Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Poligami dan Ketahanan Keluarga Masyarakat Aceh Fitri Auliani; Ulya Layyina; Mutia Arrisha; Haiyun Nisa
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2021.201.59-68

Abstract

Berbagai permasalahan keluarga seperti pernikahan tidak tercatat, pernikahan siri, perkawinan anak, poligami, perceraian  dan sebagainya memerlukan perhatian khusus. Sebagai bentuk solusi, para pemangku kebijakan merumuskan Qanun Hukum Keluarga yang bertujuan untuk mengatur kehidupan keluarga masyarakat Aceh yang berlandaskan syariat Islam sehingga mampu membentuk ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga diatur melalui pendidikan pra nikah, tercatat secara resmi dalam dokumen negara, perceraian dilakukan dipengadilan, peminangan disesuaikan dengan kearifan lokal, pengaturan persyaratan administrasi seperti harus bebas dari pengaruh narkotika dan obat terlarang, sanksi dan sebagainya. Namun, Rancangan Qanun Hukum Keluarga justru menuai polemik yang mengarah kepada regulasi poligami. Kredibilitas regulasi poligami dalam menyokong ketahanan keluarga masih dipertanyakan. Tinjauan naratif ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pengesahan regulasi poligami terhadap ketahanan keluarga masyarakat Aceh. Adapun metode penelitian menggunakan pendekatan studi pustaka (literature review) dengan metode penulisan artikel merujuk pada narrative review. Hasil kajian literatur didapatkan bahwa secara teoritis, regulasi poligami memberikan pengaruh positif maupun negatif pada keluarga poligami. Namun ketika disandingkan dengan ketahanan keluarga yang merupakan esensi dari Qanun Hukum Keluarga, maka regulasi poligami tidak dapat menjamin terbentuknya ketahanan keluarga pada masyarakat Aceh.   [Various family problems such as unregistered marriages, unregistered marriages, child marriages, polygamy, divorce and so on require special attention.As a solution, policymakers formulated Qanun Hukum Keluarga which aims to regulate the family life of the Acehnese people based on Islamic law so that they can build family resilience. However, the Draft of Qanun Hukum Keluarga has resulted in a polemic that leads to the regulation of polygamy. The credibility of the polygamy regulation in supporting family resilience is still questionable. This narrative review aims to provide an overview of the legalization of polygamy regulations on the resilience of families in Aceh. The research method uses a literature review approach with an article writing method referring to a narrative review. This study discovered that theoretically, polygamy regulation has either a positive or negative effect on polygamous families. Therefore, when juxtaposed with family resilience, which is the essence of the Qanun Hukum Keluarga, the regulation of polygamy cannot guarantee the formation of family resilience in Acehnese society.]  
PERBEDAAN PROKRASTINASI AKADEMIK DITINJAU DARI JENIS KELAMIN PADA MAHASISWA Yuli Astuti; Haiyun Nisa; Kartika Sari; Intan Dewi Kumala
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 4, No 2: Juli 2021
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v4i2.22108

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan permasalahan yang umumnya dialami oleh para pelajar, tidak terkecuali mahasiswa. Prokrastinasi Akademik adalah kecenderungan untuk menunda atau penghindaran penuh terhadap suatu tugas akademik oleh individu secara sadar. Perilaku ini tidak hanya memengaruhi nilai, tetapi juga kinerja akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prokrastinasi akademik ditinjau dari jenis kelamin pada mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis komparatif. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas S berjumlah 336 mahasiswa (168 laki-laki dan 168 perempuan). Pengumpulan data menggunakan skala Tuckman Procrastination Scale (TPS). Hasil analisis data menggunakan Mann Whitney U test dengan nilai signifikansi (p)=0,110 (p0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan prokrastinasi akademik ditinjau dari jenis kelamin pada mahasiswa. Tidak adanya perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa dipengaruhi oleh adanya tuntutan untuk belajar secara mandiri pada laki-laki dan perempuan. Faktor lain tidak adanya perbedaan prokrastinasi akademik pada mahasiswa karena dipengaruhi oleh dinamika perkembangan individu yang meliputi perkembangan fisik, psikologis dan peran sosial.
TINGKAT PEMUJAAN SELEBRITI PADA KOMUNITAS PENGGEMAR K-POP DI ACEH Alissa Maulida; Wida Yulia Viridanda; Haiyun Nisa; Novita Sari
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 4, No 1: Januari 2021
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v4i1.19720

Abstract

Pemujaaan selebriti adalah bentuk dari hubungan satu arah yang terjadi terhadap seseorang dan tokoh idolanya, yang membuat seseorang menjadi terobsesi terhadap selebriti idolanya tersebut. Hadirnya budaya korea di Aceh terlihat dari kemunculan komunitas penggemar idola dari Korea, berbentuk akun fanbase sampai komunitas yang melakukan aktivitas bersama secara langsung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkatan pemujaan selebriti pada komunitas penggemar K-Pop di Aceh, serta faktor sosiodemografi apa saja yang memengaruhi pemujaan selebriti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik penentuan sampel menggunakan sampling jenuh, yaitu 300 anggota yang bergabung di komunitas BTS Army (193) dan EXOL (107) Aceh. Pemujaan selebriti diukur menggunakan The Celebrity Attitude Scale (CAS). Hasil penelitian menunjukkan pemujaan selebriti pada kedua komunitas berada pada berbagai tingkatan, yaitu 34,2% berada di tingkat pemujaan selebriti tinggi (Borderline-Pathological), 33.9% berada di tingkat pemujaan selebriti sedang (Intense-Personal), dan 31.9% berada di tingkat pemujaan selebriti rendah (Entertainment-Social). Berdasarkan sosiodemografi pengisian skala, anggota komunitas lebih banyak berjenis kelamin perempuan, berada pada rentang usia remaja, mahasiswa, berstatus lajang, dan memiliki satu orang idola.
Nomophobia pada Generasi X, Y, Dan Z Maya Khairani Khairani; Irmayana Irmayana; Marty Mawarpury; Haiyun Nisa
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol. 6 No. 1 (2022): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v6i1.2565

Abstract

Telepon seluler atau ponsel merupakan hasil perkembangan teknologi yang dianggap lumrah penggunaannya saat ini. Tanpa disadari penggunaan telepon seluler secara berlebihan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi penggunanya. Nomophobia muncul sebagai salah satu masalah perilaku kecanduan terhadap telepon seluler. Beberapa faktor yang memengaruhi nomophobia yaitu jenis kelamin, harga diri, kepribadian, dan usia. Berbagai lapisan usia atau generasi menggunakan telepon seluler dan mengalami nomophobia yang berbeda-beda baik anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan nomophobia antara generasi X, Y dan Z di Aceh. Penelitian ini melibatkan 360 individu yang lahir antara tahun 1960-2007 yang menggunakan telepon seluler cerdas (smartphone) yang dipilih melalui teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui No Mobile Phone Phobia Questionnaire (NMP-Q) dengan koefisien reliabilitas 0,972. Hasil analisis data menggunakan teknik analisis One Way ANOVA diperoleh nilai p=0,000(p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nomophobia antara generasi X, Y dan Z di Aceh. Perbedaan ini berimplikasi pada kemampuan manajemen diri, dan kecenderungan menjadi candu gawai jika tidak dikelola.
Perbedaan Hardiness Mahasiswa Perantau Ditinjau Dari Jenis Kelamin Evi Arisandi; Haiyun Nisa
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29993

Abstract

Menempuh pendidikan tinggi merupakan impian dan keinginan setiap individu, sehingga individu akan berjuang untuk melanjutkan studi pada bidang yang diinginkan walaupun harus merantau ke daerah lain. Mahasiswa yang merantau ke daerah lain akan mengalami banyak tantangan dan hambatan dalam proses studinya, sehingga diperlukan ketangguhan atau hardiness. Hardiness merupakan salah satu faktor kepribadian yang turut berperan terhadap respon individu dalam menghadapi peristiwa yang berpotensi menimbulkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hardiness pada mahasiswa perantau ditinjau dari jenis kelamin. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling dengan jumlah 160 mahasiswa perantau yang terdiri dari 80 laki- laki dan 80 perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah adaptasi Hardiness Scale yang disusun oleh Bartone (1991). Uji hipotesis yang telah dilakukan menunjukkan hasil (p = 0,46, p 0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hardiness antara mahasiswa perantau laki-laki dan perempuan.Higher education is the dreams and desires of each individual, so that individuals will strive for further study on the desired field though should be migrated to other areas. Students who wander into other areas will experience many challenges and obstacles in the process of their studies, so that the necessary toughness or hardiness. Hardiness is one of the factors contributing towards the personality of the individual response in the face of a potentially stressful event. This research aimed to know the difference in hardiness on student nomads in terms of gender. Sampling technique used was quota sampling with a total of 160 students of the nomads that consists of 80 men and 80 women. Research instrument used is the adaptation of the Hardiness Scale compiled by Bartone (1991). Test the hypothesis has been done show results (p = 0.46, p 0.05). Based on these results it can be concluded that there is a difference in hardiness among nomads of both men and women.men and women.