Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PEMBERDAYAAN IBU-IBU AISYIYAH RANTING PASAR IV BANDAR KHALIFAH SUMATERA UTARA SEBAGAI DUTA LINGKUNGAN SAMPAH ORGANIK Des Suryani; Zuliana Zuliana; Mailina Harahap
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 4 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i4.24856

Abstract

Abstrak: Tata kelola sampah rumah tangga yang di kumpul ke TPA menyebabkan, kondisi merugikan bagi masarakat di sekitar TPA karena terjadi pencemaran baik tanah, air maupun udaranya, Sampah sebanarnya punya manfaat bagi keluarga bila di kelola dengan baik. Tujuan pengabdian ini meningkatkan pengetahuan mitra dalam tata kelola sampah rumah tangga, serta mampu melakukan pembuatan ekoenzim secara mandiri di rumah tangga. Serta menjadi contoh bagi tetangganya. Metode yang digunakan dengan mengedukasi mitra mengenai tata kelola sampah di keluarga dari aspek kesehatan, lingkungan dan agama, dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan ekoenzim dan kompos pada 15 orang Mitra anggota Aisyiyah, peningkatan pengetahuan dinilai melalui 10 pertanyaan pretest dan posttes. Monitoring dan evaluasi untuk implementasi pembuatan ecoenzim di rumah tangga dengan stimulus buku panduan, ember bekas cat dan gula merah masing-masing 1 kg, dan bibit unggul sayuran, video kegiatan tata kelola sampah di rumah dikumpul melalui group WA. Hasilnya pemberdayaan ini dapat meningkatkan pengetahuan mitra tentang tata kelola sampah di rumah tangga, dan merubah karakter tata kelola sampah sebanyak 93% dari mitra yang dibina.Abstract: The management of household waste that is collected at the final collection point (TPA) causes detrimental conditions for the community around the TPA due to contamination of the land, water and air. Waste actually has benefits for families if it is managed well. The aim of this service is to increase partners' knowledge in household waste management, as well as being able to make ecoenzymes independently in the household. And be an example for his neighbors. The method used is to educate partners about waste management in the family from health, environmental and religious aspects, followed by training in making ecoenzymes and compost for 15 Aisyiyah member partners. Increased knowledge is assessed through 10 pretest and posttest questions about household waste management. Monitoring and evaluation for the implementation of making ecoenzymes in households with the stimulus of a guidebook, buckets of used paint and brown sugar of 1 kg each, and superior vegetable seeds, videos of waste management activities at home collected via the WA group. As a result, this empowerment can increase partners' knowledge about waste management in households, and change the character of waste management for as many as 93% of the partners trained. 
Marketing Analysis of Elephant Ginger in Hatinggian Village, Lumban Julu District, Toba Regency Bancin, Arif Santosa; Harahap, Mailina; Apriyanti, Ira
Journal of Agriculture Vol. 3 No. 02 (2024): Research Articles, July 2024
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/joa.v3i02.4107

Abstract

Ginger is a medicinal plant that is often used as a pain reliever. Demand for ginger increases along with the development of human knowledge. So to meet consumer needs, a marketing institution is needed, such as the Gajah ginger farmers in Hatinggian village. The aim of the research is to find out how the marketing channels for Gajah ginger are, to find out the marketing margin and marketing efficiency of Gajah ginger. The research sample was 22 Gajah ginger farmers, 3 collectors and 3 retailers. Data analysis uses descriptive analysis and formula equations for marketing costs, marketing margin, Farmer share, marketing efficiency. The research results show that there are two marketing channels for Gajah ginger in Hatinggian village, Lumban Julu subdistrict, namely; 1). Marketing channel I from farmers to retailers then consumers and 2). Marketing channel II from farmers to collectors then to retailers and then consumers. The market share of marketing channel I is greater than marketing channel II so that marketing channel I (6.14%) is more efficient than marketing channel II (6.89%).
PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI NAGORI RAJA MALIGAS KECAMATAN HUTA BAYU RAJA KABUPATEN SIMALUNGUN SUMATERA UTARA Andriansyah; Mailina Harahap
GABBAH : Jurnal Pertanian Dan Perternakan Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran Penyuluh Pertanian Dalam Meningkatkan Produktivitas Padi Sawah ( Oryza sativa L.) “di Nagori Raja Maligas Kecamatan Huta Bayu Raja Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Dibimbing oleh: Ibu Mailina Harahap, S.P., M.Si. selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Nana Trisna Mei Br Kabeakan, S.P., M.Si. selaku anggota komisi pembimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penyuluh pertanian dan untuk mengetahui produktivitas usahatani padi sawah. Sampel terdiri dari petani padi sawah berjumlah 48 responden. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan pendapat Arikunto dan penarikan sampel metode simple rondom samping. Metode analisis data yag digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa peran penyuluh pertanian sebagai edukator, disemanasi informasi, fasilitator, konsultan, supervisi memiliki peran yang tinggi.
ANALYSIS OF PROBLEMS AND STRATEGIES FOR IMPROVING THE SOCIO-ECONOMIC AGRICULTURE OF LUBUK KERTANG VILLAGE, LANGKAT REGENCY Harahap, Mailina; Siregar, Gustina; Riza, Fetra Venny
Jurnal AGRISEP JURNAL AGRISEP VOL 22 NO 01 2023 (MARCH)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.283 KB) | DOI: 10.31186/jagrisep.22.01.29-48

Abstract

The role of the agricultural sector is inseparable from the existence of a village which is the smallest regional unit, one of the common characteristics of which is to do business in the agricultural sector. Lubuk Kertang Village is one of the 7 Villages in the District of West Berandan, Langkat Regency, which has large development potential, even more so with the assignment of Lubuk Kertang Village as a Mangrove Forest Ecotourism area. In its development, the village was also faced with various local problems. The research method used was a participatory approach, namely the Participatory Rural Appraisal (PRA) technique. Data analysis was performed statistically descriptive and qualitative. Problems in Lubuk Kertang Village, West Brandan District, Langkat Regency include: agriculture, water, human resource capacity, economy, health, law and morals and institutions. The village problems can be overcome with the development strategy of making the village of Lubuk Kertang an Agro-tourism destination.
SOSIALISASI KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DESA NAMO MIRIK Suryanto Pirngadi, Rahmat; Rahman Cemda, Abdul; Harahap, Mailina; Rahmadani Manik, Juita; Trisna Mei Br Kabeakan, Nana; Fadhly Siregar, Aflahun
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 4 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i4.1372-1382

Abstract

Desa Namo Mirik salah satu desa yang berada di kecamatan Kuta Limbaru kabupaten Deli Serdang, dimana desa ini memiliki potensi kawasan pertanian, terutama dalam budidaya jagung. Praktek budidaya tanaman jagung di desa Namo Mirik masih jauh dari konsep pertanian berkelanjutan. Tujuan dilakukan sosialisasi yaitu untuk meningkatkan pengetahuan petani dalam praktek pertanian berkelanjutan seperti perlindungan daerah tangkapan air, peningkatan interaksi sosial antar petani serta antar kelompok tani serta peingkatan keinginan petani dalam mengadopsi teknologi untuk kegiatan usaha tani jagung dalam rangka meningkatkan nilai tambah. Dari hasil sosialisasi didapatkan bahwa, terdapat peningkatan pengetahuan petani sebelum dan sesudah dilakukannya sosialisasi dimana sebelum dilakukannya sosialisasi tingkat pengetahuan petani dari tiga topik sosialisasi paling tinggi 26-50% sementara setelah dilakukan sosialisasi tingkat pengetahuan petani meningkat menjadi 76-100%.
PEMANFAATAN TANAMAN BUAH-BUAHAN SEBAGAI PENAHAN TANAH DARI EROSI DI BANTARAN SUNGAI DI DESA PERTUMBUKAN KECAMATAN WAMPU KABUPATEN LANGKAT Rahmadani Manik, Juita; Yusuf, Mukhtar; Harahap, Mailina
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 10 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i10.3561-3564

Abstract

Permasalahan saat ini yang dihadapi masyarakat bantaran sungai adalah erosi pada daerah sungai. Erosi dapat terjadi dan bergerak secara cepat di pengaruhi dan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor iklim, struktur dan jenis tanah, pengolahan lahan, vegetasi sekitar sungai dan topografi. Menurut Kironoto dalam jurnal I wayan Mustapa(Sutapa, 2010) mengakatakan Faktor iklim merupakan faktor utama dimana curah hujan yang tinggi yang secara sadar atau tidak sadar, langsung atau todak langsung mengikis permukaan tanah sehingga secara perlahan-lahan akan menghasilkan erosi. Dari adanya erosi sungai maka ekosistem sungai dan di bantaran sungai terganggu. Banyak ikan-ikan kecil, ular, dan jenis hewan air tawar lainnya mati. Serta membawa perubahan kepada warna air sungai yang kian keruh dan berwarna coklat kehitaman. Maka dari itu tim pengabdian masyarakat dari universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Khususnya Fakultas Pertanian Prodi Agribisnis memberikan solusi kepada masyarakat mitra di Pertumbukan kecamatan Wampu Kabupaten Langkat untuk memanfaatkan tanaman buah-buahan sebagai penahan tanah dari erosi. Sehingga Lapisan tanah atau jalan tidak menipis, agar jalan di sekitar sungai tidak retak, selanjutnya tidak terjadi lagi banjir karena daya serap air ke tanah semakin membaik, tidak terjadi lagi sedimentasi sungai/pendangkalan sungai, kualitas air tidak lagi  buruk karena semakin banyak vegetasi yang menyokong tanah  atas sungai dengan ditanaminya pohon buah-buahan ini, sehingga laju erosi semakin lambat bahkan tidak akan erosi lagi.
Study on the Development of Indonesia and Malaysia Shallot Imports Umar Fachry Manullang; Mailina Harahap; Ahmad Zairy Bin Zainol Abidin
Agribusiness Journal Vol 8, No 1 (2025): Agribusiness Journal
Publisher : UNIVERSITAS SEMBILANBELAS NOVEMBER KOLAKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31327/aj.v8i1.2330

Abstract

This study analyses shallot import trends in Indonesia and Malaysia from 2010 to 2023. Indonesia, while a net exporter, experiences fluctuating imports, primarily due to seasonal production variations and occasional supply shortfalls. Malaysia, lacking significant domestic production, consistently relies heavily on imports, primarily from India. The study utilises a descriptive qualitative method, incorporating both primary (interviews, observations) and secondary data (government reports, trade statistics). Key findings highlight Brebes, Indonesia, as a major shallot production centre, employing technologies like Controlled Atmosphere Storage (CAS) to extend shelf life. Data mining techniques, specifically linear regression, are used to predict shallot yields based on factors like land area, fertiliser use, and labour. Despite improved productivity per hectare, total production in Brebes fluctuated, indicating challenges in maintaining production scale. Malaysia's shallot import dependence is underscored by its reliance on 24 countries, with India being the largest supplier. MARDI's efforts to cultivate local shallot varieties represent a step towards self-sufficiency. The study examines factors driving imports, including resource limitations, consumption needs, competitive advantages, and economic policies. The instability of shallot production, particularly during the rainy season, contributes to price fluctuations. The analysis concludes by emphasising the need for both countries to enhance domestic production through technological advancements, improved cultivation techniques, and supportive government policies to reduce import dependence and stabilise prices.