Iwan SetyabudibTagging is used to obtain some information during the process of selecting and managing population of abalone shells, Haliotis squamata. This research was conducted to determine the natural marker method of abalone, (H. squamata). The samples were used of  total length of the shell (initial average: 0.8 ± 0.2 mm).  Seed tagging using the Ulva sp. performed by giving a sequence of feed at the age of: 2-3 months (Ulva sp.), 3-4 months (Gracilaria sp.), 5-6 months (Ulva sp.), 6-10 months (Gracillaria sp.) and control 2 months (Ulva sp.), 3-10 months (Gracilaria sp.). The results of this study indicated that the tagging of the seeds with the Ulva method has a same growth pattern in both  treatment and control (38.93 ± 1.5 mm; 39.47 ± 1.44 mm). The effectiveness of Ulva tagging is seen in toca color finder (TC. 4103 green) and (TC 8135 brown), more sharpen in treatment compared to control. Ulva tagging technology can be applied to abalone seeds to see the sequence of the green color on the shell.  
Diversitas Spesies Ikanpada Ekosistem Pesisir Desa Pacung Kabupaten Buleleng Bali Gede Iwan Setiabudi; Gede Merta; Maria Niken Tri Ubaya Sakti; I Putu Mangku Mariasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol. 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diversitas ekosistem pesisir Desa Pacung Kecamatan Tejakula Buleleng, Bali. Hal tersebut berkaitan dengan pencadangan desa tersebut untuk RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Perairan dan pulau-pulau Kecil) di kawasan perairan Kabupaten Buleleng. Hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan zonasi wilayah perairan. Metode yang digunakan mengambil data dibagi 2 yaitu wawancara dan untuk data bawah air digunakan tehnik penyelaman, videografi dan fotografi. Pengambilan data dilakukan pada 18 stasiun di bulan Maret 2018. Jumlah ikan yang berhasil diidentifikasi adalah 73 spesies. Jumlah tersebut berasal dari 10 ordo yaitu Callionimiformes, Gobiiformes, Perciformes, Pleuronectiformes, Scombriformes, Scorpaeniformes, Tetraodontiformes dan Trachiniformes. Ordo yang mendominasi adalah Perciformes, sebesar 80,2%. Delapan ordo ikan yang teridentifikasi berasal dari kawasan dengan tutupan terumbu karang yang rendah.Kata Kunci: Diversitas, Ikan, Ordo, Perciformes, Pacung
KONDISI PADANG LAMUN DI PESISIR BALI UTARA BERDASARKAN JUMLAH SPESIES, JUMLAH ALGA, DAN PERSENTASE TUTUPAN Nuryani Wigdati; Gede Iwan Setiabudi; E. Elvan Ampou; I Nyoman Surana
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 5, No 2 (2021): JFMR VOL 5 NO.2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.33

Abstract

Identifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara telah dilakukan pada Agustus dan September 2020 di Sumberkima, Lovina, Panimbangan, dan Pacung. Tujuan kajian ini untuk mengidentifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara berdasarkan jumlah jenis lamun, persentase tutupan lamun, dan jumlah jenis alga. Metode transek garis tegak lurus garis pantai serta foto atau video diaplikasikan untuk pengambilan ketiga jenis data tersebut. Analisis kondisi lamun dilakukan dengan metode penilaian dan pembobotan. Di keempat lokasi ditemukan sebanyak enam jenis lamun yang berasal dari dua famili yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceaceae. Famili Hydrocharitaceae diwakili oleh Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), dan Cymodocea rotundata (Cr), sementara famili Cymodoceaceae terdiri dari Syringodium isoetifolium (Si) dan Halodule uninervis (Hu). Jenis paling beragam ditemukan di Lovina dengan rata-rata persentase tutupan 60% dan paling sedikit di Panimbangan dengan rata-rata tutupan 52%. Hasil pembobotan pada komponen jenis lamun, jenis alga, dan persentase tutupan menunjukan bahwa kondisi lamun di Lovina dalam kondisi paling baik dengan jumlah skor 13. Kondisi lamun di Sumberkima dalam kondisi sedang (skor 11), sedangkan di Panimbangan dan Pacung dalam kondisi buruk dengan skor 7. Kondisi kualitas air pada saat dilakukan pengamatan di keempat lokasi penelitian dalam kondisi yang baik untuk mendukung kehidupan lamun. Penelitian lanjutan dengan menambahkan dan mempertimbangkan parameter lingkungan lainnya sebagai komponen untuk menilai kondisi dan status lamun di Bali Utara. Identification of seagrass beds condition in North Bali waters (Sumberkima, Lovina, Panimbangan, and Pacung) was carried out in August and September 2020. This study aims to identify the condition of seagrass beds in North Bali waters based on the number of seagrass species, the percentage of seagrass cover, and the number of algae species. We performed line transects as well as photos or videos to collect data on seagrass and algae. Seagrass ecosystem condition was analyzed by using the scoring and weighting method. Six species originating from two families,  Hydrocharitaceae and Cymodoceaceae, have been identified.  Hydrocharitaceae family represented by Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), and Cymodocea rotundata (Cr), while the Cymodoceaceae consists of Syringodium isoetifolium (Si) and Halodule uninervis (Hu). The most diverse species were found in Lovina with an average percentage cover of 60% and the least is in Panimbangan (52%). The scoring and weighting results showed that the seagrass conditions in Lovina were in the best condition with a total score of 13. The condition of the seagrass in Sumberkima was moderate (score 11), while in Panimbangan and Pacung were in bad condition with a score of 7. The condition of water quality at the time of observation was in good condition to support seagrass life at all research sites. Further research by adding and considering other environmental parameters as a component in assessing the condition and status of seagrass in North Bali.
Keanekaragaman dan Kelimpahan Nudibranch di Pantai Penimbangan Buleleng Bali Jasmine Masyitha Amelia; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Iwan Setiabudi
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35005

Abstract

Pantai Penimbangan terletak Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng merupakan kawasan pusat kota Kabupaten Buleleng, Bali yang memiliki hamparan pasir hitam. Kegiatan konservasi penyu di kawasan ini meningkatkan gairah masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang. Salah satu biota yang beriteraksi di ekosistem terumbu karang adalah nudibranch. Keberadaan nudibranch di Pantai Penimbangan diharapkan mampu menjadi alternatif potensi wisata yang bisa dikembangkan, sehingga antusiasisme masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir akan terus terjaga.  Penelitian bertujuan untuk memperkuat data dasar ekologi tentang keanekaragaman dan kelimpahan nudibranch. Penelitian populasi nudibranch dinilai dengan sensus visual mengikuti line intercept transect. Penelitian nudibranch di Pantai Penimbangan menunjukkan bahwa terdapat 12 famili yaitu  Chromodorididae, Phyllidiidae, Discodorididae, Aeolidiidae, Elysiidae, Aglajidae, Bornellidae, Facelinidae, Flabellinidae, Hexabranchidae, Limapontiidae, dan Pleurobranchidae, dengan 42 jenis. Kelompok Chromodorididae dan Phyllidiidae adalah kelompok yang umum dijumpai di Perairan Pantai Penimbangan.  Kedua kelompok ini memanfaatkan patahan karang yang menjadi subsrat perairan sebagai tempat berlindung. Komposisi substrat sangat menentukan kekayaan nudibranch, kategori substrat yang menentukan keberadaan nudibranch adalah dead coal with alga, sponge, dan hard coral. Tingginya persentase dead coral with alga, dan sponge berbanding lurus dengan keanekaragaman nudibranch, dan hard coral berbanding terbalik dengan keanekaragaman nudibranch.  Kriteria indeks keanekaragaman tinggi dengan nilai 2,6199, Indeks keseragaman 0,7055 dan nilai dominansi 0,0342.  Tingkat kelimpahan tertinggi pada jenis Hypselodoris tryoni. Penimbangan Beach is located in Baktiseraga Village, Buleleng District, which is the downtown area of Buleleng Regency, Bali which has a stretch of black sand. Turtle conservation activities in this area increase the enthusiasm of the community in preserving the coral reef ecosystem. One of the biota that interacts in the coral reef ecosystem is the nudibranch. The existence of nudibranchs at Penimbangan Beach is expected to be an alternative tourism potential that can be developed, so that public enthusiasm for preserving coastal ecosystems will continue to be maintained. This study aims to strengthen the basic ecological data on the diversity and abundance of nudibranchs. The study of the nudibranch population was assessed by visual census following the line intercept transect. Research on nudibranchs at Penimbangan Beach showed that there were 12 families namely Chromodorididae, Phyllidiidae, Discodorididae, Aeolidiidae, Elysiidae, Aglajidae, Bornellidae, Facelinidae, Flabellinidae, Hexabranchidae, Limapontiidae, and Pleurobranchidae, with 42 species. Chromodorididae and Phyllidiidae groups are common groups found in Penimbangan Beach. Both of these groups take advantage of coral fractures which become the substrate of the waters as a shelter. Substrate composition greatly determines the richness of nudibranchs, the substrate categories that determine the presence of nudibranchs are dead coral with algae, sponges, and hard corals. The high percentage of dead coal with algae, and sponges is directly proportional to nudibranch diversity, and hard coral is inversely proportional to nudibranch diversity. The criteria for the high diversity index are 2.6199, the uniformity index is 0.7055 and the dominance value is 0.0342. The highest abundance level was in Hypselodoris tryoni. 
Potensi Muck Dive di Perairan Kecamatan Buleleng Bali I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Iwan Setiabudi; Kadek Lila Antara; Jasmine Masyitha Amelia; Gressty Sari Br Sitepu; Made Dwipa Kusuma Maharani; Dewi Wulandari; I Nyoman Suardana
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i2.50061

Abstract

Kawasan Pesisir  Kecamatan Buleleng terdiri dari Pantai Desa Kalibukbuk, Anturan, Tukad Mungga, Pemaron, Baktiseraga, Banyuasri, Kaliuntu, Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, dan Penarukan merupakan kawasan perairan yang berada di pusat Kabupaten Buleleng.  Perairan Kecamatan Buleleng memiliki karakteristik subsrat perairan berupa hamparan terumbu karang, patahan karang, pasir yang didominasi oleh pasir hitam, dan berlumpur.  Kondisi subsrat memiliki potensi pengembangan wisata muck dive sebagai alternatif wisata bahari yang berkelanjutan.  Muck dive merupakan jenis penyelaman yang dilakukan di subsrat berlumpur dengan berfokus untuk menemukan jenis langka dan samar yang jarang ditemukan di terumbu karang.  Penelitian bertujuan mengetahui potensi muck dive dengan memperkuat data identifikasi jenis, kelimpahan dan keanekaragaman organisme yang dapat dijadikan sebagai ikon obyek wisata selam.  Peneltian menggunakan metode underwater visual sensus dengan mengikuti line transect. Penelitian menunjukkan Perairan Kecamatan Buleleng memiliki potensi pengembangan wisata muck dive dengan karakteristik di setiap perairan desa yang beragam berdasarkan tipe subsrat perairan.  Kelimpahan dan keanekaragaman jenis organisme sebagai obyek muck dive tertinggi terdapat di Pantai Desa Baktiseraga, Banyuasri, dan Kaliuntu, sedangkan terendah di Desa Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, dan Penarukan. Potensi wisata muck dive layak dikembangkan sebagai alternatif  wisata bahari yang dikelola secara berkelanjutan.   The coastal area of Buleleng districts consists of Kalibukbuk, Anturan, Tukad Mungga, Pemaron, Baktiseraga, Banyuasri, Kaliuntu, Kampung Anyar, Kampung Bugis, Kampung Baru, Banyuning, and Penarukan are water areas located in the center of Buleleng Regency. The Buleleng districts water have the characteristics of the water substrate in the form of coral reefs, coral fractures, sand dominated by black sand, and muddy. Substrate conditions have the potential to increase muck dive tourism as an alternative to sustainable marine tourism. Muck dive is a type of diving that is carried out in muddy substrates with a focus on finding rare and rare species that are rarely found in coral reefs. This study aims to determine the potential of muck dive by strengthening the identification data of species, abundance and diversity of organisms that can be used as icons of diving tourism objects. The research uses the underwater visual census method by following the line transect.The research shows that the Buleleng districts waters have the potential to develop muck dive tourism with different characteristics in each village waters based on the type of substrate. The highest abundance and diversity of organisms as muck dive objects was found in Baktiseraga, Banyuasri, and Kaliuntu Beaches, while the lowest was in Kampung Anyar, Bugis, Kampung Baru, Banyuning, and Penarukan villages. This potential to be the one of alternative for marine tourism which is must managed sustainably.
PENGARUH PERBEDAAN SUHU TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KELULUSAN HIDUP BENIH IKAN KOI (Cyprinus carpio) Susi Puspita Sari; Jasmine Masyitha Amelia; Gede Iwan Setiabudi
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 3 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i3.328

Abstract

Ikan hias yang terkenal dikalangan masyarakat umum salah satunya ialah ikan hias jenis Koi. Namun dalam proses budidaya ataupun pembesaran salah satu hal yang sering menjadi perhatian pada saat perkembangan ikan Koi adalah suhu yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan daya tahan tubuh serta timbulnya berbagai penyakit. Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besarnya pengaruh suhu terhadap laju perkembangan dan daya tahan hidup ikan Koi. Metode rencana eksplorasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan, dimana setiap perlakuan tersebut diulang sebanyak 3 kali. Dengan perlakuan yang digunakan adalah P¹ (28?C), P² (30?C) dan P³ (32?C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju perkembangan yang paling menonjol terdapat pada perlakuan P¹ dengan pertumbuhan panjang 2,9 cm dan pertambahan berat 8 g, kemudian disusul oleh P² dengan pertumbuhan panjang 1,8 cm dan pertambahan berat 5,6 g. dan perkembangan paling sedikit terdapat pada perlakuan P³ dengan pertumbuhan panjang 1,3 cm dan pertambahan berat 3,1 g. Nilai daya tahan hidup ikan Koi selama pemeliharaan di setiap perlakuan rata-rata 100%. Parameter pendukung kualitas air yang didapat adalah pH pada kisaran 6,9-8,5 dan DO berkisaran 5,27-7,76 ml/L. Perbedaan suhu secara signifikan mempengaruhi laju perkembangan dan tidak signifikan terhadap daya tahan hidup ikan Koi.
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI PALA (Myristica fragrans Hout) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP PERTUMBUHAN Vibrio parahaemolyticus PENYEBAB PENYAKIT VIBRIOSIS PADA IKAN KERAPU (Epinephelus spp.) IN VITRO Rizky Aldi Zulfaizi Khairiyah; Gede Iwan Setiabudi; Indah Mastuti; Ketut Mahardika
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 3 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i3.335

Abstract

Salah satu ikan yang paling unggul untuk dibudidayakan di Indonesia ialah kerapu. Akan tetapi komoditas ini sering dihadapkan oleh kematian masal yang di akibatkan oleh penyakit vibriosis seperti bakteri V. parahaemolyticus. Telah banyak pemakaian antibakterial yang berasal dari bahan alami yang terus dilakukan pengembangan. Biji pala (Myristica fragrans Hout) ialah tanaman yang masih tradisional dengan kandungan zat antibakterialnya yang banyak. Dilaksanakannya pengujian ini yakni guna mengetahui efektivitas dari ekstrak biji pala (Myristica fragrans Hout) sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan V. parahaemolyticus secara in vitro. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rangcangan acak lengkap non faktorial.  Biji pala dilakukan proses ekstraksi dengan pemakaian etanol 96% dan pemanasan rendah dengan metode maserasi. Uji efektivitas ekstrak biji pala pada konsentrasi 5%, 10%, 20% dan 40% terhadap V. parahaemolyticus dengan metode yang digunakan yakni cakram disk. Erythromycin sebagai kontrol positif dan aquades sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya ekstrak biji pala konsentrasi 40% memiliki zona hambat terhadap V. parahaemolyticus paling tinggi yaitu, 10,8±0,57 mm (P<0,05) dibandingkan dengan ekstrak biji pala pada konsentrasi 5-20% (7,3±0,84, 9,0±0,50, 9,8±0,76 mm). Zona hambat ekstrak biji pala tersebut masih lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan zona hambat dari erythromycin yaitu 19,5±0,5 mm. Namun demikian, ekstrak biji pala memiliki potensi menghambat pertumbuhan V. parahaemolyticus.
Pengaruh Ekstrak Kulit Bawang Merah Terhadap Daya Hambat Bakteri Aeromonas hidrophilla Penyebab Penyakit Pada Ikan Secara In Vitro Pranata, Andi Welly Wiliandhana; Swasta, Ida Bagus Jelantik; Setiabudi, Gede Iwan
Journal of Tropical Marine Science Vol 8 No 1 (2025): Journal of Tropical Marine Science (on going)
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v8i1.5739

Abstract

Aeromonas hydrophila, commonly found in aquatic environments, is a Gram-negative bacterium frequently pathogenic to fish, causing diseases such as hemorrhagic septicemia or Motile Aeromonas Septicemia (MAS) in various freshwater fish species. This study investigated the antibacterial potential of red onion skin extract (Allium cepa L.) extracted using 99% absolute alcohol against the growth of Aeromonas hydrophila. The experiments were conducted with varying extract concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, and 25%, using tetracycline as a control. The results demonstrated that the red onion skin extract was able to inhibit the growth of Aeromonas hydrophila, as indicated by the formation of inhibition zones around the growth media. The average diameters of the inhibition zones produced by the extract at concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, and 25% were 1.21 mm, 2.43 mm, 3.36 mm, 5.70 mm, and 6.23 mm, respectively. Statistical analysis using a One-way ANOVA test with SPSS software showed a p-value of 0.000, indicating a significant difference among the red onion skin extract concentrations. Therefore, a Least Significant Difference (LSD) post-hoc test was performed to identify specific differences between the concentration treatments