Claim Missing Document
Check
Articles

Pengujian Kuat Lentur Balok Beton dengan Tulangan Baja Ringan Dandi Fahrul Akmal; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 20 No 2 (2022): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.20-2.1223

Abstract

Reinforced concrete can be prepared in many ways to be lightweight but have high strength. One way to make an alternative to conventional steel reinforcement is to use mild steel. The use of mild steel as an alternative to reinforcement in concrete is still not very popular in the construction sector. Therefore, this research was conducted to determine the flexural strength of reinforced concrete beams with mild steel, as well as the comparison of the flexural strength of reinforced concrete beams with mild steel from the results of research analysis with concrete quality fc' 22 MPa and beam size 20x10 length 90 cm. This study uses an experimental method of testing the flexural strength of concrete with a simple test beam that is loaded with one load, this is intended as a reference and guideline for carrying out flexural strength tests in the laboratory. Starting from material testing to testing compressive strength, split tensile strength and flexural strength. With the results of the average compressive test of concrete with an age of 28 days fc' 12.07 MPa. The value of split tensile strength is usually 8% to 15% of the compressive strength of concrete, while the average value of flexural strength in concrete beams with mild steel reinforcement is 8.78 kN,m and the results of the analysis get 12,302 kN,m. So the results of the test values ​​at the Laboratory are smaller than the results of the analysis.
Pengujian Kuat Tarik Beton dengan Bahan Tambahan Serabut Kelapa Mahdi Hakiki; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.125 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.20-1.1049

Abstract

Serabut kelapa merupakan bagian terluar dari kelapa yang berbentuk serat dengan ketebalan 5 cm. Serabut kelapa terbukti secara teknis sebagai bahan/agregat untuk campuran beton. Dalam penelitian ini, merencanakan campuran beton sebanyak 4 jenis dengan campuran bahan tambah serabut kelapa, yaitu campuran normal, beton 0.02%, beton 0.03%, beton 0.05%, ialah beton dengan tambahan serabut kelapa dengan mencampurkan air dan semen PCC, jumlah semen PCC semen yang di gunakan adalah 23.25 Kg/m3 dengan campuran agregat kasar 1370 Kg/m3 dan agregat halus 1360 Kg/m3, dari hasil penelitian di buatkan 12 sempel yang dimana pada penelitian ini dilakukan 8 kali pencampuran bahan, setiap pencampuran air yang di gunakan sebanyak 3,2 kg. dan kadar semen 4.65 kg. agregat kasar sebesar 14.97 kg. dan agregat halus 13.98 kg. setiap pengujian kuat tekan dan tarik beton, proses tersebut di lakukan pada hari ke 14 yang berpacu pada SNI-03-1974-2011. Dimana hasil pengujian kuat tekan beton campuran dari serabut kelapa maka di dapat nilai kuat tekan beton sebesar, campuran serabut kelapa 0.02% dengan nilai 8.58 Mpa, sedangkan untuk kuat Tarik yaitu 7.19 Mpa, campuran serabut kelapa 0.03% dengan nilai 6.60 Mpa, dan kuat Tarik sebesar 6.52 Mpa, campuran serabut kelapa dengan nilai 0.05% 7.07 Mpa, dan kuat Tarik 3.33 Mpa.
Analisis Nilai Kapasitas Beton Prategang Tipe-I Jembatan Cimanuk Maktal Nurhayati Iqbaliah; Roestaman Roestaman; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.19-1.884

Abstract

Jembatan Cimanuk Maktal merupakan salah satu prasana untuk dilewati orang dan transfortasi yang melewati sungai Cimanuk. Jembatan ini merupakan konstruksi baru sehingga perlu pengecekan terhadap nilai kapasitan yang dimiliki jembatan tersebut. Jembatan Cimanuk Maktal merupakan jembatan balok prategang tipe-I. Peneliti melakukan analisa perhitungan pada eksisting jembatan menggunakan metode rating factor (RF) pada saat inventory dan operating. Untuk perhitungan rating factor mengacu pada Pedoman Penentuan Nilai Kapasitas Jembatan dari Dirjen Bina Marga, dan untuk perhitungan analisa penampang dipandu dari Perencanaan Struktur Beton Jembatan dari RSNI-12-2004. Dari penelitian tersebut didapat bahwa jembatan tersebut dapat dikatakan aman dan sudah layak digunakan, karena nilai kapasitas yang didapat dari analisa perhitungan melebihi dari nilai kapasitas ijin. Dimana, nilai RF berdasarkan Inventory akibat momen 1,7 > 1 dan akibat gaya geser 1,3 > 1. Juga nilai RF berdasarkan Operating akibat momen 2,02 > 1 dan akibat gaya geser 1,9 > 1.
Pengaruh Penggunaan Agregat Abu Batu Sebagai Pengganti Agregat Halus Alami Terhadap Sifat-Sifat Beton Bayu Zamzam Nurjaman; Roestaman Roestaman; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.19-1.890

Abstract

Kabupaten Garut terdapat kekayaan kekayaan alam, salah satunya adalah agregat yang dapat digunakan sebagai agregat material pengisi pada campuran beton. Berdasarkan sudut pandang sumber, agregat dibagi menjadi dua jenis: agregat alami dan agregat buatan. Penggunaan struktur beton menyebabkan permintaan pasir yang besar, sehingga diperlukan inovasi untuk mencari alternatif pengganti pasir. Agregat buatan menjadi pilihan untuk bahan campuran beton, salah satunya agregat buatan adalah abu batu. Penulis meneliti pengaruh dari penggunaan abu batu sebagai agregat buatan pada campuran beton yang dikombinasikan dengan agregat alami (Pasir Ex. Cilopang). Proses dalam penelitian ini di Uji Laboratorium. Agregat halus buatan abu batu hasil produksi pemecahan batu (Ex. Gunung Wayu). Penggunaan abu batu pada campuran beton yang divariasikan menjadi 25%, 50%, 75% dan 100% digunakan rancangan mix design SNI 7833-2012. Pengujian kekuatan tekan pada umur 14 hari, berdasarkan nilai kuat tekan yang dianalisis menggunakan trendline dan pembatasan ± 5% untuk mendapat hasil nilai relevan menujukan adanya peningkatan 24.63% pada campuran variasi 25%, 11.37% pada variasi 50%, 8,72% pada 75% dan 3.4% pada variasi 100%.
Meninjau Kekuatan Beton Pada Lingkungan Air Laut Pameungpeuk Kabupaten Garut Fajar Abdul Sidiq; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.19-1.892

Abstract

Proses peninjauan kekuatan beton pada lingkungan air laut tentunya akan mempengaruhi kekuatan tekan beton. Garam-garam 3,5% yang memuat di air laut bisa makan tenaga pada beton. Air laut terdapat kandungan klorida (cl) tinggi sehingga mempunyai sifat garam yang kasar sehingga menembus pada beton beserta senyawa pada beton, menyebabkan beberapa kualitas yang lenyap, lenyap kekukuhan dan kekakuan dengan reaksi pelapukan dipercepat. Target dari penyelidikan ini adalah untuk mendapati kekuatan beton lingkungan air laut pada usia beton 7 dan 14 hari sesudah pengujian beton yang berumur 21 hari dalam keadaan normal dengan perawatan air tawar. Tabung dan beton rencana mutu 20 MPa merupakan benda uji. Hasil 3 sampel pengujian kuat tekan beton normal selama 14 hari mengalami peningkatan dan penurunan rata-rata sebesar 11,69491 Mpa. Hasil 3 sampel beton normal yang direndam pada lingkungan air laut selama 7 hari rata-rata sebesar 12,2608 Mpa.Hasil 3 sampel beton normal yang direndam pada lingkungan air laut selama 14 rata-rata sebesar 12,92099 Mpa. Peningkatan hasil kuat tekan beton selama 7 hari perendaman pada lingkungan air laut terhadap beton normal yang direndam air tawar sebesar 4,83871 %. Peningkatan hasil kuat tekan beton selama 14 hari perendaman pada lingkungan air laut terhadap beton normal yang direndam air tawar sebesar 10.48387 %. Hasil persentase kuat tekan beton yang merendam pada lingkungan air laut selama 7 hari dan 14 hari terhadap beton normal yang direndam selama 14 hari sebesar 7,66129 %. Tidak terjadi penurunan kuat tekan beton yang direndam pada lingkungan air laut selama 7 dan 14 hari.
Pengujian Kuat Tarik Beton dengan Bahan Tambahan Serabut Kelapa Mahdi Hakiki; Eko Walujodjati
Jurnal Konstruksi Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.20-1.1049

Abstract

Serabut kelapa merupakan bagian terluar dari kelapa yang berbentuk serat dengan ketebalan 5 cm. Serabut kelapa terbukti secara teknis sebagai bahan/agregat untuk campuran beton. Dalam penelitian ini, merencanakan campuran beton sebanyak 4 jenis dengan campuran bahan tambah serabut kelapa, yaitu campuran normal, beton 0.02%, beton 0.03%, beton 0.05%, ialah beton dengan tambahan serabut kelapa dengan mencampurkan air dan semen PCC, jumlah semen PCC semen yang di gunakan adalah 23.25 Kg/m3 dengan campuran agregat kasar 1370 Kg/m3 dan agregat halus 1360 Kg/m3, dari hasil penelitian di buatkan 12 sempel yang dimana pada penelitian ini dilakukan 8 kali pencampuran bahan, setiap pencampuran air yang di gunakan sebanyak 3,2 kg. dan kadar semen 4.65 kg. agregat kasar sebesar 14.97 kg. dan agregat halus 13.98 kg. setiap pengujian kuat tekan dan tarik beton, proses tersebut di lakukan pada hari ke 14 yang berpacu pada SNI-03-1974-2011. Dimana hasil pengujian kuat tekan beton campuran dari serabut kelapa maka di dapat nilai kuat tekan beton sebesar, campuran serabut kelapa 0.02% dengan nilai 8.58 Mpa, sedangkan untuk kuat Tarik yaitu 7.19 Mpa, campuran serabut kelapa 0.03% dengan nilai 6.60 Mpa, dan kuat Tarik sebesar 6.52 Mpa, campuran serabut kelapa dengan nilai 0.05% 7.07 Mpa, dan kuat Tarik 3.33 Mpa.
Analisis Manajemen Risiko K3 Pekerjaan Jalan Tol Cisumdawu Phase III Cepi Wendiki Alamsyah; Eko Walujodjati; Satrio Putra Rahadian
Jurnal Konstruksi Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.19-1.874

Abstract

Jalan bebas hambatan cisumdawu phase III yang sedang dibangun terbentang dari cileunyi hingga rancakalong, dalam proyek ini peneliti memfokuskan penelitian pada analisis pekerjaan bagaimana cara mengidentifikasi mencegah, mengevaluasi serta mengendalikan resiko resiko pada keselamatan dan kesehatan kerja. Pada analisis risiko dapat menggunakan cara menstukturkan terlebih dahulu factor yang berisiko untuk lebih memudahkan peneliti menggunakan metode SPSS (Statistical Program For Social Science) dimana nilai dari dampak frekuensi dari tingkat risiko tersebut. Hasil analisis dari SPSS kemudian dituangkan dalam bentuk analisis pada proses pelaksaannya hal ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah risiko serta tingkat kepentingan risiko berdasarkan risiko yang terjadi dilapangan. Rekapitulasi tanggapan responden mengenai analisis pekerjaan pembangunan jalan tol cisumdawu phase III yaitu Identifikasi bahaya 63,27% yang dikategorikan kuat, pencegahan risiko 62,00% yang dikategorikan kuat, evaluasi risiko 63,00% yang dikategorikan kuat, pengendalian risiko 68,10% yang dikategorikan kuat dan empati yang dikategorikan kuat.
Analisis Manajemen Risiko K3 Pekerjaan Jalan Tol Cisumdawu Phase III Cepi Wendiki Alamsyah; Eko Walujodjati; Satrio Putra Rahadian
Jurnal Konstruksi Vol 19 No 1 (2021): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.068 KB) | DOI: 10.33364/konstruksi/v.19-1.874

Abstract

Jalan bebas hambatan cisumdawu phase III yang sedang dibangun terbentang dari cileunyi hingga rancakalong, dalam proyek ini peneliti memfokuskan penelitian pada analisis pekerjaan bagaimana cara mengidentifikasi mencegah, mengevaluasi serta mengendalikan resiko resiko pada keselamatan dan kesehatan kerja. Pada analisis risiko dapat menggunakan cara menstukturkan terlebih dahulu factor yang berisiko untuk lebih memudahkan peneliti menggunakan metode SPSS (Statistical Program For Social Science) dimana nilai dari dampak frekuensi dari tingkat risiko tersebut. Hasil analisis dari SPSS kemudian dituangkan dalam bentuk analisis pada proses pelaksaannya hal ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah risiko serta tingkat kepentingan risiko berdasarkan risiko yang terjadi dilapangan. Rekapitulasi tanggapan responden mengenai analisis pekerjaan pembangunan jalan tol cisumdawu phase III yaitu Identifikasi bahaya 63,27% yang dikategorikan kuat, pencegahan risiko 62,00% yang dikategorikan kuat, evaluasi risiko 63,00% yang dikategorikan kuat, pengendalian risiko 68,10% yang dikategorikan kuat dan empati yang dikategorikan kuat.
Pengaruh Ukuran Dimensi Column Capital Pada Flat Slab Terhadap Kegagalan Geser Pons Eko Walujodjati; Dina Auliani
Jurnal Konstruksi Vol 21 No 1 (2023): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.21-1.1280

Abstract

Flat slab merupakan pelat beton bertulang dua arah yang dimana tidak menggunakan balok sebagai penyalur beban sehingga beban langsung disalurkan ke kolom, dikarenakan tidak terdapat balok pada struktur maka area di sekitar kolom terjadi tegangan geser yang cukup besar yang dapat mengakibatkan kegagalan geser pons (punching shear). Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi kegagalan geser pons adalah dengan menambahkan column capital (kepala kolom). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari berbagai macam besar sudut / ukuran column capital dan mengetahui besar sudut yang efektif dalam menahan tegangan geser pada struktur. Analisis dilakukan dengan pemodelan bangunan satu lantai dengan variasi besar sudut column capital adalah 70°, 80°, 90°, 100°, 110°. Salah satu metode yang digunakan pada analisis ini adalah metode kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis didapatkan penggunaan column capital dapat mengurangi terjadinya kegagalan geser pons, semakin besar variasi besar sudut maka nilai perbandingan tegangan geser pons dan kuat geser menjadi lebih kecil. Variasi besar sudut yang efektif dalam menahan geser pons adalah besar sudut 70°.
Pengaruh Penambahan Gula Pasir Terhadap Kuat Lentur Beton Dengan Perendaman Air Laut Muhammad Iqbal Sudano; Eko Walujodjati
Jurnal Kendali Teknik dan Sains Vol. 1 No. 4 (2023): Oktober : Jurnal Kendali Teknik dan Sains
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/jkts-widyakarya.v1i4.1194

Abstract

Innovations in concrete design continue to be made to obtain maximum strength. The granulated sugar can be an added ingredient that functions to inhibit the concrete setting time so it doesn't dry out too quickly. Use to delay concrete setting time (setting time) for example with hot weather conditions, or extend compaction time to avoid cold joints and avoid the impact of settlement when fresh concrete is carried out at the time of casting. As for the curing experiment/treatment of the concrete by immersion in seawater to find out how construction buildings on the seaside affect construction such as bridge abutments, pile caps or buildings on the coast that are submerged or exposed to sea water whether there is a decrease in the quality of making concrete blocks. The experiment was carried out by adding a variety of granulated sugar to the concrete mixture of 50 grams (2% by weight of water), 70 grams (3% by weight of water) and 100 grams (4% by weight of water) then all the samples were immersed in sea water. Based on the results of the flexural strength test of concrete after 28 days of age, the highest test results obtained for the flexural strength of concrete were the addition of 100 grams of granulated sugar worth 3.00 MPa for the second was the addition of 50 grams of granulated sugar worth 0.515 MPa and for the third was the addition of sugar sand 70 grams 0.454 Mpa. This composition cannot be said to have decreased due to immersion in sea water, because there is no proven comparison with immersion using ordinary water.