Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN DESA SEPAHAT KECAMATAN MENJALIN TERHADAP PERTAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) Afriana, Novi; Roslinda, Emi; Ekyastuti, Wiwik
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Lestari
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v3i1.9879

Abstract

Illegal gold mining, has been going on for many years in Sepahat village. Illegal gold mining is very difficult to stopped because it is the main livelihood of the community. The research purposes were to determine the community perception of illegal gold mining and to determine the relationship of individual factors. This research executed with survey method. Data were analyzed descriptively and the inter-relationship seen with Chi Square analysis. Caracteristics of illegal mining communities are dominated by adulthood, rubber farmer as a livelihoods, and the level of education are elementary school. Community perception is neutral on illegal gold mining. This is because the income from illegal gold mining can meet their needs. The level of age, knowledge, and income are not significantly associated with the community perception on illegal gold mining. Keywords: Community perception, illegal gold mining.
Hubungan antara Tingkat Cemaran Merkuri dengan Perkembangan Vegetasi (Suksesi Alami) di Tailing Bekas Tambang Emas Rakyat Ekyastuti, Wiwik; Faridah, Eny; Sumardi; Setiadi, Yadi
Jurnal Wana Tropika Vol 2 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4112.814 KB)

Abstract

..........................
KEANEKARAGAMAN JENIS Nepenthes spp. DI HUTAN KERANGAS DESA SEJAHTERA KABUPATEN KAYONG UTARA Rantau, Gusti; Ekyastuti, Wiwik; Ekamawanti, Hanna Artuti
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.44353

Abstract

Nepenthes spp. are one of Indonesia's biodiversity and have a variety of benefits. Nepenthes spp. are also carnivorous plant that are classified in the Nepenthaceae family. Nepenthes spp. are now classified as protected plants. This research was conducted in the Kerangas Forest of Sejahtera Village in North Kayong Regency. The purpose of this study was to obtain data on species diversity of Nepenthes. The method used is a survey with a double plot technique measuring 5 m x 5 m which opens 16 observation plots. The result showed that there were 3 types of Nepenthes spp. found: N. reinwardtiana, N. rafflesiana and N. hirsuta. The level of diversity is low based on index value of (0.32), value of dominance index of 0.359 and species abundance of (0.219). The low level of diversity found is influenced by environmental factors that are disturbed due to human activities in it which can threaten the sustainability of the Nepenthes spp. habitat such as forests, logging which aims to open gardening and farming land for the local community.Keywords: Habitat, Kerangas, Nepenthes, Type Diversity.AbstrakNepenthes spp. merupakan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia dan memiliki beragam manfaat. Nepenthes spp. juga merupakan tumbuhan karnivora yang tergolong dalam famili Nepenthaceae. Nepenthes spp. sekarang diklasifikasikan sebagai tanaman yang dilindungi. Penelitian ini dilakukan di Hutan Kerangas Desa Sejahtera Kabupaten Kayong Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data keanekaragaman jenis Nepenthes. Metode yang digunakan survei dengan teknik petak ganda berukuran 5 m x 5 m berjumlah 16 petak pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis Nepenthes spp. ditemukan: N. reinwardtiana, N. rafflesiana dan N. hirsuta. Tingkat keanekaragaman tergolong rendah berdasarkan nilai indeks (0,32), nilai indeks dominansi 0,359 dan kelimpahan spesies (0,219). Rendahnya tingkat keanekaragaman jenis yang ditemukan diduga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang terganggu akibat adanya aktivitas manusia didalamnya yang dapat mengancam kelestarian habitat kantong semar seperti pembakaran hutan, penebangan liar yang bertujuan untuk pembukaan lahan berkebun dan bertani bagi masyarakat setempat.Kata Kunci: Habitat, Keanekaragaman Jenis, Kerangas, Nepenthes
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PIONIR DI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN DESA BUGANG KECAMATAN HULU GURUNG KABUPATEN KAPUAS HULU Ruslaini, Ruslaini; Ekyastuti, Wiwik; Astiani, Dwi
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i3.45055

Abstract

This study aims to obtain data on the diversity of pioneer plant species in the ex-illegal gold mining area from Bugang Village, Hulu Gurung District, Kapuas Hulu Regency. The research method used is a survey method with vegetation data sampling in the form of a single plot measuring 50 m x 100 m. Furthermore, 10 plots of 20m x 20m were made in single plots and the remaining 20m x 10m were 5 plots, 5m x 5m for saplings and 2m x 2m for seedlings and understorey 15 plots each. The results showed that there were 1,059 individual pioneer plants from 20 species and 11 families. The value of understorey vegetation density, seedling level and salpling level showed high criteria. The highest index of importance of understorey was 53.9% for Diplazium esculentum, 37.5% for Bellucia axinanthera and saplings 123% for Brookea tomentosa. The diversity index value (H ') for understorey, seedling level and sapling level has a value of <1. This value indicates that the ex gold mining site has a low level of diversity but still has a high level of control with a stable abundance of species and the number of individuals of each plant species that are evenly distributed. Keywords: Bugang Village, ex-illegal gold mining, pioneering plant, species diversityAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data keanekaragaman jenis tumbuhan pionir di lahan bekas penambangan emas tanpa izin Desa Bugang Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan contoh data vegetasi berupa petak tunggal berukuran 50m x 100m. Selanjutnya dibuat 10 petak berukuran 20m x 20m dalam satu petak dan sisanya 20m x 10m ada 5 petak, 5m x 5m untuk pancang dan 2m x 2m untuk semai dan tumbuhan bawah masing-masing 15 petak . Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1.059 individu dari 20 jenis dan 11 famili. Kerapatan vegetasi tumbuhan bawah, tingkat semai dan pancang termasuk dalam kriteria  hutan yang baik. Indeks nilai penting tumbuhan bawah tertinggi adalah 53,9% untuk Diplazium esculentum, semai 37,5% untuk Bellucia axinanthera dan pancang 123% untuk Brookea tomentosa. Nilai indeks keanekaragaman tumbuhan bawah, tingkat semai dan pancang memiliki nilai <1. Nilai ini menunjukkan bahwa lokasi bekas penambangan emas memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah namun masih memiliki tingkat kelimpahan jenis yang stabil dan jumlah individu tiap jenis tumbuhan yang tersebar merata. Kata kunci: Bekas penambangan emas tanpa izin, Desa Bugang, keanekaragaman jenis, tumbuhan pionir
UJI IN VITRO DAYA RACUN DAUN RENGAS (Gluta renghas Linn) DAN MANGGA KWENI (Mangifera odorata Griff) TERHADAP SERANGAN JAMUR PELAPUK KAYU (Schizopyllum commune Fries) ecitriwulan, ecitriwulan; Ekyastuti, Wiwik; Mariani, Yeni
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 9, No 4 (2021): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v9i4.48831

Abstract

Wood is an organic material that is easily affected by various factors of wood destruction, one of them is wood decay fungal Schizopyllum commune Fries. To overcome the attack of this fungal, it is needs preventive efforts such as using natural materials that are efficacious as anti-fungal. In this study, testing was conducted to analyze the toxic power of methanol extract from the leaves of Anacardiace family plant, namely Gluta renghas and Mangifera ordorata. This study used RAL factorial with 2 factors (type of leaves extract and concentration levels). The methods used were moisture content measurement of those leaves powder, extraction stage with methanol solvent, yield percentage measurement, and anti fungal assays. The results showed that there was no interaction between type of leaves extract and concentrations levels, but concentration levels showed significant effect to the antifungal activity. The optimum concentration of the extracts in inhibited the growth of decay fungal S. commune was 3 %. Keywords: in vitro assay, anti fungal, Gluta renghas, Mangifera ordorata rengas, Schizopyllum commune AbstrakKayu merupakan bahan organic yang mudah terserang berbagai faktor perusak kayu diantaranya adalah jamur pelapuk Schizopyllum commune Fries, untuk megatasi serangan jamur ini perlukan usaha pencegahan seperti menggunakan bahan alam yang berkhaasiat sebagai anti jamur. Dalam penelitian ini dilakukan penggujian untuk mengganalisadaya racun ekstrak methanol dari daun tanaman family Anacardiace yaitu G. renghas dan M. ordorata. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) factorial dengan 2 faktor (jenis ekstrak dan tingkat konsentrasi). Metode yang digunakan adalah pengukuran kadar air serbuk, ekstraksi dengan menggunakan pelarut methanol, penentuan rendemen dan pengujian anti jamur. Hasil penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat interaksi antara factor jenis ekstrak dan tingkat konsentrasi, sedangkan factor tingkat konsentrasi mempengaruhi aktivitas anti jamur. Konsentrasi terbaik dari kedua ekstrak dalam menghambat jamur pelapuk S. commune adalah 3 %. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan spasi tunggal, mempergunakan huruf Kata kunci: uji in vitro, anti jamur, Gluta renghas, Mangifera ordorata rengas, Schizopyllum commune
TEKNOLOGI BUDIDAYA LEBAH MADU KELULUT DI KAWASAN MANGROVE Emi Roslinda; Wiwik Ekyastuti; Dwi Astiani
Dharmakarya Vol 10, No 1 (2021): Maret, 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v10i1.23767

Abstract

Keberhasilan penanaman tumbuhan mangrove yang dilakukan oleh kelompok peduli mangrove Surya Perdana Mandiri (SPM) menimbulkan banyak dampak positif, salah satunya adalah tersedianya potensi hutan mangrove  berupa bunga mangrove yang merupakan pakan lebah Trigona sp yang dapat menghasilkan madu kelulut. Namun keberhasilan penanaman mangrove tidak diikuti peningkatan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih masyarakat untuk membudidayakan lebah Trigona sp sebagai penghasil madu kelulut, sebagai alternatif aktivasi usaha kerakyatan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Teknologi budidaya lebah Trigona sp yang disampaikan adalah teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat. Sasaran utama adalah masyarakat yang tergabung dalam kelompok peduli mangrove SPM di Setapuk Besar Kecamatan Singkawang Utara. Metode yang diterapkan adalah difusi ipteks, sosialisasi, pembangunan rumah madu dan partisipasi aktif masyarakat, sehingga terbangun satu unit rumah madu untuk memproduksi madu kelulut di lahan mangrove dan sebagai sarana edukasi bagi kegiatan wisata yang ada. Adanya kegiatan PKM ini masyarakat sudah memperoleh pengetahuan untuk memproduksi madu yang diharapkan dapat menjadi alternative pekerjaan bagi nelayan untuk  menambah penghasilan.
Produksi Kompos Untuk Mendukung Keberhasilan Reklamasi Lahan Tailing Bekas Tambang Emas Rakyat Wiwik Ekyastuti; Dwi Astiani
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 2 NOMOR 1 MARET 2018 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.211 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v2i1.1711

Abstract

ABSTRAK                Tailing bekas tambang emas rakyat di Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak Kalimantan Barat merupakan lahan marginal yang didominasi oleh pasir, sehingga menjadi kendala untuk revegetasi. Revegetasi merupakan salah satu bagian penting dalam proses reklamasi lahan bekas tambang. Guna menjamin keberhasilan revegetasi, maka perbaikan fisik-kimia tailing sangat diperlukan dan penambahan bahan organik menjadi jalan keluarnya. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat Menjalin untuk memproduksi kompos, sehingga bahan organik berupa kompos tersedia secara cukup bahkan berlimpah guna mendukung kegiatan reklamasi tailing bekas tambang emas rakyat. Kegiatan KKN PPM menjadi jalan untuk mencapai tujuan tersebut, dan metode yang digunakan adalah partisipatif. Didalam kegiatan ini mahasiswa dilibatkan sebagai mentor yang mendampingi masyarakat selama sebulan penuh di lapangan. Peserta kegiatan adalah masyarakat petani dan karang taruna. Hasil kegiatan menunjukkan masyarakat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Hal ini terbukti dari partisipasi masyarakat yang sesuai target yaitu minimal 30 orang per lokasi kegiatan. Masyarakat selalu aktif di setiap tahap kegiatan pembuatan kompos berbahan dasar sampah organik mulai dari persiapan bahan, pembuatan starter mikroorganisme dekomposer, pembuatan bibit kompos, proses pengomposan sampai pengemasan kompos yang sudah jadi. Di akhir kegiatan ketrampilan masyarakat meningkat dan dihasilkan kompos yang dapat digunakan langsung untuk kegiatan revegetasi lahan tailing bekas tambang emas rakyat di sekitar masyarakat.  Kata kunci: Kompos Berbahan Dasar Sampah Organik, Reklamasi, Tailing Bekas Tambang Emas. ABSTRACT                Tailings ex community gold mine in sub-district of Menjalin district of Landak West Kalimantan is very marginal that dominated by sand, thus becoming an obstacle to revegetation. Revegetation is an important part of the mine reclamation process. In order to ensure the success of revegetation, the physical-chemical repairs of tailings are necessary and the addition of organic matter becomes the solution. Therefore, the objective of this activity was to empower the people of Menjalin to produce compost, so that the organic material in the form of compost was available sufficiently and abundantly to support the reclamation of tailings ex community gold mine. The activity of KKN PPM became a way to achieve that goal, with the method was participatory. In this activity students involved as mentors who accompany the community for a full month in the field. Participants were farmers and youth communities. The results showed that the community was very enthusiastic in following this activity. This is evident from the community participation that targeted of at least 30 people per location of activities. The community is always active at every stage of activity of composting made from organic waste, starting from material preparation, making of starter microorganism as decomposers, making of starter of compost, composting process until packaging of compost. Through this activity the skills of the community are increased and compost is produced which can be used directly for the revegetation of tailing ex community gold mine around these communities. Keywords: Compost Made From Organic Waste, Reclamation, Tailings Ex Gold Mine.
KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK (ORCHIDACEAE) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MELINTANG KABUPATEN SAMBAS Wira Abdillah; Wiwik Ekyastuti; Yanieta Arbiastutie
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.46460

Abstract

Diversity of orchid species is a natural biological wealth that needs to be disclosed as the carrying capacity of an area as well as supporting educational and research activities. This research aims to measure the level of diversity of natural orchid species found in the Gunung Melintang Nature Tourism Park region. The research was conducted in January 2020 using a survey method with 15 plots double sampling technique with a size of 20 m x 20 m. The data analysis were Importance Value Index (INP), Dominance index (C), Index of Wealth Species (D), Diversity Index (H'), Abundance Index (e) and Species Similarity Index (IS). The results showed the most dominant species is Bromheadia finlaysoniana with an INP is 14,394. The value of species divercity index is 1.0277, which mean that it had moderate diversity. Beside that, the value of dominance index is 0,1098 (no species dominate), species richness index is 5,245 (high) and an abundance index is 0,8967.Keyword: diversity of species, orchid, Gunung Melintang Nature Tourism ParkAbstractKeanekaragaman jenis anggrek merupakan kekayaan alam hayati yang perlu diungkapkan keberadaannya  sebagai daya dukung suatu kawasan sekaligus menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat keanekaragaman jenis anggrek alam yang terdapat di kawasan TWA Gunung Melintang. Penelitian dilaksanakan Januari 2020  menggunakan metode survei dengan teknik sampling petak ganda sebanyak 15 petak dengan ukuran 20 m x 20 m.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies yang paling mendominasi adalah Bromheadia finlaysoniana dengan INP sebesar 13,394. Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis sebesar 1.0277 artinya memiliki keanekaragaman jenis yang sedang. Selain itu, nilai Indeks Dominansi sebesar 0.1098 (tidak ada spesies yang mendominasi), nilai Indeks Kekayaan Jenis sebesar 5.2450 (tinggi) dan nilai Indeks Kelimpahan sebesar 0.8967. Kata kunci: anggrek, keanekaragaman jenis, TWA Gunung Melintang
PELATIHAN PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL UNTUK DIVERSIFIKASI PRODUK MINYAK KELAPA Wiwik Ekyastuti; Dwi Astiani; Tri Widiastuti; Emi Roslinda; Riski Amalia
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13158

Abstract

Abstrak: Desa Malikian Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah adalah salah satu desa penghasil kelapa di Kalimantan Barat. Selama ini kelapa diolah menjadi kopra, dengan nilai jual yang rendah. Sementara jika kelapa diolah menjadi virgin coconut oil (VCO) harga jual akan meningkat 5-12 kali lebih tinggi dari kopra. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat VCO untuk diversifikasi produk minyak kelapa, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan tahapan: penyampaian materi, diskusi, dan praktek langsung membuat VCO. Mitra sebagai peserta pelatihan adalah ibu-ibu anggota PKK yang berjumlah 25orang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan diterima positif oleh mitra. Pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat VCO meningkat 76,5% dari 21,5% sebelum pelatihan menjadi 98% setelah mengikuti pelatihan. Jika masyarakat konsisten melakukan diversifikasi produk minyak kelapa menjadi VCO, maka pendapatan akan meningkat, dan ke depan dapat diperluas produknya menjadi sabun mandi, shampoo dan body lotion berbasis VCO.Abstract: Malikian Village, Mempawah Hilir District, Mempawah Regency is one of the coconut-producing villages in West Kalimantan. So far, coconuts are processed into copra, with a low selling value. Meanwhile, if coconut is processed into virgin coconut oil (VCO), the selling price will increase 5-12 times higher than copra. The objective of this service activity was to increase the knowledge and skills of the community in making VCO for coconut oil product diversification, so that it has the potential to increase their income. The method used is training with stages: delivery of material, discussion, and hands-on practice of making VCO. Partners as training participants were PKK members, totaling 25 people. The evaluation results show that the training activities were received positively by the partner. Community knowledge and skills in making VCO increased by 76.5% from 21.5% before training to 98% after attending training. If the community consistently diversifies coconut oil products into VCO, their income will increase, and in the future, their products can be expanded into body soap, shampoo, and body lotion based on VCO.
STUDI HABITAT DAN POLA SEBARAN TUMBUHAN BELIMBING DARAH (Baccaurea angulata) DI KAWASAN KEBUN RAYA SAMBAS Alvian Alvian; Wiwik Ekyastuti; Yanieta Arbiastutie
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.54085

Abstract

Belimbing Darah (Baccaurea angulata) is a protected endemic plant at Kalimantan, and its fruit is used as a local medicine. The damage to the environment around the Sambas Botanical Garden endangers the environment that threatens plants. Therefore, this study aims to obtain data on the habitat condition and distribution pattern of the Belimbing Darah at the Sambas Botanical Garden. The method used a survey with a sampling technique plot path via systematic. The results show that climatic factors influence the Belimbing Darah habitat. These climatic factors are temperature 26-28°C, humidity 94-99%, light intensity 75-155 Lx, rainfall/month 191.380 mm. Geographical factors are slope 5-55°, altitude 22-63 meters above sea level, hilly topography. Edaphic factors are pH 5-7, humidity 33% (dry), ultisol soil type with clay (lowland, riparian), alluvial soil with clayey (swamp), and biotic factor is vegetation. The distribution pattern of Belimbing Darah is clustered (lowland) because it grows around its parent tree. The uniform distribution (riparian, swamp) is influenced by the environment through the surrounding animals that play a role in the distribution and like the edaphic, climatic, geography factors supporting growth. The biotic and environmental damage factors can affect the growth of Belimbing Darah in the Sambas Botanical Garden whereby the density of the Belimbing Darah plant is 671/hectares, most growing in the lowlands 391/hectares. The research result implication can be used to make protection for an in-situ collection of Belimbing Darah plants in the Sambas Botanical Garden.Keywords: Baccaurea angulata, botanical garden, distribution. AbstrakBelimbing darah (Baccaurea angulata) adalah tumbuhan endemik Kalimantan yang dilindungi dan buahnya bermanfaat untuk obat herbal. Kerusakan lingkungan di sekitar Kebun Raya Sambas menyebabkan perubahan lingkungan yang dapat mengancam tumbuhan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kondisi habitat dan pola sebaran belimbing darah di Kebun Raya Sambas. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik sampling jalur berpetak secara sistematis. Hasil penelitian tempat tumbuh belimbing darah memiliki pengaruh faktor klimatik suhu 26-28°C, kelembapan udara 94-99%, intensitas cahaya 75-155 Lx, curah hujan/bulan 191,380 mm. Faktor geografi kemiringan 5-55°, ketinggian 22-63 m dpl, topografi berbukit. Faktor edafik pH 5-7, kelembapan 33% (kering) dan jenis tanah ultisol tekstur lempung (dataran rendah, riparian), tanah alluvial tekstur lempung berliat (rawa) dan faktor biotik adalah vegetasi. Pola penyebaran belimbing darah mengelompok (dataran rendah). Karena tumbuhan belimbing darah tumbuh sekitar pohon induknya. Penyebaran seragam (riparian, rawa) dipengaruhi oleh lingkungan melalui hewan sekitar yang berperan dalam penyebaran dan faktor edafik, klimatik, geografi mendukung pertumbuhan. Faktor biotik dan kerusakan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan belimbing darah. Di Kebun Raya Sambas kerapatan belimbing darah 671/ha, banyak tumbuh di dataran rendah 391/ha. Implikasi hasil penelitian dapat dilakukan perlindungan dengan membuat koleksi in-situ tumbuhan belimbing darah di Kebun Raya Sambas.Kata kunci: Baccaurea angulata, Kebun Raya, penyebaran.