Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Kelimpahan Foraminifera Bentonik Besar Diva Putri Faulina; Lili Fauzielly
BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains Vol 7 No 1 (2024): Bioedusains: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/bioedusains.v7i1.8150

Abstract

The aim of this research is to determine the abundance of large benthic foraminifera in the study area. This research method is descriptive quantitative. There were 4 thin section samples used in this research, these samples came from cores at a depth of (36m – 39m). The results of the research showed that from the four incisions, 7 variations of large benthonic foraminifera genera were found, including, Spiroclypeus, Alveolina, Trillina hawchini, Cycloclypeus, Miogypsina, Heterostegina, and Assilina. Analysis of the abundance of large benthic foraminifera was carried out based on identification of the presence of foramnifera in each thin section sample. It is known that the thin section sample with the highest abundance of large benthonic foraminifera was in the code section sample (38m – 39m) with a total abundance of 9 individuals, consisting of 4 different genera of large benthonic foraminifera. In conclusion, the abundance of large benthic foraminifera tends to increase with increasing core depth. Keywords: Large Benthonic Foraminifera, Genus, Abundance, Rajamandala
FOSIL KAYU Dryobalanoxylon sp. PADA FORMASI GENTENG DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN DAN PALEOFITOGEOGRAFINYA DI INDONESIA Hanny Oktariani; Winantris Winantris; Lili Fauzielly
Bulletin of Geology Vol 2 No 1 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.1.5

Abstract

Fosil kayu ditemukan di Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Fosil kayu terawetkan pada batuan tufa, formasi Genteng yang berumur Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan terestrial. Untuk mengetahui jenis fosil kayu dilakukan pengamatan anatomi dengan cara membuat preparat dari 3 bidang yaitu lintang, radial dan tangensial. Pembuatan preparat fosil kayu sama seperti pembuatan preparat sayatan tipis pada batuan. Hasil pengamatan anatomi pada fosil tersebut menunjukkan ciri : sel pembuluh baur, hampir seluruhnya soliter, dengan frekuensi pembuluh 4 - 8 per mm2, trakeid vaskisentrik, terdapat tilosis, lebar jari-jari 1-3 seri, lebar jari-jari besar 4 - 10 seri, saluran interseluler aksial dalam baris tangensial panjang dengan ukuran lebih kecil dari pembuluh. Ciri tersebut memiliki kesamaan dengan Famili Dipterocarpaceae, Genus Dryobalanoxylon. Dryobalanoxylon tercatat ditemukan di Indonesia sejak Miosen - Plistosen di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
PRELIMINARY STUDI KELIMPAHAN MIKROFAUNA DAN POLEN DI TELUK CILETUH, KAWASAN GEOPARK CILETUH, SUKABUMI Fauzielly, Lili; Jurnaliah, Lia; Winantris, .; Fitriany, Ria; Rosana, Mega Fatimah
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.56710

Abstract

Sebanyak 31 sampel sedimen dari Teluk Ciletuh telah digunakan untuk studi mikrofauna dan polen. Pengambilan sampel permukaan menggunakan metoda shallow coring untuk analisis polen dan grab untuk mikrofosil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial mikrofauna dan polen di daerah konservasi kawasan Geopark Ciletuh.Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada bagian barat dan timur dari muara Sungai Palangpang. Secara umum, kondisi perairan di bagian barat dari muara sungai terlihat lebih jernih daripada perairan sebelah timur. Sedimen pantai di sebelah timur menunjukkan penghalusan ke arah barat, terdiri atas sedimen berupa pasir sangat kasar-sangat halus dengan kandungan pecahan fragmen cangkang bivalvia yang dominan, ke arah pantai berkembang kawasan mangrove yang dikembangkan oleh komunitas masyarakat setempat. di bagian barat dari muara sungai, sedimen berupa pasir sedang hingga lempung, dan ke arah pantai, endapan berupa pasir sedang yang bercampur dengan tanah.Hasil identifikasi dari 25 sampel sedimen yang diambil dari Teluk Ciletuh menunjukkan hanya 19 sampel yang mengandung mikrofauna. Identifikasi mikrofauna dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung jumlah individu per 1 gram sampel sedimen kering. Terdapat 5135 individu mikrofauna, dengan kelimpahan secara berurutan adalah dari kelompok foraminifera bentonik (82,07%), foraminifera planktonik (5,84%), spikula (4,55%) dan kelompok non foraminifera (7,53%).Dari kawasan mangrove yang berada di pantai Cikadal, analisis polen terhadap 6 sampel sedimen permukaan diperoleh polen asal lingkungan mangrove, polen freshwater, terrestrial dan polen dari pegunungan.
Ostrakoda Formasi Bentang-Formasi Koleberes Cimaragang, Cianjur, Jawa Barat Nugraha, Cahya; Lili Fauzielly; Lia Jurnaliah
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 3 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i3.878

Abstract

Abstrak-Keberadaan fosil ostrakoda pada Formasi Bentang dan Formasi Koleberes, tidak pernah muncul untuk dijadikan acuan karakteristik kedua satuan batuan tersebut. Ostrakoda memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap lingkungan, sehingga dapat digunakan untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Berdasarkan bukti penelitian dan catatan peneliti terdahulu, terungkap bahwa daerah penelitian dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik. Hal ini menyebabkan pengawetan fosil ostrakoda kurang baik, fosil ostrakoda ditemukan dalam bentuk karapas teraglutinasi, sehingga determinasi fosil ostrakoda hanya dapat dilakukan sampai tingkat genus. Sebanyak 13 genus dengan total 900 specimen ostrakoda yang berasal dari 10 family antara lain: Trachyleberididae, Xestoleberididae, Leptocytheridae, Thaerocytheridae, Cytherideidae, Cushmanideadidae, Bythocyprididae, Cytheromatidae, Philomedidae, dan Bythocytheridae, dapat diidentifikasi dari 13 contoh batuan. Indeks diversitas ostrakoda daerah penelitian tergolong diversitas rendah - sedang. Genus ostrakoda yang melimpah pada kala Miosen Tengah hingga Pliosen Awal yakni Lankacythere yang termasuk dalam kumpulan ostracoda autochthonous dan Keijella, yang merupakan ostrakoda penciri lingkungan laut dangkal, paparan kontinen <100m dengan karakteristik laut tropis. Katakunci: Formasi Bentang, Formasi Koleberes, Lingkungan Pengendapan, Ostrakoda.
Dryobalanoxylon sp. : a fossil wood preserved in the Genteng Formation from Lebak Regency, Banten Province, Indonesia oktariani, Hanny; Winantris, .; Fauzielly, Lili; Damayanti, Ratih
Journal of Geological Sciences and Applied Geology Vol 2, No 3 (2017): Journal of Geological Sciences and Applied Geology
Publisher : Faculty of Geological Engineering, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/gsag.v2i3.15620

Abstract

The fossilized wood unearthed in Sindangsari Village, Sajira District, Lebak Regency, Banten Province, Indonesia. The depositional environment of this Early Pliocene  fossilized wood that has been  found  in tuff sediment of Genteng Formation corresponds littoral to terrestrial deposition. To identify a fossil wood type, preparation made from three sides; transverse, radial and tangential. The preparation of  thin section following to the one method in the rock petrography.  Anatomical features of the fossil wood are as follows : wood porous diffuse, vessel almost exclusively solitary with 7 – 14 / mm2, ray width 1 to 3 cells, larger rays commonly 4 to 10 seriate, body ray cells procumbent with one row of upright and/or square marginal cells,  axial canals in long tangential lines, prismatic crystals in parenchyma cells.  These features show affinities of the fossil wood to Dryobalanoxylon member of family Dipterocarpaceae.
ASOSIASI FASIES & REKONSTRUKSI PALEOGEOGRAFI PADA ZONA TRANSISI FORMASI TALANGAKAR, CEKUNGAN ASRI, LEPASPANTAI BLOK TENGGARA SUMATRA, INDONESIA Ralanarko, Dwandari; Iqbal Ramadhan, M.; Fauzielly, Lili; ⠀, Winantris; Syafri, Ildrem; ⠀, Abdurrokhim
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.19.2.2021.736

Abstract

Lapangan Widuri terletak pada konfigurasi antiklin tersesarkan yang terletak pada back arc basin Cekungan Asri, Sumatera Tenggara yang berumur Paleogen. Lapangan Widuri pertama kali dilakukan pemboran sumur eksplorasi pada tahun 1988 pada reservoir Batupasir Formasi Talangakar. Penelitian terdahulu belum pernah mengintegrasikan data sumur dan data seismik 3D untuk mengidentifikasi penyebaran reservoir batupasir dan rekonstruksi paleogeografi, sehingga dilakukan penelitian pada interval reservoir 35-A dan 34-B yang merupakan dua dari enam reservoir produktif di Lapangan Widuri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk pengkarakterisasian asosiasi fasies dan rekonstruksi paleogeografi dengan mengintegrasikan data deskripsi batuan inti, petrografi, log tali kawat, biostratigrafi, uji sumur, dan seismik 3D. Metode yang digunakan meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan, analisis stratigrafi sikuen, pemetaan struktur, geometri reservoir, hingga rekonstruksi pengendapan.. Hasil analisis pada interval 35-A dan 34-B tersusun atas sembilan litofasies yaitu, F1, F2, F3, F4, F5, F6, F7, F8, F9. Interval 35-A menunjukkan lingkungan pengendapan Fluvial dengan 3 asosiasi fasies yaitu, Fluvial Channel, Floodplain, dan Swamp, sedangkan pada interval 34-B menunjukkan lingkungan pengendapan Fluvio-Tide Delta dengan 3 asosiasi fasies yaitu, Distributary Channel, Tidal Flat, dan Swamp. Distribusi fasies Channel digambarkan pada analisis geometri, stratigrafi sikuen, dan seismik 3D yang menunjukkan arah pengendapan dengan arah Baratlaut – Tenggara.  Data biostratigrafi berupa kemunculan akhir fosil polen berumur Oligosen Akhir dan kemunculan awal fosil foraminifera berumur Miosen Awal menunjukkan perubahan paleoenvironment secara gradual dari terrestrial (darat) menjadi transisi, serta paleoclimate dari iklim basah menjadi iklim kering yang terjadi pada rentang umur Oligosen Akhir – Awal Miosen. Berdasarkan data batuan inti yang menunjukkan perubahan litofasies Batupasir simpang siur dan Batulempung masif menjadi  Batupasir flaser dan Batulempung lenticular mencirikan pengaruh dari pasang surut air laut yang dikontrol oleh curah hujan dan iklim. Paleogeografi pada Interval 35-A dan 34-B secara umum mengikuti dua tahapan perekahan tektonik yaitu: 1) fase Late Syn-Rift dicirikan oleh lingkungan sungai berkelok dan dataran Alluvial pada interval 35-A (Oligosen Akhir); 2) fase Early Post-Rift, dicirikan oleh lingkungan sungai berkelok dan Deltaic pada interval 34-B (Miosen Awal).
STUDI KARAKTERISTIK DAN PERMODELAN TERMAL BATUAN INDUK TERSIER DI CEKUNGAN SALAWATI, PAPUA BARAT Arista Muhartanto; Ahmad Helman Hamdani Hamdani; Safrizal; Lili Fauzielly; Afriadhi Triwerdhana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cekungan Salawati memiliki cadangan minyak dan gas sejumlah 0.5 BBO dan 0.1 TCFG, diduga hidrokarbon dihasilkan dari batuan induk Tersier dan Pra-Tersier. Beberapa studi batuan induk telah dilakukan, seperti pada Formasi Sirga (Oligosen Akhir), Formasi Kais (Miosen Tengah) dan Formasi Klasafet (Miosen Akhir). Minimnya pengetahuan mengenai studi karakteristik dan pemodelan termal batuan induk Formasi Sirga dan Pre-Faumai, serta keingintahuan mengamati adanya pembalikan polaritas cekungan merupakan hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Metode penelitian menggunakan analisis geokimia petroleum yang meliputi: TOC, Rock Eval Pyrolisis, kerogen typing, vitrinite reflectance (%Ro ) dengan sejumlah 9 sampel cuttings. Kekayaan material organik berdasarkan parameter TOC pada kedua formasi menunjukkan kuantitas good to very good, sedangkan parameter PY menunjukkan kualitas fair to good potency sebagai batuan induk dalam menggenerasikan hidrokarbon. Tipe kerogen komposisinya didominasi NFA yang mengindikasikan pengendapan di lingkungan oxidizing marine atau lakustrin. Data plot HI terhadap Tmax, kerogennya menunjukkan campuran tipe II/III yang mengindikasikan pengendapan yang terjadi di lingkungan transisi (fl uvio-deltaic). Kematangan Formasi Sirga dan Pre-Faumai (Oligosen) berdasarkan %Ro dan Tmax menunjukkan tingkat yang rendah. Data kematangan berdasarkan pemodelan cekungan 1D pada sumur Warir-1X dan WIR-1A (di luar daerah penelitian) memperlihatkan evolusi kematangan yang telah mencapai level yang lebih tinggi, yakni early to mid-mature yang terjadi pada kala Pliosen Tengah, dan tingkat kematangan akhir dalam oil generation yang tercapai sejak Pleistosen Awal. Adanya pembalikan polaritas cekungan yang mengarah ke Selatan sebelum Pliosen, berubah menjadi mengarah ke Utara sebagai deposenter cekungan berdampak terhadap peningkatan kematangan termal. Pada deposenter, umumnya bertindak sebagai dapur yang matang (mature kitchen) yang merupakan tempat dihasilkannya hidrokarbon.
Palinomorf Kala Pliosen Pada Singkapan Sungai Cijurai Sumedang Jawa Barat Winantris, .; Jurnaliah, Lia; Fauzielly, Lili; Fitriany, Ria
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 3 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i3.59078

Abstract

Analisis polen dilakukan pada sampel yang diambil dari  singkapan  di Sungai Cijurai, Kabupaten Sumedang. Tujuan penelitian untuk merekonstruksikan palinomof pada masanya, umur relatif dan lingkungan pengendapan. Preparasi menggunakan metode hidrogen peroksida. Diperoleh palinomrorf yang terdiri dari  polen, spora pteridophya, foraminifera test linings, dan dinoflagellate cyst.  Secara garis besar asal palinomorf  dikelompokan menjadi dua yaitu palinomorf  marine dan terestrial. Terestrial  palinomorf terdiri dari polen dan spora kelompok  mangrove, back mangrove, freshwater swamp and mountain.   Palinomorf laut terdiri dari foraminifera test linings dan  dinoflagellate cyst. Komponen dinoflagellate cyst meliputi Peridinium, Protoperidinium  dan Spiniferites.  Ditemukan Polen penanda umur  Florschuetzia meridionalis, Florschuetzia levipoli,  Stenochlaenidites papuanus, Impatiensidites brevicolpus, dan Dacrycarpites australiensis. Sampel CJ-I  dengan umur relatif  Pliosen, sedangkan dua sampel diatasnya CJ2-02 dan CJ-3  adalah Pliosen akhir. Dari sampel bagian bawah ke posisi bagian atas sampel menunjukkan adanya perubahan  kuantitas palinomorf, keragaman maupun perbandingan jumlah palinomorf laut  dan terestrial. Nilai Index PMI berturu-turut dari CJ-1 sebesar 14,28, CJ-2 sebesar 13,63 dan CJ-3 sebesar 24,13. Seluruh nilai PMI kurang dari 51% yang mengindikasikan pengendapan berlangsung pada lingkungan  air payau, pada zona pasang surut air laut
Nutritional Fulfillment Counseling for Pregnant Women & Toddlers for Stunting Prevention in Babakan Village, Pangandaran Lili Fauzielly; Nancy Wahyuni; Lia Jurnaliah; Nisa Nurul Ilmi
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2024): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/abdimas.v7i3.4888

Abstract

The prevalence rate of stunting in Indonesia is considered high at 27.5% on a national scale and 25.1% for West Java province. Stunting is a chronic malnutrition problem characterized by short stature. Stunting may be hereditary, but consumption patterns play a role as a risk factor for stunting. Knowledge about proper consumption patterns is known to prevent stunting. This includes conducting educational activities about nutritious feeding patterns in families.Nutritional fulfillment counseling for pregnant women and toddlers has been conducted for the community in Babakan Village, Pangandaran. Participants who took part in this activity were members of the Dewi Manik Integrated Health Post (Pos Yandu). In addition to counseling, questionnaires were also distributed to assess the community's level of knowledge about nutrition in the family. A total of 64 participants aged 20 to 35 years completed the questionnaire. From the results of questionnaires given before and after the counseling, it was found that participants' knowledge about nutrition for pregnant women and toddlers was already quite good, but it has not been well applied as there is still a stunting rate of about 25% among toddlers from the survey subjects.Several efforts, such as providing more interactive and specific counseling materials about stunting and independent nutritional fulfillment, as well as more detailed and regular information about disease impacts, can be carried out for residents to help increase their awareness to independently prevent stunting.
OSTRACODA MIOSEN DARI FORMASI CIMANDIRI, SUKABUMI, JAWA BARAT FAUZIELLY, LILI; Winantris, .; Jurnaliah, Lia; Solihin, .; Fitriani, Ria
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.201 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i2.22735

Abstract

ABSTRAKLima belas spesies fosil ostracoda berumur Miosen dari Formasi Cimandiri telah dianalisis dari 6 conto sedimen yang berasal dari penampang stratigrafi lintasan S. Cimerang, Sukabumi. Analisis mikrofosil secara kuantitatif , memperlihatkan ostracoda Miosen tersebar pada litologi batulempung. Ostracoda yang melimpah pada lintasan ini adalah Hemicytheridea ornata, Cytherella hemipuncta, Hemicytheridea reticulata, Cytherelloidea excavata, Cyherella javaseanse, and Keijella carrirei.Berdasarkan kumpulan ostracoda, diketahui bahwa lingkungan pengendapan daerah penelitian adalah laut dangkal.Kata kunci: Ostracoda, Miosen, Cimandiri, Lingkungan Pengendapan, Batulempung.ABSTRACTFifteen species of fossil Ostracoda are describe from six sediment samples from Middle Miocene Cimandiri Formation, Sukabumi, West Java define from geological measure section profile Cimerang River. Microfossil Analysis based on quantitatively method, the distribution of Miocene Ostracoda be discovered in claystone lithology. Abundant ostracods are Hemicytheridea ornata, Cytherella hemipuncta, Hemicytheridea reticulata, Cytherelloidea excavata, Cyherella javaseanse, and Keijella carrirei. Based on the distribution of Ostracoda, it is known that the depositional environment of the study area is shallow sea.Keyword: Ostracoda, Miocene, Cimandiri, Depositional Environment, Claystone.