Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Gambaran Tingkat Pengetahuan Penggunaan Swamedikasi Analgesik Di Kota Denpasar Ni Putu Lydya; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Putu Eka Arimbawa
LOMBOK JOURNAL OF SCIENCE Vol 2 No 2 (2020): Lombok Journal of Science
Publisher : LOMBOK JOURNAL OF SCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluhan yang mayoritas dilaporkan menjadi alasan masyarakat melakukan swamedikasi adalah nyeri. Masyarakat menggunakan obat golongan analgesik dalam praktik swamedikasi untuk mengurangi rasa nyeri. Tingkat pengetahuan merupakan faktor yang penting untuk mewujudkan penggunaan analgesik yang tepat khususnya dalam praktik swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat di Kota Denpasar mengenai penggunaan analgesik dalam swamedikasi nyeri. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional deskriptif, yang melibatkan 196 responden. Responden dipilih secara nonrandom menggunakan consecutive sampling melalui penyebaran kuesioner di enam Apotek Kota Denpasar. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan software IBM SPSS versi 15. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar (60,7%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Sementara itu, 25% responden memiliki tingkat pengetahuan sedang dan 14,3% responden sisanya memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan analgesik dalam praktik swamedikasi, baik secara langsung (fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan) maupun tidak langsung (internet, iklan layanan masyarakat).
Persepsi Masyarakat Melalui Pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB) Dengan Penggunaan Antibiotik Secara Swamedikasi Di Kota Denpasar I Putu Nugraha; Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Aryati Suryaningsih
LOMBOK JOURNAL OF SCIENCE Vol 2 No 2 (2020): Lombok Journal of Science
Publisher : LOMBOK JOURNAL OF SCIENCE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persepsi mengenai pengobatan menyebabkan penggunaan obat yang bervariasi termasuk penggunaan antibiotik dalam swamedikasi atau pengobatan sendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat melalui pendekatan theory of planned behavior (TPB) dengan penggunaan antibiotik secara swamedikasi di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional melalui pertanyaan kuesioner secara langsung kepada masyarakat pada bulan Februari-April 2018 di Kota Denpasar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 173 yang dikumpulkan secara purposive sampling dan dianalisis menggunakan uji bivariat chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara variabel subjective norm, perceived behavioral control, dan attitude toward the behavior dengan penggunaan antibiotik secara swamedikasi (P<0.05). Kehadiran apoteker, pengalaman dan pengendalian diri lingkungan menjadi faktor yang menetukan keputusan masyarakat untuk menggunakan antibiotik dalam swamedikasi. Untuk itu, perlu peningkatan peran apoteker dalam memberikan informasi secara tepat agar masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan antibiotik.
PERSEPSI MASYARAKAT BERDASARKAN METODE HEALTH BELIEF MODEL (HBM) DENGAN PENGGUNAAN OBAT HERBAL DI KOTA DENPASAR Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri; I Wayan Martadi Santika
Jurnal Kesmas (Kesehatan Masyarakat) Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2020): JURNAL KESMAS (KESEHATAN MASYARAKAT) KHATULISTIWA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jkmk.v7i2.2041

Abstract

Penggunaan obat herbal melalui persepsi pengalaman dan informasi membuat keputusan untuk melakukan pengobatan semakin tinggi. Mengukur persepsi individu dapat melalui teori health belief model (HBM). Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan persepsi masyarakat berdasarkan metode health belief model (HBM) dengan penggunaan obat herbal di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 97. Data dikumpulkan dari bulan Januari–Februari 2020 di Kota Denpasar menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji binary logistic. Perceived benefits dan self-efficacy memberikan hubungan yang signifikan terhadap penggunan obat herbal di Kota Denpasar (P<0.05).  Pertimbangan apoteker dan penggunaan dosis yang relatif aman membuat masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dalam penggunaan obat herbal. Peningkatan aspek fisik, mental, dan spiritual dengan penggunaan obat herbal masih perlu dilakukan, terutama dalam menunjang kesehatan masyarakat.Kata kunci : Persepsi, HBM, obat herbal, masyarakat
COST MINIMIZATION ANALYSIS (CMA) PENGGUNAAN AMOKSILIN DAN CEFADROXIL TERHADAP DANA KAPITASI UNTUK ISPA PADA BALITA Putu Eka Arimbawa; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Ni Wayan Irmawati
Media Farmasi XXX Vol 15, No 2 (2019): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.129 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i2.1132

Abstract

Cost minimization analysis (CMA) is used to evaluate capitation funds for outpatients, especially for antibiotic use. The purpose of this study was to determine the CMA of amoxicillin and cefadroxil syrup on capitation funds for URI treatment in children. Thes research method uses a cross-sectional approach retrospectively through medical record data from January to June 2018 with 70 samples. The results of antibiotic studies showed that the average total cost of cefadroxil syrup was more expensive than amoxicillin. Nevertheless,  statistically, it was not significantly different (P> 0.05) on capitation funds. The use of amoxicillin and cefadroxil syrup does not exceed the capitation fund limit, and the two have the potential to be used as a standard for the treatment of URI in the Manggis I Health Center, Karangasem Bali.Keywords: CMA, Capitation Fund, Antibiotics, Amoxicillin, CefadroxilCost minimization analysis (CMA) digunakan untuk mengevaluasi dana kapitasi pasien rawat jalan, terutama untuk penggunaan antibiotika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui CMA sirup amoksilin dan cefadroxil terhadap dana kapitasi  pengobatan ISPA pada balita. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional secara retrospektif menggunakan data rekam medis periode Januari - Juni 2018. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 70 sampel. Hasil penelitian antibiotika rata-rata biaya total obat sirup cefadroxil lebih mahal dibandingkan dengan amoksilin, tetapi secara statistika tidak berbeda secara signifikan (P>0.05) terhadap dana kapitasi. Penggunaan Sirup amoksisilin dan cefadroxil tidak melebihi batas dana kapitasi, dan kedua sirup antibiotik dapat digunakan sebagai standar untuk pengobatan ISPA di Pusat Kesehatan Manggis I, Karangasem Bali.Kata Kunci : CMA, Dana Kapitasi, Antibiotika, Amoksilin, Cefadroxil 
ANALISIS DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK (PGK) RAWAT INAP DI SEBUAH RUMAH SAKIT DI BALI Ni Putu Aryati Suryaningsih; Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Wintariani; Dewi Puspita Apsari
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v5i2.433

Abstract

Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) memiliki risiko mengalami masalah-masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DRPs). Penelitian bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan jenis terjadinya DRPs pada pasien PGK stage 3,4, dan 5 rawat inap di sebuah Rumah Sakit di Bali serta mengetahui hal-hal yang menyebabkan terjadinya DRPs. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan dengan dua pendekatan yang berkesinambungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pada tahap kuantitatif dilakukan secara observasional dan tahap kualitatif melalui wawancara dengan tenaga kesehatan. Sebanyak 58 pasien yang diikuti secara prospektif, yang kemudian dikelompokkan ke dalam stage 3, 4 dan 5. DRPs tersering adalah Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) sebanyak 68,39% dan penyebab (causes) tersering adalah terkait pemilihan dosis sebanyak 38,55% dan terkait dengan asuransi sebesar 5,16%. Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya DRPs yaitu kebijakan, ketersediaan obat, komunikasi, keterbatasan sumber daya, error atau kesalahan tidak disengaja, pengetahuan dan persepsi terhadap outcome. DRPs yang paling sering terjadi adalah (ROTD) dengan penyebab yang paling sering pemilihan dosis selain itu disebabkan karena pemilihan obat, bentuk sediaan obat dan proses penggunaan obat. Perlunya adanya farmasi di ruangan yang bertugas untuk melihat terapi dan obat-obatan yang diterima pasien.
HUBUNGAN KEPEMILIKAN ASURANSI KESEHATAN DENGAN PENGGUNAAN OBAT RASIONAL (POR) PADA PASIEN SWAMEDIKASI Putu Eka Arimbawa
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 4 No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v4i2.866

Abstract

Kepemilikan asuransi kesehatan (pemerintah atau swasta) merupakan jaminan kesehatan masyarakat agar dapat menjangkau pelayanan kesehatan terutama dalam penggunaan obat rasional (POR) khususnya swamedikasi (pengobatan sendiri). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepemilikan asuransi kesehatan dengan penggunaan obat rasional (POR) pada pasien swamedikasi. Penelitian ini dilakukan dengan desain survey cross sectional. Penelitian menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 97 pasien yang melakukan pengobatan swamedikasi yang di ambil di 30 apotek di Kota Denpasar. Analisis data menggunakan uji statistika multivariat binary logistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel pendidikan (p=0.04; OR=2.37; CI=1.02-5.52) dan kepemilikan asuransi kesehatan (p=0.04; OR=2.77; CI= 1.01-7.53) memiliki hubungan yang signifikan dengan POR pada pasien swamedikasi. Sedangkan variabel lainya seperti jenis kelamin, pernikahan, pekerjaan, dan umur tidak memberikan hubungan yang signifikan (p>0.05). Kepemilikan asuransi oleh pasien akan dapat meningkatkan pemahaman POR dalam swamedikasi terutama memberikan pengetahuan kepada pasien mengenai pengobatan, mengurangi pembiayaan, dan menciptakan kesejahteraan pasien.
HUBUNGAN KEPEMILIKAN SAHAM APOTEKER PADA APOTEK DENGAN PELAKSANAAN GOOD PHARMACY PRACTICE (GPP) OLEH APOTEKER Putu Eka Arimbawa; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Ni Made Dharma Shantini Suena
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v4i1.876

Abstract

Good Pharmacy Practice (GPP) adalah praktik farmasi, oleh apoteker, untuk menciptakan konsep kualitas layanan kesehatan yang baik. Dalam membuat apotek untuk melakukan GPP, apoteker dapat bekerja sama dengan pemilik apotek (non-apoteker) dalam bentuk saham apotek. Kerjasama tersebut tidak akan menjadi masalah jika tidak bertentangan dengan GPP. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan terhadap 71 apoteker di Kota Denpasar. Data dikumpulkan pada Februari-April 2017 dengan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kepemilikan apotek dan aspek kesejahteraan pasien (p = 0,13, OR = 2,13) dan manajemen (p = 0,51, OR = 1,38). Ada hubungan yang signifikan antara aspek kontribusi apoteker (p = 0,04, OR = 2,76) dan kerjasama dengan dokter (p = 0,02, OR = 3,30). Secara keseluruhan, ada hubungan yang signifikan (p = 0,03, OR (CI95%) = 3,02 (1,08-8,41)). Kepemilikan saham apotek oleh apoteker menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aspek kontribusi apoteker dan kerja sama dengan dokter. Kepemilikan saham akan meningkatkan kepercayaan dan jaminan keamanan apoteker, terutama saat membantu dokter dalam memberikan informasi tentang obat-obatan.
HUBUNGAN PELAKSANAAN GOOD PHARMACY PRACTICE (GPP) DENGAN KEPUASAN KERJA APOTEKER DI APOTEK Putu Eka Arimbawa; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; I Putu Tangkas Suwantara
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v3i2.905

Abstract

Good pharmacy practice (GPP) merupakan standar untuk memastikan Apoteker dalam memberikan setiap pelayanan kefarmasian sehingga dapat menciptakan suatu kepuasan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pelaksanaan good pharmacy practice (GPP) Dengan kepuasan kerja apoteker di apotek Kota Denpasar Penelitian ini dilakukan dengan desain survey cross sectional. Penelitian menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 69 apoteker yang memiliki ijin praktek penanggung jawab di Kota Denpasar. Analisis data menggunakan uji statistika multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara aspek kesejahteraan pasien (p=0.23) dan aspek kerjasama dengan dokter (p=0,07) terhadap kepuasan kerja. Untuk hubungan aspek manajemen (p=0.01) dan aspek kontribusi peran apoteker (p=0,001) memberikan hubungan yang signifikan dengan kepuasan kerja. Secara keselurahan pelaksanaan good pharmacy practice (GPP) dengan kepuasan kerja terdapat hubungan yang signifikan (p=0,04) dan memberikan pengaruh sebesar 1,65 kali (OR =1,65) terhadap kepuasan kerja apoteker di apotek.
PERBANDINGAN PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA TERHADAP PEMAHAMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI KOTA DENPASAR Putu Eka Arimbawa
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 2 (2020): MEDFARM : JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v9i2.33

Abstract

Salah satu bentuk berkembangnya media komunikasi adalah dengan adanya sosial media sebagai sumber informasi. Informasi yang kurang tepat dapat menyebabkan kesalahan penggunaan obat salah satunya adalah penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan media sosial dengan pemahaman penggunaan antibiotik di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 100. Data dikumpulkan dari bulan Maret-April 2020 di Kota Denpasar menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 49% responden pernah membeli antibiotik secara bebas, 60% setuju membeli tanpa resep dokter, dan 81 Responden mendapatkan antibiotik di apotek, serta 48% responden kurang memahami fungsi antibiotik. Hasil uji statistik terdapat perbandingan penggunaan sosial media dengan pemahaman penggunaan antibiotik diperoleh nilai p-value sebesar 0,006 (p<0,05). Informasi penggunaan sosial media terutama dalam pembelian antibiotik secara bebas tanpa resep perlu diperhatikan. Untuk itu, sosialisasi pemahaman fungsi dan aturan penggunaan antibiotik di sosial media harus dilakukan agar memastikan masyarakat dapat menerima informasi secara tepat
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus I Putu Gede Adi Purwa Hita; Putu Eka Arimbawa; Dhiancinantyan Windydaca BP
MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 2 (2020): MEDFARM : JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
Publisher : LPPM Akafarma Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48191/medfarm.v9i2.34

Abstract

Pengobatan jerawat dewasa ini didominasi oleh kosmetika khususnya kosmetika sintetis memiliki efek samping yang tinggi, sehingga memerlukan alternatife yaitu pengobatan obat herbal. yang memiliki efek samping lebih sedikit dari obat sintetis. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan salah satu tanaman obat herbal khas Indonesia yang secara empiris digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 70% daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap bakteri Staphyloccocus aureus. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% dan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram yang diukur diameter zona hambatnya. Sebanyak 84,04 gram ekstrak kental daun binahong yang memiliki warna hijau kehitaman, bau khas, dan rasa pahit didapatkan melalui proses ekstraksi. Diameter zona hambat ekstrak yang dihasilkan sebesar 12,97 ± 0,54 mm, kontrol positif (kloramfenikol) 30,18 ± 0,08 mm, dan kontrol negatif tidak memberikan zona hambat. Ekstrak etanol 70% daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.