Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh komposisi perekat tanin urea formaldehida terhadap keteguhan rekat kayu lapis meranti Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.3.87-93

Abstract

Based on previous  research  tannin formaldehyde  resin from  Acacia   decurens     bark can  be used for  exterior plywood adhesive.  To reduce  the cost,   the effect of urea addition  to produce tannin   urea formaldeliyde   resin has been  studied.   The other treatment  employed is percentage of paraformaldehyde as hardener.The  results  show  that   the  properties  of  tannin  urea formaldehyde   resin  conform  with Indonesian standard for  phenol formaldehyde  resin.   The effect  of weight ratio based on mol ratio on  the plywood  bonding strenght is significant,  while the effect ofpercentage  of hardener   is not significant.    the  weight ratio tannin.urea =  1:2 with three percentages of hardener meet German standardfor exterior plywood (type AW-100).   The  weight ratio tannin urea =  1=2,5  with 2,5%   and 5% hardener  meet the standard, while the weight ratio tannin:urea  =  1:3  do not meet the standard. The plywood bonding strenght  tends    to  decrease if using more urea.  Based on economic consideration,  it is recommended 10   use weight  ratio tannin.urea  =   1:2,5  based on  mol  ratio with percentage of hardener 2,5%   of liquid resin.
PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocepbalus LIGHT.) Jasni Jasni; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.4.301-308

Abstract

Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida.Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimetilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 -80OC selama 1 jam. Nisbah mol lignin: formalin = 1 : 2. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam, masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya diuji ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering.Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin formaldehida yang dibuat dari ke-3 jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam dengan tingkat kematian rayap kayu kering antara 62,4 - 100,0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II.
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTENDER DALAM PEREKAT FENOL FORMALDEHIDA TERHADAP KETEGUHAN REKA T KAYU LAPIS TUSAM Adi Santoso; Anita Firmanti; Rini Asniar Karno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 5 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.5.337-347

Abstract

Resin fenol formaldehida merupakan suatu perekat yang digunakan dalam pembuatan kayu lapis eksterior. Beberapa bahan dapat ditambahkan pada resin tersebut untuk menghemat biaya. Pada tulisan ini dikemukakan hasil penelitian tentang pengaruh penambahan ekstender pada resin fenol formaldehida terhadap keteguhan rekat kayu lapis tusam (Pinus merkusii Jungh et. de Vrise). Ekstender yang digunakan ada 2 macam, yaitu tepung gandum dan tepung gaplek dengan 5 macam kadar yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% dari berat perekat cair.Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam ekstender tidak berpengaruh nyata terhadap keteguhan rekat kayu lapis, sedangkan kadar ekstender berpengaruh sangat nyata. Semakin tinggi kadar ekstender, keteguhan rekat kayu lapis cenderung berkurang. Kadar ekstender maksimum yang memenuhi persyaratan Standar Indonesia adalah 20% masing-masing untuk tepung terigu dan tepung gaplek, sedangkan pada Standar Inggris adalah 20% untuk tepung terigu dan 10% tepung gaplek.
KUALITAS KAYU LAMINASI DENGAN PEREKAT TANIN DARI EKSTRAK KULIT KAYU MAHONI Adi Santoso; Efrida Basri; Jamal Balfas
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2020.38.3.151-160

Abstract

Komponen kimia polifenol produk ekstraksi dari kayu mahoni (Swietenia macrophylla) dengan kopolimerisasi resorsinol dan formaldehida dalam kondisi basa, menghasilkan resin yang dapat digunakan sebagai perekat. Tulisan ini menyajikan penggunaan kopolimer tanin dari ekstrak kulit kayu mahoni sebagai perekat kayu laminasi. Metode penelitian mencakup formulasi dan pengujian sifat fisiko-kimia perekat, pembuatan dan pengujian kualitas produk perekatan, dan analisis data. Perlakuan yang dikenakan dalam penelitian ini berupa perbedaan formula perekat, jenis kayu yang digunakan sebagai bahan baku, dan jenis produk yang dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk kopolimerisasi tanin ekstrak dari kulit kayu mahoni dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan kayu laminasi barupa balok (glulam) dan papan lamina (laminated board) dari tiga jenis kayu, yaitu: tusam (Pinus merkusii), jabon (Anthocepalus cadamba), dan sengon (Falcataria moluccana). Kualitas perekatan dan sifat mekanik kedua jenis produk tersebut sebanding dengan produk sejenis berperekat impor serta tergolong tipe eksterior rendah emisi formaldehida katagori F** atau F***, dengan formula perekat T:R:F = (1:0,025:0,1)%, dan T:K:F = (1:0,03:0,1)%.
PENGARUH PENAMBAHAN TANIN PADA FENOL FORMALDEHIDA TERHADAP SIFATNYA SEBAGAI PEREKAT KAYU LAPIS Adi Santoso; Suminar S Achmadi; Yusuf Sudohadi; Sujanto) Sujanto)
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 2 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.2.109-119

Abstract

Perekat fenol formaldehida merupakan perekat yang dipakai dalam pembuatan kayu lapis eksterior. Untuk mengurangi biaya dapat ditambahkan bahan lain pada perekat tersebut. Pada penelitian ini dilakukan penambahan tanin dari 3 macam tumbuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh derajat keasaman (pH) tanin mangium, mimosa dan quebracho sebagai campuran perekat fenol formaldehida terhadap sifat perekat dan terhadap keteguhan rekat kayu lapis tusam.Pengaruh pH terhadap sifat perekat adalah: semakin basa pH tanin, maka perekat semakin menggumpal dengan demikian waktu gelatinasi perekat semakin pendek. Nilai keteguhan rekat kayu lapis tertinggi tercapai pada perlakuan pH tanin 8. Semakin tinggi nilai pH, keteguhan rekat kayu lapis cenderung makin menurun. Namun demikian semua perlakuan pH dari ketiga jenis tanin masih memenuhi standar Jepang untuk kayu lapis tipe I.
PENENTUAN DAN APLIKASI FORMULA PEREKAT NABATI DARI EKSTRAK KULIT KAYU MAHONI PADA LAMINASI KAYU JABON (Anthocephalus cadamba) Abdurachman Abdurachman; Adi Santoso; Rohmah Pari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2021.39.2.99-105

Abstract

Kebutuhan perekat kayu berbasis fenolik dalam negeri tetap tinggi sedangkan bahan tersebut sampai saat ini merupakan bahan impor, sehingga diperlukan perekat alternatif. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik tanin mahoni dan formulasi efektif perekat alternatif berbahan baku ekstrak kulit pohon mahoni dengan ekstender tepung tapioka dan terigu industri untuk diaplikasikan pada produk komposit atau produk rekatan. Kulit kayu mahoni dipotong berukuran 2 cm x 1 cm x 0,1 cm, diekstraksi dengan air panas (70–80º C) pada perbandingan 1:3 (b/b, bahan/air) selama 3 jam dengan 2 kali pengulangan. Setelah produk ekstraksi disaring, filtratnya dikopolimerisasi menggunakan resorsinol dan formaldehida pada kondisi basa dan suhu kamar untuk menghasilkan resin tanin resorsinol formaldehida (TRF). Campuran tepung tapioka dan terigu industri (1:1 b/b) sebagai ekstender digunakan dalam aplikasi TRF pada pembuatan  produk komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak cair kulit pohon mahoni ini dapat dikopolimerisasi membentuk resin yang dapat diaplikasikan sebagai perekat kayu dengan proses kempa dingin. Formula optimum perekat yang diperoleh adalah menggunakan campuran 0,25 mol resorsinol dan formaldehida 1 mol, dengan ekstender 15%, serta katalis (NaOH 40%) sebanyak 4% dari total bobot formula perekat. Karakteristik perekat tanin mahoni menyerupai perekat golongan fenolik tipe eksterior.
PENGARUH KOMPOSISI PEREKAT FENOL FORMALDEHIDA TERHADAP.KETEGUHAN REKAT KAYU LAPIS SENGON Rodjak Memed; Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 3 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1990.8.3.106-108

Abstract

In the future. phenol formaldehyde resin will be used in greater quantity due to ita capability inproducing weather and boil•proof plytDood. This paper discribet two aapects, i.e. ':  the effect of weight ratio of phenol and formaldehyde on the propemea  of phenol formaldehyde  resin and plywood  bonding strength; and the effect of filler proportion on the bond.inf ltrength of se111on plywood glued with phenol formaldehyde.77ae resulta showed that the properties of phenol formaldehyde resin which were produced in three different com- positions were met  Indonesian Standard. The effect of filler proportion on plywood  bonding strenfth waa significant, but the effect  of  weight ratio of phenol  formaldehyde and their interaction were not significant. The bond.inf strength of plywood  glued .with phenol  formaldehyde at 1111  compositio1u were conformed   with German standard for exterior ply- wood. The_ rwlati_onship between filler proportion and plywood  bonding strength could be exprwued by quadratic regreBBion.
PENGARUH KOMPOSISI PEREKAT LIGNIN FENOL FORMALDEHIDA TERHADAP KETEGUHAN REKAT KAYU LAPIS TUSAM Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.4.189-198

Abstract

Berdasarkan penelitian terdahulu senyawa lignin yang diantaranya terdapat dalam limbah pabrik pulp dapat digunakan untuk perekat kayu lapis eksterior. Untuk meningkatkan mutunya, pengaruh penambahan fenol untuk menghasilkan perekat lignin fenol formaldehida, dlteliti. Perlakuan lain yang diterapkan adalah pemakaian kadar paraformaldehida sebagai pengeras. Hasilnya menunjukkan bahwa sifat-sifat perekat lignin fenolformaldehida sesuai dengan perekat fenol formaldehida menurut Standar Indonesia. Pengaruh nisbah bobot berdasarkan nisbah mol dan kadar pengeras terhadap keteguhan rekat kayu lapis masing-masing sangat nyata. Umumnya, nisbah bobot lignin : fenol dari 1: 0,5 sampai dengan 1:2,5 dengan ketiga macam kadar pengeras, memenuhi persyaratan Standar Indonesia untuk kayu lapis eksterior (tipe I). Nisbah bobot lignin: fenol = 1:2,0 dan 1:2,5 dengan kadar pengeras masing-masing 4,5% tidak memenuhi persyaratan.Keteguhan rekat kayu lapis cenderung menurun bi/a penggunaan fenol makin banyak. Berdasarkan pertimbangan ekonomi, disarankan untuk menggunakan nisbah mol lignin : fenol = I: 0,5 dengan kadar pengeras 1,5 % dari berat perekat cair.
COMPATIBILITY OF SOME ADHESIVES WITH BATANG RATTAN (Calamus zollingeri Becc.) AS RAW MATERIAL OF RATTAN LAMINATED BOARD Adi Santoso; Ignasia M. Sulastiningsih; Rohmah Pari
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 9, No 2 (2022): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Agency for Standardization of Environment and Forestry Instruments

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2022.9.2.185-195

Abstract

Rattan in Indonesia is traditionally utilized for furniture, binding materials, household appliances, and handicraft items. Small diameter rattans are commonly used by craftsmen, while large diameter rattans are not optimally utilized. Large diameter rattan, however, has potential to be developed into rattan laminated board (RLB) by gluing rattan strips using appropriate adhesive. Nevertheless, the information of the suitable natural adhesive for RLB production is still limited. Laboratory scale of RLBs with the dimensions of 60 cm x 7.5 cm x 1.5 cm were manufactured using batang rattan strips (Calamus zollingeri Becc.). The strips were glued with six types of adhesives (4 types of natural adhesives and 2 types of commercial synthetic adhesives) and three glue spread rates of (100, 150, and 200 g/m2) were used. The study objective was to determine the effect of rattan pre-treatments, adhesive types and glue spread rates on the bonding quality and formaldehyde emission of RLBs. The results showed that batang rattan can be processed into RLBs by using natural adhesives originating from wood bark extract (mangium, mahogany), merbau wood powder, as well as commercial synthetic adhesives such as isocyanate and polyurethane. The appropriate pre-treatment in producing RLBs for interior furniture was by applying oil heat treatment with kerosene solution (80 kerosene : 20 water) and glued with tannin adhesive of mangium bark extract with glue spread of 200 g/m2. Similarly, rattan strips treated with heated oil (80 kerosene : 20 water) and glued with polyurethane adhesive (glue spread of 200 g/m2) produced excellent RLBs for exterior furniture.