Articles
Konsep diri dan kedisiplinan belajar siswa
Niko Reski;
Taufik Taufik;
Ifdil Ifdil
Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 3, No 2 (2017): Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (441.907 KB)
|
DOI: 10.29210/120182184
Self- consept is one of the factors that affect student learning in school discipline. Positive self-concept, is essential for students to direct their behavior in accordance with the discipline learned in school. This study is a comparative descriptive study aims to identify and discipline konsepdiri students learn discipline and lack of discipline of learning, and to identify the concept of self-discipline and less disciplined students learn. results showed that the concept of self-discipline and less disciplined students are in good enough category and discipline students learn discipline and lack of discipline in the category quite well and there are significant differences between students learn discipline and lack of discipline. disperlukan potimalisasi role of all the schools umtuk improve self-concept and discipline of student learning.
PERBEDAAN IMPULSIVE BUYING PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI PADANG DITINJAU DARI TIPE-TIPE KONFORMITAS
Halda Isti Rahayu;
Taufik Taufik
Jurnal Riset Psikologi Vol 2018, No 4 (2018): Periode Wisuda Desember 2018
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/jrp.v2018i4.4372
Abstrak: Perbedaan impulsive buying pada mahasiswa Universitas Negeri Padang ditinjau dari tipe-tipe konformitas. Remaja berusaha membentuk citra diri dan upaya ini terlihat dalam suatu gambaran tetantang cara setiap remaja mempersiapkan dirinya. Termasuk di dalamnya cara remaja menampilkan diri secara fisik sehingga mendorong remaja melakukan berbagai upaya agar dapat tampil sesuai dengan tuntutan komunitas mereka. Misalnya, hasrat untuk membeli terasa begitu kuat sehingga menjadi pemicu timbulnya impulsive buying. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan impulsive buying yang ditinjau dari tipe-tipe konformitas pada mahasiswa Universitas Negeri Padang. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik Statistik Uji beda (ttest). Populasi penelitian adalah Mahasiswa Universitas Negeri Padang dengan sampel sebanyak 80 subjek yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil uji hipotesis diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan impulsive buying ditinjau dari tipe-tipe konformitas pada mahasiswa Universitas Negeri Padang.Kata kunci : impulsive buying, tipe-tipe konformitas, MahasiswaAbstrack: The difference between impulsive buying in Padang State University students reviewed by the conformity types. Teenagers try to shape their self-image and this effort is seen in a challenging picture of the way each teenager prepares themself. This includes the way teenagers present themselves physically so that they encourage teenagers to make various efforts so that they can appear as their community wanted. For example, the desire to buy feels so strong that it triggers impulsive buying. This study aims to see differences in impulsive buying in terms of the types of conformity in PadangState University students. The data obtained were analyzed using t-test. The study population was students of Padang State University with a sample of 80 subjects selected using purposive sampling technique. The results showed that there were no differences in impulsive buying in terms of the types of conformity in Padang State University students.Keywords: impulsive buying, conformiy types, college student
HUBUNGAN SELF AWARENESS DENGAN PERILAKU CYBERLOAFING PADA PNS DI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA BUKITTINGGI
Debby Shintia;
Taufik Taufik
Jurnal Riset Psikologi Vol 2019, No 1 (2019): Periode Wisuda Maret 2019
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.23 KB)
|
DOI: 10.24036/jrp.v2019i1.6951
Hubungan self awareness dengan perilaku cyberloafing pada PNS di DinasPendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi. Sebagai salah satu unsur yang berperan penting dalam penyelenggaraan pemerintah, masih terdapat beberapa fakta yang menunjukkan kurang disiplinnya PNS dalam bekerja, salah satunya adalah perilaku cyberloafing atau penyalahgunaan fasilitas internet instansi untuk tujuan pribadi. Diantara faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kedisiplinan kerja adalah melalui peningkatankesadaran diri atau self awareness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self awareness dengan perilaku cyberloafing pada PNS. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik statistik korelasi product moment dari Karl Pearson. Populasi penelitian adalah seluruh PNS di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi dengan sampel sebanyak 59 orang menggunakan teknik total sampling. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara self awareness dengan perilaku cyberloafing pada PNS dengan arah korelasi negatif.The relationship of self awareness and cyberloafing behavior to civil servants in the Education and Culture Office of the City of Bukittinggi. As one of the elements that plays an important role in the administration of the government, there are still some facts that show the lack of discipline of civil servants in work, one of which is cyberloafing behavior or misuse of agency internet facilities for personal purposes. Among the factors that can influence work discipline are through increased self awareness or self awareness. This study aims to determine the relationship between selfawareness and cyberloafing behavior on civil servants. The data obtained were analyzed using product moment correlation statistical techniques from Karl Pearson. The study population was all civil servants in the Education and Culture Office of the City of Bukittinggi with a sample of 59 people using total sampling techniques. The results showed that there was a very significant relationship between self awareness and cyberloafing behavior in civil servants with a negative correlation direction.
Hubungan Pemahaman Karakter-Cerdas dengan Kecenderungan Perilaku Seks Bebas Siswa
Suhartati Wahyu;
Taufik Taufik
Jurnal Neo Konseling Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Neo Konseling
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/00641kons2022
Penelitian ini berangkat dari fenomena yang sangat rentan dengan masalah seksualitas atau perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas dipengaruhi oleh sejumlah faktor baik internal maupun eksternal. Dari faktor internal adalah karakter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemahaman karakter-cerdas, mendeskripsikan kecenderungan perilaku seks bebas siswa dan mendeskripsikan hubungan pemahaman karakter-cerdas dengan kecenderungan perilaku seks bebas siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan populasi siswa SMK Negeri 6 Padang. Sampel diambil menggunakan teknik Stratified Random Sampling dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan dengan angket berskala tentang pemahaman karakter-cerdas dan angket kecenderungan perilaku seks bebas siswa. Data dianalisis dengan statistik deskriptif persentase dan untuk menguji hubungan kedua variabel, digunakan rumus Pearson Product Moment dengan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) version 25.0. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: (1) terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara pemahaman karakter-cerdas dengan kecenderungan perilaku seks bebas siswa, (2) pemahaman karakter-cerdas sangat menentukan bagaimana pengaruh seks bebas pada siswa. Artinya semakin tinggi pemahaman karakter-cerdas siswa maka semakin rendah kecenderungan perilaku seks bebasnya, begitu juga sebaliknya. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan untuk mencegah kecenderungan perilaku seks bebas, disarankan guru BK atau konselor dapat memberikan bimbingan untuk meningkatkan pemahaman karakter-cerdas melalui layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok.
Hubungan kemampuan komunikasi interpersonal dengan keharmonisan keluarga
Dwi Fitriza;
Taufik Taufik
Counseling and Humanities Review Vol 2, No 1 (2022): Counseling and Humanities Review
Publisher : Counseling and Humanities Review
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/000484chr2022
Komunikasi interpersonal merupakan faktor yang mempengaruhi keharmonisan suami istri dalam rumah tangga. Namun, tidak selalu komunikasi interpersonal antara pasangan suami istri selalu berjalan dengan baik, seringkali akibat komunikasi yang tidak berjalan baik menyebabkan kesalahpahaman bahkan perceraian dalam keluarga. Penelitian ini menguji hubungan komunikasi interpersonal dengan keharmonisan dalam keluarga. Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif korelasional. Populasi penelitian adalah pasangan suami istri di kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci dengan teknik penarikan sampel bertujuan (Purposive sampling) sebanyak 70 orang atau 35 pasangan.Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal dengan keharmonisan dalam keluarga.
Hubungan kematangan emosi dengan keharmonisan keluarga pada pasangan menikah muda
Meliyani Meliyani;
Taufik Taufik
Counseling and Humanities Review Vol 2, No 1 (2022): Counseling and Humanities Review
Publisher : Counseling and Humanities Review
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/000485chr2022
Setiap individu yang sudah menikah mendambakan agar perkawinannya dapat terus terjalin harmonis dan mencapai kebahagiaan. Keluarga disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan berkurangnya ketegangan emosi, kekecewaan dan puas terhadap keadaan keluarganya. Salah satu faktor yang menyebabkan keluarga tidak harmonis yaitu kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) tingkat keharmonisan keluarga pasangan menikah muda (2) tingkat kematangan emosi pada pasangan menikah muda (3) menguji hubungan kematangan emosi dengan keharmonisan keluarga pada pasangan menikah muda. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif koreasional. Populasi penelitian 50 keluarga yang menjalani pernikahan muda. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket keharmonisan keluarga dan kematangan emosi. Data diolah menggunakan teknik analisis statistik deskriptif serta analisis korelasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan kematangan emosi dengan keharmonisan keluarga pada pasangan menikah muda berada pada kategori tinggi pada kematangan emosi dengan rata-rata skor capaian 73% dan keharmonisan keluarga dengan rata-rata skor capaian 76%. Kebanyakan terdapat hubungan positif signifikansi antara kematangan emosi dengan keharmonisan keluarga pada pasangan muda dengan nilai koefisien korelasi 0,438 dan nilai signifikansi 0,001. Artinya, semakin tinggi kematangan emosi maka semakin baik keharmonisan keluarga, begitupun sebaliknya semakin rendah tingkat kematangan emosi maka semakin buruk pula tingkat keharmonisan keluarga.
Hubungan Locus of Control dengan Kematangan Karier Siswa Hasil Belajar Rendah
Millenia Millenia;
Taufik Taufik
Jurnal Neo Konseling Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Neo Konseling
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/00711kons2023
Kematangan karier dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya locus of control. Apabila siswa memiliki locus of control internal yang tinggi, maka siswa akan merasa yakin akan kemampuan dan usaha yang dilakukannya. Kenyataannya masih ada siswa yang kurang yakin dengan kemampuan dan usaha yang dilakukannya dan lebih mempercayai nasib dan bantuan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) locus of control, (2) kematangan karier, dan (3) hubungan antara locus of control dengan kematangan karier siswa hasil belajar rendah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah 74 orang siswa hasil belajar rendah di SMK Negeri 3 Tebo. Pengumpulan data menggunakan inventori locus of control dan angket kematangan karier. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik persentase dan Pearson Product Moment Correlation. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) kebanyakan (47,24%) siswa hasil belajar rendah memiliki locus of control internal, yang berarti kebanyakan siswa hasil belajar rendah lebih percaya pada kemampuan yang mereka miliki dan upaya yang mereka lakukan, (2) rata-rata skor capaian kematangan karier siswa hasil belajar rendah adalah 152,8 (67,91%) yang tergolong tinggi, dan (3) terdapat hubungan antara locus of control dengan kematangan karier siswa hasil belajar rendah dengan koefisien korelasi sebesar -0,311 dan pada taraf kepercayaan 95%. Artinya semakin tinggi locus of control siswa hasil belajar rendah maka semakin rendah kematangan karier siswa.
Gambaran Permasalahan Pasangan Muda di Kabupaten Kerinci
Rezki Hariko;
Opi Andriani;
Taufik Taufik
JKI (Jurnal Konseling Indonesia) Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Konseling Indonesia
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Young married couples are faced with various problems, as a consequence of not reaching psychological, physical, social, economic and cultural maturity. This study aims to describe the problems experienced married couples at a young age. Research respondents were 46 young married couples in Kerinci. The research data was collected using instruments arranged according to the Guttman scale model. The research findings indicate a problem in each indicator, that is related to the state of self; social relations with the community; economics and finance; work, religion, values and norms; circumstances in the family; and sexual intercourse. Based on the research findings, it is suggested to counselor to do counseling and guidance service to young married couples who will and have been married to prevent and alleviate the problem in an effort to realize happy family.
Hubungan Konsep Diri dengan Kesiapan Menikah
Azahra Hardi Cusinia;
Taufik Taufik
Jurnal Neo Konseling Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Neo Konseling
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/00729kons2023
The background of this research is that many young married couples experience divorce due to a lack of readiness to marry. This lack of readiness creates conflict between husband and wife due to poor self-concept. This study aims to describe: (1) the self-concept of Faculty of Education Universitas Negeri Padang (FIP UNP) students in the class of 2019. (2) readiness to marry FIP UNP students in the class of 2019. (3) Find a correlation between self-concept and readiness to marry FIP UNP students in the class of 2019. This research uses a quantitative approach with a correlational research type. The research subjects were 91 non-counseling FIP UNP students. The instrument used was a scaled questionnaire, which was analyzed using a percentage scale technique. The correlation between the two variables was analyzed using the Pearson Product Moment Correlation technique. The results showed that (1) students' self-concept was in the high category with an average achievement score of 72%; (2) students' readiness to marry was in the very high category with an average achievement score of 74%; and (3) there was a positive relationship with a significant difference between self-concept and students' readiness to marry with a correlation of 0.756 using a significant level of 0.01. So, if the student's self-concept is positive, then the student's readiness to marry will also have a positive impact, and vice versa, if the student's self-concept is negative, it will also reduce the student's readiness to marry.
The Relationship Between Self Efficacy and High School Student Career Choices
Wulan Muliyana;
Taufik Taufik
Current Issues in Counseling Vol 1, No 1 (2021): Current Issues in Counseling
Publisher : Current Issues in Counseling
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/0425cic
This research is motivated by the fact that there are still students who are unsure and confused about themselves in making decisions, especially on career choices. Confusion and uncertainty make it difficult for students to determine careers. This study aims to describe: (1) students' advanced career choices after graduating from high school to choose further education or work, (2) the level of self-efficacy of students who will complete high school to go to further education or work, and (3) find a relationship between self-efficacy with high school student career choices. This research uses a quantitative approach with correlational research type. The population of this study were students of class XII SMAN 14 Padang and the sample was 150 students. The instrument used was a scaled questionnaire which was analyzed using the percentage scale technique and the relationship between the two variables was analyzed using the Pearson Product Moment Correlation technique. The results showed that (1) the level of self-efficacy of students in the high category with an average percentage achievement score of 78.4%, (2) the career choice ability of students are in the high category with an average percentage score of 79%, (3) there is a significant positive relationship between self-efficacy and career choices of students with a correlation value of 0.446 at the 99% significance level. Thus it can be interpreted that the higher the student's self-efficacy, the higher the career choice ability for students and vice versa. Based on the research results, it is suggested that counselors at SMAN 14 Padang can provide assistance to students to increase self-efficacy with provide counseling guidance in the field of career guidance with material on the types of work available in the community, regarding the gradation of positions within the scope of a position, regarding the requirements for the stage and type of education, regarding the position classification system, regarding future prospects related to the real needs of society for types of features or specific job.