Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISA KADAR FOSFAT SEBAGAI PARAMETER CEMARAN BAHAN BAKU GARAM PADA BADAN SUNGAI, MUARA, DAN PANTAI DI DESA PADELAGAN KABUPATEN PAMEKASAN Putri Ayu Rahmadani; Ashari Wicaksono; Onie Wiwid Jayanthi; Mahfud Effendy; Nike Ika Nuzula; Ary Giri Dwi Kartika; Moch. Syaifullah; Dwi Syadina Putri; Amalia Hariyanti
Juvenil Vol 2, No 4 (2021)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v2i4.12835

Abstract

ABSTRAKKualitas air laut seperti mineral dan cemaran sangat berpengaruh terhadap hasil produksi garam. Salah satu indikator penurunan kualitas air laut adalah fosfat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan fosfat terhadap kualitas bahan baku garam di Desa Padelegan. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling berdasarkan zonasi perairan, dimana sampel air diambil dan di analisa merujuk pada SNI 06-6989.31-2005. Kandungan fosfat tertinggi diketahui berada pada muara sungai dan pantai sebesar 0.1686745 mg/L dan terendah di badan sungai sebesar. 0.12851 mg/L. Hal ini dapat diakibatkan karena daerah pantai dan muara sungai merupakan daerah yang berdekatan dengan sumber cemaran fosfat. Berdasarkan PP RI No.22 Tahun 2021 tentang baku mutu air konsumsi kandungan fosfat di perairan Desa Padelegan masih di bawah ambang batas dan melebihi ambang batas untuk kehidupan biota. . Kandungan fosfat yang tinggi berpengaruh terhadap kondisi fisik garam seperti warna yang tidak putih, serta memberikan cita rasa yang menyimpang (pahit) setelah proses produksi. Kata Kunci: Garam, Zonasi, Fosfat, Bahan Baku, Kualitas Air  ABSTRACTThe quality of sea water such as minerals and contamination greatly affects the results of salt production. One indicator of declining sea water quality is phosphate. The purpose of this study was to determine the relationship of phosphate to the quality of salt raw materials in Padelegan Village. This research uses purposive sampling method based on water zoning, where water samples are taken and analyzed according to SNI 06-6989.31-2005. The highest phosphate content is known to be in river mouths and beaches of 0.1686745 mg/L and the lowest is in river bodies of . 0.12851 mg/L. This can be caused because coastal areas and estuary are areas that are close to sources of phosphate contamination. Based on PP RI No. 22 of 2021 concerning quality standards for consumption water, the phosphate content in the waters of Padelegan Village is still below the threshold and exceeding the threshold for biota life. . The high phosphate content affects the physical condition of the salt such as the color is not white, and gives a distorted (bitter) taste after the production process.Keywords: Salt, Zoning, Phosphate, Raw Material, Water Quality
Model SLA Dan ADT Di Perairan Indonesia Selama Badai Siklon Surigae Ashari Wicaksono; Nike Ika Nuzula
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 2, Edisi Juli 2021
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/zl.v2i2.13682

Abstract

Tropical cyclone does not directly pass through Indonesia. However, the impact of tropical cyclones such as high waves, strong winds can have an impact on coastal areas. Surigae tropical cyclones is one of the which reported to have formed in the Pacific Ocean adjacent to northern Sulawesi strait. This study was conducted by analysis SLA and ADT data to obtain models of dynamical of sea level and anomalies during tropical cyclone Surigae across. Results of models showed that from the analysis of SLA data obtained average 0.1 to 0.2 meters, and for ADT obtained average of 0.9 to 1.1 meter. Models of SLA and ADT showed phenomenon of eddies currents at eastern Philippine bordering the Sulawesi strait. SLA and ADT data provided of sea level change of the tropical cyclone, and usable to ocean current and mesoscale eddies detection.
Analisa Keberlanjutan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan di Perairan Selat Madura Jawa Timur Zainul Hidayah; Nike Ika Nuzula; Dwi Budi Wiyanto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.53099

Abstract

Selat Madura merupakan perairan yang memisahkan antara Pulau Madura dengan daratan Pulau Jawa bagian timur. Sejak tahun 2010 status penangkapan ikan di perairan ini telah melebihi batas lestarinya (over-fishing). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan dan pengaruhnya terhadap lingkungan serta masyarakat di perairan Selat Madura. Waktu penelitian ini adalah bulan Februari sampai dengan Oktober 2018. Metode Multi Dimensional Scaling (MDS) dengan analisa terhadap 5 dimensi (lingkungan, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan) digunakan untuk mengetahui status keberlanjutan pengelolaan perikanan. Data diperoleh dari beberapa sumber, antara lain berasal dari laporan tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, studi-studi terdahulu yang dilakukan di Selat Madura dan wawancara dengan responden kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk dimensi ekologi, ekonomi dan teknologi, pengelolaan perikanan di Selat Madura berada pada status kurang berkelanjutan (skor <50). Sementara itu untuk dimensi sosial dan kelembagaan berada pada status cukup berkelanjutan hingga berkelanjutan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan sumber daya perikanan di Selat Madura diperlukan upaya rehabilitasi lingkungan pesisir, bantuan subsidi atau modal bagi nelayan dan pemanfaatan teknologi untuk membantu aktivitas penangkapan ikan
Pengaruh Penambahan Natrium Hidroksida (NaOH) Terhadap Kandungan Magnesium Pada Bittern Dalam Ekstraksi Magnesium Hidroksida Mg(OH)₂ Nike Ika Nuzula; Aan Putri Nurjanah; Ary Giri Dwi Kartika; wiwit Sri Werdi Pratiwi; Onie Wiwid Jayanthi
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17974

Abstract

ABSTRAKProduksi garam pada pulau Madura sangat tinggi yang dilakukan secara terus menerus pada musim kemarau menggunakan metode tradisional dengan media tanah maupun geomembrant (Zainuri et.al 2016) sehingga menghasilkan limbah bittern yang melimpah. Bittern memiliki kandungan mineral salah satunya magnesium (Mg) yang dapat dijadikan inovasi baru yakni senyawa magnesium hidroksida Mg(OH)₂ dengan cara ekstraksi. Penambahan natrium hidroksida NaOH dalam kstraksi magnesium hidroksida pada penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan perbandingan antara mol magnesium dan mol natrium hidroksida yakni 1:0,90; 1:0,95; 1:1; 1:1,05; 1: 1,1 dengan tujuan mengetahui perlakuan yang paling optimal. Berdasarkan hasil uji ANOVA dengan siginifikasi sebesar 0,605 yang artinya tidak ada pengaruh secara nyata pada penambahan natrium hidroksida pada bittern. Jika dilihat dari data perlakuan dengan perbandingan mol 1 : 1 yakni sebesar 76802,70833 mg/Kg merupakan perlakuan yang paling optimal dari semua perlakuan dan perlakuan perbandingan mol 1 : 0,90 yakni sebesar 75858,245 mg/Kg merupakan perlakuan yang paling rendah.Kata Kunci: Bittern, Magnesium, Natrium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida.ABSTRACTSalt production on the island of Madura is very high which is carried out continuously during the dry season using traditional methods with soil and geomembrane media resulting in abundant bittern waste. Bittern contains minerals, one of which is magnesium (Mg) which can be used as a new innovation, namely magnesium hydroxide Mg(OH)₂ by extraction. The addition of sodium hydroxide NaOH in the extraction of magnesium hydroxide in this study was carried out based on the ratio between moles of magnesium and moles of sodium hydroxide, namely 1: 0.90; 1:0.95; 1:1; 1:1.05; 1: 1.1 with the aim of knowing the most optimal treatment. Based on the results of the ANOVA test with a significance of 0.605, which means that there is no significant effect on the addition of sodium hydroxide to bittern. When viewed from the treatment data with a mole ratio of 1: 1, which is 76802.70833 mg/Kg, it is the most optimal treatment of all treatments and a mole ratio of 1: 0.90, which is 75858.245 mg/Kg, is the lowest treatment.Keyword: Bittern, Magnesium, Natrium Hydroxide dan Magnesium Hydroxide.
Peramalan Curah Hujan Terhadap Produktivitas Garam Di Gersik Putih Sumenep Tifani Noviasari; Nike Ika Nuzula; Makhfud Efendy; Angga Arifta Febrianto; Ahmad Darmadi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.16139

Abstract

Salt production in Madura Island is running by evaporation method (solar evaporator). Thus, the process of salt production is highly dependent on weather factors. Weather conditions is one of the determinants of the success of salt production targets. In this study aims to determine the forecasting process of rainfall in support of salt production process at PT Garam Gersik Putih Sumenep. The method used to analyze rainfall data on PT Garam Gersik Putih in 2022 is the box-Jenkins Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) model. Box-Jenkins Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) is one of the time series forecasting methods using values in the past as dependent variables and independent variables. From the forecast results, it is known that Gersik Putih Pheasant has 9 dry dasarian with an estimated production of 27,360 tons. Saltworks Gersik Putih has 456 plots of crystallization land with a total land area of 126.36 Ha. The results of weather forecasting analysis can determine the time of pre-production , salt production and post-production of salt. Pre-production of salt is an activity of preparation and maintenance of infrastructure to maximize the upcoming dry season. Pre-production of salt is carried out from January to May. Salt production activities are processing sea water into salt crystals that take place from June to early november. At the peak of drought in 1 plot of land crystallization can produce 3-6 tons in one harvest. Post salt production is the activity of transporting salt from pheasant land to olo warehouse which is carried out from November to December due to the increase in rainfall intensity. The box-Jenkins integrated Moving Average (ARIMA) Autoregressive Model applied has a pearson coefficient correlation level of 0,94%. The correlation value of the pearson coefficient shows that forecasting is very good, adequate and feasible to use.  Produksi garam di Pulau Madura dilakukan dengan menggunakan metode penguapan (solar evaporator). Proses produksi garam bergantung pada curah hujan. Curah hujan menjadi penentu keberhasilan produksi garam. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses peramalan curah hujan dalam mendukung proses produksi garam pada PT Garam Gersik Putih Sumenep. Metode peramalan data curah hujan pada PT Garam Gersik Putih tahun 2022 adalah model Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) Boox-Jenkins. ARIMA Boox-Jenkins adalah salah satu metode peramalan menggunakan nilai variabel independen dan variabel dependen. Dari hasil prakiraan diketahui bahwa pegaraman Gersik Putih memiliki ±9 dasarian kering dengan estimasi hasil produksi sebesar 27.360 ton. Pegaraman Gersik Putih memiliki 456 petak lahan kristalisasi dengan jumlah luas lahan 126,36 Ha. Hasil analisis peramalan cuaca juga dapat menentukan kapan berlangsungnya pra produksi garam, produksi garam serta pasca produksi garam. Pra produksi garam merupakan kegiatan persiapan dan pemeliharaan sarana prasarana untuk memaksimalkan musim kemarau mendatang. Pra produksi garam dilaksanakan pada bulan januari hingga mei. Kegiatan produksi garam yaitu mengolah air laut hingga menjadi kristal garam yang berlangsung bulan juni hingga november awal. Pada puncak kemarau dalam 1 petak lahan kristalisasi dapat menghasilkan 3 – 6 ton dalam sekali panen. Pasca produksi garam adalah kegiatan pengangkutan garam dari lahan pegaraman menuju gudang olo yang dilaksanakan bulan november hingga desember karena kenaikan intensitas curah hujan. Model Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) Boox-Jenkins yang diterapkan memiliki tingkat korelasi koefisien pearson sebesar 0,94%. Nilai korelasi koefisien pearson tersebut layak untuk digunakan untuk metode peramalan.
Pola Persebaran Vertikal dan Horizontal Total Suspended Solid di Perairan Padelegan, Pamekasan Diah Ayu Setyawati; Nike Ika Nuzula; Onie Wiwid Jayanthi; Ary Giri Dwi Kartika; Eka Putri Rahayu
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i2.49510

Abstract

Perairan Padelegan terletak di Kecamatan Pademawu bagian selatan pesisir Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Daerah ini termasuk salah satu daerah yang memproduksi garam paling tinggi di Kabupaten Pamekasan. Kualitas perairan adalah aspek penting dalam menghasilkan garam dengan kualitas bagus. Salah satu parameter yang memengaruhi kualitas perairan yaitu Total Suspended Solid (TSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kadar TSS secara vertikal dan horizontal di perairan Padelegan. Pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Sedangkan metode untuk analisa kandungan TSS yaitu metode gravimetri SNI 6989.3:2019, serta persebaran kandungan TSS secara vertikal dan horizontal menggunakan software Ocean Data View. Hasil penelitian menunjukan nilai TSS di permukaan perairan Padelegan berkisar antara 189-230 mg/L; pada kolom perairan sebesar 210-239 mg/L; dan pada dasar perairan sebesar 245-273 mg/L. Persebaran TSS secara vertikal menunjukan semakin meningkat  dari permukaan menuju dasar perairan. Sedangkan persebaran TSS secara horizontal menunjukkan tren yang semakin meningkat dari laut lepas menuju muara. Uji korelasi antara TSS dengan parameter kualitas air menggunakan RStudio menghasilkan nilai koefisien yaitu korelasi antara TSS dengan pH, suhu, salinitas, DO, dan kecerahan secara urut sebesar -0,32, 0,27, -0,42, -0,14, dan -0,44. Semakin rendah kadar TSS di perairan, maka menghasilkan garam yang lebih berkualitas. Kadar TSS yang tinggi pada perairan dapat meningkatkan nilai kekeruhan dan berpengaruh terhadap banyaknya pengotor yang terkandung pada garam.    The Padelegan waters are located in Pademawu District, in the southern part of the Pamekasan Regency, East Java. This area is one of the areas that produces the highest salt in Pamekasan Regency. Water quality is an important aspect in producing good quality salt. One of the parameters that affect water quality is Total Suspended Solid (TSS). This study aims to determine the distribution of TSS levels vertically and horizontally in Padelegan waters. In this study using purposive sampling method. While the method for analyzing TSS content is the gravimetric method SNI 6989.3: 2019, as well as the vertical and horizontal distribution of TSS content using Ocean Data View software. The results showed that the TSS values on the surface of the Padelegan waters ranged from 189-230 mg/L; in the water column of 210-239 mg/L; and at the bottom of the waters of 245-273 mg/L. The distribution of TSS vertically shows an increasing trend from the surface to the bottom of the waters. While the distribution of TSS horizontally shows an increasing trend from the high seas to the estuaries. The correlation test between TSS and water quality parameters using RStudio yielded coefficient values, namely the correlation between TSS and pH, temperature, salinity, DO, and brightness, respectively, -0.32, 0.27, -0.42, -0.14, and -0.44. The lower the TSS level in the waters, the higher quality salt will be produced. High TSS levels in waters can increase turbidity values and affect the amount of impurities contained in salt.
Production of Purified Sodium Chloride as Industrial Standard Wiwit Sri Werdi Pratiwi; Makhfud Efendy; Nike Ika Nuzula; Mohammad Rahem; Fawait Afnani
Juvenil Vol 4, No 4: November (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i4.23053

Abstract

ABSTRACTThe research described about chemical treatments to increase percentage of sodium chloride from crude salt which was obtained from four districts on Madura Island. The conventional salt process contains percentage of sodium chloride 85.99%; 81.90%; 84.825% and 86.87% from Sumenep, Pamekasan, Sampang and Bangkalan respectively. Those results were still below the standard quality of industrial salt (98.5% of dry base). In this study, increasing percentage of sodium chloride was done by re-crystallization method. Crude salt was diluted with distilled water to form saturated solution, then added sodium hydroxide, barium chloride and hydrochloride acid to remove impurities such as magnesium hydroxide, calcium hydroxide, potassium hydroxide, barium sulfate, and carbonic acid. The results showed that the purified of sodium chloride enhanced 100.03%; 98.86%; 98.86% and 99.7% for salt products from Sumenep, Pamekasan, Sampang and Bangkalan, respectively and accepted by industrial standard.Keywords: Purified salt, chemical treatments, industrial standard
Karakteristik Elevasi Muka Air Laut di Selat Madura Ashari, Sofyana; Wicaksono, Ashari; Nuzula, Nike Ika; Siswanto, Aries Dwi
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.94468

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik elevasi muka air laut di Selat Madura dengan memanfaatkan data altimetri dan divalidasi menggunakan data tide gauges. Data pengukuran diambil pada bulan Agustus 2022. Metode analisa menggunakan statistik dan FFT untuk memperoleh nilai komponen pasang surut dan elevasi air laut rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan variasi nilai SSH di wilayah perairan Indonesia berkisar 0.4 - 0.8 m dan ± 0.6 m di Selat Madura, sedangkan hasil analisa tide gauge menunjukkan 1.2 – 1.4 m. Ada perbedaan signifikan dan ditunjukkan oleh nilai RMSE pada stasiun Surabaya 0.81; Kalianget 0.98; dan Probolinggo 0.94. Data tide gauges diolah lebih lanjut menggunakan metode admiralty sehingga diperoleh 15 komponen harmonik pasang surut, terdiri atas komponen diurnal [M1, K1, O1, P1, Q1, J1, OO1], semidiurnal [M2, S2, K2, N2, L2, 2N2], dan shallow water [M4 dan MS4], sehingga diketahui dominasi komponen diurnal (P1 dan K1) di stasiun pengukuran Surabaya dan Kalianget maupun komponen semidiurnal (N2 dan L2) di stasiun pengukuran Probolinggo. Hasil analisis FFT menunjukkan tipe pasang surut di Selat Madura tergolong tipe pasang surut campuran condong ganda/semidiurnal dengan nilai elevasi muka air laut tidak jauh berbeda pada tiga lokasi pengukuran. Nilai HHWL tertinggi di stasiun Probolinggo (3.3455 m), nilai LLWL terendah di stasiun Kalianget (0.5493 m). Nilai MSL masing-masing stasiun Surabaya, stasiun Kalianget, dan stasiun Probolinggo secara berturut-turut 1.4262 m; 1.2616 m; dan 1.8541 m. Perbedaan nilai MSL sesuai hasil analisa data altimetri dan tide gauge berkaitan dengan lokasi penelitian yang berada di wilayah pantai. Diharapkan bahwa penggunaan metode FFT dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengetahui karakteristik pasang surut dari stasiun pengukuran yang tersebar di Selat Madura.Abstract This study aims to understand the characteristics of sea level elevation in the Madura Strait by tide gauges and SSH data at three stations around the Madura Strait. Measurement was taken in August 2022. The analysis used statistics and FFT approach. The variation of SSH in Indonesian waters ranges from 0.4 - 0.8 m and ± 0.6 m in the Madura Strait, while the results of tide gauge analysis show 1.2 - 1.4 m. There is a significant difference and is shown by the RMSE value at Surabaya station 0.81; Kalianget 0.98; and Probolinggo 0.94. The tide gauge data were also further processed using the admiralty method to obtain 15 tidal harmonic components, consisting of diurnal component [M1, K1, O1, P1, Q1, J1, OO1], semidiurnal [M2, S2, K2, N2, L2, 2N2], and shallow water [M4, and MS4], so that the dominance of diurnal components (P1 and K1) at Surabaya and Kalianget measurement stations and semidiurnal components (N2 and L2) at Probolinggo measurement station is known. Meanwhile, the results of the FFT analysis show that the tidal type in the Madura Strait is classified as a mixed double-semidiurnal tidal type with sea level elevation values not much different at the three measurement locations. The highest HHWL value at Probolinggo station (3.3455 m), the lowest LLWL value at Kalianget station (0.5493 m). The MSL values of Surabaya station, Kalianget station, and Probolinggo station are 1.4262 m; 1.2616 m; and 1.8541 m, respectively. The difference in MSL values between altimetry and tide gauge data is caused by the location which is a coastal area, where SSH altimetry data is loss data in the area. It is expected thatt the use of the FFT method can be used as an alternative in knowing the tidal characteristics of measurement stations spread in the Madura Straits.Submitted: 2024-02-28 Revisions:  2024-09-11 Accepted: 2024-09-25 Published: 2024-09-25
Aktualisasi Patronasi untuk Membangun Perilaku Peduli Lingkungan pada Kalangan Siswa Sekolah Adiwiyata di Padelegan Pamekasan Asih, Eka Nurrahema Ning; Rizqiyeh, St.; Sofiya, Lely; Widiyawati, Devita; Setiawati, Sulastiana; Nuzula, Nike Ika; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Kartika, Ary Giri Dwi; Wicaksono, Ashari; Siswanto, Aries Dwi; Efendy, Makhfud
Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/mestaka.v4i3.632

Abstract

Padelegan Village is a coastal village that has a high risk of experiencing physiological stress in the form of pollution produced by domestic waste and industrial waste. This community service activity aims to foster an attitude of caring for the environment, especially character building in Padelegan 1 Elementary School students from an early age. This activity was carried out using three activity programs, namely socializing environmental awareness, reforestation practices through planting green beans and family medicinal plants (toga), education on types of waste, and making rubbish bins using used goods (gallons). The results of the activity showed that as many as 30 students representing 10 students each from classes IV, V, and VI showed that all students were interested in applying and re-practicing the activities that had been carried out. This shows that the entire program that has been carried out and the objectives of the program that have been implemented have succeeded in fostering an attitude of caring for the environment from an early age.
ANALISIS KADAR NaCl DAN MIKROB PADA BUMBU CAMPOR LORJUK DENGAN PENAMBAHAN GARAM KAYA MINERAL Ramadhani, Andini Rizky; Pratiwi, Wiwit Sri Werdi; Siswanto, Aries Dwi; Nuzula, Nike Ika; Kartika, Ary Giri Dwi; Efendy, Makhfud; Asih, Eka Nurrahema Ning
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.3.216-222

Abstract

Campor lorjuk merupakan makanan khas Madura berbahan dasar lorjuk (Solen sp.) dan rempah-rempah pilihan yang mudah didapatkan di pasar. Natrium yang terkandung dalam garam konsumsi berperan bagi tubuh sebagai sumber elektrolit. Namun, konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan perlakuan terbaik bumbu campor lorjuk dengan penambahan garam kaya mineral berdasarkan parameter kadar NaCl terendah dan mikrob (E.coli) sebagai parameter kelayakan pangan pada produk perikanan. Empat sampel garam kaya mineral (K, F1, F2, F3) dianalisis meliputi kadar NaCl dan kadar air, sedangkan empat sampel bumbu campor lorjuk dengan penambahan berbagai jenis garam yakni N = K (tanpa lorjuk), P1 = F1, P2 = F2, dan P3 = F3 (masing-masing 13 g lorjuk) meliputi kadar NaCl, kadar air, dan uji mikroba. Kadar NaCl garam kaya mineral berkisar antara 78% (F3) hingga 93% (K), sementara kadar air berkisar antara 4,9% (F3) hingga 6,5% (F2). Pada kadar NaCl bumbu tertinggi N sebesar (62%) dan terendah P3 sebesar (49%), sementara itu, kadar air berkisar antara 18% (P3) hingga 20% (N, P1, P2). Berdasarkan karakteristik kimia perlakuan (P3) pada bumbu campor lorjuk yaitu NaCl 49%, kadar air 18%. Hasil pengujian mikrobiologi bumbu campor lorjuk sampel (bubuk lorjuk, N, P1, P2, P3) terindikasi negatif <3 MPN/g. Perlakuan P3 yang menggunakan garam kaya mineral F3 menunjukkan hasil terbaik (kadar NaCl terendah dan kadar air optimal), serta memenuhi syarat mutu mikrobiologi (negatif E. coli <3 MPN/g). Oleh karena itu, formulasi F3 direkomendasikan sebagai yang terbaik dan aman dikonsumsi.