Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

A Case Report: A 11-Years Old Female with Retinitis Pigmentosa Vania, Vania; Faozan, Faozan; Felix, Felix
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i11.16980

Abstract

Retinitis pigmentosa is a hereditary retinal neurodegenerative disease with the classic presentation of night blindness (nyctalopia), with gradual degeneration of vision until blindness). This study aims to analyze a clinical case of retinitis pigmentosa (RP) in an 11-year-old female with primary symptoms of nyctalopia, progressing visual impairment, and distinctive retinal pigmentation changes identified during funduscopy. RP is a hereditary retinal degenerative condition that commonly presents as night blindness, progressing to severe vision loss or blindness. In this case, a comprehensive physical and ophthalmic examination revealed decreased visual acuity, refractive errors, and vascular attenuation, characteristic of RP, without systemic abnormalities or familial history, classifying it as a sporadic case. Given that RP is typically inherited in autosomal dominant, autosomal recessive, or X-linked patterns, sporadic cases are rarer and require careful diagnosis. This study underscores the importance of thorough ocular assessments, particularly fundus examinations, in identifying early retinal changes in RP, as well as the challenges in diagnosis without a family history. The findings emphasize that, while RP is primarily ocular, extraocular manifestations in syndromic forms also exist. RP remains a major cause of blindness worldwide, and while emerging treatments—such as gene therapy and retinal implants—offer new potential, a standardized management protocol is yet to be established. This study advocates for continued research into targeted therapeutic options to improve outcomes and quality of life for RP patients, and highlights the need for early diagnosis and ongoing monitoring to manage disease progression effectively.
Laporan Kasus Pasien dengan Ods Pseudofakia Degenerasi Retina, Sineresis, Presbiop, Astigmatisma Mixtus Od Pterigium Grade II Miracle, Gabriela; Faozan, Faozan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.56985

Abstract

Gangguan refraksi dan kelainan struktural mata sering terjadi bersamaan, menyebabkan gangguan penglihatan yang berdampak pada aktivitas sehari-hari. Kombinasi kondisi seperti pseudofakia, degenerasi retina, sineresis vitreus, presbiopia, astigmatisma mixtus, dan pterigium dapat menurunkan ketajaman penglihatan serta kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pendekatan diagnostik dan terapeutik pada pasien dengan kelainan refraksi dan gangguan struktural mata. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada seorang pria berusia 67 tahun, bekerja sebagai tukang las, yang datang ke Poliklinik Mata RS Bhayangkara Semarang dengan keluhan penglihatan buram pada kedua mata dan rasa mengganjal pada mata kanan. Riwayat menunjukkan adanya benda asing pada mata kiri akibat percikan gram delapan tahun lalu, serta operasi katarak bilateral pada Agustus dan September 2023, namun gangguan penglihatan masih berlanjut. Pemeriksaan pada 8 Desember 2023 menunjukkan ODS pseudofakia, degenerasi retina, sineresis vitreus, presbiopia, astigmatisma mixtus, dan pterigium Grade II-III pada OD. Terapi yang diberikan mencakup air mata buatan, multivitamin, serta terapi non-farmakologis berupa penggunaan kacamata dan opsi operasi pterigium dengan berbagai teknik. Pasien juga diberikan edukasi mengenai penyakitnya, faktor risiko, serta pentingnya kontrol rutin. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa kombinasi kelainan refraksi dan gangguan struktural dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan, sehingga penanganan multidisiplin melalui terapi farmakologis, non-farmakologis, serta edukasi pasien berperan penting dalam meningkatkan kualitas penglihatan dan mencegah perburukan kondisi.