Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Measuring What Matters: Goal‑Free Evaluation Of Holistic Assessment In Arabic Language Education Samin, Saproni Muhammad; Jaafar, Azhar; Supriady, Harif; Pebrian, Rojja; Zulkifli, Alfitri; Yunita, Yenni
Ijaz Arabi Journal of Arabic Learning Vol 9, No 1 (2026): Ijaz Arabi: Journal Of Arabic Learning
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ijazarabi.v9i1.36779

Abstract

Outcome-Based Education (OBE) requires assessment that captures not only knowledge but also professional dispositions and observable performance. Program-level evidence in Arabic Language Education (ALE) remains limited, especially studies that link holistic assessment design to institutional quality indicators and graduate outcomes. The study aims to appraise the effectiveness of a holistic assessment system (cognitive–affective–psychomotor) in the ALE Study Program at Universitas Islam Riau using Goal Free Evaluation (GFE) and to examine its association with academic attainment and graduate outcomes. This study is a mixed-methods, descriptive dominant design employing GFE to evaluate effectiveness through actual outcomes rather than predetermined targets. Data sources included three academic years (Y2 [2022] to Y [2025]) of institutional records, quality assurance documents (GLOs•CLOs•sub-CLOs; rubrics), micro-teaching artefacts, student satisfaction surveys, and a tracer study. Association with academic attainment was examined through temporal trends in GPA and on-time graduation; association with graduate outcomes through employment rates and time-to-job. Findings: GFE evaluation revealed system effectiveness across all domains: (i) cognitive—mean GPA remained consistently high (3.69–3.78) and on time graduation reached 52% in Y; (ii) affective—“very good” ratings ≥75% across service dimensions; (iii) psychomotor—standardized micro teaching ecosystem (≥4 practices/semester; ≥10 core skills; B threshold). Association with academic attainment: The 40–30–30 design, explicitly linked to GLOs→CLOs, showed a strong association: stable, high GPAs across three years and improved on-time graduation indicate that the system effectively supports quality and efficiency. Association with graduate outcomes: Strong positive association demonstrated—97.5% placement, 4.8-month time-to-job, with education sector dominance (~77%) corresponding to psychomotor emphasis on teaching skills. The integrated competence (cognitive mastery, affective dispositions, psychomotor skills) developed through the holistic assessment system directly contributed to favorable employment outcomes. Conclusion: A 40–30–30 assessment design explicitly linked to GLOs→CLOs effectively sustains performance across three domains and employability. GFE evaluation demonstrated apparent effectiveness and strong associations with both academic attainment and graduate outcomes. Recommendations include rubric standardization, assessor moderation, analytics dashboards, and longitudinal tracking.
Outcome-Based Arabic Language Education: Leveraging Learning Analytics for Graduate Success Samin, Saproni Muhammad; Zakaria, Gamal Abdul Nasir; Pebrian, Rojja
Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/a.v12i2.46603

Abstract

This study evaluates an Arabic Language Education Program's Outcome‑Based Education (OBE) implementation using a Goal‑Free Evaluation Model (GFEM). The research objectives were to: (1) link Graduate Learning Outcomes (GLO) with Course Learning Outcomes (CLO) and assessments, (2) appraise Student‑Centered Learning (SCL), authentic assessment, and facilities/IT support, and (3) synthesize educational outputs and graduate employability. The methodology employed a convergent, multi‑source design triangulating curriculum records, satisfaction and employer surveys, tracer coverage, academic indicators, research/engagement portfolios, facilities/IT audits, and stakeholder interviews conducted from 2022 to 2024. The results demonstrate consistent implementation from planning to outcomes: GLOs cascade effectively to CLOs; SCL (problem, project, case‑based) is routinely implemented; micro‑teaching is institutionalized across the program. Key findings include GPA 3.73, time‑to‑degree 3.8 years, on‑time graduation 52%, tracer coverage 92.86%, employability/entrepreneurship/further study 97.5%, and 4.8‑month waiting time. The study concludes that identity‑rooted OBE improvements with global responsiveness are achievable through systematic implementation, continuous monitoring, and cultural integration within educational frameworks.
Hambatan dalam Menciptakan Lingkungan Bahasa Arab di Pondok Pesantren Al-Munawaroh Pekanbaru Alfitri Alfitri; Harif Supriyady; Saproni Saproni
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ibtikar.v9i1.6102

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi hambatan dalam menciptakan lingkungan bahasa arab di pondok pesantren semi salaf- semi modern se-kota pekanbaru. Selain itu kita temukan dalam observasi beberapa pondok pesantren di kota pekanbaru bahwa masih punya hambatan dalam menciptakan lingkungan bahasa arab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hambatan dalam menciptakan lingkungan bahasa arab semi salaf- semi modern se-kota pekanbaru. Kerangka teori yang digunakan adalah teori Lingkungan bahasa arab dengan indicator lingkungan formal dan informal,dengan indikator adanya pengajian kitab salaf, ada kurikulum modern, mempunyai indepedensi dalam menuntukan kebijakan dan ada ruang kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan,Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Kepala MTs dan MA Pondok Pesantren Al-munawaroh dan Al-ikhwan dalam wawancara bahwa Penilaian beliau sebagai pelaku yang mengambil kebijakan bahwa pelaksanaan menciptakan Lingkungan bahasa arab belum maksimal berjalan karena ini bukan menjadi tujuan utama dalam program madrasah, Belum dibuatnya Regulasi tentang lingkungan bahasa arab,  tidak adanya saling melakukan koordinasi antar penggerak bahasa dalam menciptakan lingkungan bahasa arab,Minimnya  tenaga Penggerak dan Pengajar  bahasa arab yang kompeten, Tidak adanya fasilitas yang mendukung dalam menciptakan lingkungan bahasa arab.
Pendidikan Kemandirian Dalam Islam Ahmad, Saproni
Journal Sport Area Vol 1 No 2 (2016): December
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2016.vol1(2).391

Abstract

Sebagian karakter yang diterangkan dalam syariat Islam adalah karakter kemandirian, kemandirian dalam mempertanggungjawabkan prilaku dan perbuatannya di hadapan Allah kemudian di hadapan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dimana seseorang berada. Kemandirian ini diberlakukan mulai dari seorang anak sampai pada status akil baligh. Ditinjau dari perspektif pendidikan, bahwa masa akil baligh adalah masa ia telah mendapatkan bekal pemahaman yang cukup untuk bekal ia sebagai seorang muslim yang mulai berdiri sendiri dengan tanggungjawab personal dihadapan Tuhannya. Masa Baligh adalah sebuah fase baru dalam kehidupan setiap muslim yang harus dihadapi oleh mereka dengan bekal karakter kemandirian yang memadahi, dan karakter kemandirian ini ternyata harus by design disebabkan tuntutan umur, yaitu minimal pada umur 15 tahun, setiap pribadi muslim sudah mempunyai kemampuan yang menjadikan mereka berdiri sendiri dalam mempertanggungjawabkan semua sikap, tindakan dan prilakunya. Berangkat dari hal di atas, pembentukan karakter kemandirian pada seorang anak adalah tanggungjawab orangtua dan pemerintah melalui kurikulum pendidikan. Metode penulisan yang digunakan adalah kajian pustaka Dr. Yusuf Al Qaradhawi terhadap Al Quran dan Sunnah terkait dengan aktivitas usaha yang bisa di lakukan seseorang, sehingga dari tulisan ini diharapkan dapat memudahkan dalam upaya membuat panduan program dan muatan kemandirian dalam kurikulum pendidikan kedepannya.