Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Optimalisasi Pemanfaatan Instagram dalam Promosi Produk Tenun Kendra Sutera Sabilulungan, Tasikmalaya Santi Susanti; Wahyu Gunawan
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpmi.v5i1.6127

Abstract

The Internet has driven a significant shift in product promotion and marketing, moving the trend from conventional to digital. Social media platforms, particularly Instagram, are now crucial for achieving broader consumer outreach. However, many Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) have yet to fully optimize these channels for promotion and marketing. A specific case is the Kendra Sutera Sabilulungan woven cloth artisans, placed in Tasikmalaya Regency. This MSME primarily depends on traditional marketing methods, such as direct delivery, workshop sales, and physical exhibitions. Although an Instagram presence exists, its utilization remains suboptimal. This Community Service Program (PPM) was enforced to enhance the partner's promotional skills and market expansion via Instagram. We employed a participatory-collaborative method, providing training and hands-on practice for Kendra Sutera’s management and artisans in creating relevant photo and video content. The intervention successfully increased participants' understanding of digital promotion and marketing, enabling the artisans to generate more engaging content for the platform. In conclusion, Instagram is an effective and efficient medium for promoting MSME products like woven fabrics, and sustainable mentoring is critical to ensure the consistent and relevant marketing of Kendra Sutera Sabilulungan's products moving forward.
Penguatan Perencanaan Karir Mahasiswa Sosiologi Melalui Modeling Alumni Berbasis Teori Bandura Siti Khalifa Nurrisvi Zauza; Wahyu Gunawan; Farah Putri Firsanty
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1925

Abstract

Proses belajar merupakan tahapan penting yang harus dilalui setiap individu untuk mencapai kemampuan yang diharapkan. Pada konteks perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai tidak hanya teori tetapi juga secara praktik. Sayangnya, mahasiswa sosiologi S1 Universitas Padjadjaran menghadapi kesenjangan antara kemampuan teoritis dan praktis akibat minimnya keterlibatan dalam pembelajaran berbasis pengalaman nyata, yang berdampak pada rendahnya kesiapan dan menimbulkan kebingungan dalam perencanaan karir. Program pemberdayaan dengan menggunakan Teori Belajar Sosial Albert Bandura dengan menghadirkan alumni sebagai figur teladan yang relevan, melalui pendekatan partisipatif dan metode sosialisasi, persentasi, tanya jawab, praktik serta demonstrasi langsung dalam kegiatan Sociology Connect yang dilaksanakan secara daring pada September 2025. Kegiatan ini berbeda dari studi sebelumnya yang cenderung menerapkan teknik modeling dalam fokus konseling, dan internalisasi karakter siswa, program Sociology Connect merancang intervensi pemberdayaan terstruktur berbasis alumni dengan latar belakang keilmuan yang sama. Sedangkan, pendekatan pemberdayaan yang digunakan adalah partisipatif, dimana mahasiswa turut dilibatkan dari perencanaan hingga evaluasi. Pada evaluasi dilakukan menggunakan one group pretest-posttest dengan instrumen kuesioner skala Likert yang dikembangkan berdasarkan indikator Teori Belajar Sosial Albert Bandura, yang mencakup tiga aspek yaitu pengenalan, pengetahuan, dan modeling, kepada 10 mahasiswa sosiologi semester akhir. Hasil menunjukan peningkatan rata-rata pada keseluruhan aspek, yaitu pengenalan (2,90 menjadi 4,20), penngetahuan (3,10 menjadi 3,90), dan modeling (2,85 menjadi 4,20). Peningkatan terbesar pada aspek modeling menandakan keberhasilan mahasiswa dalam menjadikan alumni sebagai role model dan menginternalisasikan nilai-nilai profesional untuk modal perencanaan karir.Temuan ini, menegaskan bahwa pemberdayaan berbasis modeling efektif meningkatkan kesiapan karir mahasiswa.
Penguatan Identitas Sosial Melalui Workshop Literasi Digital Pada Karang Taruna RW 03 Kampung Ciseke Desan Ayu Khulasoh; Wahyu Gunawan; Ardi Maulana Nugraha
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1939

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas digital anggota Karang Taruna RW 03 Kampung Ciseke dalam memproduksi dan mengelola konten media sosial secara efektif. Berangkat dari temuan awal melalui wawancara semi-terstruktur, rendahnya keterampilan produksi konten digital diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kurang aktifnya media sosial organisasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, pelatihan dirancang menggunakan pendekatan literasi digital yang diperkuat dengan teori identitas sosial, yang menekankan bahwa rasa keanggotaan, kebersamaan, dan identifikasi kelompok dapat mendorong partisipasi lebih kuat dalam aktivitas kolektif. Program ini juga menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) untuk memastikan anggota terlibat aktif dalam seluruh proses, mulai dari identifikasi kebutuhan hingga refleksi dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan melalui pre-test, pemaparan konsep dasar literasi digital, diskusi identitas sosial Karang Taruna, serta praktik langsung menggunakan Canva dan CapCut untuk menghasilkan poster dan video pendek, dan diakhiri dengan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman literasi digital peserta, tercermin dari kenaikan rata-rata skor pre-test ke post-test dari 3,91 menjadi 4,00. Pada aspek identitas sosial, skor rata-rata mengalami sedikit penurunan dari 4,59 menjadi 4,32, namun tidak mengindikasikan melemahnya rasa keterikatan kelompok, melainkan mencerminkan sikap yang lebih reflektif dari peserta dalam menilai kondisi organisasi. Indikator persepsi keunggulan kelompok justru meningkat dari 4,18 menjadi 4,30, menunjukkan bahwa workshop berhasil menumbuhkan kepercayaan diri kolektif anggota terhadap potensi digital Karang Taruna. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi pada peningkatan kapasitas digital, kemandirian produksi konten, dan penguatan identitas kolektif pemuda dalam menghadapi tantangan era digital.
Pemberdayaan Remaja Melalui Pendekatan Morfogenesis Sosial dalam Upaya Revitalisasi Karang Taruna Fayyadh Daffa Dzakwan; Wahyu Gunawan; Ardi Maulana Nugraha
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1942

Abstract

Karang Taruna di Kelurahan Sindangsari, Kota Sukabumi, mengalami kondisi stagnasi struktural (morfostasis) yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, di mana organisasi hanya aktif pada momen seremonial seperti perayaan 17 Agustus. Hasil observasi dan wawancara awal mengkonfirmasi kondisi ini, yakni pengurus Karang Taruna mengakui organisasi pasif dan tidak berkelanjutan, sementara aparatur kelurahan menilai keterlibatan remaja dalam kehidupan kemasyarakatan sangat kurang meski potensinya besar. Pengabdian ini bertujuan menginisiasi pemutusan siklus stagnasi tersebut dengan membangkitkan agensi reflektif remaja melalui intervensi workshop partisipatif. Kebaruan program ini terletak pada penggunaan Teori Morfogenesis Sosial Archer sebagai kerangka perancangan intervensi, bukan sekadar alat analisis pasca-kegiatan sebagaimana lazim ditemukan pada pelatihan kepemimpinan konvensional, sehingga workshop secara sistematis diposisikan sebagai pemicu fase interaksi sosial (T2-T3) menuju elaborasi struktural (T4). Metode pelaksanaan mengintegrasikan Design Thinking dengan pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi. Evaluasi dampak kegiatan dilakukan menggunakan pendekatan campuran sederhana (simple mixed-methods) yang menyinergikan data kuantitatif dari pre-test dan post-test dengan data kualitatif hasil observasi partisipatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kapasitas kognitif peserta sebesar 32,14%, yaitu dari skor rata-rata 68,61 menjadi 90,67, serta lahirnya dua rancangan program inovatif berupa “Komunitas Kreatif Sindangsari” dan “Penanganan Isu Geng Motor.” Sebagai langkah awal menjaga keberlanjutan, direkomendasikan pembentukan tim tindak lanjut internal dan skema mentorship untuk mencegah berulangnya siklus morfostasis pada program selanjutnya. Disimpulkan bahwa kombinasi penguatan kapasitas kognitif dan fasilitasi Design Thinking yang dibingkai dalam kerangka morfogenesis sosial secara efektif mentransformasi agensi pasif menjadi aktif, yang merupakan fondasi utama menuju morfogenesis organisasi yang berkelanjutan.
Edukasi Pengelolaan Sampah Organik menjadi Pupuk Kompos dalam Rangka Life Space di Desa Malangbong Maria Yoharisa Ayuningtyas; Desi Yunita; Wahyu Gunawan
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1947

Abstract

Pengelolaan sampah di wilayah pedesaan seringkali terhambat oleh kompleksitas hambatan psikososial dan minimnya dukungan struktural, sebagaimana terjadi di Desa Malangbong yang belum memiliki layanan pengelolaan sampah dan didominasi oleh praktik pembuangan sampah ke sungai akibat lemahnya norma sosial. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan implementasi transformasi perilaku pengelolaan sampah melalui program pemberdayaan bersama Kampung Berseri Astra (KBA) dengan menggunakan kerangka Teori Lapangan khususnya konsep life space oleh Kurt Lewin. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan sosialisasi-partisipatif dengan metode edukasi praktis pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, observasi, serta evaluasi pre-test dan post-test. Berbeda dari program pengabdian sejenis yang umumnya berhenti pada sosialisasi verbal, pengabdian ini mengintegrasikan intervensi fasilitas fisik dan pendekatan psikososial berbasis Teori Lapangan Lewin untuk mengubah perilaku secara lebih struktural. Temuan menunjukkan bahwa intervensi pemberdayaan berhasil merekonstruksi struktur ruang kehidupan (life space) masyarakat dari kondisi inersia menuju perilaku pro-lingkungan yang dinamis. Transformasi tercapai melalui pergeseran motivasi personal dari eksternal ke internal serta terbentuknya norma kolektif baru yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial informal. Sinergi antara penyediaan fasilitas fisik dan rekayasa lingkungan sosial terbukti efektif menciptakan otomatisasi perilaku warga. Implikasi pengabdian ini menegaskan bahwa keberlanjutan pengelolaan sampah mandiri menuntut integrasi antara penguatan agensi masyarakat dan dukungan sistemik yang konsisten, bukan sekadar intervensi teknis parsial.
Focus Group Discussion Penguatan Peran Sosial pada Anggota Kelompok Hobi Miniatur Mobil di Kota Bandung Muhammad Adhityawarman Raspati; Desi Yunita; Ardi Maulana Nugraha; Wahyu Gunawan
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1951

Abstract

Anggota kelompok hobi miniatur mobil “Club Diecast Urang Sunda Asli” di Kota Bandung menghadapi tantangan dalam mengembangkan hobi mereka agar seimbang dengan peran sosial di masyarakat. Observasi awal menunjukkan bahwa fokus anggota cenderung terbatas, hanya pada koleksi miniatur semata, sehingga belum terbentuk kesadaran untuk mengambil peran (role taking) yang berdampak positif bagi lingkungan sosial yang lebih luas. Program pemberdayaan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan pengambilan peran sosial anggota kelompok tersebut melalui pendekatan teori interaksionisme simbolik. Melalui konsep Role Taking dari George Herbert Mead, program pemberdayaan ini disusun untuk mendorong anggota bertransformasi dari penghobi pasif menjadi aktor sosial yang kontributif. Metode yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan pematerian interaktif, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan, di mana total skor meningkat dari 311 menjadi 418 poin (rata-rata skor naik dari 31,1 ke 41,8). Peningkatan ini menunjukkan bahwa dialog reflektif efektif memperkuat pemahaman anggota mengenai kontribusi sosial mereka di tengah masyarakat secara lebih adaptif dan bermakna.