Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Seleksi Genotipe Unggul Kopi Robusta Spesifik Lokasi Dani Dani; Cici Tresniawati; Enny Randriani
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 2 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v4n2.2013.p139-144

Abstract

Seleksi genotipe unggul kopi Robusta yang memiliki karakteristik biji besar, kandungan kafein rendah, dan citarasa baik sangat penting dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai ekonomi kopi Robusta di pasar global. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan seleksi genotipe kopi Robusta terbaik berdasarkan kriteria-kriteria tersebut di atas. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Januari-Desember 2012. Bahan seleksi berupa populasi lima genotipe kopi Robusta hasil seleksi petani (MCJ-1, SCJ-1, PKCJ-1, PHCJ-1, dan SuCJ-1) yang telah banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Curup, Provinsi Bengkulu. Kriteria seleksi berdasarkan karakteristik mutu fisik dan morfometrik biji beras, kandungan kafein, dan mutu citarasa seduhan. Pengujian mutu fisik biji beras, kandungan kafein, dan mutu citarasa seduhan dilaksanakan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa genotipe PKCJ-1 memiliki karakteristik ukuran biji paling besar dan kandungan kafein paling rendah. Genotipe PHCJ-1 dan SCJ-1 paling baik dalam hal citarasa dan telah memenuhi kategori salah satu kriteria kopi spesialti. Dengan demikian, berdasarkan kriteria seleksi yang telah ditetapkan, ketiganya terpilih sebagai genotipe harapan.Kata Kunci: Kopi Robusta, seleksi genotipe, kafein rendah, mutu citarasaSelection of Robusta coffee genotypes which have superior characteristics, such as large beans size, low caffeine content, and good cup quality taste, is essential in order to increase its economic value in the world market. The objectives of the research was to select the superior genotype(s) of Robusta coffee based on characteristics as mentioned above. The research was carried out at Januari to December 2012. Material used was five genotypes of farmer-selected Robusta coffee (MCJ-1, SCJ-1, PKCJ-1, PHCJ-1, and SuCJ-1) recently grown in many areas across Curup Regency, Bengkulu Province. Selection criteria was physical quality and morphometric characteristics of green beans, caffeine content, and cup quality. The laboratory test was conducted at the Center for Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI), Jember. The results showed that the genotype of PKCJ-1 has the largest in size of bean and the lowest in caffeine content. On the other hand, PHCJ-1 and SCJ-1 genotypes are the best in terms of taste and meets of ones criteria for specialty coffee grade. Thus, these three genotypes were selected as a candidate of superior genotypes.
Hubungan Antar Karakter Vegetatif, Komponen Hasil, dan Daya Hasil Kopi Robusta Asal Sambung Tunas Plagiotrop Enny Randriani; Dani Dani; Cici Tresniawati; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v1n2.2014.p109-116

Abstract

Seleksi klon unggul kopi Robusta (Coffea canephora) biasanya memerlukan waktu yang lama sehingga diperlukan pendekatan-pendekatan yang mampu mempersingkat waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis korelasi antar karakter vegetatif, komponen hasil, dan daya hasil kopi Robusta hasil sambung tunas plagiotrop. Penelitian dilaksanakan di Desa Suka Rami, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Curup, Bengkulu dari bulan Januari sampai Desember 2012. Delapan karakter vegetatif, 13 karakter komponen hasil, dan dua karakter daya hasil diamati pada pertanaman kopi Robusta hasil sambung tunas plagiotrop umur tiga tahun. Korelasi antar karakter dan analisis faktor dilakukan menggunakan SPSS 11.5 for Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakter daya hasil (produksi buah dan produksi biji beras per pohon) kopi Robusta yang diperbanyak melalui sambung tunas plagiotrop memiliki hubungan yang positif secara kuat dengan lima karakter lainnya, yaitu jumlah cabang sekunder, bobot 100 buah, panjang biji gabah, panjang biji beras, dan bobot 100 biji beras. Oleh sebab itu, kelima karakter tersebut dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi positif untuk produktivitas tinggi kopi Robusta yang dikembangkan melalui sambung tunas plagiotrop.Kata kunci: Coffea canephora, seleksi klon, sambung pucuk, tunas plagiotropSelection of Robusta (Coffea canephora) elite clones usually takes a long time, therefore an effective approach is needed to shorten the time. The objective of this study was to analyze the correlation between the vegetative characters, yield and yield components of Robusta coffee derived from plagiotroph bud grafting. The research was conducted in the Suka Rami village, District of Bermani Ulu, Curup, Bengkulu Province from January to December 2012. Eight vegetative characters, 13 characters of yield components, and two yield characters were observed at three years old Robusta coffee plantation which derived from plagiotroph bud grafting. The correlation between the characters and factor analysis performed using SPSS 11.5 for Windows. The analysis showed that the character of the number of secondary branches, weight of 100 coffee fruits, long grain bean, long grain rice, and weight of 100 grains of bean showed a very strong positive correlation with yield characters. Thus, these five characters can be used as selection criteria to obtain superior genotypes of Robusta coffee that developed through plagiotroph bud grafting.
Ekspresi Fenotipik Klon Kopi Robusta “Sidodadi” pada Tiga Ketinggian Tempat Enny Randriani; Dani Dani; Handi Supriadi; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 3 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n3.2016.p151-158

Abstract

Kopi Robusta “Sidodadi” merupakan salah satu klon kopi Robusta hasil seleksi petani yang paling banyak dikembangkan di wilayah Bengkulu. Klon tersebut tersebar pada berbagai ketinggian tempat sehingga diduga terdapat keragaman ekspresi fenotipik sebagai akibat pengaruh perbedaan lingkungan tumbuh. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap ekspresi fenotipik kopi Robusta “Sidodadi”. Penelitian dilaksanakan di tiga lokasi dengan ketinggian tempat berbeda di Provinsi Bengkulu: (1) 600 m dpl (Desa Sukarami, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Curup), (2) 900 m dpl (Desa Airsempiang, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kapahiang), dan (3) 1.200 m dpl (Desa Airles, Kecamatan Muara Kemumuh, Kabupaten Kapahiang), mulai Januari 2014 sampai Oktober 2015 dengan metode survei. Sebanyak 5 pohon ditentukan secara acak pada setiap unit percobaan dan masing-masing diulang 5 kali. Karakter fenotipik yang diamati meliputi morfologi vegetatif dan komponen hasil, kandungan kafein biji, dan mutu citarasa seduhan. Data morfologi vegetatif dan komponen hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji beda dua rata-rata t-Student pada taraf 5%. Sampel biji kopi yang digunakan sebanyak 500 g dengan kadar air 10%–10,9% yang diambil pada tiga ketinggian tempat. Hasil penelitian menunjukkan ketinggian tempat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil kopi Robusta “Sidodadi”. Pada ketinggian 1.200 m dpl menghasilkan pertumbuhan vegetatif, generatif, dan komponen hasil kopi lebih baik, namun kandungan kafein lebih rendah, dibandingkan dengan ketinggian 600 dan 900 m dpl. Mutu citarasa terbaik dengan nilai skor 85,25 dihasilkan pada ketinggian 900 m dpl dengan karakter citarasa high body, long aftertaste, serta aroma dark chocolate dan caramelly.
KERAGAAN TANAMAN KAKAO ASAL EMBRIO SOMATIK DI LAPANGAN NUR AJIJAH; ENNY RANDRIANI; RUBIYO RUBIYO; DEWI SUKMA; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.687 KB) | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.57-68

Abstract

ABSTRAKSekitar 75 juta bibit kakao asal embrio somatik (ES) telah ditanam di lapangan.  Evaluasi keragaan tanaman tersebut perlu terus dilakukan. Penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi keragaan tanaman kakao asal ES di lapangan telah dilaksanakan di delapan lokasi di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan dan kabupaten Mamuju (Sulawesi Barat) pada bulan Juni 2012 sampai  Desember 2013. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman umur 1,5-4 tahun meliputi tinggi jorget, lingkar batang, jumlah cabang primer, persentase tanaman berbunga, persentase tanaman berbuah, jumlah buah per pohon, jumlah biji per buah, bobot kering biji serta kejadian serangan hama dan penyakit. Tanaman kakao asal ES memiliki arsitektur   seperti   tanaman   yang   berasal   dari   biji,   yaitu memiliki pertumbuhan  dimorfik  dan  membentuk  jorget.  Rataan  tinggi  jorget bervariasi antar lokasi, sebagian besar berkisar 100 -150 cm. Di lapangan ditemukan tanaman asal ES dengan tinggi jorget > 2 m. Perlu dievaluasi lebih lanjut apakah tinggi jorget > 2 m merupakan bentuk penyimpangan atau hanya pengaruh faktor lingkungan. Pada saat dilakukan pengamatan, tanaman kakao asal ES yang dievaluasi sudah berbunga dan berbuah dengan persentase berbunga 34-100%, berbuah 16-100%, dan dengan hasil buah per pohon 6-37 buah. Bobot buah yang dipanen berkisar 277-418 g dengan rataan jumlah biji per buah 43 biji dan bobot kering per biji 0.5 -1.4 g. Kejadian serangan penggerek buah di 3 lokasi pengamatan mencapai 82, 34.8 dan 49.6%, sedangkan busuk buah 2, 4.3 dan 18%. Studi lebih lanjut  diperlukan  untuk  memastikan  bahwa  tanaman  kakao  asal  ES mempunyai karakteristik tanaman dan hasil yang tidak berbeda dengan tanaman kakao  asal bibit tradisional yang telah biasa digunakan petani.Kata kunci:  Theobroma   cacao   L.,   bibit   ES,   perbanyakan   masal, pertumbuhan dan komponen hasil, variasi somaklonal Field Performance of Cacao Somatic Embryos Derived PlantsABSTRACTApproximately 75 millions of cacao seedlings propagated through somatic embryogenesis (SE) have been planted in the field. Evaluation of the performance of those SE derived plants needs to be continued. The research aimed to evaluate the performance of the cacao SE derived plants in the field have been implemented in 8 locations in Soppeng district, South Sulawesi and the Mamuju district, West Sulawesi in June 2012 and December 2013.   Collected   data   include:   jorquette   height,   trunk circumference,  jorquette branch  numbers,  flowering  and  fruiting tree percentages, fruit numbers per tree, pod weight, bean number per pod, bean dry weight and the disease and pest infection rates. Cacao plants derived from SE showed similar plant architectures to those of seed derived ones, such as having dimorphic growth and forming jorquette. The jorquette height of the majority of cacao trees in the evaluated regionsranged from 100-150 cm. A few SE derived cacao trees show jorquette height > 2 m. However, it needs further studies to determine whether they indicate either abnormality or environment effects. The SE derived cacao trees in the studied locations has bear flowers and fruits. The percentages of cacao trees with flowers or fruits at the age of 2.5 years ranged from 34-100% or 16-100%, respectively. The observed pods number per tree was 6-37 pods, the pod weight was 277-418 g, the beans number per pod was 42-43  and the bean dry weight was 0.5 -1.4 g. The incidences of fruit borer infection at the three evaluated locations were 82, 34.8 dan 49.6%, while the incidences of black pod infection were 2, 4.3 dan 18%. To conclude whether the SE derived cacao trees are comparable to those of the traditional cacao planting materials  requires  more comprehensive studies.Keywords:  Theobroma cacao L., SE derived seedling, mass propagation, growth and yield components, somaclonal variation