Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Jurnal Artefak

DINAMIKA HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA-AUSTRALIA TAHUN 1945-1995 Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 3, No 1 (2015): Maret (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.051 KB) | DOI: 10.25157/ja.v3i1.1109

Abstract

Sepanjang sejarah, perjalanan hubungan antara Indonesia-Australia mengalami fluktuasi. Hubungan dimulai dengan keharmonisan pada saat Indonesia merdeka. Australia berperan dalam membantu baik secara moril maupun materil terhadap perjuangan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan. Namun selanjutnya hubungan antara Indonesia dan Australia hampir selalu bergejolak. Faktor penyebab pasang naik dan surutnya hubungan Indonesia-Australia adalah perbedaan dalam hal pelaksanaan demokrasi dan budaya politik, kebijakan politik luar negeri, adanya kekhawatiran dan persepsi ancaman keamanan, dan kurang kokohnya hubungan ekonomi kedua negara.Kata Kunci: Dinamika, Hubungan Bilateral
TRADISI NYEPUH DI DESA CIOMAS KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS Yeni Wijayanti; Ai Wulan
Jurnal Artefak Vol 2, No 2 (2014): Agustus (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.824 KB) | DOI: 10.25157/ja.v2i2.1066

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi nyepuh adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa dalam menyebarkan agama islam di desa Ciomas. Agar dapat diteladani oleh para generasi muda untuk menghormati generasi yang lebih tua dan menjadi contoh bagi generasi penerus. Tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun setiap satu tahun sekali pada pertengahan bulan rewah atau seminggu sebelum menjelang bulan suci ramadhan. Supaya mendapatkan kemudahan, kekuatan dan keberkahan selama melaksanakan ibadah puasa serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Proses pelaksanaan dari tradisi nyepuh terdiri dari beberapa acara, yaitu sehari sebelum melaksanakan tradisi nyepuh dan acara ketika pelaksanaan berlangsung. Dalam upaya melestarikan tradisi nyepuh ini di tentukan oleh adanya pewarisan kebudayaan yang berada dilingkungan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya serta dapat melestarikan dan menjaga dari masuknya budaya asing dari luar.Kata Kunci: Pelestarian dan Tradisi nyepuhABSTRACTThe result of this research showed that the ritual tradition of nyepuh is a form of homage to the ancestors who had been instument in spreading the islamic religion in the ciomas village. In order to be emulated by the younger generation to respect the older generation, and became an example for the future generations. This tradition was held for generation annually In mid rewah or a week before the holly month of ramadhan. So get ease, strenght and blessing during fasting and increase faith and devotion to God Almighty. The process of implementation of the ritual tradition of nyepuh consist of several events, namely the day before carrying out ritual tradition of nyepuh and events when the execution took place. In the effort to conservate the ritual tradition of nyepuh is determined by their culture inheritance which is within the community from one generation to the next generation and can preserve and safeguard of the influx of foreign culture from the outside.Keywords: Preservation and Tradition Nyepuh
KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA MASA ORDE LAMA DIBIDANG EKONOMI TERHADAP BISNIS ORANG CINA Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 3, No 2 (2015): Agustus (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.995 KB) | DOI: 10.25157/ja.v3i2.1094

Abstract

Setiap periode pemerintahan selalu mempunyai kebijakan yang berbeda-beda, salah satunya kebijakan ekonomi. Seperti halnya pemerintahan masa kolonial Belanda akan berbeda dengan pemerintahan Sukarno. Tentu saja perbedaan kebijakan tersebut sekurang-kurangnya akan mempengaruhi gerak ekonomi para usahawan, tidak terkecuali pebisnis dikalangan orang Cina. Perlu adaptasi dengan pemerintahan baru yang didalamnya terdapat kebijakan baru, untuk menjalankan roda bisnisnya. Permasalahan utama yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah Indonesia masa Orde Lama dibidang ekonomi terhadap bisnis orang Cina. Pemerintahan dan kebijakan yang baru sedikit banyak berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis orang Cina di Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, orang-orang Cina mendapat tempat yang cukup strategis, sebagai perantara, penarik pajak, dan lain-lain.  Setelah merdeka, orang-orang Cina masih tetap dominan dalam bidang ekonomi hingga akhirnya ada program ekonomi yang menghambat mereka, tetapi kemudian hal ini tidak terlalu jadi masalah, yaitu sistem Benteng. Sistem ini justru melahirkan konspirasi ‘Ali-Baba’. Eksistensi pengusaha Cina dipengaruhi oleh nilai-nilai yang mereka terapkan seperti, hopeng, hong sui, dan hoki.Kata Kunci: Kebijakan, ekonomi, bisnis, dan Cina.ABSTRACTEach period of government always has a different policy, one economic policy. As well as Dutch colonial administration will vary with the Sukarno government. Of course, the policy differences at least will affect the economic activities of entrepreneurs, not least among the Chinese businessmen. Necessary adaptation to the new government in which there is a new policy, for running the business. The main issues discussed in this paper are how the Indonesian government policy in the economy during the Old Order against Chinese business. Government and the new policy is having some effect on the continuity of Chinese business in Indonesia. In the Dutch colonial period, the Chinese got a strategic place, as an intermediary, a tax collector, and others. After independence, the Chinese people is still dominant in the economic field until there is an economic program that hamper them, but then it does not really matter, namely the Fortress system. This system actually spawned conspiracy 'Ali-Baba'. Existence of Chinese entrepreneurs is influenced by the values that they apply like, close friend, hong sui, and hockey.Kata Kunci: Policy, economics, business, and China
PERANAN PENTING SEJARAH LOKAL DALAM KURIKULUM DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 4, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.702 KB) | DOI: 10.25157/ja.v4i1.735

Abstract

Kurikulum pendidikan sejarah dapat dikembangkan dengan memanfaatkan muatan lokal, dalam hal ini sejarah lokal. Muatan lokal dalam kurikulum pendidikan sejarah sangat penting apalagi jika mengingat kurikulum mempunyai fungsi pengintegrasian yaitu bahwa kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi dengan masyarakat. Pemerintah melalui kebijakannya secara serentak menerapkan kurikulum nasional (Kurikulum 2013) sebagai program yang terencana dalam membentuk manusia Indonesia yang bermartabat.Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ciamis. Tujuan penulisan ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran terhadap pengembangan ilmu kependidikan terutama yang berkaitan dengan kurikulum sejarah lokal. Pengembangan kurikulum pendidikan dilakukan dengan menggunakan pendekatan. Pendekatan integratif atau pendekatan terpadu dalam mengembangkan kurikulum bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau kesatuan yang bermakna dan terstruktur. Dalam hal ini, pendidikan anak adalah pendidikan yang menyeluruh. Oleh karena itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan pribadi yang utuh. Mata pelajaran hanyalah sebagian kecil faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, karena ada komponen lain yaitu bangunan, fasilitas, orang di sekitar, gambar, dan sebagainya. Disinilah pentingnya sejarah lokal dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Akan tetapi, muatan lokal (sejarah lokal) khususnya di sekolah-sekolah menengah atas di Kabupaten Ciamis masih belum menjadi sebuah mata pelajaran tersendiri.History education curriculum can be developed by making use of local content, in this case the local history. Local content in the curriculum of history education is very important especially when considering the integration of the curriculum has the function of which is that the curriculum serves to educate individuals who are integrated with the community. The government through its policies simultaneously implement the national curriculum (Curriculum 2013) as a planned program in a dignified Indonesian human form. This research was conducted in the district of Ciamis. The purpose of this paper is expected to contribute ideas towards the development of science education, especially relating to local history curriculum. Curriculum development is done using the approach. The integrated approach or an integrated approach in developing the curriculum starting point of a whole or unity meaningful and structured. In this case, the education of children is a well-rounded education. Therefore, the curriculum should be structured such that it is able to develop the whole person. Subjects only a small part factors that affect child development, because there are other components, namely buildings, facilities, people around, images, and so forth. This is where the importance of local history incorporated into the educational curriculum. However, local content (local history), especially in upper secondary schools in Ciamis still not become a separate subject.
DINAMIKA BUDAYA DAN SOSIAL DALAM PERADABAN MASYARAKAT SUNDA DILIHAT DARI PERSPEKTIF SEJARAH Yat Rospia Brata; Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.366 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3380

Abstract

The present study aims to uncover the historical development of Sundanese people’s local entities of cultural and social dynamics from the old and recent frame and its relationship with current trends of “life” digitalization. Local wisdom growing in Sundanese social structure reflects its cultural and social identities of people as each time period indicates. Culturally, life constructs of Sundanese people refers to the Kagaluhan values that promote high civilization as reflected from arts, musical, and local traditional performances such as dances and puppets, which suggest uniquely genuine local identities. Socially, the Sundanese’s people ways of Socializing process proved egalite. The study include steps of data collection through analyzing historical sites, artefacts, and documents, and interpreting them with reference to the civilization process of each time. Moreover, the analysis of both dynamics is also encountered by the reality of current trend of disruption of digital era. The study shows that Sundanese people’cultural and social constructs represent high quality of meaningful life.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan  sejarah budaya dari entitas lokal masyarakat Sunda dan dinamika sosial budaya dari sudut pandang masa lampau dan masa kini serta hubungannya dengan tren saat ini yaitu digitalisasi "kehidupan". Kearifan lokal yang berkembang dalam struktur sosial masyarakat Sunda mencerminkan identitas budaya dan sosial masyarakatnya seiring berjalannya waktu. Dari sudut pandang budaya, tatanan kehidupan masyarakat Sunda  mengacu pada nilai Kagaluhan yang mempromosikan peradaban tinggi yang tercermin dari seni, musik, dan pertunjukkan tradisi lokal seperti tarian dan wayang, yang menunjukkan identitas lokal asli dan unik. Dari sudut pandang sosial, cara masyarakat Sunda dalam proses sosialisasi membuktikan bahwa mereka adalah kaum egaliter. Kajian ini mencakup beberapa langkah pengumpulan data seperti menganalisis situs sejarah, artefak, dan dokumen, dan serta menafsirkannya dengan mengacu pada proses peradaban tiap-tiap jaman. Selain itu, analisis masing-masing dinamika juga dihadapkan pada realitas adanya tren masa kini berupa “gangguan” di era digital ini. Kajian ini menunjukkan bahwa budaya dan tatanan masyarakat Sunda merepresentasikan tingginya kualitas kehidupan yang bermakna.
Kedudukan Etnis Tionghoa dalam Multikulturalisme Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.118 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8425

Abstract

This paper examines the position of the ethnic Chinese in multi-ethnic Indonesia. The dichotomy of natives (original citizens) and non-natives (citizens of Chinese descent) emerged since the Dutch colonial period, which is finally still embedded in the motherland. The purpose of this literature research is to reveal the position of the Chinese ethnicity in Indonesia. The method used is the historical method which includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Data collection techniques are carried out using literature or literature studies. The research findings show that there are still ethnic Chinese in Indonesia who experience discrimination even though the government is trying to unite all ethnic groups. Regimes changed after colonialism disappeared from Indonesia, but the gap between the ethnic Chinese and the indigenous population still exists despite assimilation and integration efforts. This can be seen when a crisis occurs, ethnic Chinese are often the target of anger from the native population.
Nilai-Nilai Filosofis Simbol Galuh Kembang Cakra Rahayu Kancana Yunie Astrianie; Yeni Wijayanti; Egi Nurholis
Jurnal Artefak Vol 10, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i2.12296

Abstract

The Cakra Rahayu Kancana symbol is an identity for the Galuh community in Ciamis Regency with philosophical values. The purpose of this research is to find out about the history and philosophical values of the Galuh Kembang Cakra Rahayu Kancana symbol. The method used in this research is a historical method with heuristic, criticism (external and internal), interpretation, and historiography stages. The results showed that the history of the rahayu kancana symbol stems from the legacy of Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475 AD) and the heritage of R.A.A Koesoemadiningrat (1839-1886 AD) during the Sunda-Galuh kingdom. The Galuh Cakra Rahayu Kancana symbol (Kembang Chakra) is found on the Astana Gede Kawali Site in inscriptions I and VI, while in the legacy of R.A.A Koesoemadiningrat, the Chakra is found on a trident or three-pointed spear at the Galuh Pakuan Museum. The philosophical value in the Cakra Rahayu Kancana symbol is about the spirit of leadership values conveyed by previous kings in the Sundanese-Galuh Tatars that the leadership that must be implemented is not only in the form of laws but must be carried out. going out well according to Tritangtu (tekad, ucap jeung lampah) must be aligned and balanced.
Tata Kelola Indera Dalam Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian Wijayanti, Yeni; Warto, Warto; Wasino, Wasino; Djono, Djono
Jurnal Artefak Vol 11, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v11i2.16423

Abstract

Tubuh manusia mempunyai alat indera yang setiap masing-masing memiliki fungsi dan kegunaannya. Indera tersebut selayaknya digunakan sesuai dengan yang seharusnya dan untuk kebaikan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tata kelola indera dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian untuk kesejahteraan masyarakat Sunda Abad ke-16. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain critical discourse analysis (CDA). CDA ini mengintepretasikan naskah Sanghyang Siksakandang Karesian secara mikro, intermediate, dan macroanalysis. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan mencari referensi tentang subyek yang diteliti antara lain adalah naskah, penguasa, dan ideologi yang ada pada abad ke-16. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Sanghyang Siksakandang Karesian merupakan naskah Sunda kuna ditulis pada 1518 Masehi. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian berisi pedoman kehidupan manusia, meliputi pembuka (sepuluh aturan dasakerta dan dasaperbakti); perilaku rakyat (karma ning hulun) terhadap raja; dan pelengkap perbuatan. Temuan kedua, dasakerta adalah pengetahuan lokal yang berisi pedoman praksis dalam kehidupan sehari-hari melalui pengekangan hawa nafsu sepuluh inderanya untuk mencapai kesejahteraan manusia di dunia. Indera manusia harus digunakan untuk kebaikan.
TRADISI NYANGKREB DI DUSUN SUKARAJA DESA ANDAPRAJA KECAMATAN RAJADESA KABUPATEN CIAMIS (Suatu Tinjauan Sejarah Kebudayaan Dari Tahun 1972-2007) Wijayanti, Yeni; Kartika, Ratna
Jurnal Artefak Vol 2, No 1 (2014): Maret (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.537 KB) | DOI: 10.25157/ja.v2i1.1052

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tradisi Nyangkreb adalah suatu tradisi menjelang panen padi yang dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan pada Dewi Sri yang merupakan Dewi Padi dan asal mula tumbuh-tumbuhan. Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh, tradisi ini juga sebagai doa keselamatan agar mendapat hasil yang lebih baik di masa yang akan datang. Prosesi ini dilakukan oleh seorang punduh biasanya dilakukan pada sore hari pada pukul 3 atau 4 sore. Para petani menyediakan beberapa syarat-syarat atau sesaji untuk acara Nyangkreb tersebut. Dalam upaya melestarikan tradisi nyangkreb ini, dilakukan dengan upaya pemahaman terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Salah satu upaya dalam melestarikan Tradisi Nyangkreb ini adalah dengan menggelar acara yang memberikan perkenalan kreativitas seniman/budayawan Sunda yang menampilkan beragam tradisi Sunda termasuk Tradisi Nyangkreb sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan alam, dorongan dari aparat pemerintah juga bisa dilakukan dengan memberikan himbauan kepada masyarakat untuk lebih menjaga dan melestarikan Tradisi Nyangkreb. Makna dan nilai yang terkandung dalam tradisi ini terdapat makna yang begitu besar bagi masyarakat, antara lain mempererat tali silaturahmi, menjaga dan melestarikan tradisi turun temurun dari leluhur dan sebagai ungkapan syukur atas berkah yang didapat.Kata Kunci: Tradisi, Nyangkreb dan Tradisi SundaABSTRACTThe result of this research indicated that Nyangkreb tradition is a tradition of the rice harvest was intended as a form of homage to the goddess Dewi Sri who is the origin of rice and herbs. This tradition as an expression of gratitude for the harvest that has been obtained, this tradition as well as a prayer for safety in order to obtain better results in the future. The procession is carried out by a Punduh usually done in the afternoon at 3 or 4 in the afternoon. Farmers provide some of the terms or offerings for the Nyangkreb event. In an effort to preserve the tradition of this nyangkreb, carried out with the effort of understanding of the cultural values of the nation. One effort in preserving this tradition is to hold Nyangkreb event gives an introduction creativity of artists/cultural Sunda featuring a variety of traditions including Nyangkreb tradition in an attempt to get closer to nature, the encouragement of government officials can also be done by giving local communities to more maintain and preserve the tradition Nyangkreb. Meanings and values contained in this tradition are so great meaning for the community, among others tighten the relationship, maintain and preserve the tradition handed down from ancestors and as an expression of gratitude for the blessings that come by.Kata Kunci: Tradition, Nyangkreb and Sundanese Traditions