Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS KIMIA 9 JENIS KAYU DARI IRIAN JAYA Gustan Pari; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 2 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.2.87-93

Abstract

Tulisan ini mengemukakan analisis komponen kimia kayu dari lrian Jaya sebanyak 9 jenis. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian sifat dasar yang dilaksanakan setiap tahun di Pusat Penelitiaan dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Maksudnya adalah untuk mengetahui sifat kayu yang penting seperti sifat .fisis, mekanis dan kimia yang berguna bagi penggunaan kayu. Analisa yang dilakukan meliputi penetapan kadar holoselulosa, selulosa, lignin, pentosan, BJ, air, abu, silika, kelarutan dalam air dingin, air panas, alkohol benzena 1 : 2 dan kelarutan dalam NaOH 1 %. Analisa ini berguna untuk menentukan perkiraan kegunaan kayu seperti untuk pulp dan turunan selulosa.Hasil analisa memperlihatkan bahwa kadar holoselolusa berkisar antara 69,61 - 75,21 %, selulosa 47,33 - 54,80 %, lignin 24,79 - 30,39 %, pentosan 1,18 - 18,48 %, berat jenis 0,36- 0,85 g/cm3 , kadar air 9,20 - 15,44 %, abu 0,79 - 1,90 %, silika 0,33 - 1,07 %, kelarutan dalam air dingin 4,33 - 7,41 %, air panas 4,67- 9,47 %, alkohol benzena (1: 2) antara 1,99 - 9,21 % dan kelarutaan dalam NaOH 1 % antara 18,16 - 30,07 %.Berdasarkan standar FAO untuk pulp, maka 9 jenis kayu dari irian Jaya cukup baik untuk dibuat pulp.
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMIS PRODUKSI ARANG AKTIF INDUSTRI PEDESAAN Tjutju Nurhayati; Saepuloh Saepuloh; Sylviani Sylviani
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 5 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4970.728 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.5.353-366

Abstract

The objectives of this trial was to produce activated charcoal from 5 raw material species which are abundantly potential. The production was conducted in an experimentally designed kiln, expectedly appropriate as a manufacturing prototype of activated charcoal for the inherent endeavors or small-scale village industries, which would be feasible technically, economically, and environmentally. The parameters related to the technical analysis covered the manufacture of charcoal from three wood species (bakau, mangium, and tusam) and coconut shell; analysis on raw material for such charcoal and on the mixed charcoal from the market; activation process using water vapor and air at consecutively 0.25 bar and 4-5 atmospheric pressures, with the temperature as high as 705-805°C; and analysis on iod number for the quality of activated charcoal. For economic evaluation, the inherent parameters covered production cost, activated charcoal price, and other related aspects. For the comparative assessments were used activated charcoals from sawdust and coconut shell from industry. The results are as follows:The yields of resulting activated charcoal were varying, i.e 77% from mangrove charcoal as the highest, followed in decreasing order at 73% from coconut shell charcoal, 66% from both mangium and mixed charcoal, until 58% from tusam charcoal as the lowest. lod number of activated charcoal ranged between 472-722 mg/g, with the one from coconut shell charcoal as the highest and the mangrove charcoal as the lowest. The increase of iod number in coconut shell activated charcoal was the highest with six times higher in comparison to the one in its regular charcoal, followed in decreasing order by those mixed charcoal, tusam charcoal. until mangrove charcoal as well as mangium charcoal as the lowest ( i.e consecutively 3.98 times, 3.39 times and 2.45 limes).Compared to the Indonesian requirement standard for activated charcoal, such production trial of activated charcoal seemed to be insatis factory. This is caused by overall iod numbers which were still below 750 mg/g. However, the iod number in activated charcoal from coconut shell in this trial was still higher than the one in the corresponding activated charcoal produced commercial industries (i.e 722 mg/g). Meanwhile, the iod number in activated charcoal from mixed charcoal (654 mg/g) was lower, but still higher than those from tusam and mangium.The retort for the production trial activated charcoal was constructed of stainless steel reactor with 120 liter volumetric capacity and capable of producing 10 kg per day, using regular charcoal as raw material and firewood as a fuel. This retort was designed as a prototype model for the production of activated charcoal for small-scale industries. The method of production expectedly will not bring about enviromental impacts, since the generated vapour/gas during the activation was immediately incinerated in the fuelwood fire pol.The analysis revealed that the production using coconut shell charcoal as raw material in the retort with design capacity of 250 kg per month and 5 years technical life could be sold at Rp 6,000.- per kg of activated charcoal and therefore could bring in some net benefit at 5.5%. Activated charcoal production using mixed wood charcoal did not give significant any benefit. The benefit of activated charcoal production using coconut shell in that period would be even higher.
SIFAT KIMIA DAN KUALITAS ARANG LIMA JENIS KAYU ASAL KALIMANTAN BARAT Lisna Efiyanti; Suci Aprianty Wati; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh; Gustan Pari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2020.38.1.45-56

Abstract

Indonesia memiliki hutan yang cukup luas dengan jenis pohon penghasil kayu yang sangat beragam. Kayu dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti furnitur, kerajinan, konstruksi bangunan serta produk lain seperti arang. Pemanfaatan kayu juga pada umumnya berhubungan dengan sifat fisik, kimia, anatomi maupun mekanik kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia dan ekstraktif lima jenis kayu kurang dikenal asal Kalimantan Barat, yaitu kayu kumpang, bengkulung, sawang, kempili, dan ubar serta pengaruhnya terhadap sifat arang yang terbuat dari jenis-jenis kayu tersebut. Lima jenis kayu tersebut dianalisa komponen kimia serta zat ekstraktif sesuai metode SNI. Kemudian tiap jenis kayu diproses menjadi arang dengan metode pirolisis pada suhu 500°C selama 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar selulosa, pentosan, dan lignin kelima jenis kayu tersebut masing-masing berkisar antara 51,53-61,16%; 13,93-17,67% dan 26,55-38,46%. Kadar kelarutan dalam air dingin, air panas, NaOH 1% dan alkohol-benzena masing-masing berkisar antara 0,632-2,640%; 3,28-8,41%; 10,41-19,01% dan 3,38-4,3%. Adapun untuk kadar air, kadar abu dan kadar silika kelima jenis kayu masing-masing berkisar 7,97-9,97%; 0,32-2,14; 0,21-0,68%. Produk arang yang terbentuk dari kelima jenis kayu tersebut telah memenuhi standar persyaratan SNI dengan nilai kadar air, abu, zat terbang, dan karbon terikat masing-masing berkisar antara 0,01-0,69%; 0,59-5,40; 13,95-26,15%; dan 73,05-84%. Produk arang yang memiliki kualitas terbaik berasal dari kayu kumpang.
ANALISIS KOMPONEN KIMIA KAYU MANGIUM PADA BEBERAPA MACAM UMUR ASAL RiAU Gustan Pari; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2817.035 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.3.140-148

Abstract

Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia kayu dari kayu mangium pada beberapa macam umur. Analisis yang dilakukan meliputi penetapan kadar holoselulosa, selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, kelarutan dalam air dingin, air panas, NaOH 1 % dan kelarutan dalam ethanol benzena.Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 72,94-79,01%, selulosa 47,26-50,06%, lignin 20,99-27,06%, pentosan 15,89-17,45%, abu 0,26-0,88 %, silika 0,14-0,34 %. Kelarutan dalam air dingin 3,00-4,17%, air panas 6,02-9,26 %, Na0H 1 % 19,90-21,00% dan kelarutan dalam alkohol benzena berkisar antara 4,50-6,48%.Berdasarkan alas hasil analisis komponen kimia terutama dari kadar selulosa, lignin dan pentosan maka kayu mangium (Acacia mangium Willd) dengan umur 6 tahun, sangat baik untuk dibuat sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas.
KOMPOSISI KIMIA KAYU Acacia mangium Willd DARI BEBERAPA TINGKAT UMUR HASIL TANAM ROTASI PERTAMA Rena M Siagian; Saptadi Darmawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3338.889 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.57-66

Abstract

Penggunaan kayu mangium (Acacia mangium Willd) sebagai  bahan baku pulp sudah  dikenal   baik. Untuk  memperoleh  hasil  yang  lebih optimal  maka perlu dilakukan penelitian  mengenai  sifat  dasarnya pada  beberapa  tingkat  umur.   Sifat dasar yang  diamati pada penelitian  ini meliputi berat jenis,  derajat keasaman  (pH) dan komposisi kimia kayu umur 6, 7, 10, 11 dan12  tahun hasil tanam rotasi I dari Sumatera Selatan.Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  bertambahnya  umur  kayu cenderung menaikkan  berat jenis kayu dan kadar pentosan  dengan nilai berkisar antara 0.47-0.56  dan 16.69%  - 17.84%.   Sedangkan untuk kadar selulosa (52.12% - 50.53%), kadar lignin  (29.81%   -  28.51%), kelarutan     dalam alkohol-benzena  (6. 77%  -4.38%),  kelarutan  dalam air dingin  (4.85% -3.44%)  dan derajat  keasaman  (6. 7 -5. 7)  cenderung turun.  Bertambahnya  umur  kayu  memberikan  nilai  yang  ber- fluktuatif  untuk  kelarutan   dalam  air panas  (4. 74%  -  5.50%),   kelarutan  dalam NaOH  (16.25% - 18.94%),  kadar  abu (0.31%  - 0.83%)  dan kadar silika (0.06%-0.46%). Kayu  mangium  sebagai   bahan  baku  pulp  pada   umur  6  dan  12  tahun  menghasilkan  komponen kimia lebih baik dari pada kayu umur 7, /0 dan 11 tahun. Tetapi apabila  ditinjau dari kandungan selulosa  dan daurnya maka  kayu umur 6 tahun adalah yang terbaik.
KOMPONEN KIMIA DAN POTENSI PENGGUNAAN LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL ASAL JAWA BARAT Novitri Hastuti; Lisna Efiyanti; Gustan Pari; Saepuloh Saepuloh; Dadang Setiawan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.992 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.1.15-27

Abstract

Hutan Indonesia memiliki potensi pohon tropis yang sangat beragam. Salah satu komoditi utama yang dihasilkan dari pohon sebagai komponen utama penyusun hutan adalah kayu. Penggunaan kayu umumnya disesuaikan dari sifat kayu, seperti sifat fisik-mekanik, sifat keterawetan dan sifat dasar lainnya. Salah satu sifat kayu yang penting dan menentukan karakteristik penggunaannya antara lain sifat kimia. Penelitian ini menganalisis komponen kimia 5 jenis kayu yang kurang dikenal asal Jawa Barat, yaitu ki bugang, sempur lilin, cangcaratan, ki pasang, dan ki langir. Analisis meliputi komponen kimia kayu sesuai standar Norman Jenkin, Standar Nasional Indonesia (SNI) dan TAPPI. Hasil analisis menunjukkan bahwa ki bugang memiliki kadar selulosa dan pentosane tertinggi, masing-masing sebesar 52,57% dan 21,37%. Kayu cangcaratan memiliki kadar lignin tertinggi yaitu sebesar 31,84%. Ki langir memiliki nilai kelarutan dalam air dingin, kelarutan dalam alkohol-benzena dan kelarutan dalam NaOH tertinggi, masing-masing sebesar 3,34%, 2,75%, dan 22,17%. Kayu Sempur lilin memiliki kelarutan dalam air panas tertinggi sebesar 8,56%. Ki langir juga memiliki kadar abu tertinggi sebesar 3,60% dan kayu sempur lilin memiliki kadar silika tertinggi sebesar 1,92%. Berdasarkan pemetaan potensi penggunaannya, kayu cangcaratan lebih berpotensi sebagai bahan baku pulp dan kayu energi, sedangkan kayu ki bugang lebih berpotensi sebagai bahan baku bioetanol.
ANALISIS KOMPONEN KIMIA DARI KAYU KURANG DIKENAL DARI KALIMANTAN TIMUR Gustan Pari; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2001.19.4.201-207

Abstract

This paper reported the results of chemical components of several lesser known wood species from East Kalimantan. The wood species were Kayu Arang (Diospyros macrophylla), Nyaling (Mastixia trichotama), Penjalin (Drypetes), Lansat Hutan (Lansium) and Kayu Goding (Koilodepes).The analysis were comprised of the determination of holocellulose, hemicellulose, -cellulose, lignin, pentosane; ash content and silicate content. The solubilities in alcohol benzene, cold water, hot water and solubility in NaOH 1 % were also covered. These analyses pertaining to the basic wood characteristics were conducted to assess the ultimate utilization of the wood species as such, especially for pulp manufacture. The result showed that holocellulose content ranged from 71.17-81.20 %, hemicelluloce from 27.51-35.88 %, -celluloce from 43.15-48.73 %, lignin from 22.73-33.60 %. Pentosan from 15.28-18. 79 % ash content from 0.5 -1.34 %, and the silicate content from 0.12-0.49 %. Furhter, the solubilities in cold water ranged from I. 79- 3.24 %, hot water from 5.50- 7.21 %, alcohol benzene from 1.62- 3.65 % and solubility in NaOH I% from 14.21-16.90 %.Based on results of chemical analysis. especially with respect to holocellulose, lignin and pentosan content. most wood species are suitable as raw material for pulp and paper industry. For lansat hutan (Lansium sp), kayu arang (Diospiros macrophylla) and gading (Koilodepes) species, their considerable extractive content as shown by high solubilities in the organic solvent should be considered since it could reveal high wax content as well.
KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT Gustan Pari; Han Roliadi; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.911 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.2.89-101

Abstract

Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon Meissu), suren (Toona sureni Merr), ki bawang (Melia excelsa Jack.), pulai kongo (Alstonia kongoensis), tusam (Pinus merkusii Jungth), sengon buto (Entorolobium cyclo), kapur (Dryobalanops aromatica), salamander (Grevillia robusta A.cunn), mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers).Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa, lignin, pentosan, abu, kelarutan dalam air dingin, air panas, alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas.Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64,6 - 69,9%, lignin antara 26,0 - 30,9%, pentosan antara 15,6 - 18%, abu antara 0,2 - 0,9%, silika antara 0,1 - 0,5%. Kelarutan dalam air dingin antara 2,4 - 6,3%, air panas antara 3,0 - 7,3%, alkohol benzena antara 1,5 -5,75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9,1 - 20,7%.Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh, suren, ki bawang, tusam, sengon buto, kapur, salamander, mahoni dan ki lemo, kecuali kayu pulai kongo yaitu 64,6%. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang, karena kadarnya ada di antara 18 - 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0,2 - 6,0% untuk kadar abu. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 - 4% adalah kayu suren, ki bawang, tusam dan ki lemo, dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo, sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto, kapur, salamander dan mahoni.Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas, sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu  suren, ki bawang,  tusam, sengon buto, kapur, salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia, dan semikimia.
ANALISIS KIMIA 9 JENIS KAYU DARI IRIAN JAYA Gustan Pari; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 2 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3307.623 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.2.87-93

Abstract

Tulisan ini mengemukakan analisis komponen kimia kayu dari lrian Jaya sebanyak 9 jenis. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian sifat dasar yang dilaksanakan setiap tahun di Pusat Penelitiaan dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Maksudnya adalah untuk mengetahui sifat kayu yang penting seperti sifat .fisis, mekanis dan kimia yang berguna bagi penggunaan kayu. Analisa yang dilakukan meliputi penetapan kadar holoselulosa, selulosa, lignin, pentosan, BJ, air, abu, silika, kelarutan dalam air dingin, air panas, alkohol benzena 1 : 2 dan kelarutan dalam NaOH 1 %. Analisa ini berguna untuk menentukan perkiraan kegunaan kayu seperti untuk pulp dan turunan selulosa.Hasil analisa memperlihatkan bahwa kadar holoselolusa berkisar antara 69,61 - 75,21 %, selulosa 47,33 - 54,80 %, lignin 24,79 - 30,39 %, pentosan 1,18 - 18,48 %, berat jenis 0,36- 0,85 g/cm3 , kadar air 9,20 - 15,44 %, abu 0,79 - 1,90 %, silika 0,33 - 1,07 %, kelarutan dalam air dingin 4,33 - 7,41 %, air panas 4,67- 9,47 %, alkohol benzena (1: 2) antara 1,99 - 9,21 % dan kelarutaan dalam NaOH 1 % antara 18,16 - 30,07 %.Berdasarkan standar FAO untuk pulp, maka 9 jenis kayu dari irian Jaya cukup baik untuk dibuat pulp.
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMIS PRODUKSI ARANG AKTIF INDUSTRI PEDESAAN Tjutju Nurhayati; Saepuloh Saepuloh; Sylviani Sylviani
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 5 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.5.353-366

Abstract

The objectives of this trial was to produce activated charcoal from 5 raw material species which are abundantly potential. The production was conducted in an experimentally designed kiln, expectedly appropriate as a manufacturing prototype of activated charcoal for the inherent endeavors or small-scale village industries, which would be feasible technically, economically, and environmentally. The parameters related to the technical analysis covered the manufacture of charcoal from three wood species (bakau, mangium, and tusam) and coconut shell; analysis on raw material for such charcoal and on the mixed charcoal from the market; activation process using water vapor and air at consecutively 0.25 bar and 4-5 atmospheric pressures, with the temperature as high as 705-805°C; and analysis on iod number for the quality of activated charcoal. For economic evaluation, the inherent parameters covered production cost, activated charcoal price, and other related aspects. For the comparative assessments were used activated charcoals from sawdust and coconut shell from industry. The results are as follows:The yields of resulting activated charcoal were varying, i.e 77% from mangrove charcoal as the highest, followed in decreasing order at 73% from coconut shell charcoal, 66% from both mangium and mixed charcoal, until 58% from tusam charcoal as the lowest. lod number of activated charcoal ranged between 472-722 mg/g, with the one from coconut shell charcoal as the highest and the mangrove charcoal as the lowest. The increase of iod number in coconut shell activated charcoal was the highest with six times higher in comparison to the one in its regular charcoal, followed in decreasing order by those mixed charcoal, tusam charcoal. until mangrove charcoal as well as mangium charcoal as the lowest ( i.e consecutively 3.98 times, 3.39 times and 2.45 limes).Compared to the Indonesian requirement standard for activated charcoal, such production trial of activated charcoal seemed to be insatis factory. This is caused by overall iod numbers which were still below 750 mg/g. However, the iod number in activated charcoal from coconut shell in this trial was still higher than the one in the corresponding activated charcoal produced commercial industries (i.e 722 mg/g). Meanwhile, the iod number in activated charcoal from mixed charcoal (654 mg/g) was lower, but still higher than those from tusam and mangium.The retort for the production trial activated charcoal was constructed of stainless steel reactor with 120 liter volumetric capacity and capable of producing 10 kg per day, using regular charcoal as raw material and firewood as a fuel. This retort was designed as a prototype model for the production of activated charcoal for small-scale industries. The method of production expectedly will not bring about enviromental impacts, since the generated vapour/gas during the activation was immediately incinerated in the fuelwood fire pol.The analysis revealed that the production using coconut shell charcoal as raw material in the retort with design capacity of 250 kg per month and 5 years technical life could be sold at Rp 6,000.- per kg of activated charcoal and therefore could bring in some net benefit at 5.5%. Activated charcoal production using mixed wood charcoal did not give significant any benefit. The benefit of activated charcoal production using coconut shell in that period would be even higher.