Wira Gotera
Department Of Endocrinology And Metabolism, Medical Faculty, Udayana University/ Sanglah General Hospital, Denpasar, Indonesia

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Correlation between waist circumference and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 diabetes mellitus patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital Wan Muhamad Syafiq; I Made Pande Dwipayana; Made Ratna Saraswati; Wira Gotera
Neurologico Spinale Medico Chirurgico Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Indoscholar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36444/nsmc.v3i2.116

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is an interminable issue that can modify glucose, protein, and fat digestion caused by the absence of insulin discharge due to either the dynamic or checked powerlessness of the β-Langerhans islet cells of the pancreas to create insulin. The prevalence of type 2 diabetes mellitus parallels the expanding prevalence of obesity and central obesity. The prevalence of obesity and central obesity in Indonesian among the adult populations are 23.1% and 28%, respectively. Obesity and central obesity are associated with a higher risk of DM. The accumulation of adipose tissue in certain parts of the body, such as in the abdominal cavity, causes an increased risk of insulin resistance until the onset of the metabolic syndrome. This study aims to determine the correlation between waist circumference and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 DM patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital. Methods: This study was an observational analytic study using a cross-sectional method. Samples selected using consecutive sampling, which determined based on inclusion and exclusion criteria from the population. The total of study subject was 70 respondents. Result: The results of the study showed a significant relationship between waist circumference and HbA1c among type 2 diabetes mellitus patients (p = 0.012) with a low correlation (r = 0.300). Conclusion: Conclusion of this study that there is a relationship between waist circumference and HbA1c among type 2 diabetes mellitus patients in Diabetic Polyclinic Sanglah General Hospital.
Kualitas tidur pada sekuriti hotel dengan jadwal jaga malam di Kota Denpasar tahun 2017 Mia Felina Prasetya; Wira Gotera; Ida Bagus Putu Putrawan
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 2 (2020): (Available online: 1 August 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.622 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i2.234

Abstract

Background: Globalization forces some people to work at night, the time that should be dedicated for rest. Many health consequences have to be faced because of the night shift work, one of which is sleep quality.Aim: This study was performed in Denpasar City in 2017 to assess the sleep quality of night shift workers.Methods: This study was a descriptive and observational study by using questionnaires. Population of this study was hotel security officer in Denpasar City with samples of 85 subjects.Results: From 85 subjects investigated, 67.1% sample was categorized as poor sleep quality subjects and 32.9% was categorized as good sleep quality subjects. With total PSQI score above five as cut off, the mean was found at 7.26 and median was 7. In addition, the minimum PSQI score for this study was 2 and maximum PSQI score was 17.Conclusion: It can be concluded that quality of sleep on night shift workers that being represented by hotel security, still belonged to poor sleep quality.  Latar belakang: Globalisasi telah memaksa sebagian orang untuk bekerja di malam hari, waktu yang sebenarnya adalah waktu untuk beristirahat. Dampak-dampak kesehatan pun bermunculan dikarenakan jadwal jaga malam ini, salah satunya adalah pada kualitas tidur.Tujuan: Penelitian ini dilakukan di Kota Denpasar tahun 2017 untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pada pekerja dengan jadwal jaga malam.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pemberian kuesioner. Populasi penelitian ini adalah sekuriti hotel di Kota Denpasar dengan jumlah sampel 85 subyek.Hasil: Dari 85 sampel yang diperiksa didapatkan 67,1% sampel dengan kualitas tidur yang buruk dan kualitas tidur yang baik sebesar 32,9% dari sampel. Dengan skor total PSQI di atas lima sebagai batasan, telah didapatkan mean sebesar 7,26 dan median sebesar tujuh. Didapatkan juga skor PSQI minimum yang ada sebesar dua dan skor maksimum sebesar 17.Kesimpulan: Kualitas tidur pada pekerja jadwal jaga malam yang diwakilkan oleh sekuriti hotel masih tergolong buruk.
KARAKTERISTIK PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN COVID-19 DI RUMAH SAKIT UMUM Prof.Dr. I.G.N.G NGOERAH IDA BAGUS ADITYA NUGRAHA; WIRA GOTERA; RIONALDO ANTHONIUS
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.51953

Abstract

Abstract Introduction: COVID-19 is caused by a novel coronavirus known as SARS-CoV-2, a single chain RNA virus with a particle size of 120-160 nm. COVID-9 can affect almost all age groups, despite, the elderly and people who have records of chronic disease (co-morbid) have the risk to be affected more often and with worse complications from this disease. Type 2 Diabetes mellitus (DM) is one of the risk factors for enhancing the severity of COVID-19 infection Method: This study is a descriptive study with cross-sectional approach. Sampling with consecutive sampling. This sampling was done from Januari 2021 until April 2021. Analysis done with SPSS application. Results: From 57 patients, 54.4% was male vs 45.6.7% was female. 43.9% was above 60 years old vs 56.1% was below 60 years old. 17.1% with insulin regimen vs 82.9% oral diabetic drug. 60.4% with overweight BMI vs 39.4% normal BMI. 7% with below 6.5 Hba1c vs 93% above 6.5 Hba1c. 51.4% patients more than 5 years duration of diabetes vs 40% over 5 years and 8.6% over 10 years.1.8% patients with moderate COVID-19 vs 38.6% Severe COVID-19 vs 59.6% with Critical Ill COVID-19. Conclusion: from this study, we can learn the characteristic Type 2 Diabetes Melitus patients with COVID-19. Factors like age, gender, A1c level, duration of diabetes, were associated with severity of COVID-19. However, this study has a lot of weakness from methods, analysis and sampel similarity. We hope that another study can be better method than this study. Keywords: diabetes, covid 19 infection, complication
Diabetes Melitus Sebagai Faktor Risiko Tuberkulosis Ida Bagus Aditya Nugraha; Wira Gotera; Wayan Evie Frida Yustin
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2126

Abstract

Diabetes melitus (DM) tidak hanya meningkatkan risiko tuberkulosis (TB) aktif tetapi juga memengaruhi hasil pengobatan. Beban penyakit TB, terutama di negara berkembang, tetap tinggi meskipun telah dilakukan berbagai upaya pencegahan. Diabetes melitus yang menyebabkan imunosupresi semakin diakui sebagai faktor risiko independen untuk TB. Diabetes melitus meningkatkan risiko berkembangnya TB dua hingga tiga kali lipat dan juga meningkatkan risiko kegagalan pengobatan TB, kekambuhan, dan kematian. Diabetes juga dapat menyebabkan penyakit parah, reaktivasi fokus TB yang tidak aktif, dan hasil pengobatan TB yang buruk. Beberapa obat antituberkulosis yang biasa digunakan secara terpisah dapat menyebabkan gangguan toleransi glukosa. Skrining tuberkulosis pada penderita diabetes dan skrining diabetes pada pasien tuberkulosis telah direkomendasikan. Hal ini perlu diterapkan mengingat efektivitas dan manfaatnya.
KARAKTERISTIK PENDERITA NODUL TIROID DI RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2019 – DESEMBER 2019 Parastan, Rovie Hikari; Dwipayana, I Made Pande; Saraswati, Made Ratna; Gotera, Wira
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i04.P10

Abstract

ABSTRAK Nodul tiroid ditandai dengan pertumbuhan sel tiroid secara abnormal yang membentuk benjolan pada kelenjar tiroid. Nodul tiroid dapat berupa tumor jinak atau ganas. Data statistik mengenai nodul tiroid di Indonesia masih sangat minim dibahas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteritik kasus nodul tiroid di Rumah Sakit Sanglah Denpasar periode Januari sampai Desember tahun 2019. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif menggunakan studi potong lintang dengan sampel yang sesuai dari populasi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data kemudian dianalisis menggunakan software SPSS versi 20 untuk mendapatkan karakteristik kasus nodul tiroid berdasarkan usia, jenis kelamin, fungsi tiroid, dan jenis kanker. Hasil penelitian menunjukkan kasus nodul tiroid di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2019 terbanyak terjadi pada rentang usia 41 – 50 tahun sebesar 37,6% dan didominasi oleh perempuan (82,3%) dengan fungsi tiroid yang lebih banyak normal/ eutiroid sebanyak 82,3%. Selain itu, mayoritas kasus nodul tiroid berupa nodul jinak sebanyak 51,1% dan dilanjutkan dengan karsinoma papilar sebanyak 39,7%. Temuan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai gambaran karakteristik nodul tiroid di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2019. Sarannya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut serta data registri yang lebih lengkap untuk mencari hubungan antara variabel karakteristik. Kata kunci : Nodul Tiroid, Karakteristik, Histopatologi.
Karakteristik Pasien Gangguan Fungsi Tiroid di RSUP Sanglah Tahun 2019 Wardana, Rr. Cattleya Allayka; Saraswati, Made Ratna; Dwipayana, I Made Pande; Gotera, Wira
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i04.P11

Abstract

ABSTRAK Gangguan fungsi tiroid merupakan suatu kondisi dimana produksi hormon tiroid menjadi tidak seimbang. Gangguan fungsi tiroid merupakan suatu kelainan endokrin terbesar kedua setelah diabetes. Tercatat kasus bahwa 300 juta orang di dunia mengalami gangguan fungsi tiroid dan 50% diantaranya tidak menyadari kelainan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik gangguan fungsi tiroid berdasarkan fungsi tiroid, usia, jenis kelamin, dan pola kunjungan pasien di Poli Diabetic Center RSUP Sanglah. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif menggunakan studi potong lintang. Sampel ini dipilih dari populasi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 596 pasien mengalami gangguan fungsi tiroid di RSUP Sanglah tahun 2019 yang terdiri dari 484 (81,2%) pasien dengan hipertiroid dan 112 (18,8%) pasien dengan hipotiroid. Gangguan fungsi tiroid ini didominasi oleh rentang usia 41-50 tahun (29,9%) dengan hipertiroid lebih banyak terjadi pada usia muda yaitu 31-40 tahun (87,6%) dan 21-30 tahun (87,4%), sedangkan hipotiroid banyak terjadi pada kelompok usia tua yaitu 61-70 tahun (27,1%) dan 51-60 tahun (23,5%). Berdasarkan jenis kelamin, pasien gangguan fungsi tiroid perempuan 458 orang (76,8%) lebih banyak dibandingkan laki-laki 132 orang (23,2%) dengan hipertiroid didominasi oleh perempuan sebanyak 366 orang (75,6%) dan hipotiroid 92 orang (82,1%) merupakan perempuan. Pola kunjungan pasien dengan gangguan fungsi tiroid di RSUP Sanglah tahun 2019 didapatkan bahwa kunjungan tertinggi yaitu pada Februari 2019 (142 kunjungan). Perlu dilakukan penelitian analitik lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara variabel karakteristik. Kata Kunci: Hipertiroid, Hipotiroid, Karakteristik.
Profil Lipid Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2019 Siorcani, Putu Tasha; Suastika, Ketut; Gotera, Wira; Pande Dwipayana, I Made
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.v11.i01.P16

Abstract

Prevalensi dislipidemia dua kali lebih tinggi ditemukan pada diabetes melitus. Studi potong lintang dengan teknik consecutive sampling menggunakan data sekunder seperti data rekam medis dari pasien diabetes melitus tipe 2 di RSU Pusat Sanglah tahun 2019. Dari 138 sampel ditemukan 69.6% laki-laki dan 30.4% perempuan. Prevalensi dislipidemia pada total sampel berturut-turut yaitu hiperkolesterolemia sebesar 42%, peningkatan kolesterol LDL sebesar 75.4%, penurunan kolesterol HDL sebesar 67.4%, dan hipertrigliseridemia sebesar 54.3%. Berdasarkan analisis uji korelasi ditemukan bahwa glukosa darah puasa memiliki hubungan yang sangat lemah terhadap trigliserida (r=0.177, p=0.045), sedangkan glukosa darah puasa tidak signifikan memiliki hubungan terhadap kolesterol total, kolesterol HDL, dan kolesterol LDL (r=0.167, p=0.058; r=0.101, p=0.253; r=0.042, p=0.636). Selain itu HbA1c tidak signifikan memiliki hubungan terhadap profil lipid (r=0.050, p=0.585; r=0.080, p=0.385; r=0.048, p=0.601; r=-0.068, p=0.463). Simpulan pada penelitian ini bahwa glukosa darah puasa memiliki hubungan terhadap trigliserida, namun glukosa darah puasa tidak memiliki hubungan terhadap kolesterol total, kolesterol HDL, dan kolesterol LDL. Sementara HbA1c tidak memiliki hubungan terhadap profil lipid dari pasien diabetes melitus tipe 2 di RSU Pusat Sanglah tahun 2019. Kata kunci: Profil Lipid, Glukosa Darah Puasa, HbA1c
DIABETES INSIPIDUS PADA PASIEN DENGAN CEDERA KEPALA SEDANG S., Hantono; Gotera, Wira; Suastika, Ketut; Budhiarta, Anak Agung Gde; Saraswati, Made Ratna; Dwipayana, I Made Pande; Semadi, I Made Siswadi; Nugraha, Ida Bagus Aditya
Ganesha Medicina Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v4i1.75553

Abstract

Diabetes Insipidus (DI) adalah suatu sindrom yang ditandai dengan ekskresi urin dalam jumlah besar yang tidak normal (poliuria) disertai peningkatan asupan cairan sebagai kompensasinya (polidipsia). Hal ini disebabkan oleh penurunan sekresi (DI sentral/neurogenik) atau kerja (DI nefrogenik) dari Hormon Antidiuretik. Hormon ini diproduksi oleh neuron hipotalamus di nukleus supraoptik dan paraventrikular dan disekresikan ke sirkulasi bila ada rangsangan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas terbanyak pada generasi muda terutama laki-laki. Salah satu dampaknya adalah disfungsi hormonal pada hipofisis anterior dan posterior. Angka kejadian DI setelah cedera kepala berkisar 1-2,9%. Dalam kasus tertentu, keadaan ini hanya terjadi sementara namun dapat juga menjadi permanen. Dalam laporan kasus ini, dilaporkan laki-laki berusia 28 tahun dengan DI setelah mengalami cedera kepala. Pasien menjalani kraniektomi dekompresi dengan osteoplasti. Selama perawatan, pasien didiagnosa dengan Diabetes Insipidus dari gejalanya, osmolalitas urin yang rendah, osmolalitas plasma yang tinggi, dan hipernatremia, kemudian ditangani dengan rehidrasi dan pemberian injeksi vasopresin 5 IU secara intramuskular serta pemantauan ketat terhadap keseimbangan cairan setiap hari. Selama beberapa hari berikutnya, setelah keseimbangan cairan normal, vasopresin dihentikan dan keseimbangan cairan masih dalam batas normal.
Diagnosis dan Tata Laksana Thyroid Storm yang Dipicu oleh Perikarditis Akut Ida Bagus Aditya Nugraha; LP Dea Sasmita P; Wira Gotera
MEDICINUS Vol. 37 No. 2 (2024): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/jvnvem23

Abstract

Thyroid storm is a life-threatening condition that requires prompt diagnosis and emergency treatment. This condition manifests as multiple organ decompensation characterized by loss of consciousness, high fever, heart failure, diarrhea,and jaundice. We report a case of a 51-year-old man with a chief complaint of fever that has been felt since the night before admission. Body temperature was up to 38°C and started while he was resting. Patient also reported dry, intense cough, since five days ago, accompanied with shortness of breath when lying down. The patient also felt palpitations sincethe previous night and still felt until the morning of admission, and did not improve with rest. The patient was diagnosed by observation of suspension shock due to cardiogenic shock, suspect Graves’ disease (thyroid storm), ADHF profileB et causa suspect CAD, AF RVR, type 2 DM, myofascial pain syndrome with differential diagnosis: headache related toinfection, hyponatremia chronic asymptomatic hypoosmolar hypervolemic et causa suspect dilution, hypoalbuminemia etcausa suspect chronic inflammation, and upper respiratory tract infection. Thyroid storm cases require a multidisciplinaryapproach in terms of diagnosis and therapy. In this case, the patient is referred to the internal medicine, cardiac, andneurology departments.
Diagnostic and Management of Idiophatic Panhypopituitarism A Case Report Ida Bagus Aditya Nugraha; Komang Agus Wira Nugraha; Anak Agung Gede Budhiarta; Ketut Suastika; Wira Gotera; Made Ratna Saraswati; I Made Pande Dwipayana; I Made Siswadi Semadi
‎ InaJEMD - Indonesian Journal of Endocrinology Metabolic and Diabetes Vol. 1 No. 1 (2024): InaJEMD Vol. 1, No. 1
Publisher : PP PERKENI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypopituitarism is marked by decreased secretion of one, several, or all anterior or posterior pituitary hormones. A rare disorder, panhypopituitarism indicates the loss of all the pituitary hormones but often is used in clinical practice to describe a patient's deficiency in growth hormone, gonadotropins, corticotropin, and thyrotropin in whom the posterior pituitary function remains intact. Hypopituitarism may occur because of diverse etiologies and lead to substantial morbidity and mortality. Despite advances in the diagnosis and management of pituitary disorders, hypopituitarism is still associated with increased long-term cardiovascular mortality. We report a rare case of a 22-year-old boy with idiopathic panhypopituitarism. The patient has deficiency of growth hormone, gonadotropin, corticotropin, and thyrotropin, yet the underlying etiology remains unknown in this patient because of lack of imaging data. This is very challenging to do prompt diagnosis and management of panhypopituitarism. The management is needing multiple hormonereplacement therapy, based on the result of pituitary hormone laboratory examination. Prompt treatment is needed to prevent further morbidity and mortality in this patient. hypothyroidism, growth hormon