Claim Missing Document
Check
Articles

PENELAAHAN PENGARUH WAKTU PENGKONDISIAN DAN PENGGUNAAN PARAFIN PADA CONTOH UJI TERHADAP EMISI FORMALDEHIDA PAPAN PARTIKEL Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.1.86-93

Abstract

Determination of the formaldehyde emission from particleboard can correspond to the American and Japan Standards. However, the difference in preparing the test sample of particlebourd can bring about different results on the determination of such formaldehyde emission. this report deals with assessing the effect of conditioning duration and the use of paraffin in preparing the test sample of particleboard in accordance with both American and Japan Standars on the formaldehyde emission.The results revealed that conditioning duration and the me of puroffin affected significantly theemission of formaldehyde from the tested sample of particleboard the longer the duration, the lower, the emission level. Meanwhile, the use of paraffin on the particleboard sample tended to lower its formaldehyde emission than the one from the sample without paraffin. The relation between conditioning duration (X) and formaldehyde emission (Y) could further be expressed in linear regression equations with significant negative correlation coefficients (r) as follows: Without paraffinY = 4.20- 0.27X ( r = - 0. 9348); US standardY = 12.68- 0.98X ( r = - 0. 9433 ); Japan standard with paraffin.Y= 2.75 - 0.22X ( r = - 0.9756); US standardY = R.46 - 0.33X ( r = - 0.9824); Japan standard At a given conditioning duration, the average emission of formaldehyde from the particleboard with paraffin decreased by 1.61 µg/mm (according to American Standards) and 2.14 µg/ml (according to Japan Standard). Therefore, such figures confirmed the case that different sample preparation to particleboard in accordance with American and Japan Standards brought about different levels of formaldehyde emission.
PENGARUH JENIS PEREKAT DAN KOMBINASI JENIS KAYU TERHADAP KETEGUHAN REKAT KAYU LAMINA Adi Santoso; Jamaludin Malik
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.5.375-384

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan tiga jenis perekat, yaitu lignin resorsinol formaldehida (LRF), tanin resorsinol formaldehida (TRF) dan fenol resorsinol formaldehida (PRF) dengan lama pengempaan yang berbeda terhadap keteguhan rekat kayu lamina dari kombinasi tiga jenis kayu, yaitu: tusam (Pillus merkusii), damar (Agathis sp.). dan gmelina (Gmelina arborea). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis perekat, jenis kayu dan interaksinya maupun lama pengempaan masing-masing berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lamina. Demikian pula interaksi antara jenis perekat dengan susunan jenis kayu, jenis perekat dengan masa kempa, jenis kayu dengan masa kempa, serta jenis perekat dengan susunan jenis kayu berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lamina. Hasil uji kering menunjukkan bahwa keteguhan rekat tertinggi (110,88 kg/cm2) diperoleh dari kayu lamina yang dibuat dari kombinasi jenis kayu tusam, gmelina dan damar dengan perekat LRF yang dikempa selama 8 jam. Kayu lamina yang dibuat dari kombinasi jenis kayu tersebut yang diuji pada kondisi basah, memiliki keteguha tertinggi (43,73 kg/cm2) dengan menggunakan perekat PRF dan dikempa selama 15 jam. 
PENGARUH LAPISAN KAYU TERHADAP SIFAT BAMBU LAMINA I M Sulastiningsih; Nurwati Nurwati; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.1.15-22

Abstract

Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengganti kayu untuk bahan bangunan. Masalah pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. Pembuatan produk bambu lamina merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.Penelitian pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina (3 lapis) telah dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), sedangkan perekatnya adalah tanin resorsinol formaldehida (TRF). Kayu yang digunakan adalah mangium (Acacia mangium) dan tusam (Pinus merkusii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan kayu sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina. Bambu lamina yang semua lapisannya terdiri dari bambu, kerapatannya lebih tinggi (0,8 g/cm3) dibanding bambu lamina yang lapisan tengahnya dari kayu mangium (0,7 g/cm3) dan tusam (0,64 g/cm3). Bambu lamina yang lapisan tengahnya kayu tusam mempunyai sifat kestabilan dimensi yang paling rendah dibanding bambu lamina lainnya. Sifat mekanis bambu lamina menurun dengan adanya lapisan kayu dalam komposisi lapisan penyusunnya.
KUALITAS HARDBOARD DUA JENIS BAMBU DENGAN TAMBAHAN TANIN RESORSINOL FORMALDEHIDA Dian Anggraini Indrawan; Ignasia Maria Sulastiningsih; Rossi Margareth Tampubolon; Gustan Pari; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.1.29-42

Abstract

Hardboard dapat dibuat dari berbagai macam bahan serat berligno-selulosa. Di Indonesia dewasa ini ketersediaan bahan baku serat konvensional (khususnya kayu hutan alam tropis) untuk hardboard semakin terbatas dan langka, sedangkan produksi domestik hardboard belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Bahan baku serat alternatif  yang potensinya berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan perlu diperkenalkan, diantaranya bambu. Penelitian pemanfaatan bambu sebagai bahan baku pembuatan hardboard telah dilakukan dengan memanfaatkan dua jenis bambu yaitu bambu tali (Gigantochloa apus) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris). Masing-masing jenis bambu diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas terbuka.  Hardboard dibuat dengan 5 proporsi campuran pulp bambu tali + bambu ampel yaitu 100%+0%, 75%+25%, 50%+50%, 25%+75%, dan 0%+100%. Tiap proporsi ditambahkan perekat tanin-esorsinol-formaldehida (TRF) sebesar 0%, 6% and 8% dari berat kering pulp. Lembaran hardboard dibentuk dengan cara basah lalu diuji sifat fisis dan mekanisnya. Hasil penelitian menunjukkan penambahan TRF hingga 8% meningkatkan sifat fisis dan mekanis hardboard. Hardboard dari serat pulp bambu ampel 100% memiliki kualitas tertinggi karena sifatnya banyak memenuhi persyaratan JIS dan ISO untuk kerapatan, modulus elastisitas lentur (MOE), modulus patah (MOR) dan keteguhan rekat internal (IB). Sementara itu, hardboard dari serat bambu tali 100% memiliki kualitas terendah. Performa hardboard dari campuran pulp bambu tali + bambu ampel pada proporsi 50%+50% dan 25%+75% memiliki tingkatan kualitas pada urutan kedua dan ketiga. Papan serat bambu tali yang berkualitas rendah diharapkan dapat diperbaiki melalui penambahan perekat TRF.
KUALITAS REKATAN BILAH SAMBUNG JARI PADA LIMA JENIS KAYU DENGAN PEREKAT LIGNIN DAN TANIN Adi Santoso; Osly Rachman; Jamaludin Malik
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.3.187-195

Abstract

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komponen senyawa dalam lignin dan tanin dapat dibuat kopolimer dengan resorsinol dan formaldehida membentuk resin lignin dan tanin formaldehida untuk produksi kayu lamina eksterior.Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas lignin resorsinol formaldehida dan tanin resorsinol formaldehida dalam pembuatan bilah sambung jari dari lima jenis kayu untuk bangunan perkapalan, yaitu: tempeas (Teysmanniodendron sympliciodes Kosterm), waru (Hibiscus tiliaceus L), bunyo (Trioma malaccensis Hook F.), gambir (Trigonopheura malayana Hook F.), dan rasamala (Altingia exelsa Noronha) terhadap sifat mekanisnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak dijumpai adanya delaminasi bilah sambung jari pada kelima jenis kayu. Sifat mekanis dari bilah sambung jari dipengaruhi secara nyata oleh jenis kayu, jenis perekat dan interaksi kedua faktor tersebut.
PENELAAHAN PENGARUH WAKTU PENGKONDISIAN DAN PENGGUNAAN PARAFIN PADA CONTOH UJI TERHADAP EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS *) Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.18.2.79-86

Abstract

Pada penetapan emisi formaldehida dari kayu lapis berdasarkan Standar Amerika dan Standar Jepang, perbedaan dalam persiapan contoh uji dapat menyebabkan nilai emisi formaldehida yang diperoleh berbeda pula. Dalam tulisan ini dikemukakan tentang pengaruh waktu pengkondisian (conditioning) dan penggunaan parafin pada contoh uji terhadap emisi formaldehida kayu lapis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh waktu pengkondisian dan penggunaan parafin pada contoh uji terhadap emisi formaldehida kayu lapis adalah sangat nyata. Semakin lama waktu pengkondisian, makin rendah emisi formaldehida kayu lapis, sementara untuk kayu lapis yang diberi parafin menghasilkan emisi formaldehida yang lebih rendah daripada yang tanpa parafin. Hubungan antara waktu pengkondisian (X) dengan emisi formaldehida (Y.) dapat dinyatakan dengan persamaan regresi, dengan koefisien korelasi nyata (r) sebagai berikut:- tanpa parafinY = 5,1 -0,52X (r = - 0,9246); menurut StandarAmerikaY= 10,93 - 1,32 X ( r = - 0,9433); menurut Standar Jepang- dengan parafin,Y = 483 - 0,43X (r = - 0,9756); menurut Standar AmerikaY = 9,01 - 0,9X (r = - 0,9824); menurut StandarJepangDalam hal ini terjadi penurunan emisi formaldehida dari contoh kayu lapis bila diberi parajin dibandingkan dengan tanpa parafin. Nilai rata-rata emisi formaldehida pada kayu lapis yang diberi parafin berkurang sebanyak 0,69 µg/ml (16,6%) daripada tanpa parafin menurut Standar Amerika, dan 0,57 µg/ml (8.5%) menurut Standar Jepang. 
PENGARUH PENAMBAHAN UREA DAN MELAMIN PADA PEREKAT UREA FORMALDEHIDA TERHADAP EMISI FORMALDEHIDA DAN SIFAT FISIS-MEKANIS PAPAN PARTIKEL Paribotro Sutigno; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 5 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6929.706 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.5.178-191

Abstract

The formaldehyde  emtsston of particleboard  bonded  with  urea formaldehyde  (UF) can affect health, especially if it is used in a room with limited ventilation.  To reduce formaldehyde emission,  the glue can be mixed with catching agent.  In this report, the effect of using urea and melamine as catching agents on formaldehyde  emission,   and on the physical  and mechanical properties  of UF bonded particleboard is described.The effect of percentage  of catching agent on formaldehyde  emission is highly significant. The higher  the percentage  of catching agent,  the lower formaldehyde  emission of particle­board.  On urea­melamine  (U/M) ratio of  4,  the formaldehyde  emission of particleboard  can meet American  and Japanese  Standard on the percentage  of 5,  10  and 15%,  while on  U/M ratio of 7 and 10,  the formaldehyde  emission can conform the standards on the percentage  of 10  and 15%.   The effect  of addition of  urea and melamine  was significant and  even highly significant on the physical and mechanical properties,  but not on the shear strength.  The effect of U/M ratio was either not significant.Key words :  particleboard,  urea-melamine,  formaldehyde emission,  physical and  mechanical properties.
KETEGUHAN LENTUR STATIS BALOK LAMINA DARI TIGA JENIS KAYU LIMBAH PEMBALAKAN HUTAN TANAMAN Jamaludin Malik; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7158.979 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.5.385-397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat keteguhan lentur dan patah (MOE dan MOR) balok lamina dari kayu limbah pembalakan hutan tanaman dengan menggunakan tiga jenis perekat yaitu lignin resorsinol formaldehida (LRF), tanin resorsinol formaldehida (TRF) dan phenol resorsinol formaldehida (PRF). Kayu lamina dibuat dari komposisi tiga jenis kayu yaitu tusam (Pinus merkusii), damar (Agathis sp.). dan gmelina (Gmelina arborea).Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kempa 8 jam menghasilkan nilai MOE lebih besar sedangkan masa kempa 12 jam meningkatkan MOR. Komposisi jenis terbaik dari kayu lamina berdasarkan MOE dan MOR-nya adalah agatis-agatis-agatis pada masa kempa 8 jam. Ketiga jenis kayu limbah pembalakan memiliki sifat perekatan yang baik dan cocok dibuat produk kayu rekonstitusi khususnya kayu lamina tipe eksterior untuk keperluan struktural. 
PENGARUH FUMIGASI AMONIUM HIDROKSIDA TERHADAP EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS DAN PAPAN PARTIKEL Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4439.449 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2004.22.1.9-16

Abstract

The formaldehyde emmision of panel products such as plywood and particleboard bonded with urea formaldehyde (UF) may affect health, especially when they are used in a room with poor ventilation. To reduce formaldehyde emission, the products can be fumigated by a chemical agent. This paper described the effect of fumigation by ammonium hydroxide 25% on formaldehyde emission of UF bonded plywood and particleboard.The effect of fumigation by ammonium hydroxide on formaldehyde emission of plywood and particleboard are higly significant. The longer the fumigation by ammonium hydroxide, the lower the formaldehyde emission of plywod and particleboard. Fumigation by ammonium hydroxide of 1 hour and 1. 5 hours, the formaldehyde emission of plywood and particleboard can meet Japanese Standard on the mean value of 0.632 mg/I and 0.349 mg/I for plywood, and 4.594 mg/l and 2.225 mg/l for particleboard. Meanwhile, fumigation on particleboard of 1. 5 hours and on plywood of all treatment 0.5 to 1.5 hours, the formaldehyde emission can conform with American Standard on the mean value of 0.261 mg/l for particleboard and 0.154 to 0.042 mg/I for plywood. On the basis of formaldehyde emission standards, it is recomended than the fumigation by ammmonium hydroxide 25% may be used in plywood for 70 minutes and on particleboard for 80 minutes.
PEMANFAATAN LIGNIN DARI LINDI HITAM UNTUK PEMBUATAN KOPOLIMER LIGNIN RESORSINOL FORMALDEHIDA SEBAGAI PEREKAT KAYU LAMINA Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 3 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3307.45 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2004.22.3.143-154

Abstract

Black liquor as a waste of (yielded by) pulp factories in Indonesia was estimated to reach more than 2.3 million tonnes/year. The use of this liquid has long been explored for wood adhesive, particularlyfor glue cold setting type. In this research, black liquor was isolated to get lignin isolate by re-precipitation method. The lignin isolate was then added with resorcinol and formaldehyde at molar ratio of Lignin (L): Resorcinol (R): Formaldehyde (F) = 1:0.5:2. Physical. mechanical, and chemical properties of the glue were tested and evaluated using procedures described in Indonesian standard (SN/)and Japanese standard (JAS).Results indicated that the isolate lignin obtained from black liquor contained typical functional groups, namely hydroxyphenolic and  metoxyl. Under FTIR spectrophotometer. the co-polymer lignin resorcinol formaldehyde showed similar infrared wave number  to those of  phenol  resorcinol formaldehyde  resin. The adhesive  yielded from co-polymerization lignin had  a  red-brown colored dilution, typical phenol smell, with 48.95% of  solid content, 3. 71% of free formaldehyde,  and  227.5 minute of gelatinous time. The Lignin resorcinol formaldehyde glue is applicable for laminated  wood  products.