Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

POLA ASUH ANAK KELUARGA TENAGA KERJA WANITA (TKW) DI DESA ARJOWILANGUN KECAMATAN KALIPARE KABUPATEN MALANG Siti Wahyuningsih
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 5 No 03 (2017): Kajian Moral dan Kewarganegaraan (Jilid 1)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/kmkn.v5n03.p%p

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pola asuh anak pada keluarga Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pola asuh Baumrind. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan desain eksploratif. Penelitian dilakukan di Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Informan dalam penelitian berjumlah enam orang yang terdiri atas nenek, tante, atau ayah yang ibunya bekerja sebagai TKW dengan usia anak 13 sampai 18 tahun, teknik yang digunakan dalam penelitian ini Purposive Sampling. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan wawancara. Yang selanjutnya data dianalisis menggunakan model Miles dan Haberman. Hasil penelitian menunjukkan, dalam pengasuhan yang dilakukan oleh ayah, tante atau nenek menggunakan pola asuh permisif memanjakan dan otoriter. Pola pengasuhan permisif memanjakan dipilih karena merasa kasihan terhadap anak karena ibunya bekerja di luar negeri dalam waktu yang lama, sedangkan pola pengasuhan otoriter keluarga lebih suka menghukum anak secara fisik dalam menyelesaikan masalah dan tidak bersedia mendengarkan pendapat anak. Perbedaan pola pengasuhan tersebut disebabkan karena faktor ekonomi, keluarga yang kurang mampu cenderung menggunakan pola pengasuhan permisif memanjakan, sedangkan keluarga yang berkecukupan cenderung menggunakan pola pengasuhan otoriter. Kata Kunci: Pola asuh anak, Tenaga Kerja Wanita (TKW)
Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Premenstrual Syndrome Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 2 Depok Fitri Hardliati Khasanah; Siti Wahyuningsih; Nonik Ayu Wantini
Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Vol. 6 No. 1 (2024): Membangun Ekosistem AI di Bidang Kesehatan, Ekonomi, dan Humaniora: Peluang dan
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja putri akan mengalami menstruasi yang akan muncul beberapa gejala-gejala yang disebut dengan Premenstrual Syndrome (PMS). Remaja putri biasanya memiliki kebiasaan konsumsi makan yang buruk karena ingin mempunyai bentuk tubuh yang proposional. Pola makan yang tidak sehat bisa membuat gejala PMS yang dirasakan semakin berat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian PMS pada remaja putri di SMP Negeri 2 Depok. Desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini adalah remaja putri kelas VII A, B, C, D dan VIII A, C, D. Pola makan dinilai dengan cara wawancara menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ) dan kejadian PMS diukur melalui pengisian kuesioner Shortened Premenstrual Assesment Form (SPAF) oleh responden. Analisis data menggunakan uji Fisher Exact. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan pola makan dengan kejadian PMS dengan nilai yang signifikan p=0,001. Sebagian besar responden yang memiliki pola makan sehat mengalami gejala PMS ringan (88,9%). Sebagian besar responden yang memiliki pola makan tidak sehat mengalami gejala PMS berat (78,9%). Terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian PMS pada remaja putri di SMP Negeri 2 Depok.
Development Tolerance in Early Childhood: Management and Practices for Emancipatory Curriculum Jumiatmoko; Siti Wahyuningsih; Upik Elok Endang Rasmani; Bambang Winarji; Anjar Fitrianingtyas; Nurul Shofiatin Zuhro; Novita Eka Nurjanah
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha Vol. 12 No. 3 (2024): December
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/paud.v12i3.79477

Abstract

Tolerance is key to realizing ECEfS (Early Childhood Education for Sustainability). However, the implementation of the Merdeka Curriculum presents new challenges in developing tolerance in early childhood education, particularly due to differences in children's socio-cultural backgrounds and limited variety of stimulating activities.This study aims to identify the dynamics of tolerance development management in PAUD institutions implementing the Kurikulum Merdeka. The research employs a Case Study method, which is suitable for answering "how" research questions. A qualitative approach is used with interactive analysis based on the model of Miles, Huberman, and Saldana (2012). Data were collected through observations, in-depth interviews, and document studies, then analyzed to identify management processes, implementation categories, and encountered challenges. Score justification was used to measure the effectiveness of implementation in the components of planning, organizing, actuating, and controlling in relation to the Capaian Pembelajaran Fase Pondasi (CPFP) and the Capaian Fase Profil Pelajar Pancasila (CFP3). The findings indicate that tolerance development management in PAUD follows a cyclical process, yet its effectiveness remains in the moderate category (average score of 2.2). The main challenges identified include the diversification of stimulation activities and differences in children's socio-cultural backgrounds. The study's implications highlight the need for improving teacher competence, strengthening collaboration with parents, and innovating play-based activities to optimize tolerance development in early childhood education.
Pendidikan Multikultural sebagai Pilar Pembinaan Solidaritas di Era Disrupsi Siti Wahyuningsih; Avila Marsa Salsabila; Nurul Mubin
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i1.6089

Abstract

Pendidikan multikultural muncul pada era 1960-an di Amerika Serikat sebagai respons terhadap diskriminasi dalam sistem pendidikan yang belum mengakomodasi keragaman budaya. Dalam era disrupsi yang ditandai kemajuan teknologi dan interaksi lintas budaya yang cepat, pendidikan ini semakin relevan untuk menumbuhkan sikap toleran dan solidaritas sosial. Penelitian dengan metode library research ini mengkaji peran pendidikan multikultural melalui analisis literatur dan sumber akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural berlandaskan pada nilai keberagaman, keadilan, inklusivitas, kemanusiaan, dan kesadaran kritis terhadap ketidakadilan sosial, yang menjadi dasar terbentuknya solidaritas sosial yang harmonis. Implementasinya dilakukan melalui integrasi nilai multikultural dalam kurikulum, peran aktif guru, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas interaksi lintas budaya. Dengan sinergi antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah, pendidikan multikultural menjadi pilar strategis dalam membangun masyarakat yang damai, adil, dan berkeadaban di tengah dinamika global.