Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengeluaran Sisa Kreosot dalam Tiang Listrik Bekas Pakai Menggunakan Perlakuan Uap Han Roliadi; Elvin T Choong
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5171.702 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.3.197-205

Abstract

Keberadaan sisa-sisa kreosot dalam produk kayu bekas pakai dan tak lagi digunakan, diantaranya tiang listrik bekas, dapat mengakibatkan kesulitan/masalah dalam pemanfaatannya menjadi produk berguna lain seperti: papan blok, papan partikel, papan serat, dan pulp/kertas. Maka sisa kandungan kreosot tersebut harus dihilangkan atau diturunkan menggunakan perlakuan khusus yang efektif. Sebelum perlakuan uap, tiang listrik tersebut perlu dibuat menjadi partikel-partikel berukuran kecil, antara lain serbuk gergaji sehingga memudahkan penguapan kreosot oleh uap.Perlakuan uap terhadap tiang listrik bekas pakai telah dicoba keefektifannya dalam menghilangkan/menurunkan sisa kandungan kreosotnya. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan uap dapat menurunkan kandungan kreosot hingga 1,31 persen, untuk kandungan awal kreosotnya yang berbeda-beda. Tiang listrik dengan kandungan kreosot lebih tinggi membutuhkan waktu perlakuan uap lebih lama. Pada kandungan awal kresot tertentu atau sama, penurunan/pengeluaran kreosot pada batang/tiang listrik bekas yang berumur pakai lebih lama ternyata lebih dari pada tiang listrik berumur lebih muda. Pada berbagai umur, selanjutnya baik pada tiang listrik berumur lebih muda atau pun lebih tua, penurunan/pengeluaran kreosot juga lebih sulit, pada bagian dalam batang/tiang dibandingkan dari bagian yang lebih dekat permukaan batang/tiang.Perlakuan uap merupakan cara yang murah dan efisien menurunkan kandungan kreosot. Penurunan lebih lanjut kreosot yang tersisa dalam batang dapat dilakukan dengan cara lain, seperti dengan pelarut organik yang memerlukan biaya mahal dan penggunaan mikororganisme tertentu yang memerlukan waktu lebih lama.
Ketahanan Tiang Listrik Bekas Pakai terhadap Kerusakan Biologis yang Dihubungkan dengan Sisa Kandungan Bahan Pengawet Kreosot didalamnya Han Roliadi; Chung Yun Hse; Elvin T Choong
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3160.812 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.3.149-159

Abstract

Ketahanan kerusakan biologis tiang listrik bekas pakai dari kayu southern yellow pine yang diawetkan dengan kreosote, diteliti melalui percobaan simulasi kerusakan biologis (uji petak tanah) menggunakan jamur Neolentinus lepideus Fr., untuk menilai efektifitasnya terhadap kerusakan tersebut. Hal ini sehubungan dengan pemanfaatan tiang listrik dimaksud menjadi produk hasil olahan bermanfaat, seperti struktur kayu padat dan kayu majemuk. Temyata ketahanan kerusakan biologis tiang listrik baik yang telah berusia (masa pakai) 5 dan 25 tahun maupun yang masih baru diawetkan (segar) ada kaitannya dengan kandungan kreosotnya dan penyebarannya di dalam tiang tersebut. Selama masa pakai terjadi penurunan kandungan kreosot sedemikian rupa sehingga kandungan di bagian atas dan luar tiang tersebut lebih rendah dari pada bagian dalam atau bawahnya. Secara keseluruhan, kandungan kreosot dalam tiang listrik bermasa pakai 5 tahun lebilt rendah dari pada dalam tiang yang segar, tetapi lebih tinggi dan yang bermasa pakat 25 tahun. Pada kandungan kreosot di atas 14 persen, ketahanan kerusakan tiang listrik masih tinggi); akan tetapi di bawah 14 persen, ketahanannya menurun secara drastis. Oleh sebab itu, kadar kreosot 14 persen dianggap sebagai batas kritis. Selanjutnya kalau dihubungkan dengan batas kritis tersebut, ketahanau kerusakan biologis tiang listrtk bermasa pakai 5 tahun masih sebanding dengan tiang yang masih segar, sedangkan pada tiang bermasa pakai 25 tahun, terutama di bagian luamya ketahanannya jauh, jauh lebih rendah dan menvamai ketahanan kayu southern yellow pine yang tidak diawetkan. Lebih lanjut sekiranya dikaitkan dengan pemanfaatan kembali tiang bekas pakai tersebut menjadi produk hasil olahan kayu bermanfaat, nilai kandungan sisa kreosotnya perlu diperhatikan. Bagian dari tiang listrik berkandungan kreosot di alas 14 persen sesuat untuk struktur kayu padat guna pemakaian luar (udara terbuka). Untuk perakitan kayu majemuk, bagian tiang listrik berkandungan kreosot di atas 14 persen sebaiknya untuk bagian luar hasil perakitan tersebut, sedangkan bagian berkandungan kreosot di bawah 14 persen untuk bagian dalamnya.
KEMUNGKINAN PEMANFAATAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PAPAN SERAT BERKERAPATAN SEDANG Han Roliadi; Widya Fatriasari
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5712.903 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.2.101-109

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat industri minyak kelapa sawit dengan potensi cukup besar (2,5 juta ton per tahun), yang dewasa ini hanya dibuang di tempat, atau dibakar sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu usaha dalam mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkannya untuk pembuatan papan serat berkerapatan sedang (MDF), sebagaimana dilakukan melalui percobaan skala laboratoris secara batch. Pengolahan pulp TKKS untuk MDF menggunakan proses semi-kimia soda panas terbuka, diikuti dengan perendaman dalam larutan alkali pada suhu kamar, dan sesudahnya diolah secara mekanis menjadi pulp. Sebelum pembentukan lembaran MDF, pada pulp TKKS ditambahkan bahan pengikat/perekat fenol formaldehida (PF). Pembentukan lembaran menggunakan proses basah.Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman alkali menghasilkan pulp TKKS dengan diameter serat dan lumen lebih besar, dan dinding serat lebih tipis, dibandingkan dengan tanpa perlakuan rendaman. Selanjutnya perendaman alkali ternyata berinteraksi dengan penggunaan perekat PF, sehingga menghasilkan lembaran MDF dengan kerapatan dan sifat kekuatan lebih tinggi; dan penyerapan air dan pengembangan tebal yang lebih rendah, dibandingkan dengan tanpa perendaman. Bebrapa sifat MDF memenuhi persyaratan standard FAO, yaitu kerapatan adalah, modulus patah dan kekuatan reakat internal. Yang belum memenuhi adalah pengembangan tebal, penyerapan air, modulus elastisitas, dan kekuatan memegang sekurup. Diharapkan bisa diperbaiki dengan penggunaan bahan penolak air dan lebih banyak bahan perekat. 
KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT Gustan Pari; Han Roliadi; Dadang Setiawan; Saepuloh Saepuloh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.911 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.2.89-101

Abstract

Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon Meissu), suren (Toona sureni Merr), ki bawang (Melia excelsa Jack.), pulai kongo (Alstonia kongoensis), tusam (Pinus merkusii Jungth), sengon buto (Entorolobium cyclo), kapur (Dryobalanops aromatica), salamander (Grevillia robusta A.cunn), mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers).Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa, lignin, pentosan, abu, kelarutan dalam air dingin, air panas, alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas.Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64,6 - 69,9%, lignin antara 26,0 - 30,9%, pentosan antara 15,6 - 18%, abu antara 0,2 - 0,9%, silika antara 0,1 - 0,5%. Kelarutan dalam air dingin antara 2,4 - 6,3%, air panas antara 3,0 - 7,3%, alkohol benzena antara 1,5 -5,75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9,1 - 20,7%.Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh, suren, ki bawang, tusam, sengon buto, kapur, salamander, mahoni dan ki lemo, kecuali kayu pulai kongo yaitu 64,6%. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang, karena kadarnya ada di antara 18 - 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0,2 - 6,0% untuk kadar abu. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 - 4% adalah kayu suren, ki bawang, tusam dan ki lemo, dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo, sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto, kapur, salamander dan mahoni.Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas, sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu  suren, ki bawang,  tusam, sengon buto, kapur, salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia, dan semikimia.
PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Han Roliadi; Ridwan A Pasaribu
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.4.323-337

Abstract

Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas).  Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan, sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton.TKKS sesudah dijadikan serpih, diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%, nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5.5, dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1,2 - 1,5 atmosfir. Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60,17%, bilangan kappa 38,17, dan konsumsi alkali9,81%. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%; dan dari pulp TKKS 100%, masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%, alum 2%, tapioca 4%, dan rosin size 2%).Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50%-50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%, (tetapi tanpa bahan aditif). Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge, sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas.
Pemanfaatan Campuran Limbah Sludge. Kertas Koran Bekas dan Serat Abaka sebagai Bahan Baku Pembuatan Pulp/Kertas Han Roliadi; Rena M Siagian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.5.417-430

Abstract

Industri pulp/kertas Indonesia kebanyakan masih tergantung pada kayu konvensional. Salah satu mengurangi ketergantungan ini adalah mencari ligno selulosa lain yang dapat dimanfaatkan seperti limbah sludge, kertas koran bekas, dan serat abaka (Musa textile Nee), sebagaimana dilakukan dalam percobaan ini menjadi pulp atau kertas karton. Mula-mula, sludge dibersihkan sehingga bebas dari bahan asing berukuran relatif besar, kertas bekas dibuang tintanya dan diolah menjadi pulp dan kulit batang abaka diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas. Selanjutnya, bubur serat disiapkan dengan variasi komposisi campuran sludge bersih (0-30 persen), pulp koran bekas (55-100 persen), dan pulp abaka (0-15 persen). Pada tiap komposisi tersebut, ditambhakan bahan aditif (alum pengikat dan perekat pati, masing-masing 1,5 persen). Selanjutnya, lembaran pulp dibentuk secara manual bertarget gramatur 125 gram per m2 dan diuji sifat kekuatan dan derajat kecerahannya.Hasil percobaan menunjukkan bahwa menurunnya porsi sludge, dan meningkatnya pulp kertas koran bekas ataupun pulp abaka meningkatkan kekuatan lembaran pulp. Derajat kecerahan lembaran pulp juga mengalami hal serupa, tetapi menurun dengan meningkatnya porsi pulp abaka. Kualitas lembaran pulp campuran dari 0-10 persen sludge berseral pendek, 75-100 persen kertas koran bekas, dan 0-15 persen pulp abaka dapat menyamai kertas karton komersial bergramatur 125 gram per m2. Penggunaan sludge lebih dari 10 persen masib mungkin dengan pemakaian lebih banyak bahan pengikat/perekat (pati, dekstrin, dan resin).
PEMANFAATAN LIMBAH PEMBALAKAN UNTUK PEMBUATAN MDF (PAPAN SERAT BERKERAPATAN SEDANG) Rena M Siagian; Kayano Purba; Han Roliadi; M Yusuf Noorhajiyanto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.3.123-133

Abstract

Limbah pembalakan merupakan bahan baku potensial bagi industri pengolahan kayu. Meskipun terdapat dalam jumlah yang besar, namun pemanfaatannya masih terbatas. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku MDF {Medium Density Fibreboard = papan serat berkerapatan sedang), suatu komoditi yang mempunyai nilai tambah tinggi. Untuk mencapai tingkat pcngolahan yang optimal dilakukan teknik pengolahan campuran bahan baku dengan pengelompokan berat jenis, yaitu : berat jenis rendah (0,31-0,45); sedang (0,46-0,60); tinggi (0,61-0,75); dan campuran kelompok berat jenis rendah, sedang, dan tinggi dengan proporsi berat 25%: 50%:25%.Pembuatan pulp sebagai bahan MDF dilakukan dengan metoda panas-mekanis (Thermomechanical Pulping =TMP) dengan perlakuan: pemberian uap panas selama 15 menit, tekanan 3 kg/cm2, suhu 120-135ºC dan penggilingan serpih selama 10 menit. Pembentukan lembaran dengan menggunakan proses kering. Perlakuan kempa dingin menggunakan tekanan 5 kg/cm2 pada suhu kamar selama 5 menit dan dilanjutkan kempa panas dengan tekanan 10 kg/cm2 selama 10 menit pada suhu 170ºC.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen pulp dipengaruhi oleh pengelompokan berat jenis kayu dengan nilai rendemen yang semakin menurun dengan meningkatnya berat jenis kayu.Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengelompokan berat jenis kayu tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kerapatan, kadar air, daya serap air. pengembangan tebal, pengembangan volume, dan kuat internal. Berat jenis berpengaruh terhadap sifat kuat tarik sejajar permukaan, keteguhan lentur, keteguhan patah, kuat pegang sekrup muka dan kuat pegang sekrup samping panil MDF. Nilai kekuatan MDF semakin rendah dengan meningkatnya berat jenis, kecuali sifat keteguhan lentur. Keteguhan lentur terbaik dihasilkan oleh kelompok berat jenis sedang dan nilai terendah dihasilkan oleh kelompok berat jenis tinggi.Sifat fisis mekanis MDF hasil perlakuan yang memenuhi persyaratan FAO (1966) adalah kerapatan, keteguhan lentur, keteguhan patah, dan kuat internal. Namun menurut persyaratan USDC (1980) hanya keteguhan patah panil MDF yang memenuhi syarat, yaitu yang terbuat dari kayu kelompok berat jenis rendah dan sedang.
SIFAT PULP KIMIA-TERMOMEKANIK (CTMP) KA YU MANGIUM (Acacia mangium Willd) DARI BERBAGAI TINGKAT UMUR Rena M; Siagian Siagian; Han Roliadi; Togar Hendrik Martua
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2001.19.4.245-257

Abstract

This investigation deals with the assessment of mangium (Acacia mangium Willd.) wood plantation of various maturities for the manufactureof chemi-thermo-mechanical pulp (CTMP) with varying chemical (alkali) concentrations. The properties of CTMP examined were those related to its possibility for newsprint. The ages consisted of three levels (i.e. 6, 7 and 10 years) at which the respective mangium stands were normally harvested from their first rotation. Three ages groups, of mangium were felled for obtaining wood samples. Afterwards, the mangium woods were chipped for further investigation. The alkali concentrations for pre-pulping (chip- softening) stage were consecutively 2, 4, 6, and 8 percent. In the Asplund refiner, the softened chips underwent a 15 minute pre-steaming at 5 psi and then fiberized into pulp for 3 minutes in the Asplund refiner. The resulting pulp were determined for their yield, and further bleached by using peroxyde in 2 stages. The bleached pulps were also examined of their yield, and subsequently made into handsheet at the targeted grammage (50 gram per sq.m) for testings of their actual grammage, strength and optical properties.Data analysis reveals that different wood ages and varying alkali concentrations did not contribute significant effect on their bleached pulp yield. The pulp yields were relatively high in the range of 60-75 percent. The hand-sheets of pulp in terms of its grammage, ranged from 43.0 to 51.6 g/m2. These could satisfy the SNI (Indonesian National Standards) requirements for newsprint. The thicknesses of pulp sheets, which were above 0.10 mm, did not meet the newsprint pulp standard quality requirement. Physical properties of mangium CTMP as described by their tensile, and tear index were correlated positively with wood age. On the contrary, these properties were not affected by alkali concentrations. Further, the different wood maturities brought about significant changes in pulp brightness; and so did the alkali concentration, whereby the brightness was affected negatively. Further, the opacity of the pulp sheet was not affected by wood maturities and alkali concentrations.Wood of 10 years old and with alkali concentration at 2 percent were found to be the optimum treatment combination for its application in the manufacture of CTMP for newsprint. The grammage, thickness, physical, and optical properties of the resulting CTMP, satisfy the SNI requirement for newsprint.
METODE PENDUGAAN KEMAMPUAN SUPPLY PRODUK KAYU DARI BERBAGAI INDUSTRI DI PROPINSI RIAU Han Roliadi; Buharman Buharman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 1 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1984.1.1.17-22

Abstract

The aim of this investigation is to create a prediction model on the potentiality of supplying merchant wood products. The investigation was carried out in the province of Riau Four Sawmills and two plywood industries were selected for this study.The annual data concerning production factors (input factors) such as material input (x1), the price of raw material (x2), The cost of additive matters/auxiliaries (x3), the designed production capacities (x4), and the price per unit product (x5) were collected. In addition, their annual production (Y) was also recorded.The prediction model is intended to interpret the relationship between production factors and their actual production per annum by applying multiple regression analysis. The prediction models for Sawmill products and plywood products are presented respectively as follow :Y = 7.2140 + 0.5717 x1 – 0.1323 x2 – 0.1787 x3 + 0.0078 x4 + 0.2188 x5, andY = 10.1774 + 2.1724 x1 – 0.6431 x2 + 0.0071 x3 + 0.6182 x4 + 0.7128 x5.Both models show a considerable high of confidence (P = 0.95). 
UJI COBA MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN UNTUK PRODUKSI SERPIH DARI LIMBAH INDUSTRI PENGGERGAJIAN KAYU Han Roliadi; Ridwan A Pasaribu
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.3.219-227

Abstract

Limbah industri penggergajian kayu dengan potensi 7,8 juta m3 per tahun belum banyak dimanfaatkan. Salah satu pemanfaataanya adalah pembuatan pulp untuk kertas dan papan serat, tetapi sebelumnya limbah tersebut perlu dijadikan serpih dengan alat layak teknis dan ekonomis/finansial, diantaranya mesin serpih mudah di pindahkan (SMD).Hasil percobaan mesin SMD terhadap limbah penggergajian dari campuran lima jenis kayu (Manii, Pinus, Jeunjing, Duren dan Jengkol) kapasitas penyerpihan (1,432 ± 0,089) m3 atau 1548,48 (berat basah) atau 854,46 kg (berat kering) per jam, ternyata secara teknis setara dengan penyerpihan kayu konvensional 1,5 - 2,0 m3 per jam atau 870,28 kg (berat kering) per jam. Produktifitas mesin SMD (bruto/serpih belum disaring) : 1542,18 kg (berat basah) atau 854,88 kg (berat kering) per jam. Produktifitas serpih tersaring: 732,29 kg serpih kering per jam atau 2933,16 kg per hari, atau 880 ton per tahun. Rendemen serpih 98,22 persen (belum disaring) atau 84,25 persen (sudah disaring).Hasil penelaah finansial/ekonomis harga pokok produk Rp. 263.343,00 per ton serpih kering tersaring; BEP (titik impas) 938,51 ton produksi serpih per tahun di mana lebih besar dari perhitungan produktivitasnya (880 ton ton serpih kering per tahun), pay-back period singkat (dua tahun); dan nilai layak bersih positif (+ RP. 5.734.964,77). Nilai-nila tersebut mengindikasikan kelayakan finansial ekonomis pengoperasion mesin SMD untuk limbah industri penggergajian.