Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Strategi Pengembangan Infrastruktur Perdesaan Dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Pertanian Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone Indriani, Iin; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; Anshar, Muhammad
TATALOKA Vol 27, No 2 (2025): Volume 27 No. 2 May 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.27.2.138-160

Abstract

Kebijakan pengembangan infrastruktur kawasan perdesaan di Kecamatan Lappariaja belum mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Hal tersebut terlihat dari beberapa sarana seperti gudang pangan yang belum tersedia, jaringan jalan yang rusak, pemanfaatan jaringan telekomunikasi belum merata, serta ketersediaan jalan tani yang masih sulit di akses oleh para petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kondisi infrastruktur dan fasilitas wilayah perdesaan di Kecamatan Lappariaja, dan merumuskan strategi pengembangan infrastruktur perdesaan dalam mendukung pengembangan kawasan pertanian. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis skoring, sedangkan analisis deskriptif kualitatif yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil analisis tingkat kondisi infrastruktur di Kecamatan Lappariaja dalam kategori terpenuhi yaitu jaringan listrik, jembatan, irigasi, air bersih dan telekomunikasi. Sedangkan infrastruktur kategori sedang yaitu infrastruktur jalan dan jalan tani. Infrastruktur yang tidak terpenuhi yaitu gudang pangan. Strategi pengembangan, yaitu (a) memanfaatkan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sebagai arus distribusi perekonomian dibidang pertanian maupun perdagangan dan jasa. (b) rutin melakukan pemasokan kebutuhan air pada tanaman agar meningkatkan jumlah produktivitas pertanian secara cepat. (c) memanfaatkan ketersediaan listrik untuk menjalankan aktivitas disektor pertanian seperti penggunaan mesin pompa air irigasi ke lahan pertanian. (d) membangun infrastruktur gudang pangan untuk menyimpan dan memproses hasil-hasil tani. (e) perbaikan infrastruktur jalan penghubung antar desa serta perbaikan jalan tani agar dapat memperlancar proses  pengangkutan hasil produksi maupun mobilisasi alat-alat dan mesin pertanian.
Dampak Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng handayani, Sri Putri; Siradjuddin, Irsyadi; Idham AP, Andi; Anshar, Muhammad
Jurnal Kajian Ruang Vol 5, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v5i2.47506

Abstract

ABSTRAKKepadatan penduduk di suatu daerah seringkali memicu terjadinya alih fungsi lahan. Kondisi ini kemudian berdampak pada aspek ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan pertanian dan mengidentifikasi faktor serta dampak ekonominya. Studi ini penting untuk memahami efek jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi analisis data deskriptif kuantitatif, teknik overlay untuk melihat perubahan penggunaan lahan, serta uji Chi-Square guna menentukan faktor dan dampak ekonomi dari alih fungsi lahan pertanian. Hasil menunjukkan lahan pertanian menurun dari 7625,70 Ha (83,01%) pada 2014 menjadi 7164,44 Ha (77,99%) pada 2024 sementara lahan permukiman meningkat dari 562,86 Ha (6,13%) menjadi 860,38 Ha (9,37%). Faktor utama yang memengaruhi alih fungsi lahan meliputi jumlah dan kepadatan penduduk, pendidikan petani, infrastruktur, harga lahan, pendapatan, kebijakan, dan penyerapan tenaga kerja. Dampak positif dari segi ekonomi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru dan pergeseran struktur ekonomi masyarakat dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa. Dampak negatifnya berupa penyusutan lahan pertanian yang mengancam produksi pangan, memicu kenaikan harga bahan pokok, dan mengganggu kestabilan ekonomi petani. Penelitian ini penting bagi negara berkembang untuk memahami dampak jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan lahan.Kata Kunci: Perubahan Penggunaan lahan, Analisis Spasial, Alih Fungsi Lahan Pertanian, Dampak Ekonomi ABSTRACTPopulation density in an area often triggers land use change. This condition then has an impact on economic aspects. This study aims to analyze changes in agricultural land use and identify the factors and economic impacts. This study is important for understanding the long-term effects of land use change on environmental sustainability and community welfare. The methods used include quantitative descriptive data analysis, overlay techniques to observe changes in land use, and Chi-Square tests to determine the factors and economic impacts of agricultural land use change. The results show that agricultural land decreased from 7625.70 Ha (83.01%) in 2014 to 7164.44 Ha (77.99%) in 2024, while residential land increased from 562.86 Ha (6.13%) to 860.38 Ha (9.37%). The main factors influencing land conversion include population size and density, farmer education, infrastructure, land prices, income, policy, and labor absorption. The positive economic impact is the creation of new jobs and a shift in the community's economic structure from the agricultural sector to the industrial and service sectors. The negative impact is the reduction of agricultural land, which threatens food production, triggers an increase in the price of basic commodities, and disrupts the economic stability of farmers. This research is important for developing countries to understand the long-term impact of land conversion on environmental sustainability and welfare, as well as for consideration in land use decision-making.Keywords: Land Use Change, Agricultural Land Conversion, Spatial Analysis, Economic Impact
PENGEMBANGAN KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN LEMBANG TADONGKON BERDASARKAN ANALISIS LQ, SHIFT SHARE, DAN TIPOLOGI KLASSEN Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad
Jurnal Agroteknologi Vol 16, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ja.v16i1.37998

Abstract

Lembang Tadongkon is a highland area with considerable potential for horticultural development. Its fertile soils, deeply rooted farming traditions, and the availability of local labor make it highly suitable for development as an agropolitan hub. This study aims to identify leading horticultural commodities in the region and formulate strategies for their sustainable development. The methods employed include Location Quotient (LQ) analysis, Shift Share analysis, and SWOT analysis. Data were obtained from both primary and secondary surveys and analyzed in two stages: qualitative SWOT (SWOT matrix) and quantitative SWOT (weighting and scoring). The results of the LQ, Shift Share, and Klassen typology analyses for eleven horticultural commodities in Lembang Tadongkon reveal that five commodities have LQ >1 spinach (1.21), cabe katokkon chili (1.07), long beans (1.24), water spinach (1.09), and eggplant (1.38) indicating that they are base commodities with strong development potential. However, only tomatoes exhibited positive growth in the Shift Share analysis (0.84), while the remaining commodities showed negative growth. According to the Klassen typology, all commodities remain in the “Lagging” category, as both their contribution and growth rates are below the regional average. Accordingly, strategies are required to enhance cultivation technology, post-harvest management, and institutional capacity to transform base commodities into sustainable leading commodities. Quantitative SWOT analysis positions Lembang Tadongkon in Quadrant I (progressive), indicating that the area possesses substantial strengths and opportunities for integrated development. Recommended strategies include production expansion, downstream product development, strengthening farmer organizations, and leveraging agro-tourism potential based on local flagship commodities.
RANTAI NILAI PENGEMBANGAN KOMODITI UNGGULAN BERBASIS KAWASAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN: Value Chain On Leading Commodity Development Based On Regions In South Sulawesi Province Anshar, Muhammad; Syam, Nur; Handayani, Risma; Risnawati, Risnawati; Usman, Khairul Sani; Hamid, Muslimin; Azuz, Fidaan Husain; Razak, Nur Rahmah
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.481

Abstract

Pengembangan komoditas unggulan berbasis kawasan di Sulawesi Selatan masih menghadapi berbagai permasalahan struktural, antara lain lemahnya koordinasi antar pelaku usaha dalam rantai nilai, keterbatasan akses terhadap teknologi dan permodalan, serta belum optimalnya dukungan infrastruktur wilayah. Kondisi tersebut berimplikasi pada belum maksimalnya kinerja rantai nilai komoditas unggulan dari hulu hingga hilir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai nilai dalam pengembangan komoditas unggulan berbasis kawasan di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan fokus pada komoditas hasil perkebunan dan bahan pangan. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis rantai nilai, di mana setiap aktivitas diberi bobot untuk memperoleh total nilai rantai, yang selanjutnya disajikan dalam bentuk matriks kombinasi aktivitas primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas utama dalam rantai nilai komoditas unggulan berbasis kawasan di Sulawesi Selatan berada pada kategori baik, dengan nilai aktivitas primer sebesar 4,4 dan aktivitas sekunder sebesar 4. Penilaian tertinggi dengan nilai 5 (sangat baik) terdapat pada aktivitas barang masuk serta pemasaran dan penjualan, yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan aliran produk dari produsen hingga konsumen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan infrastruktur wilayah pendukung produksi, peningkatan akses permodalan dan kapasitas sumber daya manusia masyarakat produsen plasma, serta pengendalian distribusi lahan dan jaminan kualitas produk dalam kerangka pengembangan komoditas unggulan berbasis kawasan.
DEVELOPMENT STRATEGIES OF VILLAGE-OWNED ENTERPRISES (BUMDES) TO SUPPORT ECONOMIC RESILIENCE IN TOMBOLO PAO DISTRICT, GOWA: Strategi Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi di Kecamatan Tombolo Pao, Gowa Anshar, Muhammad; Siradjuddin, Irsyadi
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.489

Abstract

This study aims to analyze the development classification status of Village-Owned Enterprises (Bumdes) and to develop strategies for Bumdes in supporting regional economic resilience in Tombolo Pao District, Gowa Regency. The assessment of Bumdes development is based on Presidential Regulation No. 11 of 2021 concerning Bumdes, covering variables such as institutional framework, regulations, Bumdes operations, administration, reporting and accountability, capital and assets, and the impact of Bumdes on the community. A SWOT analysis method was employed to formulate Bumdes development strategies. The results of the study indicate that the classification status of Bumdes development in the Tombolo Pao District is as follows: Advanced Bumdes in two villages, namely Pao with a score of 89 and Kanrepia with a score of 88. Developing Bumdes in four villages, namely Balaromang, Tonasa, Mamampang, and Erelembang, with scores of 83, 82, 81, and 77 respectively. Growing Bumdes are found in two villages, Tabbinjai and Balassuka, with scores of 74 each. The strategy for Bumdes to support regional economic resilience in Tombolo Pao is as follows: Advanced Bumdes need to maintain good performance, continue innovating, and expand their business networks. Developing Bumdes should strengthen governance, improve access to capital, and diversify their business ventures. Growing Bumdes need to build a strong foundation, develop human resource capacity, and focus on developing profitable businesses
Evaluasi Infrastruktur Desa Sebagai Dasar Perumusan Strategi Pengembangan Di Lembang Rinding Batu Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad; Fitriani
Jurnal Rekayasa Infrastruktur Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Rekayasa Infrastruktur
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jri.v11i2.305

Abstract

Mapping the potential of agropolitan areas from the perspective of basic infrastructure is essential for formulating regional development strategies. This study aims to analyze the availability of basic facilities and infrastructure as well as to formulate development strategies in Rinding Batu Village, Kesu District, North Toraja Regency. The research employed a descriptive quantitative and qualitative approach through infrastructure availability analysis and SWOT analysis. Data were collected through field surveys, questionnaires distributed to 44 respondents, and documentation from related institutions. The results show that the average availability of infrastructure reached 87% and facilities reached 87.8%, with the main weaknesses found in sanitation, drainage, and the suboptimal condition of several facilities. Quantitative SWOT analysis placed Rinding Batu Village in Quadrant I (x = 0.97; y = 1.16), indicating the dominance of strengths and opportunities for sustainable area development. The development strategy is therefore focused on optimizing the advantages of basic infrastructure while improving weaker aspects to support equitable and sustainable development.
Analisis Indeks Desa Membangun Berbasis GIS di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad; Idham AP, Andi; Fitriani, Fitriani
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.111335

Abstract

Abstrak. Pembangunan desa merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perdesaan. Namun, perbedaan tingkat perkembangan antar desa masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, termasuk di Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Kondisi tersebut mendorong perlunya suatu kajian yang mampu memetakan status pembangunan desa secara lebih terukur dan terarah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status perkembangan desa berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) serta menyajikannya dalam bentuk pemetaan spasial. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan pemanfaatan indikator IDM yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa. Data dianalisis dan kemudian divisualisasikan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk menghasilkan peta status pembangunan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Tombolo Pao terdapat dua desa yang termasuk kategori maju, yaitu Desa Kanrepia dan Desa Pao, sedangkan enam desa lainnya masih berada pada kategori berkembang. Tidak terdapat desa yang mencapai kategori mandiri maupun yang tertinggal, sehingga kondisi ini mencerminkan adanya peluang percepatan pembangunan jika intervensi dilakukan secara tepat. Temuan ini menegaskan bahwa pemetaan IDM berbasis GIS tidak hanya memberikan gambaran spasial tentang status pembangunan desa, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen strategis dalam perencanaan pembangunan wilayah. Kesimpulannya, pemanfaatan IDM melalui pemetaan spasial mampu membantu pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan, mengarahkan alokasi sumber daya secara lebih efektif, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan desa berkelanjutan.Abstract. Village development is one of the key drivers in promoting equitable growth and improving the welfare of rural communities. However, disparities in development levels among villages remain a challenge for local governments, including those in Tombolo Pao District, Gowa Regency. This condition highlights the need for a study capable of mapping village development status in a more measurable and systematic way, providing a solid basis for targeted policy-making. The objective of this research is to identify the development status of villages based on the Village Development Index (Indeks Desa Membangun/IDM) and to present the results through spatial mapping. The study applies a descriptive quantitative and qualitative approach using IDM indicators issued by the Ministry of Villages. Data were analyzed and then visualized using Geographic Information System (GIS) applications to produce maps of village development status. The findings reveal that in Tombolo Pao District, two villages Kanrepia and Pao fall into the advanced category, while six other villages remain in the developing category. No villages were classified as independent or underdeveloped, indicating that there is potential for accelerated development if proper interventions are implemented. These results emphasize that IDM-based GIS mapping not only provides a spatial representation of village development status but also serves as a strategic instrument in regional development planning. In conclusion, the utilization of IDM through spatial mapping can assist local governments in setting development priorities, directing resource allocation more effectively, and supporting the achievement of sustainable village development goals.Submitted: 2025-09-19 Revisions:   2025-12-03  Accepted:  2026-02-01 Published: 2026-02-06