Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Kajian Kandungan Nutrisi Bio-Slurry limbah Biogas dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik di Desa Batu Kuta Lombok Barat Fitriyah, Abyadul; Harmayani, Ria; Haryanto, Hery; Alimuddin, Alimuddin; Mariani, Yuni; Kartika, Ni Made Andry; Fajri, Nefi Andriana; Permadi, Hari; Gunadi, Sahrul; Pamenang, Galang Damar; Zaim Alyaminy, Ishmah Humaidatul Aminah; Jamili, Aisah
Baselang Vol 4, No 2: OKTOBER 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v4i2.204

Abstract

Kajian pemanfaatan hasil sampingan biogas dari kotoran sapi (bio-slurry) sebagai pupuk organik di Desa Batu Kuta Lombok Barat bertujuan untuk mengintroduksikan pupuk organik yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi yaitu unsur hara makro dan mikro yang dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pertumbuhan tanaman, sehingga petani peternak di Desa Batu Kuta Lombok Barat mampu meminimalisir biaya pembelian pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan. Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan yaitu tahap pertama adalah pengujian kandungan unsur hara makro dan mikro yang terdapat pada Bio-Slurry padat dan cair, dan tahap kedua yaitu penentuan kandungan unsur hara tertinggi yang terdapat dalam Bio-Slurry padat maupun cair. Sampel bioslurry diuji berupa Bio-Slurry padat dan cair dianalisa di Laboratorium Pengujian BPTP NTB dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Mataram. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kandungan unsur hara makro yang terdapat didalam Bio-Slurry padat dan cair masing-masing sebesar:  N-Total (ppm) = 0,54% dan 0,17%; P2O5 (ppm) = 0,74% dan 0,05%, K2O (ppm) =  0,96% dan 1,09%; Ca Total (ppm) = 0,15% dan 0,009%; dan Mg Total (ppm) = 0,57% dan 0,01%. Sedangkan unsur hara mikro masing-masing sebesar: Na Total (ppm) = 0,18% dan = 0,08 %; Fe Total  (ppm) = 0,49% dan 0,009 %; Mn Total (ppm) = 0,08 % dan 0,0001%; Zn Total (ppm) = 0,02 % dan 0,003 %; dan Cu Total (ppm) = 0,002% dan 0,0002 %. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, kandungan unsur hara pada Bio-Slurry padat lebih tinggi dibandingkan pada Bio-Slurry cair sehingga lebih menguntungkan jika dijadikan sebagai pupuk organik. Solusi pupuk organik ini, sangat membantu dalam budidaya tanaman jagung dan kedelai di Desa Batu Kuta Lombok Barat. Saran yang dapat diajukan dari hasil kegiatan ini bagi masyarakat desa Batu Kuta, perlunya pendampingan dalam memulai usaha atau bisnis pupuk organik Bio-Slurry.
Kajian Kandungan Nutrisi Bio-Slurry limbah Biogas dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik di Desa Batu Kuta Lombok Barat Fitriyah, Abyadul; Harmayani, Ria; Haryanto, Hery; Alimuddin, Alimuddin; Mariani, Yuni; Kartika, Ni Made Andry; Fajri, Nefi Andriana; Permadi, Hari; Gunadi, Sahrul; Pamenang, Galang Damar; Zaim Alyaminy, Ishmah Humaidatul Aminah; Jamili, Aisah
Baselang Vol 4, No 2: OKTOBER 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v4i2.204

Abstract

Kajian pemanfaatan hasil sampingan biogas dari kotoran sapi (bio-slurry) sebagai pupuk organik di Desa Batu Kuta Lombok Barat bertujuan untuk mengintroduksikan pupuk organik yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi yaitu unsur hara makro dan mikro yang dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pertumbuhan tanaman, sehingga petani peternak di Desa Batu Kuta Lombok Barat mampu meminimalisir biaya pembelian pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan. Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan yaitu tahap pertama adalah pengujian kandungan unsur hara makro dan mikro yang terdapat pada Bio-Slurry padat dan cair, dan tahap kedua yaitu penentuan kandungan unsur hara tertinggi yang terdapat dalam Bio-Slurry padat maupun cair. Sampel bioslurry diuji berupa Bio-Slurry padat dan cair dianalisa di Laboratorium Pengujian BPTP NTB dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Mataram. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kandungan unsur hara makro yang terdapat didalam Bio-Slurry padat dan cair masing-masing sebesar:  N-Total (ppm) = 0,54% dan 0,17%; P2O5 (ppm) = 0,74% dan 0,05%, K2O (ppm) =  0,96% dan 1,09%; Ca Total (ppm) = 0,15% dan 0,009%; dan Mg Total (ppm) = 0,57% dan 0,01%. Sedangkan unsur hara mikro masing-masing sebesar: Na Total (ppm) = 0,18% dan = 0,08 %; Fe Total  (ppm) = 0,49% dan 0,009 %; Mn Total (ppm) = 0,08 % dan 0,0001%; Zn Total (ppm) = 0,02 % dan 0,003 %; dan Cu Total (ppm) = 0,002% dan 0,0002 %. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, kandungan unsur hara pada Bio-Slurry padat lebih tinggi dibandingkan pada Bio-Slurry cair sehingga lebih menguntungkan jika dijadikan sebagai pupuk organik. Solusi pupuk organik ini, sangat membantu dalam budidaya tanaman jagung dan kedelai di Desa Batu Kuta Lombok Barat. Saran yang dapat diajukan dari hasil kegiatan ini bagi masyarakat desa Batu Kuta, perlunya pendampingan dalam memulai usaha atau bisnis pupuk organik Bio-Slurry.
MANAJEMEN PAKAN KUDA DALAM USAHA JASA KUDA KELILING PANTAI DI LOMBOK (HORSE FEED MANAGEMENT IN THE MOBILE HORSE SERVICE BUSINESS AT LOMBOK BEACH) Harmayani, Ria; Alimuddin, Alimuddin; Fitriyah, abyadul; Aminah Zaim Alyamini, Ishmah Humaidatul; Risfianty, Dwi Kartika; Haekal, Muhammad Haekal
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 9, No 1: Juni 2025
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v9i1.1806

Abstract

The Mobile horse service business at Lombok Beach has the potential to increase local community income and support sustainable tourism. Its success heavily depends on effective feed management, as feed influences horse health and performance. This study analyzes feeding patterns, factors influencing feed selection, and their impacts on horses in the Lombok Beach area. The methods used include direct observation, interviews, questionnaires, and feed testing at 13 locations over three months. The results show that feed is usually provided twice daily in the form of forage and concentrate, with most respondents giving 8-12 kg per horse per day, consisting of grinting grass, udel-udelan spear grass, spear grass, merakan grass, and field grass. Concentrates range from 1 to 3 kg per horse per day, but challenges include the supply of quality forage and high costs. Less optimal feed management increases the risk of parasitic diseases and decreases horse performance. Sustainable efforts include developing feed from agricultural waste, training, partnerships, and waste management and fermented feed practices. It is recommended that farmers/ managers and policymakers strengthen innovation, training, and health monitoring to support the sustainability of this business.Keywords: Beach touring horses, Feed management, Horse feed, Horse health, Horse service business, Horseback riding tourism.
IMPLEMENTASI BIOSLURRY SEBAGAI PUPUK ORGANIK UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN PENGELOLAAN LIMBAH BERKELANJUTAN Harmayani, Ria; Fitriyah, Abyadul; Alimuddin; Risfiyanty, Dwi Kartika; Alyaminy, Humaidatul Aminah Zaim
Bersama : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Bersama: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Pertania Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsm.v3i1.48

Abstract

Food security and organic waste management are major challenges in the modern era that require sustainable and environmentally friendly solutions. Bioslurry, a nutrient-rich fermented liquid from organic waste, emerges as an innovation to support waste management while enhancing agricultural productivity. This community service activity aims to increase public awareness and capacity to produce and utilize bioslurry independently from household and agricultural waste, thereby supporting food security and sustainable waste management. Through training and demonstrations over a period of 7-14 days using EM4, the community is taught the fermentation process and the application of bioslurry as an organic liquid fertilizer. Evaluation results show an increase in knowledge, adoption of simple technology, and economic and environmental benefits. As a result, community members are able to produce bioslurry independently, which is then used to fertilize crops such as tomatoes and chili peppers, leading to a yield increase of 20-30%. Additionally, this activity contributes to reducing the volume of organic waste polluting the environment, increasing farmers’ income, and strengthening local policies on sustainable waste management. Overall, this activity successfully improved awareness, knowledge, and practices in sustainable organic waste management, providing economic, social, and environmental benefits to the target community.  
Pemberdayaan Masyarakat Pondok Pesantren Melalui Usaha Budidaya Jamur Merang Jamili, Aisah; Suryati, Desi; Mariani, Yuni; Abdin, Lalu Abdul Muhyi; Fitriyah, Abyadul
Alamtana: Jurnal Pengabdian Masyarakat UNW Mataram Vol 4 No 3 (2023): Edisi Desember 2023
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jaltn.v4i3.1976

Abstract

Pondok Pesantren Al Muwahidin Desa Lelede Kecamatan Banyumulek merupakan salah satu diantara ribuan ponpes yang ada di NTB. Ponpes ini memilki potensi yang dapat dikelola untuk mengatasi permasalahan yang ada saat ini. Permasalahan yang dihadapi mitra : belum banyak pendidikan lifeskill untuk para santri, Permasalahan lain yang dihadapi mitra adalah keterbatasan dana untuk pengelolaan pondok termasuk sumber makanan sehari-hari warga ponpes. Berdasarkan hal tersebut solusi akan permasalahan mitra tertuang dalam tujuan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah mengajarkan santri ketrampilan pemanfaatan limbah jerami padi yang melimpah untuk memproduksi jamur merang yang siap dikomersilkan. Metode yang digunakan oleh Tim PKM ini meliputi penyuluhan dan pelatihan/workshop pembuatan jamur merang dari limbah jerami padi, demplot budidaya. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan PKM yang dilakukan, ada beberapa hasil perubahan keadaan yang telah sudah nampak di pondok pesantren diantaranya sudah ada kumbung jamur merang ukuran 5x7x9 m, Sudah melakukan produksi pertama sebanyak 34, 548 kg dan sudah menghasilkan uang sebanyak Rp. 1.554.660,-, para santri terlihat semangat dalam melaksanakan seluruh kegiatan dan berharap kedepan bisa melakukan budidaya jamur merang ini secara mandiri. Dengan adanya produksi jamur ini, secara langsung dapat mengatasi permasalahan yang dialami pondok pesantren, pengelola ponpes mendapatkan sumber pendanaan untuk tambahan operasional ponpes, selain itu para santri mendapatkan tambahan life skill dan sumber gizi bagi warga ponpes.
Quantitative and Reproductive Performance of Single and Triplet Births of Etawah Crossbreed Goats In Lombok Island Fitriyah, Abyadul; Kartika, Ni Made Andry; Harmayani, Ria; Mariani, Yuni; Fajri, Nefi Andriana; Isyaturriyadhah, Isyaturriyadhah
Baselang Vol 3, No 2: OKTOBER 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v3i2.116

Abstract

This study aims to select female goats that have the potential to give birth to triplets.  The analysis was carried out in four EC goats with triplets consisting of 12 twins and four single births. FSH and LH hormones were analyzed using the ELISA method (LIA kit). The t-test results showed that the average body size of single-born EC goats was significantly different (P0.05) in body weight (BW), chest circumference (CC), hip height (HH), and hip width (HW). The size of BW, CC, HH and HW were larger in the triplet than in the single birth type, with a ratio of BW (40.83±10.10 vs. 37.20±4.67) kg, CC (84.00±3,46 vs. 78.05±4.24) cm, HH (72.70±3.21vs 67.50±3.12) cm and HW (17.74±2.09 vs. 11.16±2.12) cm. Furthermore, there was a significant difference (P≤0.05) between the ages of single-born EC goats, which was higher than that of triplets, namely 4.20±1.41 vs. 1.67±1.03 (months). This had a significant effect (P≤0.05) on the body size, especially on the BW, BL, BH and HH. EC goats with twin birth types had significantly higher FSH hormone levels than those with single births, namely FSH (3.41±0.08 vs1.37±0.08) mlU/ml. In contrast, the EC goat kids did not show a significant difference.  Conclusion: Goats selection with the potential to give birth to triplets can be detected from hip size and FSH levels in their blood which correlate positively with body weight and chest circumference measurements.
MORPHOLOGICAL INDICES: DISTINGUISHING SINGLE AND TRIPLETS-BEARING BOER AND ETAWA GRADE GOATS IN LOMBOK BARAT Fitriyah, Abyadul; Mariani, Yuni; Kartika, Ni Made Andry; Fajri, Nefi Andriana; Alimuddin; Harmayani, Ria
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2024.7120

Abstract

This study aimed to identify female goats with the potential to give birth to triplets by examining morphological characteristics correlated with FSH and LH hormone levels in the blood. It included four triplet-bearing Boer goats and four triplet-bearing Etawah grade goats, each with 12 kids, and four single-bearing Boer goats and four single-bearing Etawah grade goats, each with four kids. Morphological indices of body sizes, including weight, height slope, length index, width slope, depth index, foreleg length, and hormone levels, were observed. A t-test and descriptive analysis were conducted. The average body size of Boer goats was larger than Etawah grade goats, but there were no significant morphological differences between triplet-bearing Boer and Etawah grade goats. However, single-bearing Boer goats had a significantly higher height slope than single-bearing Etawah grade goats. FSH levels significantly increased in the blood of triplet-bearing Boer goats compared to single-bearing Boer goats. Morphological indices and hormone levels can help select goats likely to give birth to triplets.
POTENSI BERANAK KEMBAR SETELAH MENDAPATKAN PERLAKUAN PAKAN DALAM USAHA MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK: SAPI BALI SEBAGAI MODEL Fitriyah, Abyadul; Isyaturriyadhah, Isyaturriyadhah
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 6, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v6i2.1269

Abstract

Daging sapi dan sapi bakalan yang masih diimport di Indonesia dalam jumlah besar, merupakan suatu keadaan yang kurang mendukung Program Swasembada Daging Sapi nasional, sehingga harus segera dicarikan solusi pemecahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode pengaturan pakan dan perkawinan pada sapi Bali dapat meningkatkan potensi beranak kembar secara alami, sehingga dapat meningkatkan pendapatan bagi peternak. Dengan demikian metode ini dapat dimanfaatkan sebagai solusi meningkatkan produksi daging sapi untuk mendukung percepatan program pemerintah NTB yaitu Bumi Sejuta Sapi (NTB-BSS).         Penelitian dilakukan di Pulau Lombok di tiga (3) Kabupaten yaitu Kab. Lombok Tengah, Kab. Lombok Barat dan Kab. Lombok Utara, mengamati performans produksi 20 ekor induk sapi Bali yang punya sejarah beranak kembar (BK); 20 ekor anak kembar sapi Bali (AK); 20 ekor induk sapi Bali beranak tunggal (BT) dan 20 ekor anak tunggal sapi Bali (AT) selama 6 bulan. Variabel yang diamati : Konsumsi pakan dan performan produksi induk sapi Bali dan performan produksi anak sapi Bali (bobott badan, kadar hormon FSH dan LH yang ada di dalam darah). Data yang diperoleh di analisis menggunakan t-test.            Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata konsumsi nutrien induk sapi Bali, tampak berada dibawah kisaran kebutuhan ternaknya, yaitu 9,2% kebutuhan protein kasar (PK) untuk BK dan 9,0% untuk BT; kebutuhan TDN baik BK maupun BT sekitar 55%, sedangkan pada kebutuhan berat kering (BK) yaitu 3,5% untuk BK dan 3,2% untuk BT.  Kejadian beranak kembar secara alami nyata (P0,01) menurunkan bobot badan BK dibandingkan BT yaitu rerata BB BK = (221,25±48,72) kg lebih rendah dibandingkan  BT = (223,05±57,31) kg, tetapi nyata (P0,01) meningkatkan kadar hormon (mlU/ml) FSH dan LH di dalam darah BK dibanding BT : (FSH = 0,46±0,08 vs 0,38±0,06 dan LH = 0,13±0,12vs0,12±0,09). Disimpulkan, beranak kembar meningkatkan efisiensi produktivitas sapi Bali induk dan meningkatkan pendapatan bagi peternak sapi sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat program swasembada daging.
Strategi Pakan Inovatif dalam Mengungkap Potensi Kelahiran Kembar Sapi Bali sebagai Solusi Ekonomi dan Produksi Nasional Fitriyah, Abyadul; Isyaturriyadhah, Isyaturriyadhah; Mariani, Yuni; Kartika, Ni Made Andry; Fajri, Nefi Andriana; Harmayani, Ria; Alimuddin, Alimuddin
STOCK Peternakan Vol 7, No 2 (2025): Stock Peternakan
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/sptr.v7i2.1817

Abstract

Ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi dan sapi bakalan masih tinggi, yang menghambat pencapaian Program Swasembada Daging Sapi Nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, peternak di Nusa Tenggara Barat melaporkan kejadian alami kelahiran kembar pada sapi Bali, yang secara biologis merupakan spesies uniparous. Fenomena ini membuka peluang untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi potong, namun data ilmiah mengenai dampaknya terhadap performa induk dan anak masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap potensi kelahiran kembar alami pada sapi Bali melalui pendekatan strategi pakan inovatif dan manajemen reproduksi yang tepat. Penelitian dilaksanakan di tiga kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Utara, dengan total 80 ekor sapi Bali yang terbagi dalam empat kelompok: induk beranak kembar (BK), anak kembar (AK), induk beranak tunggal (BT), dan anak tunggal (AT). Selama enam bulan, variabel yang diamati meliputi konsumsi pakan, bobot badan, dan kadar hormon FSH dan LH dalam darah. Data dianalisis menggunakan uji t. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi nutrien induk sapi masih di bawah kebutuhan optimal, dengan protein kasar 9,2% (BK) dan 9,0% (BT), serta TDN sekitar 55%. Induk BK mengalami penurunan bobot badan signifikan (P0,01), namun menunjukkan peningkatan kadar hormon FSH (0,46±0,08 mIU/mL) dan LH (0,13±0,12 mIU/mL) dibandingkan BT (FSH = 0,38±0,06; LH = 0,12±0,09). Dapat disimpulkan bahwa kelahiran kembar pada sapi Bali berpotensi meningkatkan efisiensi reproduksi induk dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi inovatif untuk meningkatkan pendapatan peternak serta mendukung swasembada daging nasional.
MORPHOLOGICAL INDICES: DISTINGUISHING SINGLE AND TRIPLETS-BEARING BOER AND ETAWA GRADE GOATS IN LOMBOK BARAT Fitriyah, Abyadul; Mariani, Yuni; Kartika, Ni Made Andry; Fajri, Nefi Andriana; Alimuddin; Harmayani, Ria
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2024.7120

Abstract

This study aimed to identify female goats with the potential to give birth to triplets by examining morphological characteristics correlated with FSH and LH hormone levels in the blood. It included four triplet-bearing Boer goats and four triplet-bearing Etawah grade goats, each with 12 kids, and four single-bearing Boer goats and four single-bearing Etawah grade goats, each with four kids. Morphological indices of body sizes, including weight, height slope, length index, width slope, depth index, foreleg length, and hormone levels, were observed. A t-test and descriptive analysis were conducted. The average body size of Boer goats was larger than Etawah grade goats, but there were no significant morphological differences between triplet-bearing Boer and Etawah grade goats. However, single-bearing Boer goats had a significantly higher height slope than single-bearing Etawah grade goats. FSH levels significantly increased in the blood of triplet-bearing Boer goats compared to single-bearing Boer goats. Morphological indices and hormone levels can help select goats likely to give birth to triplets.