Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Segregasi pada pengelasan baja paduan Hanif Hanif
Jurnal POLIMESIN Vol 1, No 1 (2003): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jop.v1i1.1390

Abstract

Pengelasan baja paduan adalah proses penyambungan antara dua logam a/au lebih dengan menggunakan elektroda dan disertai dengan energi panas Segregasi pada pengelasan disebabkanoleh ketidak paduan antara unsure-unsur yang ada pada logam induk dengan logam pengisi, hal ini dapat menyebabkan keretakan pada daerah HAZ.Pengaruh yang disebabkan oleh segregasi dapat menyebabkan terjadinya retak dalam keadaan dingin dan keadaan panas.
Numerical comparison of mathematical modeling approaches on the performances of link coupling beams Musbar Musbar; Hanif Hanif; Khairul Miswar
International Journal of Advances in Applied Sciences Vol 15, No 2: June 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijaas.v15.i2.pp861-871

Abstract

The precision of inelastic steel-link response predictions in eccentrically braced frames (EBFs) is contingent on the material model employed. In the absence of comprehensive guidelines concerning constitutive choices for long-link coupling beams (LCBs), this study undertakes a comparative analysis of four models through nonlinear finite element simulations of three American Institute of Steel Construction (AISC) 341-22–compliant specimens under cyclic loading conditions in Ansys. Two mathematical formulations (Ramberg–Osgood and Kaufmann cyclic) and two plasticity-based formulations (multilinear kinematic hardening and isotropic hardening) were evaluated for shear strength, overstrength, and plastic rotation capacity. Mathematical models consistently generate stable hysteresis with uniform stiffness degradation, while plasticity-based models exhibit greater variability. It was observed that all specimens exceeded the nominal shear strength of 271.98 kN, attaining peak strengths of 350.72–391.86 kN (overstrength 1.29–1.44). The plastic rotations range from 0.039 to 0.051 rad, which exceeds the minimum requirement of 0.02 rad for long links. The Kaufmann cyclic model, when combined with multilinear kinematic hardening, has been shown to optimally reproduce key EBF hysteretic behavior. This advancement in model selection for numerical assessment and improvement in seismic performance predictions in performance-based design is a significant contribution to the field.
PEMBUATAN PAPAN KOMPOSIT DARI BAHAN KULIT KAYU WARU DENGAN MENGGUNAKAN POLYESTER SEBAGAI MATRIKS Muhammad Rinaldi; Hanif Hanif; Jagodang Harahap
Jurnal Mesin Sains Terapan Vol 10, No 1 (2026): JURNAL MESIN SAINS TERAPAN
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jmst.v10i1.8941

Abstract

Penggunaan serat alam sebagai reinforcement pada material komposit semakin duminati pada suatu dasawarsa terakhir ini. Hal ini disebabkan karena serat alam jebih ramah lingkungan, memiliki densitas yang rendah, kompatibel dengan alam. dan harganya yang relatif murah. Salah satu penggunaan serat alam pada material komposit adalah serat kulit pohon waru (hibiscus tiliaceus). Serat kulit pohon waru (hibiscus tiliaceus) memiliki potensi yang sangat baik sebagai reinforcement pada komposit karena serat kulit pohon waru (hibiscus tillaceus). Pada penelitian ini menggunakan empat variabel bebas yaitu variasi fraksi 30% 70%, 40%: 60%, 60%: 40% dan 70%: 30%. Hasil dari penelitian ini Nilai kekuatan tarik tertinggi diperoleh pada serat kulit kayu waru 40%: 60% dengan nilai kekuatan tarik 14,64 Mpa. Pengujian pengembangan tebal untuk variasi fraksi 30%: 70%, 40%: 60%, 60%: 40% dan 70%: 30% telah memenuhi syarat standar JIS A 5908-2003. Hasil pengembangan tebal tertinggi terdapat pada serat 40%: 60% dengan nilai pengembangan tebal 0,17% dan nilai pengembangan tebal terendah terdapat pada serat 30%: 70% dan 70%: 30% dengan nilai 0,25%. Kata kunci: Kayu waru, Reinforcement, hibiscus tiliaceus.
Analisis Temporal Perubahan Senyawa Dan Indikasi Korosi Awal Pada Beton Bertulang Di Lingkungan Air Laut Buatan Menggunakan FTIR Herdi Susanto; Farid Jayadi; Yuza Husran; Hanif Hanif; Mawardi Mawardi; Zulkifli Zulkifli; Khairol Mizan Us
VOCATECH: Vocational Education and Technology Journal Vol 7, No 2 (2025): December
Publisher : Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38038/vocatech.v7i2.252

Abstract

     AbstractMarine environments are highly aggressive to reinforced concrete due to chloride ions that accelerate chemical degradation and initiate reinforcement corrosion, potentially causing early depassivation of steel. This study investigates the temporal evolution of chemical compounds in reinforced concrete and identifies early corrosion-related changes induced by artificial seawater exposure using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Structural-grade reinforced concrete specimens were exposed to artificial seawater with a salinity of approximately 3.5% NaCl under partial immersion conditions, where half of each specimen was immersed while the remaining half was exposed to laboratory air. The exposure period lasted 30 days, with surface concrete powder samples collected at selected intervals. FTIR analysis was conducted to monitor changes in key functional groups, including –OH (Ca(OH)₂), CO₃²⁻ (CaCO₃), calcium silicate hydrate (C–S–H), and free silica. The results indicate progressive carbonation from the early stages of exposure, evidenced by a gradual reduction in –OH intensity and a corresponding increase in carbonate peaks, reflecting a decrease in concrete alkalinity. A notable increase in –OH intensity during the exposure period suggests enhanced moisture absorption, which may facilitate chloride ion diffusion. Although C–S–H phases persisted throughout the test duration, the appearance of free silica at later stages indicates the onset of hydration matrix degradation. These findings demonstrate that progressive carbonation combined with moisture absorption under partial immersion conditions can accelerate early reinforcement depassivation and potentially shorten the service life of reinforced concrete in artificial marine environments.Keywords:Reinforced concrete, corrosion, FTIR, carbonation, artificial seawater       AbstrakLingkungan laut merupakan salah satu kondisi paling agresif terhadap beton bertulang karena keberadaan ion klorida yang dapat mempercepat degradasi kimia beton serta inisiasi korosi tulangan, sehingga berpotensi menyebabkan depasivasi lapisan pelindung baja tulangan pada tahap awal umur layan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan temporal senyawa kimia beton bertulang dan mengidentifikasi indikasi awal korosi akibat paparan air laut buatan menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Spesimen beton bertulang bermutu struktural dipaparkan pada lingkungan air laut buatan dengan salinitas ±3,5% NaCl, di mana setengah panjang spesimen direndam dalam air laut buatan dan setengah lainnya terpapar udara. Pengamatan dilakukan selama 30 hari dengan pengambilan sampel serbuk permukaan beton pada hari ke-9, 13, 15, 17, 20, 21, 24, 27, dan 30. Analisis FTIR digunakan untuk memantau perubahan intensitas dan keberadaan gugus fungsional utama, meliputi –OH (Ca(OH)₂), CO₃²⁻ (CaCO₃), fase hidrasi silikat (C–S–H), dan silika bebas. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya karbonasi progresif sejak tahap awal paparan, yang ditandai dengan penurunan bertahap intensitas puncak – OH (Ca(OH)₂) dan peningkatan puncak karbonat (CO₃²⁻, CaCO₃), sehingga mengindikasikan penurunan alkalinitas beton. Lonjakan signifikan intensitas –OH pada hari ke-17 menunjukkan penyerapan kelembapan yang tinggi, yang berpotensi mempercepat difusi ion klorida ke dalam beton. Fase C–S–H masih terdeteksi sepanjang periode pengujian, namun kemunculan silika bebas pada akhir paparan mengindikasikan awal degradasi matriks hidrasi. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi karbonasi progresif dan penyerapan kelembapan pada kondisi perendaman parsial dapat mempercepat indikasi depasivasi tulangan dan berpotensi menurunkan umur layan beton bertulang di lingkungan laut buatan.Kata Kunci:             Beton bertulang, korosi, FTIR, karbonasi, air laut buatan