Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

MODEL SISTEM PANAS BUMI LAPANGAN KARAHA - TALAGA BODAS BERDASARKAN INVERSI 2D DATA MAGNETOTELLURIK Ilham Arisbaya; Aldinofrizal Aldinofrizal; Yayat Sudrajat; Eddy Zulkarnaini Gaffar; Asep Harja
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1591.417 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.989

Abstract

Daerah Karaha-Talaga Bodas, yang terletak di kawasan Utara Gunung Galunggung, Tasikmalaya diduga memiliki prospek panas bumi, dengan adanya manifestasi permukaan berupa fumarol dan mata air panas. Metode Magnetotelurik (MT) diaplikasikan untuk mengidentifikasi struktur resistivitas bawah permukaan yang terkait dengan sistem panas bumi. Pengolahan data MT dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu transformasi Fourier, seleksi crosspower, analisis rotasi, analisis kontak vertikal dan inversi dengan hasil akhir berupa model sebaran 2D. Hasil pengolahan data menunjukan adanya lapisan konduktif dengan nilai resistivitas 1-10 Ohm.m, yang diduga berperan sebagai lapisan penudung. Zona reservoir berupa daerah dengan nilai resistivitas 10-100 Ohm.m. Nilai resistivitas yang lebih besar dari 100 Ohm.m berkorelasi dengan batuan beku yang biasa dianggap sebagai sumber panas. Interpretasi hasil pengolahan data MT diintegrasikan dengan informasi geologi untuk mendapatkan gambaran sistem Panas Bumi Karaha-Talaga Bodas.The area of Karaha-Talaga Bodas, at the north of Mount Galunggung, Tasikmalaya, was expected to have a geothermal prospect due to several surface manifestations of fumaroles and hot springs. The Magnetotelluric method (MT) was then applied in this area to identify the subsurface resistivity structure related to the geothermal system. The MT data processing included Fourier transform, crossover selection, rotation analysis, vertical contact analysis, and inversion, with the result of a 2D resistivity model. The resistivity model indicated the existence of a conductive layer with the resistivity value of 1-10 Ohm.m, which could be a caprock. The reservoir zone is the area with the resistivity value of 10-100 Ohm.m. The resistivity value greater than 100 Ohm.m correlates with the basement, that acted as the heat source. Interpretation of the MT model was then integrated with the geological information to get an overview of the Karaha-Talaga Bodas geothermal system.
Petrophysical Analysis to Determine Reservoir and Source Rocks in Berau Basin, West Papua Waters Popy Dwi Indriyani; Asep Harja; Tumpal Bernhard Nainggolan
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 35, No 1 (2020)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.35.1.2020.659

Abstract

Berau Basin is assessed to have same potential in clastic sediments with Mesozoic and Paleozoic ages, where reservoirs and source rocks are similar to productive areas of hydrocarbons in Northwest Shield Australia. This study aims to identify the hydrocarbon prospect zones and potential rocks zones using petrophysical parameters, such as shale volume, porosity, water saturation and permeability. Petrophysical analysis of reservoir and source rock are carried out on three wells located in the Berau Basin, namely DI-1, DI-2 and DI-3 in Kembelangan and Tipuma Formation. Qualitative analysis shows that there are 4 reservoir rock zones and 4 source rock zones from thorough analysis of these three wells. Based on quantitative analysis of DI-1 well, it has an average shale volume (Vsh) 9.253%, effective porosity (PHIE) 20.68%, water saturation (Sw) 93.3% and permeability (k) 55.69 mD. DI-2 well’s average shale volume, effective porosity, water saturation and permeability values are 29.16%, 2.97%, 67.9% and 0.05 mD, respectively. In DI-3 well, average shale volume, effective porosity, water saturation and permeability values are 6.205%, 19.36%, 80.2% and 242.05 mD, respectively. From the reservoir zone of these three wells in Kembelangan Formation, there are no show any hydrocarbon prospect.Keywords: reservoir, source rock, shale volume, porosity, water saturation, permeability, Kembelangan Formation, Tipuma Formation, Berau BasinCekungan Berau diperkirakan memiliki potensi yang sama dengan sedimen klastik yang berumur Mesozoikum dan Palezoikum, di mana reservoar dan batuan induknya memiliki kesebandingan dengan daerah produktif hidrokarbon di Paparan Barat Laut Australia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona prospek hidrokarbon dan zona potensi batuan induk dengan menggunakan parameter petrofisika, yaitu volume shale, porositas, saturasi air dan permeabilitas. Analisis petrofisika batuan reservoar dan batuan induk dilakukan pada tiga sumur bor yang terletak di Cekungan Berau yaitu Sumur DI-1, DI-2 dan DI-3 pada Formasi Kembelangan dan Tipuma. Hasil analisis kualitatif menunjukan terdapat empat zona reservoar dan empat zona batuan induk dari keseluruhan tiga sumur. Berdasarkan analisis kuantitatif, sumur DI-1 memiliki nilai rata-rata volume shale (Vsh) 9,253%, porositas efektif (PHIE) 20,68%, saturasi air (Sw) 93,3% dan permeabilitas (k) 55,69 mD. Pada sumur DI-2, nilai rata-rata volume shale 29,16%, porositas efektif 2,97%, saturasi air 67,9% dan permeabilitas 0,05 mD. Serta pada sumur DI-3, nilai rata-rata volume shale 6,205%, porositas efektif 19,36%, saturasi air 80,2%, dan permeabilitas 242,05 mD. Dari zona reservoar Formasi Kembelangan untuk tiga sumur tersebut, tidak menunjukan adanya prospek hidrokarbon.Kata Kunci: reservoar, batuan induk, petrofisika, volume shale, porositas, saturasi air, permeabilitas, Formasi Kembelangan, Formasi Tipuma, Cekungan Berau
SOSIALISASI SUMBER AIR BERSIH DAN PEMANFAATAN-NYA SEBAGAI SUMBER AIR BERSIH DAN SANITASINYA DI WILAYAH GUNUNG HARUMAN CIMAUNG KAB. BANDUNG Asep Harja; Kusnahadi Susanto; Yanti Rubiyanti; Wahju Gunawan
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 3, No 2 (2022): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v3i2.38641

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dimulai dengan kegiatan sosialisasi hasil penelitian hidrogeofisika kepada masyarakat di Cimulek Desa Warjabakti. Kegiatan ini adalah awal dari kegiatan yang dilanjutkan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara Hybrid yang dimulai semenjak tanggal 07 Januari 2022 sampai dengan 07 Februari 2022. Kegiatan ini melibatkan 20 orang mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan dan fakultas. Tim melaksanakan penyuluhan ke beberapa rumah warga berdasarkan permasalahan yang didapat dari hasil wawancara. Capaian akhir dari penyuluhan ini adalah warga memahami pentingnya sanitasi dan dampak dari buruknya sanitasi MCK pada kesehatan sehingga masyarakat dapat lebih peduli terhadap kebersihan. Setelah melakukan kegiatan selama berada di Desa Warjabakti, ditemukan beberapa rekomendasi untuk berbagai pihak yang terlibat dalam permasalahan di Desa Warjabakti. Implementasi pengaturan secara terintegrasi untuk pemanfaatan sumber air akan dilakasanakan dengan melakukan kerja sama dengan pihak pemerintahan mulai para ketua RTdi lingkunngan RW 11, Kadus, Kepala Desa Warjabakti dan dari pihak Mercy Corporation Indonesia. Semua kegiatan pembuatan jaringan distribusi dari sumber mata air ke rumah warga ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan September 2022.
Sosialisasi Pemanfaatan Sumberdaya Air di Daerah Agrokompleks Desa Warjabakti, Kab. Bandung Kusna Susanto; Asep Harja; Yanti Rubiyanti; Wahyu Gunawan; Husneni Mukhtar
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 3, No 2 (2022): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v3i2.39520

Abstract

Daerah resapan air merupakan daerah masuknya air dari permukaan tanah ke dalam zona jenuh air sehingga membentuk suatu aliran air tanah yang mengalir ke daerah yang lebih rendah. Air yang sudah disimpan oleh gunung nantinya akan merembes keluar ke permukaan tanah yang nantinya menjadi sumber mata air bagi warga sekitar gunung. Gunung Haruman memiliki lebih dari 30 mata air yang berperan penting terhadap kehidupan sehari-hari maupun kebutuhan dalam pertanian. Mempromosikan potensi alam dari Gunung Haruman merupakan salah satu tujuan dari kegiatan KKN ini. Promosi tersebut dilakukan melalui pembuatan film dokumenter mengenai Gunung Haruman, potensi sumber daya alamnya, komoditas utama, dan beserta masyarakatnya. Desa Warjabakti yang terletak di kaki Gunung Haruman, Pegunungan Malabar menyimpan banyak potensi alam yang dapat dimanfaatkan. Potensi alam tersebut menghasilkan berbagai hasil alam yang dijadikan komoditas utama Desa Warjabakti, seperti kopi dan bawang daun. Desa Warjabakti memiliki sumber air berkualitas serta hasil alam yang cukup melimpah sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan agrowisata. Akan tetapi, terdapat beberapa kendala yang menghambat warga desa tersebut untuk menikmati hasil potensi alamnya secara maksimal. Masalah yang terjadi berupa harga jual komoditas yang murah, tergerusnya kepemilikan lahan warga Desa Warjabakti, dan infrastruktur yang kurang memadai. Oleh karena itu, diperlukan publikasi potensi dan kondisi Desa Warjabakti ke khalayak umum agar permasalahan dapat terselesaikan dan potensi alam dapat dinikmati secara maksimal. Selain itu, kontribusi dari berbagai pihak juga diperlukan untuk mewujudkan desa berbasis agrowisata. 
VLF Data Analysis Through Transformation Into Resistivity Value: Application tTo Synthetic and Field Data Wahyu Srigutomo; Asep Harja; Doddy Sutarno; Tsuneomi Kagiyama
Indonesian Journal of Physics Vol 16 No 4 (2005): Vol. 16 No. 4, October 2005
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.556 KB)

Abstract

Transformation of VLF-EM signals, which are approximated as the real and imaginary components of the ratio between the vertical and the horizontal components of magnetic fields was carried out in this study to improve the quantitative interpretation aspect of VLF analysis. The transformation filter has been tested using synthetic data generated by a two-dimensional finite element algorithm that provides VLF responses for several models typically encountered in VLF surveys. The transformed apparent resistivity profiles show good agreement in value and pattern to those modeled by the finite element algorithm. The transformation was applied to the field data and further analysis was conducted by inverting the recorded original VLF-EM signals and the transformed apparent resistivity into a two-dimensional resistivity-depth section. From the comparison with the dc-resistivity-depth section obtained previously, the resulted resistivity section revealed the general features of the subsurface structure.
PENENTUAN RESISTIVITAS BATUBARA MENGGUNAKAN METODE ELECTRICAL RESISTIVITY TOMOGRAPHY DAN VERTICAL ELECTRICAL SOUNDING BUDY SANTOSO; BAMBANG WIJATMOKO; EDDY SUPRIYANA; ASEP HARJA
Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol 6, No 01 (2016)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.706 KB) | DOI: 10.24198/jmei.v6i01.9371

Abstract

Pemanfaatan batubara sebagai salah satu sumber energi alternatif semakin meningkat, diantaranya untuk kebutuhan energi sektor industri dan pembangkit tenaga listrik. Peningkatan tersebut telah mendorong penelitian mengenai keberadaan batubara dan sumberdayanya. Metode Geofisika yang digunakan untuk mengetahui keberadaan batubara, diantaranya : Metode Electrical Resistivity Tomography dan Vertical Electrical Sounding. Parameter fisika untuk menentukan indikasi batubara dengan metode tersebut yaitu resistivitas. Untuk menghindari ambiguitas ketika menginterpretasikan lapisan batubara pada suatu penampang resistivitas, maka perlu dilakukan penentuan nilai resistivitas batubara secara insitu diatas singkapan batubara. Penentuan resistivitas batubara secara insitu dengan Metode Electrical Resistivity Tomography dilokasi I (Muarobungo, Jambi) diperoleh nilai resistivitas (81,4 – 115) Ωm, sedangkan dilokasi II (Lahat, Sumatera Selatan) diperoleh nilai resistivitas (60 – 110) Ωm dan dilokasi III (Nunukan, Kalimantan Utara) diperoleh nilai resistivitas (83 – 130) Ωm. Penentuan resistivitas batubara secara insitu dengan Metode Vertical Electrical Sounding dilokasi I (Muarobungo, Jambi) diperoleh nilai resistivitas 80,89 Ωm dan dilokasi II (Lahat, Sumatera Selatan) diperoleh nilai resistivitas 76,92 Ωm.Keywords ; Electrical Resistivity Tomography, Vertical Electrical Sounding, coal outcrops, cross-section resistivity.
Identifikasi Zona Akuifer Menggunakan Metode Resistivitas-DC di Daerah Kipas Lava Pegunungan Malabar Kabupaten Bandung Jawa-Barat Asep Harja; Berliana Ayu Aprilia; Kusnahadi Susanto, Dini Fitriani
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.351 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v7i1.43216

Abstract

Daerah Haruman memiliki kondisi air yang cukup melimpah saat musim hujan maupun musim kemarau yang ditandai dengan perkebunan yang cukup subur. Maka dari itu, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi zona akuifer berdasarkan persebaran nilai resistivitas batuan. Selain itu, untuk melihat kemenerusan akuifer dilakukan pengukuran saat musim hujan. Metode yang digunakan adalah metode resistivitas DC dengan konfigurasi Schlumberger. Hasil penelitian telah menunjukkan terdapat tiga lapisan di daerah penelitian, yaitu lapisan akuiklud, akuifer, dan akuifug. Lapisan yang memiliki nilai resistivitas rendah dibawah 20 Ωm yang diidentifikasikan sebagai lapisan akuiklud. Lapisan ini mampu menyimpan air tetapi tidak dapat meloloskan air. Lapisan batuan dengan nilai resistivitas pada rentang 20 Ωm – 100 Ωm merupakan kelompok batuan resistivitas menengah yang diidentifikasikan sebagai akuifer yang bersifat permeable. Lapisan batuan yang memiliki nilai resistivitas di atas 100 Ωm diindikasikan sebagai batuan breksi vulkanik yang bersifat akuifug atau tidak dapat menyimpan maupun meloloskan air (impermeable). Dengan tidak adanya lapisan akuifug di atas lapisan akuifer, maka diperkirakan akuifer pada daerah penelitan merupakan akuifer dangkal yang bersifat bebas (Unconfined Aquifer) dengan kedalaman kurang dari 40 meter. Kata kunci: metode geolistrik, resistivitas, akuifer
Studi Hidrogeofisika Gunung Malabar Sebagai Gunung Tertinggi pada Sistem Hidrologi Cekungan Bandung Asep Harja; Farham Rezqi Ma'arif M; Maryo Dwi Nanda; Davala Attirmizzy Duvanovsky; Zhilal Ikhwana Shafa
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 22 No. 4 (2021): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v22i4.654

Abstract

Gunung Malabar merupakan gunung tertinggi pada gugus pegunungan yang mengitari Cekungan Bandung Purba. Kawasan ini tersusun oleh berbagai pegunungan kecil, yaitu Gunung Haruman, Gunung Puntang dan dataran tinggi Pangalengan. Vegetasi di kawasan Gunung Malabar masih cukup lebat dan kawasan ini juga sering mengalami hujan dengan intensitas yang tinggi. Kondisi tersebut menjadikan Gunung Malabar sebagai recharge area dan catchment area yang ideal dengan area cukup luas. Artikel ini mengulas hasil penelitian hidrologi menggunakan metode geofisika untuk mengkaji pengaruh kawasan Gunung Malabar terhadap sistem hidrologi Cekungan Bandung Purba. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Resistivitas-DC dan Very Low Frequency. Selain itu, pengukuran sifat fisik dan kimia air juga dilakukan untuk mendapatkan nilai kualitas baku mutu air permukaan berdasarkan parameter TDS, pH, dan EC. Pengukuran Resistivitas-DC dilakukan di dua wilayah yaitu di Lereng Utara Gunung Malabar, diperoleh rentang nilai resistivitas air tanah sekitar (1.4-70)Ωm, sedangkan di lereng barat Gunung Malabar, diperoleh rentang nilai resistivitas air tanah sekitar (20-150)Ωm. Kombinasi metode Resistivitas-DC dengan VLF di lereng barat Gunung Malabar menunjukkan bahwa recharge area dari sistem hidrologi di Gunung Malabar terbentuk pada zona lapisan dangkal (sekitar 15 m) dan menengah (sampai dengan 40 m). Selain itu, studi ini juga menunjukkan kualitas air tanah di kawasan Gunung Malabar. Hasil yang diperoleh dari pengukuran sifat fisik dan kimia air yaitu diperoleh rentang untuk parameter TDS dengan nilai (20-70) ppm, pH dengan rentang 6.20-8.48, dan EC dalam rentang (43-130)KataKunci : Cekungan Bandung, Gunung Malabar, Resistivitas-DC, Very Low Frequency, sifat fisik dan kimia air.
Reduksi Efek Dimensionalitas 3D pada Data Magnetotelurik Menggunakan Analisis Koherensi, Tren Kurva, dan Skin Depth: Studi Kasus di Pulau Yapen Bagian Selatan dan Sekitarnya, Papua Gusti Muhammad Lucki Junursyah; Edwin Parlindungan; Hidayat Hidayat; Asep Harja
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 23 No. 4 (2022): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v23i4.712

Abstract

Data magnetotelurik rentan terhadap noise akibat penggunaan sumber alami yang berasal dari aktivitas matahari dan petir dengan rentang frekuensi yang sangat lebar. Oleh sebab itu, diperlukan proses reduksi noise secara kuantitatif dan kualitatif, yaitu dengan cara analisis koherensi, proses tren kurva, dan skin depth, yang menghasilkan koherensi data mencapai rata-rata 91,5 %. Analisis skewness dilakukan untuk mengevaluasi tipe distorsi 1D, 2D, atau 3D, yang terjadi pada tensor impedansi. Kemunculan efek dimensionalitas 3D akibat adanya distorsi pada tensor impedansi pada 8 (delapan) lokasi pengukuran magnetotelurik di Pulau Yapen bagian selatan dan sekitarnya telah tereduksi secara keseluruhan oleh analisis koherensi, proses tren kurva, dan skin depth, sehingga hasil data tidak perlu dilakukan analisis rotasi terlebih dahulu sebelum dilakukan pemodelan inversi 1D-2D. Hasil penafsiran pada penampang tahanan jenis 2D memperlihatkan bahwa batuan dasar di daerah ini adalah Batuan Gunungapi Yapen yang ditindih secara tidak selaras oleh Batugamping Wurui.Katakunci: Koherensi, magnetotelurik, skewness, skin depth, tren kurva.
Land Suitability and Plant Types Based on Soil Electrical Properties and Remote Sensing Eleonora Agustine; Nadhira Gunawan; Rifky Nauval; Muhammad Abdilllah Budianto; Irwan Ary Darmawan; Dini Fitriani; Kartika Hajar Kirana; Wahyu Srigutomo; Asep Harja; Imran Hilman Mohammad; Eddy Supriyana
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 24 No. 2 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v24i2.723

Abstract

Regional development in Panimbang District, Banten Province, Indonesia, is executed so that the tourism area is not centered solely on the west coast of Pandeglang but also in the surrounding area. The development is carried out in stages from government offices, education facilities, and public facilities. One of the public facilities to be built is a garden. This study aimed to evaluate the condition of the soil layers and fertility for garden construction. The resistivity method determines the soil layer pattern using dipole configuration. Remote sensing methods are used to assess land suitability and soil fertility. Land suitability based on agro-climatic data soil fertility based on physical and chemical parameters is taken from SoilGrids 250 m. The results of the resistivity method showed various values between 1 – 110 Ωm, and there are three layers of soil up to a depth of 3.58 m The first layer is assumed to be silty clay (15 – 30 Ωm), the second layer is assumed to be clay (1 – 5 Ωm), and the third layer is assumed to be silty and sandy soil (70 – 110 Ωm). Based on the remote sensing data, the first layer had an ideal bulk density and cation exchange value, but the pH value and nitrogen content are less ideal. The second layer had an ideal value of cation exchange capacity and pH, a rather ideal bulk density value, and a low nitrogen content and is considered a fertile layer of soil. Keywords: Remote sensing, resistivity, soil fertility, soil layers, SoilGrids 250 m