Claim Missing Document
Check
Articles

Architecture expression: Synthesized architectural expressions in Mayor’s office building of Kupang City Lake, Reginaldo Christophori; Arinto, Fransiscus X. Eddy; Purbadi, Yohanes Djarot; Dwisusanto, Yohanes Basuki; Bin Toni, Elvis Albertus; Rayawulan, Robertus Mas
Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 12, No 2 (2020): July 2020
Publisher : Merdeka Malang University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v12i2.4302

Abstract

Efforts to display the expression of the functions and local identities of buildings are merely copying ornamental variations of vernacular architectural elements. As a result, the relation among function-form-meaning remain unseen. This study aims to explain the application of the concept of synthesized architectural expressions on government owned buildings. Based on the research objectives, the Mayor’s office building of Kupang City was chosen as the object of this case study. The initial step of this research is to elaborate the theory of archetypal anatomy and the relation of architectural function-meaning-functions. Furthermore, the observation unit is redrawn in three dimensions and analyzed based on ordering principle of balance and orientation. The analysis shows that the interpretation of the appearance of Mayor's office building of Kupang City displays monumental, formal, local expressions and represents democratic ideologies. Interpretation of synthesized expressions occurs in the dominant aspects of local architecture in the elements of the roof, walls and entrance columns. The results of this study confirm that the concept of synthesized expression plays an important role in the midst of change pressure and for the sustainability of architecture nowadays. DOI: https://doi.org/10.26905/lw.v12i2.4302
KONFIGURASI SPASIAL RUMAH TRADISIONAL TEPAL DALAM KAITANNYA DENGAN ASPEK SOSIO BUDAYA (OBJEK STUDI: DESA TEPAL, KECAMATAN BATULANTEH, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT) Ametha Safa ; Yohanes Basuki Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 01 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v5i01.4416.36-51

Abstract

Abstrak- Rumah adalah sebuah konsekuensi fenomena budaya, dimana bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya tempatnya berada. Sosio-budaya sendiri merupakan hasil pikiran dan akal budi, yang ada untuk kehidupan bermasyarakat. Hasil dari proses berbudaya ini menghasilkan berbagai perwujudan, seperti kesenian, kepercayaan, hingga karya arsitektur.Desa Tepal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merupakan satu dari sedikit desa terpencil di Pulau Sumbawa yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat yang diturunkan oleh para leluhurnya. Wujud fisik arsitekturalnya masih melekat dengan nilai-nilai dan tradisi yang berlaku. Hal ini dapat dilihat pada wujud fisik, sistem pengukuran, serta elemen lain pada rumah huniannya.Rumusan masalah yang menjadi landasan penelitian ini mencakup bagaimana aspek sosio budaya mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang Tepal. Tujuannya untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan dalam kaitan aspek sosiobudaya yang mempengaruhi konfigurasi spasial dan elemen pembentuk ruang pada hunian.Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan terhadap wujud fisik hunian yang dipengaruhi oleh aspek sosiobudaya dari adat istiadat yang berlaku. Diperoleh kesimpulan bahwa terdapat aspek filosofis serta nilai-nilai seperti nilai kepercayaan, peran gender, usia, kebiasaan, dan ekonomi mempengaruhi penataan ruang pada bagian dalam, luar, serta elemen pembentuk rumah.
TAMAN TEMATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP SETTING FISIK DAN PENGGUNAAN TAMAN DI KOTA BANDUNG Julius Santanu Wijaya ; Yohanes Basuki Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 5 No 03 (2021): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/.v5i03.4741.302-319

Abstract

Abstrak Perkembangan Kota Bandung sebagai kota kreatif, mendorong pemerintah untuk melakukan inovasi terhadap keberadaan ruang terbuka publik.Munculnya taman tematik berhasil menarik perhatian masyarakat terhadap keberadaan taman-taman yang ada di Kota Bandung. Lalu apa yang sebenarnya dimaksud dengan taman tematik dan mengapa tema menjadi sesuatu yang perlu diberikan pada taman-taman yang sudah ada sebelumnya. Mengingat taman tematik yang ada saat ini merupakan pengembangan dari taman-taman lingkungan (neighborhood park). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian dari taman tematik dan pengaruhnya terhadap setting fisik taman dan penggunaan sebuah ruang terbuka publik. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan keadaan taman lansia, taman superhero, taman hewan, taman cibeunying, dan alun-alun cicendo. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan dilengkapi dengan penyebaran kuisioner online untuk mendapatkan data kuantitatif.Pengertian mengenai taman tematik ditelaah berdasarkan litelatur yang didapatkan dari Koran dan sumber infomasi lainnya yang membahas mengenai taman tematik di Kota bandung. Kemudian pembahasan mengenai taman tematik akan ditelaah lebih lanjut dengan teori-teori yanga ada pada landasan teori. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tema yang diberikan pada taman layaknya tema yang digunakan dalam sebuah cerita, tema berfungsi sebagai acuan dalam mengolah ruang terbuka yang ditampilkan lewat setting fisik taman. Fisik taman yang hadir melalui fasilitas turut mempengaruhi aktivitas yang terjadi didalam taman, dimana aktivitas mengarah pada tema yang diberikan pada taman tersebut. Taman tematik menjadi pengembangan ruang terbuka publik yang terinspirasi dari konsep theme park.Namun berbeda dengan theme park, taman tematik yang ada di Kota Bandung terbuka bagi masyarakat umum sehingga tidak bersifat komersil. Kata-kata kunci: ruang publik, taman tematik, aktivitas sosial, taman di Kota Bandung
PERAN SETTING ELEMEN FISIK TERHADAP AKTIVITAS PADA KAMPUNG WISATA OBJEK STUDI: KAMPUNG LAWAS MASPATI DAN KAMPUNG PELANGI KENJERAN SURABAYA Dionisius Arief Anjasmoro; Yohanes Basuki Dwisusanto
Riset Arsitektur (RISA) Vol 6 No 01 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v6i01.5424.20-39

Abstract

Abstract - Indonesia has a variety of urban tourism village scattered in various regions. The tourism village has various themes according to the character of the are and the residents of the village. Such as Batik Village, Ceramic Village, Rainbow Village, etc. The presence of the concept of an urban tourism village doesn not only occur in Indonesia, but also occurs in various other countries such as Gamcheon Culture Village in Korea, Chefchaouen in Marocco, Marsaxlokk Village in Malta, etc. With the presence of the concept of tourism village, it provides novelty for both humans (tourist and villagers) as the users of space accompanied by their activities. Based on these problems the authors are interested in conducting this research. This research will discuss about what is meant by a tourist village, how tourism activities occur in the two study objects and how architecture as a physical element plays a role in the activities in it. The purpose of this study is to describe how far a village called a tourist village is feasible as a tourist place by introducing the tourism criteria, what are the criteria for a village to be called a tourist village. This research is a descriptive qualitative research, using Kampung Lawas Maspati and Kampung Pelangi Kenjeran as objects of study to be compared based on the tourism criteria itself, to further examine how the physical (architectural) element settings play a role in accommodating tourism activities in the village itself. So that how far the two objects of study meet the existing tourist criteria so that they are feasible as tourist attractions. With this research, it is hoped that it can provide an understanding of what is meant by a tourist village and the importance of the role of architecture in realizing the tourism village it deserves. The results of the research show that the physical elements in Kampung Lawas Maspati meet the three criteria that a tourism village needs to have and there are tourism activities organized by local village managers, while Kampung Pelangi Kenjeran has not fulfilled existing tourism criteria, the availability of physical elements in Kampung Pelangi Kenjeran is very minimal. This proves that the term "tourism" in Pelangi Kenjeran village is still not appropriate as it should be. Key Words: setting, physical elements, activity, urban tourim village
Tatanan Permukiman Sepanjang Sungai sebagai Perwujudan Ekologi Masyarakat Yohanes Basuki Dwisusanto; Franseno Pujianto; Christian Hansen; M. Nawang Nawang
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4055 KB)

Abstract

Bermukim merupakan kebutuhan dasar dari setiap manusia. Permukiman yang ada berkembang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Sitinjau dari segi ekologi manusia, setiap permukiman pasti terbentuk dari dua hal, yang pertama adalah ekosistemnya atau wadah lingkungan alam permukiman tersebut, dan yang kedua merupakan sistem sosial yang ada di dalamnya.Permukiman Kampung Cidadap merupakan permukiman yang ada di sebelah Sungai Cikapundung, kampung ini akan dikaji melalui elemen-elemen pembentuk ekosistemnya serta elemen dan sistem sosial yang terjadi di dalamnya. Pengkajian akan dapat melihat bentuk kampung serta keterkaitan ekosistem yang berupa lingkungan alam (kontur, sungai, ruang terbuka), ekosistem buatan yang berupa massa bangunan dan juga ruang-ruang sirkulasi. Sistem sosial yang terbentuk didalamnya meliputi pelaku (usia dan gender), struktur aktivitas, dan struktur kepercayaan .
PERANCANGAN GEREJA ST. GABRIEL BANDUNG Mimie Purnama; Rahadhian Prajudi Herwindo; Y. Basuki Dwisusanto; Sanjaya Hartanto; Kiki Amelia Putri; Stephanie Adryan; Lilian Setiawan
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16682.303 KB)

Abstract

Kegiatan Pengabdian dengan judul PERANCANGAN BANGUNAN GEREJASANTO GABRIEL ini, ditujukan untuk membuat rancangan bangunan baru bagi Gereja Santo Gabriel diatas lahan seluas lebih dari tiga ribu meter persegi, yang letaknya bersebelahan dengan bangunan Gereja Santo Gabriel yang ada sekarang ini.Bangunan Gereja St Gabriel yang ada sekarang dirasakan sudah tidak dapat lagi menampung kebutuhan yang ada, seperti kapasitas tempat duduk, ruang-ruang untuk menunjang kegiatan beribadah dan kenyamanan termal, visual dan audial nya. Sehingga diputuskan untuk membangun Gereja Santo Gabriel dengan rancangan baru yangdisesuaikan dengan perkembangan kebutuhannya.Rancangan baru Gereja St. Gabriel dialokasikan dapat menampung seributempat duduk di ruang dalam gereja. Bila diperlukan, ada teras lantai dasar di ruang luar bangunan yang cukup untuk menampung dua ratus sampai tiga ratus kursi disana. Bangunan Gereja ini juga dilengkapi dengan ruang basement yang direncanakan untuk menampung kegiatan penunjang beribadah lainnya.Kenyamanan termal dan visual dirancang dengan pendekatan disain pasif yang artinya lebih memerdayakan energi alami seperti angin, cahaya matahari dan tanaman untuk mendapatkan kenyamanan termal dan visual kedalam ruangan gereja.Sedang bentuk bangunan gereja diilhami oleh bangunan tradisional sundadengan atap lebar yang menaungi, dinding-dinding bangunan yang bebas membawa udara segar masuk ke dalam ruangan dan kaki bangunan yang cukup tinggi mengangkat lantai dasar dari muka tanah.Selebihnya seperti bangunan-bangunan ibadah lainnya, ruangan Gereja St. Gabiel ini, dikondisikan oleh desain interiornya agar umat mendapat kenyamanan lahir dan bahtin yang optimal dalam menjalankan ibadahnya. Semoga apa yang direncanakan ini, sungguh juga atas kehendakNYA, amin.  
FENOMENA THE SACRED PUBLIC SPACE BERDASARKAN TEORI LEFEBVRE “THE PRODUCTION OF SPACE” STUDI KASUS: RUANG PUBLIK KOTA LARANTUKA SEBAGAI CITRA KOTA REINHA ROSARI Reginaldo Christophori Lake; Yohanes Basuki Dwisusanto; Yohanes Djarot Purbadi; Fransiscus Xaverius Eddy Arinto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4345.459 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i2.452

Abstract

Citra kota menjadi gerbang awal mengenal sejarah, budaya, ekonomi dan sosial suatu kota. Namun, sebagian besar citra kota terbatas hanya mengikuti trend kota-kota modern tanpa melihat sejarah awal terbentuknya kota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penerapan konsep produksi ruang publik sebagai citra kota. Sejalan dengan tujuan tersebut, Kota Larantuka dipilih sebagai studi kasus. Teori Lefebvre “The Production of Space” dan elemen primer kota digunakan untuk membaca isu dari studi kasus, kemudian interpretasi diperoleh dari analisis deskriptif. Penelitian ini melengkapi penelitian yang ada tentang ritual Semana Sancta dan ruang publik kota, dengan mengeksplorasi isu penelitian secara mendalam pada kasus studi. Diharapkan bahwa proses perancangan citra kota dan ruang publik kota terwujud dari meaningful; responsive; dan democratic. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi para pemangku kebijakan dan pelestarian arsitektur, serta masyarakat awam.Kata Kunci: Citra Kota Reinha Rosari, Ruang publik sakral, Semana Sancta Larantuka
THE MEANING OF “BOUNDARY LINE” DUE TO THE PRECAST MODULE SYSTEM IN ‘RUSUNAWA’ BUMI CENGKARENG INDAH, JAKARTA, INDONESIA Y. Basuki Dwisusanto; Fermanto Lianto; Lilianny Sigit Arifin
Dimensi: Journal of Architecture and Built Environment Vol. 45 No. 2 (2018): DECEMBER 2018
Publisher : Institute of Research and Community Outreach, Petra Christian University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.853 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.45.2.173-180

Abstract

This research reveals meaning of “boundary line” due to the precast module system in Seruni 8 block, ‘Rusunawa’ Bumi Cengkareng Indah, Jakarta, Indonesia. The Grounded Theory method, with the type of “constant comparison”, which is a semi-grounded theory, is chosen to express the meaning of the “boundary line” from the residents’ point of view. The coding process in data processing uses computer program Maxqda. The results of this study indicate that well-established relationships between occupants can transform the boundaries of private corridor ownership (individual territory) into joint ownership (communal territory) as a place to socialize and share goods placed in the corridor, and maintain the cleanliness of the corridor together, so that the “boundary line” due to the precast module system for residents of the Seruni 8 block, ‘Rusunawa’ Bumi Cengkareng Indah, Jakarta, does not affect the meaning of the boundaries as the individual territory, because the communal territory is stronger than the “boundary line” due to the precast module system.
THE IMAGE TRANSFORMATION OF CIREBON’S CHINATOWNBASED ON COLONIAL, INDEPENDENCE ANDPOST INDEPENDENCE ERA Franseno Pujianto; Yohanes Basuki Dwi Susanto; Hartanto Budiyuwono; Yohanes Karyadi Kusliansjah; Indri Astrina Wirakusumah; Alvin Jonatan
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Idealog Vol 8 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v8i1.4344

Abstract

Perjalanan sejarah kota Cirebon tidak dapat dipisahkan dari peran Keraton, Kampung Pecinandan Kampung Arab. Fakta adanya kampung Pecinan ini sudah dikenali berdasarkan catatan duta Negara Spanyol, Tomé Pires, sekitar tahun 1517 Masehi, yang menyatakan bahwa di depan Keraton Cirebonterdapat Kampung Arab dan Kampung Cina. Perekaman sejarah Kota Cirebon belumada yangmenyentuh citra kawasan Pecinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalananperubahan citra kawasan Pecinan Cirebon berbasis kesejarahan. Langkah penelusuran dimulai denganupaya: (1) Pendalaman literatur arsitektur di kota tua Cirebon untuk mengumpulkan informasi keberadaan bangunan-bangunan yang berkaitan langsung dengan sejarah Cirebon berdasarkan klasifikasi era kolonial, era kemerdekaan dan era pasca kemerdekaan (2) Perekaman tipe-tipe fisik spasial yangterdapat di kawasan Pecinan Cirebon sesuai lini masa kesejarahan melalui pendekatan citra kawasan; (3) Proses analisis dengan mendeskripsikan perubahan citra kawasan yang terjadi pada kawasan berdasar lini masa kesejarahan. Manfaat dari penelitian ini berupa rekaman data terhadap perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebon dalam tiga periode kesejarahan yang dapat digunakan bagi pengembangankawasan Pecinan selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan perubahan citra Kawasan Pecinan Cirebonditandai dengan bergesernya path, nodes, edge, distric dan landmark sejalan dengan bergesernya pemegang kekuasaan pada masing-masing periode. Kata kunci : Arsitektur, Cagar Budaya, Cirebon, Pecinan.
Implementasi Konsep Wellness Architecture pada Amanjiwo Indra Suhartono; Yohanes Basuki Dwisusanto; P. Herman Wilianto
Civil Engineering Collaboration Vol. 8 (2023) No. 1
Publisher : Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jcivil.v8i1.57

Abstract

Pengetahuan dan perhatian masyarakat terhadap kesehatan pada masa kini telah meningkat. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan ketertarikan terhadap wellness dan produknya. wellness berarti kondisi kesehatan fisik, mental dan sosial yang baik dan bukan hanya sekedar terbebas dari penyakit. Pertumbuhan industri pariwisata wellness meningkat pesat jauh diatas industri pariwisata secara umum. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana hotel-hotel tersebut mengimplementasikan konsep wellness dalam bentuk fasilitas hotel secara fisik. Kajian mengenai arsitektur dan kaitannya dengan wellness dapat dikaji karena manusia hidup dalam ranah lingkungan binaan yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial. Penelitian ini akan mengkaji tataan massa pada hotel yang memiliki kaitan dengan konsep wellness dan kaitan rancangan  dengan wellness individu. Tiga hotel yang dimiliki oleh Aman grup yang ada di Indonesia akan menjadi kasus studi karena Aman Grup terkenal dengan wellness-nya. Hotel tersebut adalah Amanjiwo yang ada di Magelang. Hotel ini akan dibandingkan implementasi wellness mereka dari aspek tataan bangunan. Amanjiwo telah mendukung wellness dari segi visual, audial, termal, penciuman, dan kinestesia.