Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kemampuan Serbuk Serai (Cymbopogon citratus) Menekan Peningkatan Total Bakteri dan Keasaman (pH) Dendeng Domba Selama Penyimpanan kusmajadi suradi; Jajang Gumilar; Grace Hemas Ratri Yohana; Akhmad Hidayatulloh
Jurnal Ilmu Ternak Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.063 KB) | DOI: 10.24198/jit.v17i2.17296

Abstract

Serai memiliki potensi sebagai bahan alami untuk menekan peningkatan bakteri dendeng domba, karena senyawa aktifyang dikandung serai, yaitu tanin, flavonoid, minyak essensial, alkoloid, dan saponin bersifat antibakteri, sehingga berimplikasi dihambatnya peningkatan pH.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Produk Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dengan tujuan untuk mengetahui dan mendapatkan konsentrasi serbuk serai yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan peningkatan pH dendeng domba. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan tersarang (nested), yaitu waktu (awal penyimpanan dan seminggu penyimpanan) yang tersarang dalam 4 konsentrasi serai, yaitu 0,5%, konsentrasi serai 1,0%, konsentrasi serai 1,5%, dan konsentrasi serai 2%. Setiap perlakuan mendapat pengulangan 5 kali. Analisis sidik ragam digunakan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi serbuk serai terhadap pH dan total bakteri dendeng domba, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Konsentrasi bubuk serai tidak berpengaruh terhadap pH dan total bakteri dendeng daging  domba Waktu dalam konsentrasi bubuk serai berpengaruh terhadap pH dan total bakteri, kecuali waktu dalam konsentrasi bubuk serai 1,5% tidak berpengaruh terhadap pH dendeng daging domba.
Kualitas gelatin yang diproduksi dari limbah proses shaving kulit domba menggunakan curing HCl dengan konsentrasi dan waktu yang berbeda Jajang Gumilar; Wendry Setiyadi Putranto; Eka Wulandari
Majalah Kulit, Karet, dan Plastik Vol 35, No 1 (2019): Majalah Kulit, Karet, dan Plastik
Publisher : Center for Leather, Rubber, and Plastic Ministry of Industry, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20543/mkkp.v35i1.4502

Abstract

Kulit pikel yang di-shaving menghasilkan potongan kulit mengandung kolagen, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat gelatin. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interaksi dan pengaruh pemberian berbagai konsentrasi asam klorida (HCl) serta waktu curing terhadap kualitas gelatin. Kualitas gelatin diukur berdasarkan kadar air, rendemen, kekuatan gel, dan viskositas. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial yang terdiri dari faktor tingkat penggunaan HCl sebanyak 3%; 5%; 7% serta lama curing 24 jam; 48 jam; 72 jam. Perlakuan diulang sebanyak empat kali. Kesimpulan penelitian yaitu terdapat interaksi nyata (P<0,05) penggunaan tingkat HCl dan waktu curing terhadap viskositas dan kekuatan gel. Hasil optimum pembuatan gelatin adalah menggunakan HCl sebanyak 3% dengan waktu curing selama 24 jam yang dapat menghasilkan gelatin dengan kadar air 10,9%; rendemen 7,4%; nilai Bloom 174 g; dan viskositas 7,68 cP.
Ekstraksi Tanin dari Limbah Daun Teh pada Berbagai Suhu dan Waktu Itang Purnama; Jajang Gumilar; Kusmayadi Suradi
CHEMICA: Jurnal Teknik Kimia Vol 6, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/chemica.v6i2.14724

Abstract

Green tea leaves old (camellia sinensis) is one of the agricultural waste products that has not been widely used and contains enough high tannin. This study aims to find the tannin content with qualitative and quantitative testing. The design used is a randomized block design with an extraction time of 30 minutes, 40 minutes, and a temperature of 60 °C, 70 °C, and 80 °C treatment repeated 4 times. The results showed that the highest tannin content obtained at the extraction time of 40 minutes at a temperature of 80 °C with a tannin content of 11.55%. The treatment that gave the best results obtained in 40-minute long treatment with a temperature of 70 °C with a tannin content of 10.90%, solubility 29.48% and a pH of 5.80.
PEMETAAN KETAHANAN JARINGAN KOMUNIKASI EKONOMI NON-EKSTRAKTIF DI DESA CINTARATU PANGANDARAN Bambang Mutaqin; Raden Febrianto Christi; Jajang Gumilar
Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan
Publisher : Jurusan Peternakan Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.39 KB) | DOI: 10.35726/jpmp.v5i1.413

Abstract

Desa Cintaratu Pangandaran memiliki lima dusun yaitu Dusun Bontos, Cintasari, Sukamanah, Panglanjan, dan Gunung Tiga. Wilayah-wilayah tersebut memiliki Potensi yang berbeda-beda meliputi peternakan, perikanan, dan pertanian (Ekstraktif) maupun perdagangan, jasa, manufaktur (Non-Ekstraktif) dan potensi usaha lainnya. Keberlangsungan usaha yang ada di wilayah tersebut menunjang pembangunan Pangandaran yang memiliki visi menjadi objek wisata kelas dunia. Tujuan dari pengabdian ini adalah memetakan jaringan komunikasi bisnis non ekstraktif dan mengidentifikasi potensi usaha dan struktur bisnis non ekstraktif. Pengabdian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan diantaranya, observasi lapangan secara langsung dan penyuluhan pada pelaku usaha di wilayah Desa Cintaratu. Metode pengumpulan data dengan survey dan wawancara langsung kepada semua pelaku usaha non ekstraktif dengan dilengkapi kuisioner mulai dari bulan Januari sampai Februari 2020. Hasil menunjukan bahwa jaringan komunikasi ekonomi non-ekstraktif para pelaku usaha mayoritas jarang atau bahkan tidak melakukan promosi. Keberlangsungan usaha yang dilakukan hanya mengandalkan Customer Relationships atau dengan cara berinteraksi dengan segmen pasar tertentu via obrolan perorangan. Kesimpulan dan saran bagi pelaku usaha non-ekstraktif perlu dilakukan dan branding produk usaha dan pengembangan Channels usaha dengan Direct Selling suatu produk secara online maupun offline dengan baik dan berkelanjutan.
Pengaruh Konsentrasi NaOH Terhadap Rendemen, Kadar Air dan Kadar Abu Gelatin Ceker Itik (Anas Platyrhynchos Javanica) Ramadhan Febriansyah; Andry Pratama; Jajang Gumilar
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol. 14 No. 1 (2019)
Publisher : Faculty of Animal Science Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.532 KB) | DOI: 10.21776/ub.jitek.2019.014.01.1

Abstract

Gelatin adalah suatu protein yang didapatkan dari hasil hidrolisis kolagen pada tulang dan kulit hewan. Ceker itik mengandung kolagen, jumlahnya banyak dan belum dimafaatkan dengan baik sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku gelatin. Gelatin dikelompokan menjadi gelatin tipe A dan B. NaOH dapat digunakan pada proses demineralisasi pembuatan gelatin tipe B. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan pola hubungan NaOH terhadap rendemen, kadar air dan kadar abu gelatin ceker itik. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan konsentrasi NaOH (P1 = 3%; P2 = 5% dan P3 = 7%). Hasil penelitian diuji menggunakan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan dan uji polinomial orthogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air dan kadar abu gelatin ceker itik. Konsentrasi NaOH terbaik pada kosentrasi 3% dengan nilai rendemen 4,77%, kadar air 7,20% dan kadar abu 3,48%.
Kualitas Naget Sapi yang diberi Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) Rofi Abdul Barry; Jajang Gumilar; Andry Pratama
Jurnal Teknologi Hasil Peternakan Vol 1, No 2 (2020): September
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.493 KB) | DOI: 10.24198/jthp.v1i2.28083

Abstract

This Green tea (Camellia sinensis) extract (GTE) contains active compouns such as tannins, flavonoids, epicatechins, catechins which have potential use as natural ingredients to improve food quality. This study aims to determine the effect of using various concentrations of GTE and determine the best concentration in terms of physical quality (water holding capacity, cooking loss and tenderness) and acceptability (taste, color, aroma, and total ecceptance) of beef nugget. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments of beef nugget with the addition of GTE concentration 0% (P1), 2,5% (P2), 5% (P3), and 7,5% (P4). Each treatment was replicated five times. Analysis of variance was used to determine the effect of the use of GTE on the physical and acceptability quality of beef nugget. Acceptability was tested by the KruskallWallis’s test. The results showed that the addition of GTE did not give different results on physical quality and acceptability quality.
Bobot Daging Dada dan Karkas Puyuh setelah Penyembelihan, Pembekuan, dan Thawing Syahrizal Nasution; Kusmayadi Suradi; Jajang Gumilar
Jurnal Teknologi Hasil Peternakan Vol 2, No 1 (2021): Maret
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.612 KB) | DOI: 10.24198/jthp.v2i1.30760

Abstract

Weight is one of the important variables that need to be considered in producing carcass and meat. This study aimed to determine the weight of live quail, fresh carcass, frozen carcass, quail carcass and breast meat after thawing. The weighing was done before the slaughtering process, after becoming fresh carcass, after freezing, after thawing, and after separating the quail breast meat. Thawing loss and the total loss was measured to know the loss percentage of the weight of quail carcass. Weighing produces the weight of live quail is 248,50 ± 20,72 grams, fresh carcass weight after slaughtering is 167,50 ± 17,06 grams, frozen carcass weight after freezing is 163,85 ± 17,06 grams. Carcass weight after thawing sequentially at 6-8°C (24 hours), 24-26°C (6 hours), 22-23°C (2,5 hours), and 55°C (1 hour) amounting to 158,20 ± 19,87 grams, 165,60 ± 19,40 grams, 167,80 ± 12,40 grams, 157,20 ± 19,84 grams, and quail meat sequentially 50,20 ± 6,26 grams, 52,60 ± 6,31 grams, 53,20 ± 3,70 grams, 49,80 ± 6,22 grams. The weight percentage of carcass inversely proportional to thawing loss and total loss produced.  The results showed that carcass weight decreased after cutting, freezing, and thawing. The heaviest weight of quail meat and carcass and the lowest total loss of carcass were produced from thawing at a temperature of 22-23°C.
Pengaruh Konsentrasi Gliserol pada Gelatin Kulit Kelinci terhadap Kadar Air, Ketebalan Film, dan Laju Transmisi Uap Air Edible Film Qisthi Fadlilah Rahmi; Eka Wulandari; Jajang Gumilar
Jurnal Teknologi Hasil Peternakan Vol 3, No 1 (2022): Maret
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jthp.v3i1.39444

Abstract

Utilization of rabbit skin as a food product has not been carried out optimally, it is not in line with the increasing production of meat. The high protein content makes rabbit skin potential to be used as gelatin. Gelatin is a protein-derived compound that has translucent, colorless, and tasteless properties. This makes gelatin suitable as a raw material for the manufacture of edible films. Edible film is a packaging layer for edible food products. The added glycerol plasticizer can affect the characteristics. This study aims to determine the right concentration to obtain moisture content, film, and water vapor transmission rate of edible film from rabbit skin gelatin. The method used is an experimental method with a completely randomized design (CRD) with 4 treatments consisting of glycerol concentrations of 5%, 10%, 15%, and 20%. Each treatment was repeated 5 times with observed moisture content, thickness, and water vapor transmission rate. The statistical test used ANOVA’s test, then Duncan's advanced test at the 5% level. The results of statistical analysis showed that the different of concentrations glycerol had a significant effect (P<0,05) on the moisture content, thickness, and water vapor transmission rate of edible film. The best film was produced in 10% glycerol (P2) with 8,8% moisture content, 0,15 mm thickness, and 41,9 g/m2.24hours water vapor transmission.
Kualitas Gelatin dari Ceker Itik yang Diberikan Berbagai Konsentrasi Asam Asetat pada Proses Demineralisasi Jajang Gumilar; Nurul Hasanah; Kusmayadi Suradi
Jurnal Peternakan Vol 19, No 2 (2022): September 2022
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v19i2.14590

Abstract

ABSTRAK. Gelatin diproduksi dari hasil ekstraksi kolagen. Ceker itik merupakan bagian tubuh itik yang kurang dimanfaatkan, tetapi memiliki kandungan kolagen yang tinggi sehingga perlu diberikan teknologi lanjutan agar dapat diubah menjadi gelatin.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh konsentrasi asam asetat pada gelatin ceker itik terhadap kadar air, kadar abu, dan rendemen.  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan konsentrasi asam asetat (6%, 7% serta 8%) dilakukan pada penelitian ini, masing-masing perlakuan diulang 6 kali. Uji sidik ragam digunakan untutk menganalisisi data yang diperoleh, dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan asam asetat yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) pada kandugan air, kandungan abu, dan rendemen. Perlakuan konsentrasi asam asetat terbaik adalah 7% yang menghasilkan gelatin dengan kandungan air 5,59±0,38%, kandungan abu 9,56±0,48%, dan nilai rendemen 4,77±0,16%.Gelatin Quality from Indian Runner Duck Feet Provided by Various Acid Concentrations in The Demineralization ProcessABSTRACT.  Gelatin is produced from collagen extraction. Duck feet are an underutilized part of the duck’s body but has high collagen content that needs to be given advanced technology so that it can be converted into gelatin. This study was conducted to examine the effect of acetic acid concentration in  Indian Runner Duck feet gelatin on water content, ash content, and yield. This study used a completely randomized with three treatments of acetic acid concentrations (6%, 7% and 8%) with six replications.  The result was analyzed by Analysis of Variance, to find the differences between treatment used Tukey test.  The results showed  that the use of different acetic acids had a significant effect (P<0.05) on water, ash content, and yield.  The best treatment of the acetic acid was 7% that produced gelatine with moisture content 5.59±0.38%, ash content 9.56±0.48%, and yield of 4.77±0.16%. Keywords: Gelatin, ash content, water content, yield  
Pengaruh Berbagai Konsentrasi Pulp Buah Naga Merah pada Pembuatan Set Yoghurt terhadap Total Bakteri Asam Laktat, Nilai pH, dan Total Asam Altasya Frilanda; Wendry Setiyadi Putranto; Jajang Gumilar
Jurnal Teknologi Hasil Peternakan Vol 3, No 1 (2022): Maret
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jthp.v3i1.39239

Abstract

Set yogurt is a yogurt product that has a characteristic thick texture containing dry ingredients about 20% derived from fresh milk and skims milk. The addition of Red Dragon Fruit Pulp to yogurt is used as a good substrate with simple sugar components to stimulate the growth of lactic acid bacteria, pH value, and total acid set yogurt. The method used in this study is a Completely Randomized Design (CRD) in various concentrations of each treatment were 0% (P0), 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), and five replications. The obtained data were statistically analyzed by ANOVA at = 5% and if there were significant differences, further tests will be carried out using the Duncan Multiple Region Tests (DMRT). The results showed significant differences (p<0,05) in various concentrations of Red Dragon Fruit Pulp on total acid bacteria, pH value, and total acid. The red dragon fruit pulp concentration of 15% added to the milk resulted in the best set yoghurt with a total lactic acid bacteria of 9,52 x 108 CFU/ml, pH value of 4,19, and total acidity of 1,12%.