Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALYSIS OF THE EFFECTIVENESS OF DIGITAL MARKETING STRATEGIES IN INCREASING INTEREST IN ENTERING SCHOOL AT HJ PRIMARY SCHOOL. ISRIATI BAITURRAHMAN 2 Setyowati, Dewi; Fatkuroji, Fatkuroji
PROCEEDING OF INTERNATIONAL CONFERENCE ON EDUCATION, SOCIETY AND HUMANITY Vol 2, No 2 (2024): Third International Conference on Education, Society and Humanity
Publisher : PROCEEDING OF INTERNATIONAL CONFERENCE ON EDUCATION, SOCIETY AND HUMANITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to find out how digital marketing strategies increase interest in entering school at SD Hj. Isriati Baiturrahman 2. This research is qualitative in nature by describing data and facts comprehensively through words. In this research, the results were obtained that the digital marketing strategy in increasing interest in entering school at SD Hj Isriati Baiturrahman 2 was in the effective category. This effectiveness is seen based on the researchers' findings, namely: 1. In digital marketing, schools use a combination of platforms such as Instagram for visual content, YouTube for video documentation and live streaming, Facebook for visual archive storage, and the school website as an official information center. 2. The school has such innovative Islamic-based education, extracurricular programs, and a family-friendly approach. 3. Elementary School Hj. Isriati Baiturrahman 2 shows that digital marketing that is planned and oriented towards school values is able to increase visibility, build a positive image, and attract the interest of prospective new students more effectively.
Dinamika Penerimaan Terhadap Tradisi Lokal di Era Globalisasi: Antara Pelestarian dan Modernisasi Fatkuroji, Fatkuroji
Jawda: Journal of Islamic Education Management Volume 3 Number 1 April 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jawda.v3i1.2022.29123

Abstract

Globalisasi membawa dampak kompleks terhadap keberlanjutan tradisi lokal. Di satu sisi, arus global mendorong homogenisasi budaya yang berpotensi mengikis identitas lokal; di sisi lain, ia membuka peluang bagi revitalisasi dan inovasi tradisi melalui adaptasi modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika penerimaan terhadap tradisi lokal di era globalisasi dengan menyoroti interaksi antara pelestarian nilai budaya dan tuntutan modernitas. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui telaah literatur dan analisis teoritik, penelitian ini mengkaji konsep globalisasi budaya, glokalisasi, serta teori penerimaan budaya (Berry, 2005). Hasil kajian menunjukkan bahwa penerimaan terhadap tradisi lokal bersifat dinamis dan kontekstual, tercermin dalam tiga pola utama: (1) kelangsungan budaya melalui adaptasi kreatif, (2) negosiasi budaya yang menyeleksi unsur modern sesuai nilai lokal, dan (3) resistensi terhadap modernisasi demi menjaga kemurnian tradisi. Pendidikan, media digital, dan kebijakan budaya terbukti berperan signifikan dalam memperkuat kesadaran identitas dan literasi budaya. Fenomena glokalisasi memungkinkan masyarakat mengintegrasikan nilai global tanpa kehilangan jati diri lokal, sementara modernisasi dipandang bukan ancaman, melainkan sarana pelestarian yang kreatif—misalnya melalui digitalisasi batik, festival budaya daring, dan reinterpretasi seni tradisi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian tradisi lokal di era globalisasi menuntut adaptasi selektif, kolaborasi antargenerasi, serta kebijakan inklusif yang mendukung inovasi berbasis nilai budaya. Dengan pendekatan tersebut, tradisi lokal tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi hidup sebagai sistem nilai dinamis yang relevan dengan kehidupan modern.
Peran Pendidikan Agama dalam Membangun Sikap Toleransi dan Pemikiran Radikalisme di Kalangan Pelajar Fatkuroji, Fatkuroji
Jawda: Journal of Islamic Education Management Volume 2 Number 2 October 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jawda.v2i2.2021.29125

Abstract

Penelitian ini membahas peran strategis pendidikan agama dalam membangun sikap toleransi dan mencegah munculnya radikalisme di kalangan pelajar di tengah masyarakat multikultural. Pendidikan agama berfungsi tidak hanya sebagai sarana pembentukan spiritualitas dan moralitas, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan penghargaan terhadap keberagaman. Melalui kurikulum yang inklusif, metode pembelajaran reflektif, serta keteladanan guru, pendidikan agama berpotensi besar dalam membentuk karakter moderat dan mencegah eksklusivisme beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap berbagai sumber pustaka, laporan lembaga keagamaan (ELSA, Wahid Foundation), serta studi-studi empiris terkini tentang pendidikan agama dan moderasi beragama. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik keagamaan baik di level global maupun nasional dipengaruhi oleh faktor teologis, politik, ekonomi, dan sosial. Pendidikan agama yang menekankan aspek kognitif semata tanpa penguatan afektif dan sosial dapat berkontribusi pada munculnya sikap intoleran. Sebaliknya, pendidikan agama yang berbasis peace education dan religious moderation terbukti efektif dalam membangun kesadaran toleransi dan mengurangi potensi radikalisme di sekolah maupun pesantren. Peran guru pendidikan agama sangat sentral sebagai role model dalam menanamkan nilai-nilai moderasi dan dialog antariman. Kurikulum Merdeka yang mengintegrasikan Profil Pelajar Pancasila — khususnya nilai “beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia” — menjadi pijakan penting dalam membentuk pelajar religius sekaligus toleran. Lingkungan pendidikan seperti sekolah dan pesantren juga perlu dikembangkan sebagai ruang sosial inklusif melalui kegiatan lintas iman dan pembelajaran multikultural. Kesimpulan penelitian ini bahwa pendidikan agama memiliki peran fundamental sebagai agen resolusi konflik dan deradikalisasi di kalangan pelajar. Upaya menanamkan moderasi beragama harus diimplementasikan secara holistik melalui sinergi kurikulum, guru, dan lingkungan belajar. Dengan demikian, pendidikan agama bukan sekadar transfer doktrin, tetapi proses transformatif yang menumbuhkan sikap kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin), keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan dalam bingkai kebangsaan.
Pendidikan Agama dalam Meresolusi Pemikiran Radikalisme di Pesantren Fatkuroji, Fatkuroji
Jawda: Journal of Islamic Education Management Volume 1 Number 1 October 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jawda.v1i1.2020.29127

Abstract

Konflik antarumat beragama merupakan fenomena historis yang kompleks dan masih berlangsung hingga kini. Di tengah meningkatnya stereotip terhadap Islam sebagai agama radikal, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren memiliki peran strategis dalam meredam potensi radikalisme dan membangun kerukunan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model manajemen resolusi konflik dan peran pendidikan agama di pesantren dalam menanggulangi pemikiran radikal serta menguatkan moderasi beragama.Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan telaah pustaka dan analisis teoritis terhadap konflik keagamaan, teori manajemen konflik, serta hasil observasi di beberapa pesantren di Jawa Tengah. Kajian pustaka mencakup berbagai teori konflik dari Coser, Boulding, dan Galtung, serta studi perbandingan dari Freedman (2019), Luo et al. (2010), dan Paul Ilo (2014) mengenai peran pemimpin dan lembaga keagamaan dalam penyelesaian konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik di lingkungan pesantren umumnya bersumber dari perbedaan pandangan keagamaan, interpretasi ajaran, serta interaksi sosial antara santri dan masyarakat eksternal. Untuk itu, pesantren mengembangkan tiga model manajemen resolusi konflik, yaitu: 1) Pendekatan Edukatif-Dialogis, melalui pengajaran nilai toleransi dan moderasi dalam halaqah serta mudzakarah yang melibatkan berbagai kelompok pemikiran Islam; 2) Manajemen Partisipatif-Transformasional, dengan melibatkan seluruh elemen pesantren dalam pengambilan keputusan, membangun kepemimpinan kyai yang inklusif, dan menanamkan nilai rahmatan lil ‘alamin. 3) Pendekatan Sosio-Kultural Rekonsiliatif, yaitu rekonsiliasi berbasis kegiatan sosial lintas komunitas untuk memperkuat kohesi sosial dan mencegah radikalisasi.
Komitmen Kebangsaan Generasi Z di Tengah Arus Media Sosial dan Budaya Global Fatkuroji, Fatkuroji
Jawda: Journal of Islamic Education Management Volume 4 Number 2 October 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jawda.v4i2.2023.29135

Abstract

Di era globalisasi dan transformasi digital, Generasi Z menghadapi tantangan kompleks dalam mempertahankan komitmen kebangsaan di tengah derasnya arus media sosial dan pengaruh budaya global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika identitas kebangsaan, semangat patriotisme, dan nilai-nilai kewarganegaraan Generasi Z, serta bagaimana paparan media sosial dan tren budaya global memengaruhi rasa kebangsaan mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan survei terhadap 300 mahasiswa dan pelajar sekolah menengah, serta wawancara mendalam dan etnografi digital pada platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Generasi Z memiliki tingkat adaptabilitas tinggi dan keterbukaan terhadap nilai-nilai global, terjadi penurunan komitmen kebangsaan yang tercermin pada melemahnya identitas budaya dan tanggung jawab sosial. Namun, literasi digital, kesadaran kritis bermedia, serta pendidikan berbasis nilai berperan penting dalam memperkuat kesadaran kebangsaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lembaga pendidikan dan pembuat kebijakan perlu memperkuat pendidikan kewargaan digital serta mempromosikan nasionalisme inklusif melalui kampanye media sosial, konten kreatif, dan dialog lintas budaya untuk menjaga integritas bangsa di era global.