Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Hyper Religiusitas di Era Digital: Analisis Paradigma Postmodernisme Jean Baudrillard Terhadap Fenomena Keberagamaan di Media Sosial Theguh Saumantri
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol 20 No 1 (2023): Jurnal Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/al-mutharahah.v20i1.646

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena hyper religiusitas yang terjadi dalam era digital di Indonesia dengan menggunakan paradigma postmodernisme Jean Baudrillard. Hyper religiusitas di era digital dapat dijelaskan dengan konsep simulasi dan tanda yang dikemukakan oleh Baudrillard. Fenomena ini dapat dilihat melalui praktik keagamaan yang tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Paradigma postmodernisme Baudrillard juga dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan identitas dalam era modern dan pasca-modern, serta dampak media dalam memahami dan mempraktikkan agama. Selain itu, artikel ini membahas dampak masyarakat konsumeris terhadap simbol agama dan konsumsi sebagai cara masyarakat konsumeris memandang agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan filosofis, yaitu dengan melakukan analisis terhadap konsep-konsep simulasi dan tanda dalam pandangan Baudrillard. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena hyper religiusitas yang terjadi di era digital dapat dipahami melalui konsep simulasi dan tanda, di mana agama dan simbol-simbol keagamaan dijadikan konsumsi dalam masyarakat konsumeris. Hal ini dapat berdampak pada perubahan praktik keagamaan yang sebelumnya didasarkan pada nilai-nilai keagamaan menjadi didasarkan pada nilai-nilai konsumsi.
Peran Pesantren Tarekat Roudhoh Al-Hikam dalam Mengembangkan Tradisi Intelektual Islam dan Moderasi Beragama di Indonesia Taufik Hidayatulloh; Hijrah Saputra; Theguh Saumantri
Jurnal Dialog Vol 46 No 1 (2023): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v46i1.702

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap peranan dan konsistensi Pesantren Tarekat terhadap pengembangan tradisi intelektual Islam dan moderasi beragama di Indonesia. Penelitian ini sekaligus menjawab dua problem besar umat Islam yang saat ini terjadi yakni surutnya tradisi intelektual dan mengikisnya kesadaran moderasi beragama, di mana dua hal tersebut telah lama terbangun. Penelitian ini menggunakan analisis Teori Manajemen Teror dengan studi kasus Pesantren Tarekat bernama Roudhoh Al-Hikam, yang berlokasi di Cibinong, Kabupaten Bogor. Penelitian ini mengambil dua sumber data, yaitu data primer yang diperoleh dari hasil observasi lapangan dan wawancara, dan data sekunder yang diperoleh dari buku dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Pesantren Tarekat konsisten menghidupkan tradisi intelektual Islam khas Indonesia yakni melaksanakan dan mengembangkan kurikulum pendidikan Islam berbasis mazhab Syafi’i dan berteologi Asy’ari-Maturidi, yang bersumber dari kitab kuning. Kedua, kyai atau mursyid berperan besar terhadap keberhasilan pendidikan di pesantren sekaligus membangun sikap moderasi beragama. Ketiga, Pesantren Tarekat berperan atas munculnya pesantren atau lembaga pendidikan baru yang didirikan dan dikembangkan oleh para alumninya. Keempat, Pesantren Tarekat berperan dalam wacana moderasi beragama karena konsisten mengajarkan nilai-nilai etika Islam yang menjaga dan membentengi para santri dari pemahaman agama yang menyimpang. AbstractThis research aims to uncover the role and consistency of the Tarekat Islamic Boarding School in the development of Islamic intellectual tradition and religious moderation in Indonesia. This research simultaneously answers two major problems faced by the Muslim community today, namely the decline of intellectual tradition and the erosion of awareness of religious moderation, both of which have long been established. This research utilizes Terror Management Theory analysis with a case study of the Tarekat Islamic Boarding School, named Roudhoh Al-Hikam, located in Cibinong, Bogor Regency. The study collects data from two sources, namely primary data obtained from field observations and interviews and secondary data obtained from books and journals. The results of the study show that, firstly, the Tarekat Islamic Boarding School consistently promotes the distinctive Islamic intellectual tradition in Indonesia, namely by implementing and developing an Islamic education curriculum based on the Shafi'i school of thought and Asy'ari-Maturidi theology, sourced from the yellow book. Secondly, the kyai or mursyid plays a significant role in the success of education in Islamic Boarding School while also cultivating a mindset of religious moderation. Thirdly, the Tarekat Islamic Boarding School contributes to the emergence of new Islamic Boarding School, or educational institutions, established and developed by its alumni. Fourthly, the Tarekat Islamic Boarding School plays a role in the discourse of religious moderation by consistently teaching Islamic ethical values that safeguard and protect students from deviant religious understandings.
Kerukunan Beragama Dalam Perspektif Pemikiran Pengalaman Keagamaan Joachim Wach theguh saumantri
Holistik Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/holistik.v7i1.13375

Abstract

Kerukunan beragama dan toleransi menjadi isu penting dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan multireligius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Joachim Wach tentang pengalaman keagamaan serta untuk mengeksplorasi relevansinya dengan kerukunan beragama dalam masyarakat. Dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis sumber-sumber primer dari karya-karya Joachim Wach dan penelitian terkait. Hasil dari penelitian ini dapat dijelaskan bahwa pemikiran Joachim Wach telah memberikan kontribusi positif dalam memperkuat kerukunan dan toleransi dalam masyarakat yang multikultural dan multireligius. Melalui konsep “sacred canopy” dan pendekatannya terhadap toleransi, masyarakat dapat memahami agama lain dengan lebih baik dan memperkuat nilai-nilai yang positif dari setiap agama. Oleh karena itu, pemikiran Joachim Wach dapat menjadi inspirasi untuk mendorong kerukunan dan toleransi dalam masyarakat yang multikultural dan multireligius.
PENDAMPINGAN LITERASI MENULIS KARYA ILMIAH PADA SISWA MAN 1 KABUPATEN CIREBON Theguh Saumantri; Ihsan Sa’dudin; Eka Safitri
Al-Khidmat Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Al-Khidmat : Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jak.v6i1.19416

Abstract

AbstrakSalah satu program prioritas kemendikbud dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah literasi pendidikan. Literasi kini sudah menjadi program yang diwajibkan oleh pemerintah melalui pembelajaran yang ada di sekolah. Menulis merupakan salah satu bagian dalam mengaktualisasikan budaya literasi. PKM ini dilakukan sebagai sarana pendampingan kepada siswa MAN 1 Kab. Cirebon dalam penguatan literasi menulis karya ilmiah dalam persiapan mengikuti Madrasah Young Researchers Super Camp (MYRES). Dalam pengabdian kepada masyarakat ini digunakan metodologi Participatory Learning and Action (PLA), sebagai strategi untuk mencapai tujuan dari pengabdian. Dalam aktualisasi PLA, peran utama abdimas adalah membuka ruang dialog, membantu mengembangan refleksi dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dan analisis kritis. Hasil dari pendampingan dalam pengabdian ini adalah siswa mampu membuat sebuah judul penelitian, parafrase, latar belakang, metode dan mengetahui bidang-bidang keilmuan dalam menulis karya ilmiah. AbstractOne of the priority programs of the Ministry of Education and Culture in creating quality human resources is educational literacy. Literacy has now become a program required by the government through learning in schools. Writing is one part of actualizing the culture of literacy. This PKM is carried out as a means of mentoring MAN 1 students of Cirebon Regency in strengthening the literacy of writing scientific papers in preparation for participating in the Madrasah Young Researchers Super Camp (MYRES). In this community service, the Participatory Learning and Action (PLA) methodology is used as a strategy to achieve the goals of the service. In the actualization of the PLA, the main role of the abdimas is to open up spaces for dialogue, helping to develop reflection in the improvement of participants' knowledge and skills and critical analysis. The result of mentoring in this service is that students are able to make a research title, paraphrase, background, method and know the scientific fields in writing scientific papers.
Kerukunan Beragama Dalam Lensa Pengalaman Keagamaan Versi Joachim Wach Taufik Hidayatulloh; Theguh Saumantri
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v4i1.5876

Abstract

Religious harmony in Indonesia is a complex phenomenon that involves understanding and religious experiences from various traditions and beliefs. In the thought of Joachim Wach, religious experiences play a crucial role in shaping individual religious identity and providing a foundation for beliefs and religious practices. This research aims to analyze Joachim Wach’s thoughts on religious experiences and their relevance to religious harmony in Indonesia. The study employs a qualitative approach, analyzing primary sources from Joachim Wach’s works and related research. The findings of this research indicate that Joachim Wach’s ideas have contributed to understanding and strengthening religious harmony in Indonesia. In his thinking, Wach identifies three forms of religious experience: through thought, action, and fellowship. Additionally, Wach develops the concept of the “sacred canopy,” which refers to how religion can serve as a framework or framework that provides meaning and significance in human life. Through the concept of “sacred canopy” and understanding of tolerance, society can better understand other religions and strengthen the positive values of each religion. Kerukunan beragama di Indonesia merupakan fenomena kompleks yang melibatkan pemahaman dan pengalaman keagamaan dari berbagai tradisi dan keyakinan. Dalam pemikiran Joachim Wach, pengalaman keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk identitas keagamaan individu dan memberikan landasan bagi keyakinan dan praktik agama yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Joachim Wach tentang pengalaman keagamaan dan relevansinya dengan kerukunan beragama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis sumber-sumber primer dari karya-karya Joachim Wach dan penelitian terkait. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemikiran Joachim Wach telah memberikan kontribusi dalam memahami dan memperkuat kerukunan beragama di Indonesia. Dalam pemikirannya, Wach mengidentifikasi tiga bentuk ekspresi pengalaman keagamaan, yaitu dalam bentuk pemikiran, perbuatan, dan persekutuan. Selain itu, Wach mengembangkan konsep “sacred canopy” yaitu konsep tentang bagaimana agama dapat menjadi sebuah kerangka atau bingkai yang memberikan arti dan makna dalam hidup manusia. Melalui konsep “sacred canopy” dan pemahaman tentang toleransi, masyarakat dapat memahami agama lain dengan lebih baik dan memperkuat nilai-nilai yang positif dari setiap agama.
Aktualisasi Moderasi Beragama Dalam Media Sosial Theguh Saumantri
MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama Vol 3 No 1 (2023): MODERASI BERAGAMA
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat of Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/moderatio.v3i1.6534

Abstract

penelitian ini membahas tentang pentingnya pemahaman moderasi beragama dalam media sosial. Media sosial memberikan akses luas ke informasi dan memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan mudah, namun dalam beberapa kasus, media sosial dapat digunakan untuk memicu kebencian dan konflik antar kelompok agama. Pemahaman moderasi beragama dapat membantu orang untuk mencegah konflik antar kelompok agama, menghindari radikalisme, menjaga keseimbangan dalam penggunaan media sosial, membangun hubungan yang harmonis antarumat beragama, dan meningkatkan pemahaman tentang agama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis untuk menganalisis konten-konten yang berpotensi memicu konflik agama di media sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada banyak konten yang dapat memicu konflik agama di media sosial, seperti hoaks, ujaran kebencian, dan informasi yang tidak benar tentang agama. Oleh karena itu, pemahaman moderasi beragama dapat membantu orang untuk mencegah konflik antar kelompok agama, menghindari radikalisme, dan membangun hubungan yang harmonis antarumat beragama di media sosial.
MODERASI BERAGAMA PERSPEKTIF ETIKA (ANALISIS PEMIKIRAN FRANZ MAGNIS-SUSENO) Theguh Saumantri; Bisri Bisri
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 2 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i2.2295

Abstract

Kehidupan masyarakat modern saat ini ditandai oleh pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal keragaman agama dan pandangan keagamaan. Semakin terbukanya masyarakat terhadap berbagai pemikiran dan keyakinan agama telah membawa dampak yang signifikan terhadap dinamika sosial dan budaya. Tujuan penelitian ini untuk menggali pemikiran Franz Magnis-Suseno dalam konteks moderasi beragama dari perspektif etika. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis sebagai upaya untuk mendalami konsep atau teori dari seorang tokoh. Hasil Penelitian ini menjelaskan bahwa etika, sebagai disiplin ilmu filsafat yang mempertimbangkan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip kebaikan, memiliki peran sentral dalam membimbing individu-individu untuk menjaga moderasi dan menghormati perbedaan agama. Dalam pendangan Franz Magnis-Suseno konsep moderasi beragama merupakan locus theologicus-nya dalam agama. Sikap moderat dalam agama ditempatkan dalam kerangka teologis, dan agama menjadi cerminan sikap baik terhadap semua individu, tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Rasionalisme Hegel: Metode Dialektis dalam Mendekati Masalah Metafisika Theguh Saumantri
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 6 No. 3 (2023)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v6i3.58381

Abstract

Metaphysics is an essential thing in the study of philosophy. Metaphysics is a part of human knowledge related to the question of the most profound nature of existence. One of the philosophers who compiled a metaphysical system was G.W.F Hegel, who stated that the basic meaning of reality is human. The focus of the discussion in this research was to describe the basis for the productivity of Hegel’s thinking, especially rationalism (dialectics), and its relevance to theological issues in the religious realm. This research was library research with a philosophical approach that aimed to search and examine data or information about the characters’ thoughts. The research results found that Hegel’s dialectic through the mechanism of the thesis, antithesis, and synthesis has been used to approach metaphysical problems. Therefore, the most crucial thing can be applied in religious life with the spirit of critical dialogue toward a healthy and constructive religious association.
Teologi Perdamaian dan Kerukunan Antar Agama dalam Perspektif Asghar Ali Engineer Theguh Saumantri
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.19790

Abstract

This article explores the concept of Islamic theology of peace and interfaith harmony through the perspective of Asghar Ali Engineer, particularly focusing on the essence of Islam, theology of peace, and interreligious harmony. The article employs a literature study method, analyzing and interpreting Engineer's works. Asghar Ali Engineer, an Indian Muslim scholar and intellectual, advocates for peace and pluralism in Islam, emphasizing the importance of Tauhid (the Oneness of God) as a foundation for social justice and peace. His approach integrates the concept of liberation theology, emphasizing the necessity of liberating humanity from oppression and injustice. Engineer interprets Tauhid not merely as a religious ritual but as a social structure that fosters equality and peace. He argues that true peace in Islam involves respecting religious diversity and eliminating coercion in faith. The study affirms that Engineer's theology of peace is relevant in multicultural and multireligious contexts like Indonesia and can offer an alternative approach to resolving interfaith conflicts. Engineer's emphasis on dialogue and understanding among different faiths is crucial for enhancing harmony and reducing societal polarization.AbstrakArtikel ini mengeksplorasi konsep teologi perdamaian Islam dan kerukunan antaragama melalui pemikiran Asghar Ali Engineer, khususnya mengenai esensi Islam, teologi perdamaian, dan kerukunan antar agama. Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis karya-karya Engineer dan menginterpretasikannya. Asghar Ali Engineer, seorang ulama dan intelektual Muslim India, mengadvokasi perdamaian dan pluralisme dalam Islam, menekankan pentingnya Tauhid (Keesaan Allah) sebagai dasar untuk keadilan sosial dan perdamaian. Pendekatannya menggabungkan konsep teologi pembebasan, menekankan pentingnya membebaskan umat manusia dari penindasan dan ketidakadilan. Engineer menafsirkan Tauhid tidak hanya sebagai ritual agama tetapi sebagai struktur sosial yang mendorong kesetaraan dan perdamaian. Ia berargumen bahwa perdamaian sejati dalam Islam melibatkan penghormatan terhadap keragaman agama dan penghapusan paksaan dalam beragama. Kajian ini menegaskan  bahwa teologi perdamaian Engineer relevan dalam konteks multikultural dan multireligius seperti di Indonesia dan dapat menjadi pendekatan alternatif untuk mengatasi konflik antar agama. Penekanan Engineer pada dialog dan pemahaman antar agama yang berbeda sangat penting untuk meningkatkan kerukunan dan mengurangi polarisasi masyarakat.
PANDEMI COVID-19 DALAM TINJAUAN FILSAFAT MICHEL FOUCAULT Theguh Saumantri
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i2.766

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah menguraikan dampak terjadinya fenomena pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia dalam tinjauan filsafat michel foucault.Adanya wabah penyakit Corona Virus (Covid-19) membuat segala aspek kehidupan terhenti. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya sistem isolasi diri yang diperintahkan oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, Banyak rencana yang terhenti dan salah satunya adalah rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Dalam analisis Michel Foucault, Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya sistem isolasi diri yang diperintahkan oleh pemerintah Indonesia. Dalam analisis Michel Foucault, dijelaskan tentang adanya relasi kekuasaan. Metodologi dalam peneltian ini menggunakan metode deskiptif kualitatif yang merupakan upaya untuk mendiskipsikan dan menganalisis sebuah gejala fenomena yang ada. Sehubungan dengan analisis Foucault tersebut, terdapat kesimpulan yaitu kita dapat melihat adanya arogansi pemerintah terhadap proyek pemindahan ibu kota. Hal ini diperkuat dengan adanya teori dari Sigmund Freud tentang ego dan super ego. Artinya pemerintah berusaha untuk meninggalkan legacy atau warisan dan bertujuan agar  namanya selalu diingat oleh publik. Namun adanya pandemi covid-19, pada akhirnya membatalkan arogansi pemerintah tersebut.