Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Kadar C-Reactive Protein dengan Jumlah Leukosit Penderita Tuberkulosis Paru pada Fase Pengobatan 0 dan 2 Bulan di BKPM Purwokerto Syafira Dian Ergiana; Dita Pratiwi Kusuma Wardani; Tantri Analisawati Sudarsono; Arif Mulyanto
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v8i2.3482

Abstract

Pulmonary tuberculosis is still a health problem to control in the world. This disease is caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis, which can cause inflammation that can trigger increased levels of C-Reactive Protein and leukocytes in the body. This study was conducted to determine the correlation between C-Reactive Protein levels and the number of leukocytes with treatment phases 0 and 2 months in BKPM Purwokerto. The design of this study was an analytical observation with a cross-sectional research design. Results from 30 pulmonary tuberculosis patients treated for 0 and 2 months showed a correlation between CRP levels and white blood cell counts (p = 0.002, r = 0.445). There is a moderate relationship between CRP levels and leukocyte counts. High levels of CRP correlate with increasing the number of leukocytes. More research is needed on the relationship between CRP levels and leukocyte counts with different phases of treatment.
PELATIHAN TATALAKSANA PENYEMBELIHAN AYAM YANG AMAN SEHAT UTUH DAN HALAL (ASUH) PADA AKTIVIS MUHAMMADIYAH CABANG KEMBARAN BANYUMAS JAWA TENGAH Ade Rusman; Arif Prashadi Santosa; Arif Mulyanto
PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP Vol 3 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP 2021
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.897 KB)

Abstract

Tatalaksana penyembelihan  ayam merupakan titik kritis kehalalan daging ayam dan produk pangan olahan turunannya yang dikonsumsi oleh masyarkat. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan juru sembelih halal terkait tatalaksana penyembelihan ayam yang aman sehat utuh dan halal (ASUH) menjadi sangat penting. Pelatihan tatalaksana penyembelihan ayam secara ASUH  dilaksanakan sebagai salah satu solusi dari permasalahan di atas. Pelatihan dilaksanakan pada para aktivis Muhammadiyah Cabang Kembaran Banyumas Jawa Tenah yang bekerjasama dengan Sentra Halal Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Juru Sembelih Halal (Juleha) Banyumas. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 17 orang. Metode yang dilakukan berupa ceramah, diskusi, dan praktek. Pre-test dan post-test dilakukan dengan sebelum dan setelah kegiatan. Hasil paired t test menunjukkan adanya perbedaan  nilai mean (-7.7641) dan ada korelasi yang signifikan (0.001) antara pre-test dan post- test serta ada pengaruh perlakuan yang signifikan (nilai 2-tailed 0.000). Hasil ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pelatihan dalam tatalaksana penyembelihan ayam secara ASUH.
Perbandingan Kadar HB Sebelum dan Sesudah Pengobatan Oat Fase Intensif pada Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Petanahan Kebumen Tahun 2021: The Comparison of Hemoglobin Levels Between Before and After Treatment of Intensive Phase of Anti-Tuberculosis Drug in Pulmonary Tuberculosis Patients of Petanahan Public Health Care Center, Kebumen Regency Evi Nurhayati; Arif Mulyanto; Tantri Analisawati Sudarsono; Linda Wijaya
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v9i1.5192

Abstract

Treatment of tuberculosis with main anti-tuberculosis drugs (OAT) includes isoniazid (INH), rifampin (RIF), ethambutanol (EMB), streptomycin (SM), and pyrazinamide (PZA). Although most Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) are acceptable in therapy, they have potential side effects, including the side effects of hematological reactions such as anemia. This study's purpose was to compare HB levels before and after the intensive phase of Anti-Tuberculosis Drugs treatment in TB patients at Petanahan Public Health Care Center, Kebumen Regency. This was an analytic observational study with a cross-sectional design. The sample in this study was 28 people. The result showed that the average Hb level of pulmonary TB patients at Petanahan Public Health Care Center before and after the treatment were 11.05 g/dl and 11.6 g/dl, respectively. Therefore there was an effect of comparing Hb levels before and after the intensive phase of Anti-Tuberculosis Drugs treatment in pulmonary TB patients at the Petanahan Public Health Center in 2021. The increase in the average Hb levels of patients with pulmonary TB before and after the treatment was 0.55. The sig values obtained from the analysis of Hb levels before and after the treatment were a = 0.200 (p0.005) and 0.023, respectively. Due to the P value (0.023 < 0.05), Ho was rejected. It meant that there was a difference in Hb levels before and after the Intensive Phase of Anti-Tuberculosis Drugs treatment in patients with pulmonary TB at Petanahan Public Health Care Center, Kebumen Regency.
Pelatihan Sistem Jaminan Produk Halal Bagi Kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah Banyumas Dini Nur Afifah; Regawa Bayu Pamungkas; Istianah -; Arif Mulyanto
Jurnal Pengabdian Teknik dan Sains (JPTS) Vol 3, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jpts.v3i01.14805

Abstract

Indonesia telah mencanangkan program sertifikasi halal sejak tahun 2014. Program ini dimaksudkan untuk  memberikan kepastian kehalalalan sehingga konsumen muslim terhindar dari produk haram. Ketentuan mengenai jaminan halal tercantum dalam undang undang Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Dalam Undang-undang tersebut ditegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia wajib bersertifikasi halal (Pasal 4), oleh karena itu pemerintah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan JPH (Pasal 5). Selanjutnya, kebijakan tentang halal dikuatkan dan dimudahkan  pelaksanaannya  melalui UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Semua produk yang beredar di Indonesia wajib bersertifikat halal pada tahun 2024. Melalui kedua undang-undang tersebut dapat dipahami bahwa produk pangan yang bersertifikasi halal memiliki potensi pasar yang lebih luas dibanding produk yang belum bersertifiaksi halal. Selain perusahaan besar, produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia juga diproduksi oleh usaha kecil mikro kecil dan menengah (UMKM). Usaha kecil mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan jenis usaha yang terbukti sangat kokoh menghadapi berbagai goncangan ekonomi. Pemulihan ekonomi nasional secara cepat dapat dilakukan dengan menggulirkan kembali roda UMKM.  Berdasarkan data yang terhimpun di Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Banyumas (ASPIKMAS), jumlah pengusaha UMKM di Banyumas mencapai kurang lebih 3500 orang. Jumlah ini menghasilkan produk makanan dan minuman yang cukup banyak. Sebagian kecil produk sudah memiliki sertifikat halal dari MUI, namun sebagian besar dari produk makanan dan minuman yang dipasarkan saat ini belum mendapatkan sertifikat halal dari BPJPH. Kendala utama dari permasalahan ini adalah, umumnya anggota ASPIKMAS belum memiliki wawasan yang cukup mengenai ruang lingkup kegiatan yang dapat memudahkan untuk mendapatkan sertifikasi halal.  Beberapa upaya telah dilakukan Asosiasi dalam membina anggota melalui pertemuan dan kegiatan pelatihan rutin. Namun demikian karena jumlahnya yang banyak dan tersebar, maka masih dipandang perlu untuk melakukan kolaborasi dengan institsusi pendidikan agar akselerasi pembinaannya semakin cepat. Oleh karena program IbM ini bekerjasama dengan ASPIKMAS mengadakan kegiatan pelatihan sistem jaminan produk halal. Hasil evaluasi kegiatan IbM menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan kemampuan UMKM dalam menyusun sistem jaminan produk halal. Hal ini dapat dievaluasi dari peningkatan hasil rata-rata post-test yang mencapai 81 poin. Nilai ini naik 31 % dibandingkan sebelum peserta mengikuti pelatihan.