Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENEMPATAN SENSOR AKSELEROMETER PADA JEMBATAN MERAH PUTIH Lautan Wijaya Nusantara, Johan; Aminullah, Akhmad; Siswosukarto, Suprapto
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v18i1.10354

Abstract

Kegiatan monitoring pada jembatan perlu dilakukan sebagai upaya dalam menjamin keamanan jembatan. Secara umum terdapat dua metode monitoring kesehatan struktur jembatan yaitu dengan melakukan Loading Test secara langsung dan melalui Structural Health Monitoring System (SHMS) yang dapat dipantau secara real time dan kontinu. Salah satu sensor yang penting dan populer dalam kegiatan SHMS adalah akselerometer. Data dari sensor tersebut dapat diproses lebih lanjut untuk mengetahui nilai frekuensi struktur, mode shape, dan displacement yang terjadi. Hal tersebut bermanfaat dalam pemantauan kesehatan struktur jembatan secara keseluruhan dan dapat dijadikan dasar penetapan kebijakan untuk pemeliharaan jembatan, serta penyusunan tindakan preventif dan kuratif. Penempatan sensor yang baik dengan jumlah sensor yang tepat harus ditentukan untuk mengetahui perilaku struktur yang sebenarnya dengan biaya yang minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penempatan sensor akselerometer pada dek Jembatan Merah-Putih yang memiliki tipe double pylon cable stayed dengan bentang 300 m yang terletak di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Indonesia. Empat metode Optimal Sensor Placement (OSP) telah dilakukan yaitu dengan Effective Independence (EI) Method, Eigenvalue Component Product (ECP), Mode Shape Summation Plot (MSSP) Method, serta Effective Independence – Drive Point Residu (EI-DPR) Method. Dari keempat metode tersebut, didapatkan bahwa penempatan sensor yang paling optimal didapatkan dari metode EI dengan jumlah sensor yang optimal adalah berjumlah 10. Konfigurasi sensor tersebut memiliki performa yang sedikit lebih baik dari konfigurasi sensor eksisting.
The Ratio of Live Load to Dead Load on I-Girder Prestressed Concrete Bridges Using Theoretical and Numerical Analysis Sanjaya, Rudi; Aminullah, Akhmad; Suhendro, Bambang
ASTONJADRO Vol. 14 No. 4 (2025): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v14i4.19037

Abstract

Bridges are essential connectors between regions separated by geographical barriers, facilitating transport across national, provincial, and district roads. In Indonesia, the prestressed I-girder concrete bridge (PCI-Girder) is a widely used design, particularly for spans between 20 and 45 meters. These bridges are a common choice in toll road development projects, part of the national strategic plan to promote regional equity and support economic growth. Seismic loads influence the PCI-Girder bridge superstructure less, allowing consistent design practices concerning cross-sectional dimensions and concrete quality relative to span length. However, girder profiles and spacing variations have become prominent in Indonesia, significantly impacting load distribution and bridge performance. This study examines the effects of live load relative to dead load on PCI-Girder bridges with girder spacing variations of 1850 mm, 2100 mm, and 2450 mm for spans ranging from 20 to 45 meters, based on SNI 1725-2016 standards. Using theoretical calculations in Microsoft Excel and numerical analysis with Midas Civil software, the study highlights the influence of girder spacing on effective area, strand requirements, camber, and beam stress post-tensioning. The findings indicate that increased girder spacing enhances the effective area of composite sections but requires larger strand areas and higher concrete strength. Moment analysis reveals that for spans over 20 meters, dead load moments dominate live load moments, whereas for 20-meter spans, live load moments are more significant. As span length increases, the influence of dead loads becomes more prominent. The 2450 mm spacing variant also shows higher live-to-dead load moment and shear force ratios than other configurations, providing insights for optimizing PCI-Girder bridge designs.
ANALISIS KELAYAKAN STRUKTUR ATAS MUNGKUNG OVERPASS MENGGUNAKAN METODE RATING FACTOR Debora Lau; Miguel Felix Wijaya; Yulita Prasinda; Remigildus Cornelis; Alvin A. Bara; Irvebry Ayu Wulandari; Akhmad Aminullah
Jurnal Ilmiah Kurva Teknik Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kurva Teknik
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jikt.v15i1.13577

Abstract

Keandalan struktur jembatan tol eksisting perlu dievaluasi secara berkala untuk menjamin keselamatan pengguna dan keberlanjutan layanan lalu lintas. Peningkatan volume serta beban kendaraan yang tidak selalu sesuai dengan asumsi perencanaan awal berpotensi memengaruhi kapasitas aktual struktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan struktur atas Overpass Mungkung yang berada pada ruas Tol Ngawi–Kertosono melalui pendekatan load rating dengan indikator rating factor (RF). Objek penelitian merupakan jembatan beton prategang tipe PCI girder dengan empat bentang, yang dianalisis menggunakan data sekunder berupa dokumen perencanaan dan data teknis, serta data hasil survei lapangan untuk verifikasi kondisi eksisting. Pemodelan numerik struktur dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan merepresentasikan geometri, properti material, sistem tumpuan, dan konfigurasi tendon prategang sesuai kondisi aktual. Pembebanan dimodelkan mengacu pada ketentuan SNI dan AASHTO yang meliputi beban mati, beban mati tambahan, dan beban lalu lintas. Evaluasi kelayakan dilakukan dengan menghitung rating factor momen (RFM) dan rating factor gaya geser (RFS) pada girder interior dan eksterior di setiap bentang. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh elemen superstruktur memiliki nilai RFM dan RFS yang berada di atas batas minimum kelayakan, yang mengindikasikan bahwa struktur masih mampu menahan beban layanan dengan cadangan kapasitas yang memadai. Bentang 1 dan 4 menunjukkan kinerja struktural yang relatif lebih baik dibandingkan bentang lainnya, sementara bentang 2 dan 3 tetap berada pada kategori aman tanpa indikasi kebutuhan rehabilitasi struktural. Secara keseluruhan, struktur atas Mungkung Overpass dinyatakan masih layak beroperasi sebagai jembatan tol aktif, dengan rekomendasi pemantauan rutin sebagai bagian dari pengelolaan aset jembatan.
DESIGN PHASE OF A CYLINDRICAL LONG-SPAN COAL SHED WITH STEEL ARCH SPACE-TRUSS STRUCTURE Angga Fajar Setiawan; Akhmad Aminullah; Ali Awaludin; K. T. N. Gherry; Y. A. Adhitama; M. Fauzi Darmawan
Jurnal Riset Rekayasa Sipil Vol 5, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.407 KB) | DOI: 10.20961/jrrs.v5i2.56329

Abstract

This paper discusses the structural design phase of a long-span coal shed structure in a 2x50 MW steam power plant. This study aims to share knowledge on how to design a long-span coal shed structure safely based on the design standards. The main structural system of the coal shed roof is a steel arch space-truss with 120 m of span and 31 m of height above supporting 12.5 m height of reinforced concrete columns. The superstructure contains a roof system and reinforced concrete system. The substructure system consists of a tie beam, pile cap, and bore pile. In the numerical model, all structural members were idealized as frame elements, except the pile cap that to be idealized as shell elements. Then, the soil springs were assigned to the bore pile element nodals with a 1 m interval to simulate the soil-structure interaction. The gravity loads due to dead loads, additional dead loads, live loads, rain loads, and lateral loads due to wind action and earthquakes to be considered. Furthermore, the structural analysis was conducted with non-linear geometric to simulate the large displacement effects and tension only element of the wind bracing. In addition, a simplified method to estimate the structural stability under lateral load was conducted. Based on the structural analysis and structural design, the coal shed structure could fulfill the safety criteria in terms of ultimate and serviceability limit based on the design code criteria. Furthermore, the non-linear geometry and stability issue should be considered with an appropriate structural analysis method.
Analisis Modal Operasional (OMA) pada Jembatan Concrete Box Girder Bentang 50 Meter dengan Perbandingan Metode Fast Fourier Transform (FFT) dan Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD) Rizky Vallentino; Akhmad Aminullah; Bambang Suhendro
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1286

Abstract

Abstrak   Jembatan merupakan infrastruktur vital dalam sistem transportasi yang memerlukan pemantauan kondisi struktural secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dinamis jembatan box girder dengan bentang 50 meter menggunakan dua metode dalam Operational Modal Analysis (OMA), yaitu Fast Fourier Transform (FFT) dan Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD). Data percepatan direkam oleh tiga sensor akselerometer yang dipasang pada satu bentang, dengan fokus pada sumbu vertikal (Z) untuk merepresentasikan respons struktur akibat eksitasi alami dari beban lalu lintas kendaraan (traffic-induced vibrations). Analisis menggunakan perangkat lunak PyOMA menunjukkan bahwa FFT mengidentifikasi dua frekuensi alami vertikal sebesar 2,672 Hz dan 3,207 Hz, sementara EFDD mendeteksi frekuensi sebesar 2,632 Hz dan 3,202 Hz, dengan selisih hanya 1,50% dan 0,16%. FFT efektif dalam memberikan gambaran awal terhadap spektrum frekuensi dan mendeteksi puncak dominan, sementara EFDD menawarkan kelebihan dalam memperkirakan redaman modal, mengekstraksi bentuk mode, serta mengidentifikasi mode yang berdekatan. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode mampu meningkatkan akurasi identifikasi modal dan mendukung penerapan sistem Structural Health Monitoring (SHM) berbasis data eksitasi alami secara efisien dan akurat.   Kata kunci: SHMS, Analisis Modal Operasional, PyOMA, FFT, EFDD     Abstract   Bridges are vital infrastructure in transportation systems that require continuous structural condition monitoring. This study aims to analyze the dynamic characteristics of a 50-meter span box girder bridge using two methods in Operational Modal Analysis (OMA), namely Fast Fourier Transform (FFT) and Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD). Acceleration data were recorded by three accelerometer sensors installed on a single span, focusing on the vertical (Z) axis to represent the structural response due to natural excitation from traffic-induced vibrations. Analysis using the PyOMA software showed that FFT identified two vertical natural frequencies at 2.672 Hz and 3.207 Hz, while EFDD detected frequencies of 2.632 Hz and 3.202 Hz, with differences of only 1.50% and 0.16%, respectively. FFT is effective for providing an initial overview of the frequency spectrum and identifying dominant peaks, whereas EFDD offers advantages in estimating modal damping, extracting mode shapes, and identifying closely spaced modes. These results indicate that the combination of both methods can enhance the accuracy of modal identification and support the efficient and accurate implementation of Structural Health Monitoring (SHM) systems based on ambient excitation data.   Keywords: SHMS, Operational Modal Analysis, PyOMA, FFT, EFDD
Analisis Modal Operasional (OMA) pada Jembatan Concrete Box Girder Bentang 50 Meter dengan Perbandingan Metode Fast Fourier Transform (FFT) dan Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD) Rizky Vallentino; Akhmad Aminullah; Bambang Suhendro
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1286

Abstract

Abstrak   Jembatan merupakan infrastruktur vital dalam sistem transportasi yang memerlukan pemantauan kondisi struktural secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dinamis jembatan box girder dengan bentang 50 meter menggunakan dua metode dalam Operational Modal Analysis (OMA), yaitu Fast Fourier Transform (FFT) dan Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD). Data percepatan direkam oleh tiga sensor akselerometer yang dipasang pada satu bentang, dengan fokus pada sumbu vertikal (Z) untuk merepresentasikan respons struktur akibat eksitasi alami dari beban lalu lintas kendaraan (traffic-induced vibrations). Analisis menggunakan perangkat lunak PyOMA menunjukkan bahwa FFT mengidentifikasi dua frekuensi alami vertikal sebesar 2,672 Hz dan 3,207 Hz, sementara EFDD mendeteksi frekuensi sebesar 2,632 Hz dan 3,202 Hz, dengan selisih hanya 1,50% dan 0,16%. FFT efektif dalam memberikan gambaran awal terhadap spektrum frekuensi dan mendeteksi puncak dominan, sementara EFDD menawarkan kelebihan dalam memperkirakan redaman modal, mengekstraksi bentuk mode, serta mengidentifikasi mode yang berdekatan. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode mampu meningkatkan akurasi identifikasi modal dan mendukung penerapan sistem Structural Health Monitoring (SHM) berbasis data eksitasi alami secara efisien dan akurat.   Kata kunci: SHMS, Analisis Modal Operasional, PyOMA, FFT, EFDD     Abstract   Bridges are vital infrastructure in transportation systems that require continuous structural condition monitoring. This study aims to analyze the dynamic characteristics of a 50-meter span box girder bridge using two methods in Operational Modal Analysis (OMA), namely Fast Fourier Transform (FFT) and Enhanced Frequency Domain Decomposition (EFDD). Acceleration data were recorded by three accelerometer sensors installed on a single span, focusing on the vertical (Z) axis to represent the structural response due to natural excitation from traffic-induced vibrations. Analysis using the PyOMA software showed that FFT identified two vertical natural frequencies at 2.672 Hz and 3.207 Hz, while EFDD detected frequencies of 2.632 Hz and 3.202 Hz, with differences of only 1.50% and 0.16%, respectively. FFT is effective for providing an initial overview of the frequency spectrum and identifying dominant peaks, whereas EFDD offers advantages in estimating modal damping, extracting mode shapes, and identifying closely spaced modes. These results indicate that the combination of both methods can enhance the accuracy of modal identification and support the efficient and accurate implementation of Structural Health Monitoring (SHM) systems based on ambient excitation data.   Keywords: SHMS, Operational Modal Analysis, PyOMA, FFT, EFDD
Optimasi Jembatan Rangka Baja Bentang 40–60 m Menggunakan Particle Swarm Optimization Terintegrasi SAP2000 API dan Python Akhmad Aminullah; Edison Hatoguan Manurung; Pio Ranap Tua Naibaho; Kodrat Satriawan
Journal of Engineering and Science Application Vol. 3 No. 2 (2026): Mei-Oktober
Publisher : Institute Of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/jesa.v3i2.54

Abstract

Optimasi jembatan rangka baja memerlukan pencarian desain yang ringan tanpa mengurangi kinerja struktur. Penelitian ini mengembangkan kerangka optimasi otomatis dengan mengintegrasikan Particle Swarm Optimization (PSO), Python, dan SAP2000 Application Programming Interface (API) untuk bentang 40, 50, dan 60 m. Variabel desain mencakup geometri, penampang, dan topologi, sedangkan fungsi objektif berupa minimisasi berat baja dengan batasan kinerja struktural. Validasi respons struktur dilakukan melalui perbandingan SAP2000 dan OpenSees. Hasil akhir menunjukkan berat bentang 40 m turun dari 69,50 menjadi 66,39 ton atau 4,47%. Konfigurasi deck truss komposit 50 m menghasilkan 56,57 ton, setara pengurangan 41,29% terhadap acuan 96,35 ton. Konfigurasi komposit 60 m menghasilkan 93,09 ton, setara pengurangan 26,94% terhadap acuan 127,42 ton. Temuan menunjukkan bahwa PSO efektif sebagai kerangka eksplorasi desain, sedangkan aksi komposit memberikan kontribusi terbesar pada efisiensi bentang menengah dan panjang. Ketersediaan profil baja dan berat sambungan tetap memerlukan verifikasi sebelum desain diterapkan sebagai rancangan final.
Penggunaan Metode Time Cost Trade Off Berbasis Algoritma Genetika Didi Herianto Mahendra; Akhmad Aminullah; Toriq Arif Ghuzdewan
Jurnal Talenta Sipil Vol 9, No 2 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/talentasipil.v9i2.1288

Abstract

One of the main challenges in construction project management is balancing implementation duration and total project cost. Time-Cost Trade-Off (TCTO) is a method used to analyze the relationship between time and cost in an effort to find the most efficient combination. This study aims to present the application of the TCTO method with a genetic algorithm (GA) approach as an optimization technique. The analysis results indicate that accelerating work duration can affect project costs. Analysis of direct and indirect cost graphs using the Time-Cost Trade-Off method demonstrates that accelerating time causes an increase in direct costs and a decrease in indirect costs, thus requiring a balance between the two to achieve project efficiency. These results demonstrate that this approach is capable of simultaneously presenting efficient alternative solutions and can be used as a reference for decision-making in the project planning stage. Consequently, the Genetic Algorithm (GA) has proven to be a practical and applicable method for solving Time-Cost Trade-Off problems in construction projects.