Franseno Franseno
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PEMBUATAN MASTERPLAN LINGKUNGAN GUA MARIA BUKIT KANADA RANGKASBITUNG Nancy Yusnita Nugroho; Yenny Gunawan; Franseno Pujianto; Anastasia Maurina; Irma Subagio; Santoso Sukangto; Anthony Anthony; Vanni Vanni; Paramitha Paramitha
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11516.23 KB)

Abstract

Gua Maria Bukit Kanada yang terletak di kota Rangkasbitung provinsi Banten adalah salah satu tempat ziarah umat Katolik yang berada di bawah naungan Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Keuskupan Bogor. Gua Maria ini dibangun pada tahun 1988 oleh umat dengan dukungan dariKongregasi Suster-suster Fransiskan Sukabumi. Gua Maria ini lalu diberkati oleh Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. Gua ini merupakan tempat ziarah pertama di tanah Banten.Seiring dengan berjalannya waktu, Gua Maria ini telah menginjak umur 25 tahun. Paroki Santa Maria Tak Bernoda – Rangkasbitung, Banten merasa perlu untuk menata ulang kawasan ini, sekaligus membuatkan masterplan dalam rangka pengembangan kawasan ziarah dan salah satu pusat kegiatan keagamaan di Rangkasbitung seiring dengan peningkatan kebutuhan untuk pelayanan umat di Rangkasbitung. Atas permintaan pihak paroki melalui Pastor Paroki, Unpar menugaskan tim pengabdian masyarakat untuk merespon dan membantu kebutuhan tersebut.Tim pembuatan Materplan Lingkungan Gua Maria Bukit Kanada telah ditugaskan untuk membuat desain materplan sesuai dengan kondisi eksisting tapak yang ada berdasarkan survei lapangan dan juga sesuai dengan kebutuhan ruang baik sebagai pendukung kegiatan Gua Mariamaupun sebagai pendukung kegiatan Paroki setempat. Analisis terhadap potensi tapak dan kebutuhan akan fungsi telah dilakukan selama proses pengembangan desain agar desain masterplan yang dihasilkan sesuai untuk kebutuhan umat namun tetap sesuai dengan lingkunganfisik dan budaya masyarakat setempat.Proses pembuatan masterplan dibagi menjadi 3 tahap (secara garis besar), yaitu : pengumpulan data dan analisa awal (November-Desember 2013), pembuatan konsep & masterplan serta pembuatan gambar penataan rinci untuk area Gua Maria (detail), dan terakhir adalah pengembangan desain masterplan (jika diperlukan). Kegiatan ini telah menghasilkan usulan konsep penataan area Gua Maria berupa 2 alternatif desain, sesuai permintaan pihak Paroki. Hasil rancangan telah dipresentasikan kepada Uskup Bogor menjelang akhir tahun 2014,dan tim dimohon untuk melanjutkan rancangan dengan mengerucutkan menjadi satu rancangan berdasarkan masukan-masukan yang telah diberikan.
Pengabdian Masyarakat Sekolah SMPK Santo Josef Freinadementz Franseno Franseno; Yenny Gunawan; Reinaldi Primanizar
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.017 KB)

Abstract

Pengabdian Masyarakat ini diinisiasi oleh pihak Societas Verba Divini (SVD), Sumba yang meminta bantuan kepada Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan berupa perancangan Sekolah SMPK Santo Josef Freinadementz. Metode perancangan yang digunakan adalah pendekatan perancangan yang memperhatikan konteks lokal, baik dari segi budaya, iklimmaupun material yang digunakan. Karena konteks lokal penting, maka rencana kegiatan yang dilakukan meliputi survei tempat/lokasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait, serta sosialisasi rancangan untuk mendapatkan masukan dari pihak-pihak terkait. Luaran yang dariPengabdian Masyarakat ini berupa gambar rancangan yang disetujui oleh pihak SVD.
REKONSTRUKSI MUSHOLLA BAMBU BAGI KOMUNITAS P4S TANI MANDIRI DESA CIBODAS, KAB. BANDUNG Anastasia Maurina; Budianastas Budianastas; Irma Soebagio; Yenny Gunawan; Franseno franseno; Bobby Henatta
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3183.089 KB)

Abstract

Pada tahun 2014, melalui program pengabdian masyarakat, Program Studi merancang dan membangun sebuah musholla bambu yang berada di Pusat Pelatihan Pertanian dan PerdesaanSwadaya (P4S) Tani Mandiri di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Dampak pembangunan musholla ini terhadap masyarakat sangatlah positif, musholla tersebut bukan hanya dipakai oleh masyarakat petani dibawah P4S Tani Mandiri saja, namun digunakanoleh masyarakat sekitar.Pada awal tahun 2015 terjadi masalah dengan bangunan musholla bambu tersebut, yaitu terserang oleh kutu bubuk. Kutu bubuk merupakan permasalahan umum yang terjadi padabangunan bambu. Permasalahan kutu bubuk ini disebabkan karena proses pengawetan dan juga bahan pengawetnya yang tidak tepat guna . Observasi dilakukan oleh tim pengabdi untukmelihat dampak buruk dan solusi yang harus diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban kami. Kutu bubuk telah menyerang bambu yang menjadi struktur utama bangunan ini dan menyebabkan deformasi. Sehingga tim pengabdi memutuskan untuk melakukan rekonstruksi musholla ini.Dalam proses rekonstruksi ini, tim pengabdi memastikan proses preservasi material bambu dengan tepat, yaitu pemilihan material bambu yang tepat untuk material konstruksi, pengawetan bambu yang lebih tepat guna, pengeringan bambu dengan baik, perbaikan proses konstruksi elemen strukturalnya. Pelaksanaan kegiatan rekonstruksi ini terbagi atas 8 tahap,yaitu : tahap persiapan material bambu , tahap pengawetan (perendaman), tahap pengeringan , tahap perangkaian elemen struktur , tahap pembongkaran, tahap rekonstruksi elemenstruktural, tahap rekonstruksi atap dan fasade serta tahap perawatanDampak positif dari kegiatan pengabdian ini terhadap mitra selain ketersediaan sarana yang diperlukan mitra, yaitu up-dating ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai pengawetan, penggunaan bilah bambu sebagai material struktur dengan bentuk kekinian serta perawatan. Sedangkan dampak positif bagi akademisi adalah peningkatan atensi komunitas akademik terhadap kelompok masyarakat kecil serta peningkatan kegiatan pengembangan ilmu, teknologidan seni di program studi. Selain itu, dampak bagi mahasiswa arsitektur adalah pengembangansoftskills dan hardskills.Kata kunci : rekonstruksi, bambu, pengabdian masyarakat
PEMBUATAN MASTERPLAN LINGKUNGAN GUA MARIA BUKIT KANADA RANGKASBITUNG Nancy Yusnita Nugroho; Franseno Pujianto; Yenny Gunawan; Anastasia Maurina; Irma Subagio
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8747.427 KB)

Abstract

Gua Maria Bukit Kanada yang terletak di kota Rangkasbitung provinsi Banten adalah salah satu tempat ziarah umat Katolik yang berada di bawah naungan Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Keuskupan Bogor. Gua Maria ini dibangun pada tahun 1988 oleh umat dengan dukungan dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan Sukabumi.Gua Maria ini lalu diberkati oleh Uskup Bogor Mgr. Ign. Harsono, Pr. Gua ini merupakan tempat ziarah pertama di tanah Banten.Seiring dengan berjalannya waktu, Gua Maria ini telah menginjak umur 25 tahun.Paroki Santa Maria Tak Bernoda – Rangkasbitung, Banten merasa perlu untuk menata ulang kawasan ini, sekaligus membuatkan masterplan dalam rangka pengembangan kawasan ziarah dan salah satu pusat kegiatan keagamaan di Rangkasbitung seiring dengan peningkatan kebutuhan untuk pelayanan umat di Rangkasbitung. Atas permintaan pihak paroki melalui Pastor Paroki, Unpar menugaskan tim pengabdian masyarakat untuk merespon dan membantu kebutuhan tersebut.Tim pembuatan Materplan Lingkungan Gua Maria Bukit Kanada telah ditugaskan untuk membuat desain materplan sesuai dengan kondisi eksisting tapak yang ada berdasarkan survei lapangan dan juga sesuai dengan kebutuhan ruang baik sebagai pendukung kegiatan Gua Maria maupun sebagai pendukung kegiatan Paroki setempat. Analisis terhadap potensi tapak, fungsi beserta kebutuhan ruangnya, kondisi masyarakat dan budaya masyarakat setempat telah dilakukan agar desain masterplan yang dihasilkan sesuai untuk kebutuhan umat namun tetap sesuai dengan lingkungan fisik dan budaya masyarakat setempat. Pembuatan konsep masterplan telah dilaksanakan pada tahun 2014 dan di bulan Januari 2015 telah dipresentasikan/dibahas bersama para stakeholders (Keuskupan Bogor, Paroki Rangkasbitung, Pengelola Gua Maria,Pengelola Akper Yatna Yuana yang berada satu tapak dengan kawasan Gua Maria, danperwakilan umat).Kegiatan pengabdian yang telah dilakukan pada tahun 2015 ini adalah berupa pengerjaan pendetailan gambar rancangan tapak dan bangunan di Kompleks Gua Maria sehingga siap dijadikan dokumen acuan untuk pelaksanaan pekerjaan pembangunan.
PERAN AGAMA TERHADAP ARSITEKTUR DESA KATOLIK PALASARI DAN DESA KRISTEN BLIMBINGSARI Samuel Geovano; Franseno Pujianto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 6 No 04 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v6i04.6147.350-366

Abstract

Abstract - In Architecture and Order by (Pearson, 1993) , when explaining the relationship between architecture and culture, he used the term social space, which is a space formed by society through the habits, culture, and beliefs of a group of people. Social space can also be interpreted as a space created from the accumulation of group perceptions and beliefs in a space. Social space is formed from the relations of objects in space that generally facilitate and support the activities of a group of people. So, the social space that is formed should be able to accommodate the needs of activities and follow the identity of the people who inhabit it. In Jembrana Regency, there are two villages with unique cultures, Palasari Village and Blimbingsari Village. Palasari Village is a village with Balinese natives who embrace the Catholic religion, while Blimbingsari Village is a village with a homogeneous Balinese population who adheres to Christianity. Since the beginning, the two villages were designed with the values of religion and belief, Palasari Village was established with the "Dorf Model" which is a Catholic Village with a Balinese face, while Blimbingsari Village was designed to be a Christian village. This led to the formation of unique social, cultural and religious activities in these two villages. Over time, the two villages developed into tourist villages with the main attraction of pilgrimage tourism. This study aims to determine the role of religion in the architecture of Palasari Catholic Village and Blimbingsari Christian Village. The final result of this research is to reveal the role of religious culture on architecture in the two villages. This research is interesting to carry out because the studies that have been done on the two villages have not yet discussed the role of religion in the architecture of the two villages. Data collection in this study was carried out using observation, interviews, documentation, and a literature study method. Then the data collected is classified into morphological and topological data which will then be analyzed by (Pearson, 1993) theory of the influence of culture on architecture. The method used in this research is descriptive qualitative by describing the existing state of the two villages and revealing the relationship between belief and religious values with the architecture of the two villages. Based on this analysis, the two villages will be compared and conclusions are drawn based on the analysis result. It was concluded that the architecture of Palasari and Blimbingsari villages was influenced by the religion of each villager as a result of the application of conservative beliefs & religious values, religious activities & rituals, as well as ethnic, group & social order factors owned by residents of both villages. Keywords: religion, beliefs, Palasari Village, Blimbingsari Village
CITRA DESA TRUSMI SEBAGAI WADAH AKTIVITAS MASYARAKAT Julian Farrel Malik Hakim; Franseno Pujianto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 7 No 02 (2023): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v7i02.6602.151-168

Abstract

Abstract - The image is a visualization that formed by the interaction between human as an observer and an object. The visualization is an impression of an object to be easier to remember by the observer. The image in architecture has a role to give a picture to the observer about the structure of a space or region. The observer will have a picture of the space whenever remembering it. The appearance of the image will be different according to who the observer is. Building an image of a particular place is needed because it will create meaning or value for the one that has been there to build a connection to the place. If anyone remembers there is a memory left there, anyone has a tendency to value the place. Trusmi Village in Cirebon already has an identity as a village that full of batik artisan and still preserves their culture. This identity is still preserved since they still doing things that related to the ancestors’ tradition and batik crafts. This study aims to understand the influence of daily activities and traditional activities carried out by the community on the image-forming elements in Trusmi Village. The place to carry out activities will be identified by the community as an element forming the image of Trusmi Village. The method used is quantitative, data obtained from literature studies, direct observations in the field, and interviews with residents of Trusmi Village. Observations focused on the activities of the residents and their places of activity, which were then mapped out by activities in the village. Then, from the activity data, it will be analyzed with image-forming elements so that it can be seen the path used for the activity, the edge that becomes the boundary of the activity space, the district found as the center of activity, nodes that become the point gathering, and landmarks that guide activity orientation. The conclusion of this study, it was found that the "Image of Trusmi Village" can be found based on the analysis of the place where community activities are carried out in Trusmi Village. This shows the influence of the residents' daily activities and activities carried out as a tradition informing the physical picture of Trusmi Village. Trusmi Cirebon village can be concluded as a village whose image is easy to remember because in this village you can find the Main Path which is the place for daily activities, Strong Edge which is a continuous wall of batik showrooms on the Main Path, District Center for Ritual and Commercial Activities, Anchor Nodes, and Landmarks are used to direct the community within the village and visitors from outside the village. Key Words: Activity, ancestors’ tradition, batik, image-forming element, Trusmi Cirebon Village
THE IMAGE TRANSFORMATION OF CIREBON’S CHINATOWNBASED ON COLONIAL, INDEPENDENCE ANDPOST INDEPENDENCE ERA Franseno Pujianto; Yohanes Basuki Dwi Susanto; Hartanto Budiyuwono; Yohanes Karyadi Kusliansjah; Indri Astrina Wirakusumah; Alvin Jonatan
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Idealog Vol 8 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v8i1.4344

Abstract

Perjalanan sejarah kota Cirebon tidak dapat dipisahkan dari peran Keraton, Kampung Pecinandan Kampung Arab. Fakta adanya kampung Pecinan ini sudah dikenali berdasarkan catatan duta Negara Spanyol, Tomé Pires, sekitar tahun 1517 Masehi, yang menyatakan bahwa di depan Keraton Cirebonterdapat Kampung Arab dan Kampung Cina. Perekaman sejarah Kota Cirebon belumada yangmenyentuh citra kawasan Pecinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalananperubahan citra kawasan Pecinan Cirebon berbasis kesejarahan. Langkah penelusuran dimulai denganupaya: (1) Pendalaman literatur arsitektur di kota tua Cirebon untuk mengumpulkan informasi keberadaan bangunan-bangunan yang berkaitan langsung dengan sejarah Cirebon berdasarkan klasifikasi era kolonial, era kemerdekaan dan era pasca kemerdekaan (2) Perekaman tipe-tipe fisik spasial yangterdapat di kawasan Pecinan Cirebon sesuai lini masa kesejarahan melalui pendekatan citra kawasan; (3) Proses analisis dengan mendeskripsikan perubahan citra kawasan yang terjadi pada kawasan berdasar lini masa kesejarahan. Manfaat dari penelitian ini berupa rekaman data terhadap perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebon dalam tiga periode kesejarahan yang dapat digunakan bagi pengembangankawasan Pecinan selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebonditandai dengan bergesernya path, nodes, edge, distric dan landmark sejalan dengan bergesernya pemegang kekuasaan pada masing-masing periode. Kata kunci : Arsitektur, Cagar Budaya, Cirebon, Pecinan.
BERUGAQ SEBAGAI IDENTITAS ARSITEKTUR DESA TANAH PETAK DAYE, LOMBOK UTARA Franseno Pujianto; Yenny Gunawan
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i1.15442

Abstract

Arsitektur pada dasarnya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia penghuninya. Tulisan ini berfokus pada berugaq (bale berkumpul) di Desa Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Kebertahanan berugaq (bale berkumpul) di tengah-tengah perubahan yang terjadi di Desa ini, baik di area Tanah Adat (kelompok hunian sangat terikat dengan aturan-aturan adat dan yang berumur ratusan tahun), maupun Tanah Biasa (kelompok hunian lainnya sudah melepaskan diri dari aturan-aturan adat) ini menarik untuk ditelaah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan berugaq masih dipertahankan pada kedua area hunian. Untuk mengetahui penyebabnya, maka pemetaan lapangan mengenai tatanan dan bentuk (fisik-spasial) bangunan berugaq, observasi penggunaan berugaq yang berkaitan dengan kehidupan keseharian masyarakat, serta wawancara dengan tetua adat dan masyarakat mengenai makna berugaq dilakukan di kedua area Desa. Hasil dari pendataan fisik di lapangan dianalisa secara tipologi dan ditelaah dengan data non fisik yang diklasifikasikan berdasarkan culture traits and attributes dari Paul Oliver yang mencakup aktivitas keseharian, mata pencaharian dan ekonomi, sistem sosial dan aturan gender, serta kepercayaan dan nilai yang ada. Penelitian ini mengungkap berugaq masih dipertahankan, digunakan dan diperbaharui oleh masyarakat Desa Tanah Petak Daye karena berugaq mempunyai peran penting, baik dalam kehidupan keseharian masyarakat, maupun sebagai simbol sistem sosial, ekonomi dan kepercayaan masyarakat tersebut. Berugaq merupakan perwujudan fisik dari budaya masyarakat Tanah Petak Daye, Lombok Utara. Dengan kata lain, berugaq merupakan identitas arsitektur dari masyarakat Tanah Petak Daye.
THE IMAGE TRANSFORMATION OF CIREBON’S CHINATOWN BASED ON COLONIAL, INDEPENDENCE AND POST INDEPENDENCE ERA Pujianto, Franseno; Dwi Susanto, Yohanes Basuki; Budiyuwono, Hartanto; Kusliansjah, Yohanes Karyadi; Wirakusumah, Indri Astrina; Jonatan, Alvin
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Idealog Vol 8 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v8i1.4344

Abstract

Perjalanan sejarah kota Cirebon tidak dapat dipisahkan dari peran Keraton, Kampung Pecinandan Kampung Arab. Fakta adanya kampung Pecinan ini sudah dikenali berdasarkan catatan duta Negara Spanyol, Tomé Pires, sekitar tahun 1517 Masehi, yang menyatakan bahwa di depan Keraton Cirebonterdapat Kampung Arab dan Kampung Cina. Perekaman sejarah Kota Cirebon belumada yangmenyentuh citra kawasan Pecinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalananperubahan citra kawasan Pecinan Cirebon berbasis kesejarahan. Langkah penelusuran dimulai denganupaya: (1) Pendalaman literatur arsitektur di kota tua Cirebon untuk mengumpulkan informasi keberadaan bangunan-bangunan yang berkaitan langsung dengan sejarah Cirebon berdasarkan klasifikasi era kolonial, era kemerdekaan dan era pasca kemerdekaan (2) Perekaman tipe-tipe fisik spasial yangterdapat di kawasan Pecinan Cirebon sesuai lini masa kesejarahan melalui pendekatan citra kawasan; (3) Proses analisis dengan mendeskripsikan perubahan citra kawasan yang terjadi pada kawasan berdasar lini masa kesejarahan. Manfaat dari penelitian ini berupa rekaman data terhadap perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebon dalam tiga periode kesejarahan yang dapat digunakan bagi pengembangankawasan Pecinan selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebonditandai dengan bergesernya path, nodes, edge, distric dan landmark sejalan dengan bergesernya pemegang kekuasaan pada masing-masing periode. Kata kunci : Arsitektur, Cagar Budaya, Cirebon, Pecinan.
PEMANFAATAN RUANG OLEH ANAK PADA SETTING RUANG KAMPUNG PRAI IJING Mutiara, Ariqo; Pujianto, Franseno
Riset Arsitektur (RISA) Vol 8 No 04 (2024): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v8i04.8579.369-387

Abstract

Abstract - Unlike adults, children perceive their spatial surroundings differently. Such perception then triggers specific ways of using space. The local children of Prai Ijing village utilise their environment to accommodate their activities and spatial needs—often incorporating creativity— in their daily, and traditional settings. This study aims to learn children’s perceptions of using their surrounding space in a traditional village. Specifically, this research explores local Prai Ijing children's perception of the village's unique cultural setting. Prai Ijing—a traditional village—located in Tebara village (Waikabubak, West Sumba, East Nusa Tenggara) is an award-winning tourist destination from the Ministry of Tourism and Creative Economy. The data were compiled through observations and interviews in the daily lives of the Prai Ijing’s local children. The data were then analyzed using qualitative-descriptive methods to describe children’s perceptions of spatial use. Thus, this paper concludes with two points. Firstly, the court in between the housing complex as the Open Space, and the house terrace are the most significant settings for the children of Prai Ijing.. Secondly, the different variables in the settings bring out the specific ways Prai Ijing children can use the space. Keywords: Children’s perception, behavior in using space, Traditional Village, Prai Ijing Village