Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENGARUH TEKNIK PEMUTIHAN PULP SULFAT TERHADAP MUTU PULP DAN LIMBAH CAIR Rena M Siagian; Han Roliadi; Kayano Purba; Melina Melina
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 2 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.2.77-88

Abstract

Di Indonesia, pengolahan pulp kimia  berbahan baku kayu umunrnya menggunakan proses sulfat. Salah satu kelemahan proses sulfat ialah derajat kecerahan pulp yang rendah, sehingga memerlukan teknik pemutihan  yang efektif saat ini mulai dikembangkan teknik pemutihan pulp dengan  pengurangan  dan  atau  tanpa  penggunaan  klorin  elementer untuk  menekan  pencemaran lingkungan.Penelitian ini menggunakan kayu  ampupu (Eucalyptus urophylla)  dan  sampinur  bunga (Podocarpus sp.) asal dari Sumatera Utara. Pembuatan pulp menggunakan proses sulfat dengan kondisi pemasakan : alkali aktif 17%,  sulfiditas 25%, suhu maksimum 1700'C, waktu pemasakan 4 jam dan  bobot kayu  banding  larutan pemasak 1 : 4. Teknik pemutihan yang diterapkan adalah C/DEoDED. DEopDED. DEoDEpD dan CEHEH sebagai pembanding.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pulp kayu ampupu, modifikasi teknik pemutihan dari  CEHEH menjadi C/DEoDED. DEopDED dan DEoDEpD, menghasilkan rendemen pulp putih yang tidak  berbeda. Pada pulp  kayu  sampinur  bunga, perbedaan  teknik pemutihan menghasilkan rendemen pulp putih yang berbeda, tetapi semuanya di bawah rendemen yang umum diperoleh dengan proses kimia (<40%). Rendemen pulp putih kayu ampupu lebih tinggi dibandingkan pulp asal kayu sampinur bunga.Secara umum dapat dikatakan bahwa keteguhan pulp sampinur bunga lebih tinggi daripada pulp  ampupu.  Modifikasi  teknik  pemutihan CEHEH menjadi teknik  pemutihan  dengan pengurangan atau tanpa penggunaan klorin elementer  menghasilkan kekuatan lembaran pulp yang tidak berbeda .Nilai  BOD dan COD limbah cair pemutihan  asa/ kayu ampupu lebih rendah dan lebih baik daripada  asal  kayu sampinur  bunga. Modifikasi teknik pemutihan  konvensional  (CEHEH) dengan teknik pemutihan    tanpa penggunaan klor elementer , yaitu  DEopDED dan DEoDEpD dapat memperbaiki pH dan sisa klor dalam limbah cair pemutihan  pulp baik  pada kayu ampupu maupun sampinur bunga, namun belum memperbaiki nilai BOD dan COD.
PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Wild) SEBAGAI BAHAN BAKU PULP KERTAS KORAN Rena M Siagian; Han Roliadi; Bambang Prasetya; Didiek H Gunadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2614.877 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.191-200

Abstract

Percobaan pembuatan pulp secara kimia-termomekanik (CTMP) dalam skala laboratorium telah dilakukan dengan menggunakan kayu mangium untuk tujuan kertas koran. Percobaan ini dilakukan untuk modifikasi pembuatan pulp secara termo-mekanik (TMP). Pemberian bahan kimia untuk tujuan pelunakan serpih dilakukan sebelum pemisahan serat pada suhu kamar dengan tekanan atmosflr. Bahan kimia yang digunakan adalah larutan NaOH sebanyak 0, 4 dan 8%. Serpih yang telah lunak diberi perlakuan uap pada suhu 140ºC dengan waktu bervariasi, yaitu 10, 15 dan 20 menit. Pemisahan serat dilaksanakan pada tekanan 2,2 Bar. Pemutihan pulp menggunakan hidrogen peroksida dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan konsentrasi peroksida 2% dan tairap kedua 4%. Pulp putih dijadikan lembaran setelah digiling sampai mencapai derajat kehalusan serat 200-300 ml CSF.Pelunakan serpih dengan alkali sebanyak 4% pada waktu kukus selama 10 menit memberikan rendemen pulp belum putih lebih tinggi daripada penggunaan alkali 0% atau disebut juga proses TMP konvensional walaupun waktu kukusnya lebih panjang (20 menit). Kondisi pengolahan tersebut juga menghasilkan serat yang hancur lebih sedikit dibandingkan dengan proses TMP. Sifat pulp CTMP dari kayu mangium dengan menggunakan alkali 4% dan waktu kukus 15 menit dapat memenuhi syarat Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kertas koran, kecuali kekuatan sobeknya. Dibandingkan dengan pulp TMP, maka pulp CTMP dari kayu mangium dapat memberikan sifat keteguhan yang memadai, bagian serat yang hancur lebih sedikit serta kebutuhan energi lebih rendah.
PULP SULFAT DARI BATANG KELAPA (Sulphate pulp from coconut trunk) Rena M Siagian; M Rosid
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 1 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22252.036 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.1.37 – 41

Abstract

This paper deals with the study of the influence of active alkali concentration to the properties of coconut trunk (cocos nucifera L.) sulphate pulping trials were conducted in laboratory digester with the cooking liquor circulation, using three levels of active alkali, i,e 14, 16 and 18% cooking sulfidity was 25%, wood to liquor ratio was 1:4, and maximum temperature was 165°c maintained for 120 minutes.Pulp yields from coconut trunks are ranged from 39.9 to 40.9% with permanganate number of 8.17 to 11.15. the increasing amount of active alkali has no significant influence to the yield, and overall physical properties of the pulp but tear factor. The higher active alkali concentration, the lower permanganate number and the higher alkali consumption. It is hope that the sulphate pulping of coconut trunk with active alkali of 16% would give adequate yield and processing properties.
KOMPOSISI KIMIA KAYU Acacia mangium Willd DARI BEBERAPA TINGKAT UMUR HASIL TANAM ROTASI PERTAMA Rena M Siagian; Saptadi Darmawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3338.889 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.57-66

Abstract

Penggunaan kayu mangium (Acacia mangium Willd) sebagai  bahan baku pulp sudah  dikenal   baik. Untuk  memperoleh  hasil  yang  lebih optimal  maka perlu dilakukan penelitian  mengenai  sifat  dasarnya pada  beberapa  tingkat  umur.   Sifat dasar yang  diamati pada penelitian  ini meliputi berat jenis,  derajat keasaman  (pH) dan komposisi kimia kayu umur 6, 7, 10, 11 dan12  tahun hasil tanam rotasi I dari Sumatera Selatan.Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  bertambahnya  umur  kayu cenderung menaikkan  berat jenis kayu dan kadar pentosan  dengan nilai berkisar antara 0.47-0.56  dan 16.69%  - 17.84%.   Sedangkan untuk kadar selulosa (52.12% - 50.53%), kadar lignin  (29.81%   -  28.51%), kelarutan     dalam alkohol-benzena  (6. 77%  -4.38%),  kelarutan  dalam air dingin  (4.85% -3.44%)  dan derajat  keasaman  (6. 7 -5. 7)  cenderung turun.  Bertambahnya  umur  kayu  memberikan  nilai  yang  ber- fluktuatif  untuk  kelarutan   dalam  air panas  (4. 74%  -  5.50%),   kelarutan  dalam NaOH  (16.25% - 18.94%),  kadar  abu (0.31%  - 0.83%)  dan kadar silika (0.06%-0.46%). Kayu  mangium  sebagai   bahan  baku  pulp  pada   umur  6  dan  12  tahun  menghasilkan  komponen kimia lebih baik dari pada kayu umur 7, /0 dan 11 tahun. Tetapi apabila  ditinjau dari kandungan selulosa  dan daurnya maka  kayu umur 6 tahun adalah yang terbaik.
PENGARUH BAHAN BAKU DAN PEREKAT UREA-FORMALDEHIDA TERHADAP SIFAT-SIFAT PAPAN SERAT Rena M Siagian; Bambang Wiyono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 6 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3494.253 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.6.343-347

Abstract

Properties  of hardboard are not  only  effected by the raw material used and the basic manufacturing process employed but  influenced   by subsequent processing  of  treatment such as gluing,  impregnation, heat  treatment  and oil tempering. The purpose  of  the  research is to study   the  effect   of  raw material  and  urea-formaldehyde    adhe11ive  on hardboard  properties. The  raw  material comprise   of  yute (Corchorus capsularis L),  rosella  (Hibiscus  sabdariffae L),   kena; (H.  cannabinus), linum  (Linum  usitatissimum L), dan lamtorogung (Leucaena leucocephalla). The level of  the urea-formaldehyde adhesive incooperated   in the experiment  were  0 and 1.5 per  cent  based on  oven dry  pulp.The  results  indicate   that  the  raw material used for  hardboard  making  has a significant  effect on pulp  yield,  alkali consumption,  water  absorption,   tensile  strength  parallel  to surface,  and  modulus  of  rupture.   Tensile   strength  parallel  to surface  of  hardboard  was significantly   effected  by adding  urea-formaldehyde adhesive.  The  hardboard  made  of kenaf has the highest  tensile strength  parallel to surface,  and modulus  of rupture,  and high water absorption. For decreasing the latest properties, perhaps  phenol  formaldehyde.  can  be added  to  the stock. 
PENGARUH UMUR TERHADAP KOMPOSISI KIMIA KAYU Gmelina arborea Roxb. Rena M Siagian; Sri Komarayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 6 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5796.65 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.6.395-404

Abstract

Gmelina  (Gmelina arborea Roxb.) merupakan salah satu pohon cepat tumbuh. Di Indonesia jenis pohon ini tidak tumbuh secara alami, tetapi akhir-akhir ini banyak ditanam dalam rangka pembangunan hutan tanaman industri.Dalam  rangka  pemanfaatan  kayu gmelina  untuk bahan baku pulp, telah   dilakukan penelitian sifat kayu dan analisis kimia kayu gmelina dari berbagai tingkat umur.Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur kayu gmelina terhadap  bobot jenis, kadar kulit, derajat keasaman dan komposisi kimia kayu. Penelitian dilakukan terhadap kayu gmelina umur 6 tahun, 8 tahun, 10 tahun dan 12 tahun asal Jawa Barat dan umur 4 tahun serta 6 tahun asal Kalimantan Timur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur kayu tidak memberikan perbedaan yang  nyata terhadap semua aspek yang diteliti, tetapi lokasi tempat tumbuh memberikan perbedaan. Rata- rata bobot jenis kayu gmelina berkisar antara 0, 49 -  0,55 g/cm3,  kadar kulit kayu 9,31 - 12, 05% dan derajat keasaman 7,11 - 7,31 termasuk netral. Kadar selulosa antara 53,07 - 57,55 % termasuk tinggi, pentosan 16,09 - 16,92 % termasuk rendah, lignin 29,50 - 32,12 % termasuk sedang, kadar abu 0,73  - 1,47 % dan kadar silika 0,24 - 0,73 %. Kelarutan dalam alkohol benzena 2,94 -  6,93 %, NaOH 1 % 12,40 - 17,26 %, air dingin 2,53 - 4,71 % dan air panas 3,30 - 9,62 %.Berdasarkan bobot jenis, komposisi kimia dan klasifikasi komponen kimia kayu Indonesia untuk kayu daun lebar, maka kayu gmelina baik digunakan sebagai bahan baku pulp.
PENGARUH UMUR POHON MELINA (Gmelina arborea Roxb) DAN PENAMBAHAN ADITIF PADA PROSES SULFAT TERHADAP SIFAT PULP Rena M Siagian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 4 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.4.259-269

Abstract

The investigation was aimed at assessing the influence of tree level of maturity and the amount of additive used in the sulphate cooking process on the properties of the corresponding resulting pulp. The trees selected in this regard were Gmelina arborea Roxb., consisting of four levels of maturities, i.e. 6, 8, 10 and 12 years. The additives used in the process were polysulfide (PS) and anthraqinone. The anthraquinone (AQ) was added 0.1 percent, without PS, and in the other cooking PS at 4.0 percent, without AQ. Meanwhile, this modified sulphate process was also conducted with any additive 4.0 percent PS and 0. 1 percent AQ. As a control. the sulphate cooking without both was carried out as well. Other cooking conditions were kept constant, i.e. active alkali 16 percent, sulphidity 25 percent, wood to liquor ratio 1 : 4, maximum temperature 170 °C. and total cooking durations 4 hours.The results revealed that the increase in tree maturity up to 10 years produced pulp with the highest yield. However. the pulp yield decreased when the maturity reached 12 years, which was the case when the pulp was obtained from the 6-years wood material. The use of 0.1 percent AQ additive did not improve the pulp yield but decreased the kappa number. The highest yield was obtained at 4. 0 percent PS additive, followed by the one using the combination of 4. 0 percent PS and 0.1 percent AQ.Melina wood from the corresponding 6 year old trees appeared technically suitable as raw material for pulp, since it strength was fairly high to meet the Indonesian National Standard (SNI) for the one from long-fibered softwood. Besides that. the use of additive improved the strength of pulp.
SIFAT PAPAN SERAT DARI DELAPAN JENIS KAYU INDONESIA BAGIAN TIMUR (Fibreboard Properfies from Eight East Indonesian Wood Species) Setyani B Lestari; Rena M Siagian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 5 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.5.171-173

Abstract

This paper deals with on experiment of fibreboard from eight East Indonesian wood species. Wood pulp was cooked by semi chemical process with hot caustic soda. The cooking conditions were concentration of alkali 35 g/l, wood to liquor ratio 1 : 8 and temperature at 100°C for 2 hours. Sheet was formed by wet felting technique using deckle box, followed by cold pressing at the pressure Of 10,kg/cm2 for 5 minutes. Wet fibreboard sheet then hot pressed at the pressure of 25 kg/cm2 for 10 minutes 170°C.The results shows. that the fibreboard density and modulus. of rupture from seven wood species meet the requirements of FAO standard. only fibreboard from one wood species which meet FAO standard for modulus of elasticity Fibreboard from three wood species meet the standard for tensile strength. Fibreboard from eight wood species don't meet FAO standard for water absorption and thicknessling swelling.
Pemanfaatan Campuran Limbah Sludge. Kertas Koran Bekas dan Serat Abaka sebagai Bahan Baku Pembuatan Pulp/Kertas Han Roliadi; Rena M Siagian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.5.417-430

Abstract

Industri pulp/kertas Indonesia kebanyakan masih tergantung pada kayu konvensional. Salah satu mengurangi ketergantungan ini adalah mencari ligno selulosa lain yang dapat dimanfaatkan seperti limbah sludge, kertas koran bekas, dan serat abaka (Musa textile Nee), sebagaimana dilakukan dalam percobaan ini menjadi pulp atau kertas karton. Mula-mula, sludge dibersihkan sehingga bebas dari bahan asing berukuran relatif besar, kertas bekas dibuang tintanya dan diolah menjadi pulp dan kulit batang abaka diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas. Selanjutnya, bubur serat disiapkan dengan variasi komposisi campuran sludge bersih (0-30 persen), pulp koran bekas (55-100 persen), dan pulp abaka (0-15 persen). Pada tiap komposisi tersebut, ditambhakan bahan aditif (alum pengikat dan perekat pati, masing-masing 1,5 persen). Selanjutnya, lembaran pulp dibentuk secara manual bertarget gramatur 125 gram per m2 dan diuji sifat kekuatan dan derajat kecerahannya.Hasil percobaan menunjukkan bahwa menurunnya porsi sludge, dan meningkatnya pulp kertas koran bekas ataupun pulp abaka meningkatkan kekuatan lembaran pulp. Derajat kecerahan lembaran pulp juga mengalami hal serupa, tetapi menurun dengan meningkatnya porsi pulp abaka. Kualitas lembaran pulp campuran dari 0-10 persen sludge berseral pendek, 75-100 persen kertas koran bekas, dan 0-15 persen pulp abaka dapat menyamai kertas karton komersial bergramatur 125 gram per m2. Penggunaan sludge lebih dari 10 persen masib mungkin dengan pemakaian lebih banyak bahan pengikat/perekat (pati, dekstrin, dan resin).
SIFAT PULP ACETOSOLV YANG DIPUCATKAN DARI KAYU LEDA (Eucalyptus deglupta Bl.) Rena M Siagian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.1.18-28

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peranan suhu pemasakan dan konsentrasi HCI sebagai katalis dalam larutan pemasak terhadap sifat pulp acetosolv kayu Leda (Eucalyptus deglupta Bl.) yang dipucatkan. Pembuatan pulp dilakukan melalui proses acetosolv dengan menggunakan larutan pemasak asam asetat dan katalis HCI, dipucatkan dengan bahan pemucat peroksida (P) dun klordioksida (D) dalam tahapan pemucatan PDPD.Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pemasakan mempengaruhi rendemen pulp, bilangan kappa dan sifat fisis-mekanis pulp. Konsentrasi HCI sebagai katalis secara nyata mempengaruhi rendemen setelah pencucian dengan aseton 50% dan derajat kecerahan.Kenaikan suhu pemasakan dan konsentrasi katalis cenderung menurunkan rendemen pulp mentah yang tidak lolos saringan. Proses delignifikasi cenderung meningkat dengan naiknya suhu pemasakan dan konsentrasi katalis, tetapi juga menyebabkan bertambahnya lignin terkondensasi. Penggunaan katalis HCl sebanyak 1 % pada suhu pemasakan pulp 160°C dan 170°C cenderung memberikan sifat fisis pulp yang lebih baik. Suhu pemasakan 170°C juga menaikkan padatan terlarut dalam aseton limbah. Pembuatan pulp acetosolv dari kayu leda yang menghasilkan rendemen dan sifat pulp yang terbaik diperoleh dari pemasakan pada suhu l60°C dan konsentrasi HCl I%. Untuk meningkatkan derajat kecerahan pulp acetosolv yang dapat memenuhi persyaratan, masih perlu dikaji teknik pemucatan lebin lanjut.