Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH METODE SELF HELP GROUP TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI Reni Dian Filara; Sri Maryuni; Achmad Djamil
Damsi Health of Jurnal Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Inovasi dan Pengembangan Ilmu Kesehatan (Juni)
Publisher : LPPM STIKEs Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66048/4nf0e180

Abstract

Masalah medis penting yang mempunyai dampak signifikan terhadap semua orang di mana pun adalah hipertensi. Lebih dari 70% orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Puskesmas Rajabasa Lama di Kabupaten Lampung Timur akan menjadi lokasi penelitian ini untuk melihat dampak pendekatan self help group terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan metode quasi eksperimental serta desain penelitian pretest posttest with control group design. Penelitian ini menyertakan 30 responden yang menderita hipertensi sebagai sampel. Uji t independen merupakan uji faktual yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum mengikuti self-help group, rata-rata tekanan darah sistolik pada kelompok intervensi adalah 166,67 mmHg, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 176,67 mmHg. Demikian pula, rata-rata tekanan darah diastolik sebelum intervensi adalah 87,33 mmHg untuk kelompok intervensi dan 90 mmHg untuk kelompok kontrol. Setelah mengikuti self-help group, terdapat perubahan dalam rata-rata tekanan darah. Rata-rata tekanan darah sistolik kelompok intervensi turun menjadi 150,67 mmHg, sementara kelompok kontrol turun menjadi 160 mmHg. Di sisi lain, rata-rata tekanan darah diastolik kelompok intervensi turun menjadi 81,33 mmHg, sedangkan kelompok kontrol turun menjadi 89,33 mmHg. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemberian self-help group memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi di Puskesmas Rajabasa Lama Kabupaten Lampung Timur Tahun 2023. Nilai p-value yang diperoleh adalah 0,008 untuk tekanan darah sistolik, dan 0,039 untuk tekanan darah diastolik, kedua-duanya lebih kecil daripada tingkat signifikansi yang telah ditentukan (0,05).
Formulasi Pengembangan Modifikasi Nugget Tempe dan Ikan Gabus sebagai Alternatifmakanan Tambahan untuk Mencegah Gizi Kurang Pada Anak Usia 3-4 Tahun di Desa Telogorejo Kecamatanrawa Jitu Utara Kabupaten Mesuji 2025 Evi Ayu Anita; Achmad Djamil; Ai Kustiani
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i4.22024

Abstract

ABSTRACT Meeting the nutritional needs of preschool children is a crucial aspect that can be achieved through the provision of appropriate and high-quality supplementary foods. These supplementary foods are formulated to complement the nutritional intake that may not be fulfilled by daily meals, thereby supporting children’s cognitive and motor development. This study aimed to formulate and develop a modified nugget product made from tempeh and snakehead fish as an alternative supplementary food to prevent malnutrition among children aged 3–4 years in Telogorejo Village, Rawa Jitu Utara District, Mesuji Regency. This research employed a quantitative pre-experimental design involving 20 children aged 3–4 years with malnutrition. The intervention consisted of providing two pieces of tempeh–snakehead fish nuggets daily for 14 consecutive days. Data were collected through observation of changes in nutritional status and an organoleptic test involving 30 panelists, and analyzed using SPSS. The results showed p-values of 0.092 for color, 0.000 for aroma, and 0.062 for taste. This indicates no significant difference in color and taste (p 0.05), but a significant difference in aroma (p 0.05). Formula F1 (tempeh with 10% snakehead fish meat) achieved the highest scores for color (3.85), aroma (3.80), and taste (3.50), making it the best formulation. In conclusion, the tempeh–snakehead fish nugget formula F1 has the potential to serve as a high-protein supplementary food to prevent malnutrition in children aged 3–4 years, particularly in regions with high malnutrition prevalence such as Lampung Province. Keywords: Tempeh Nugget, Snakehead Fish, Malnutrition, Preschool Children.  ABSTRAK Pemenuhan kebutuhan gizi balita merupakan aspek krusial yang dapat dicapai melalui pemberian makanan tambahan yang tepat dan berkualitas. Makanan tambahan diformulasikan untuk melengkapi kecukupan gizi yang belum terpenuhi dari konsumsi harian, sehingga mendukung perkembangan kognitif dan motorik anak. Penelitian ini bertujuan merumuskan dan mengembangkan modifikasi nugget berbahan dasar tempe dan ikan gabus sebagai alternatif makanan tambahan guna mencegah gizi kurang pada anak usia 3–4 tahun di Desa Telogorejo, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji.Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimen dengan subjek 20 anak usia 3–4 tahun yang mengalami gizi kurang. Intervensi dilakukan dengan pemberian 2 potong nugget tempe–ikan gabus per hari selama 14 hari. Data dikumpulkan melalui observasi perubahan status gizi dan uji organoleptik oleh 30 panelis, kemudian dianalisis menggunakan SPSS.Hasil menunjukkan nilai p-value sebesar 0,092 untuk warna, 0,000 untuk aroma, dan 0,062 untuk rasa. Artinya, tidak terdapat perbedaan signifikan pada warna dan rasa (p 0,05), namun terdapat perbedaan signifikan pada aroma (p 0,05). Formula F1 (tempe kedelai dengan 10% daging ikan gabus) memperoleh skor tertinggi pada parameter warna (3,85), aroma (3,80), dan rasa (3,50), sehingga dinyatakan sebagai formulasi terbaik. Kesimpulannya, nugget tempe–ikan gabus formula F1 berpotensi menjadi alternatif makanan tambahan bergizi tinggi untuk pencegahan gizi kurang pada anak usia 3–4 tahun, khususnya di wilayah dengan prevalensi gizi kurang tinggi seperti Provinsi Lampung. Kata Kunci: Nugget Tempe, Ikan Gabus, Gizi Kurang, Anak Usia 3–4 Tahun.
Pengaruh Food Taboo dengan KEK Ibu Hamil Isnaini Rizki Sabilla; Dewi Woro Astuti; Achmad Djamil
Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Medika Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : CV CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/jkkmedika.v1i2.436

Abstract

Food taboo behavior can be influenced by several factors including food knowledge and education because knowledge and education play an important role in decreasing belief in food taboo in pregnant women, one of the consequences of food taboo is the occurrence of KEK in pregnant women. The purpose of this study was to determine the effect of food taboo on the incidence of KEK in pregnant women in Totokarto Village, Adiluwih District, Pringsewu Regency in 2025. The type of quantitative research, pre-experimental design using a one group pretest and posttest design approach. The population and sample in this study were all pregnant women in Totokarto Village, Adiluwih District, Pringsewu Regency for the period January - March 2025, totaling 46 pregnant women. In this study, the sampling technique used was accidental sampling and using the chi-square test. Based on the results of the univariate analysis, it was found that most respondents had good food taboos totaling 24 respondents (52.2%) and most respondents did not experience KEK totaling 26 respondents (56.5%). Based on the results of the statistical test, a p-value of 0.003 was obtained or a p-value <α value (0.05), which means that there is an Influence of Food Taboo on the Incidence of KEK in Pregnant Women in Totokarto Village, Adiluwih District, Pringsewu Regency in 2025. The results of this study are expected to be one of the health information about the importance of food taboo on the incidence of KEK, so that pregnant women must maintain a nutritious diet properly and correctly, so that the nutritional status of the fetus and fetal growth and development are also good, it is recommended that pregnant women always be active in participating in health education in order to get more information about the importance of maintaining nutritional status during pregnancy