Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

SIMULASI SKEMA MODEL REFERENCE ADAPTIVE CONTROL (MRAC) PADA SISTEM PENGENDALI SUHU PROSES DISTILASI BIOETHANOL Mochammad Maulana Ar Ridha; Rudy Yuwono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 7 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada jurnal ini, Penulis menyajikan sebuah simulasi dari Antena 3D 2 Seeds Planar dengan bentuk Tear Drop yang beroperasi pada frekuensi kerja Wi-Fi (2.4 GHz). Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak CST Studio Suite 2014 untuk membandingkan unjuk kerja tiap model antena yang memiliki sudut antar seed yang berbeda-beda. Parameter yang dianalisa pada jurnal ini adalah VSWR, return loss, bandwidth, gain, pola radiasi, dan  polarisasi. Semua model antena yang disajikan mencapai return loss yang rendah, gain yang besar, bandwidth yang lebar, dan pola radiasi omnidireksional yang stabil. Model-model antena ini dirancang dengan alumunium sebagai bahan utamanya. Kesimpulan dapat ditarik bahwa semua model antena pada jurnal ini memiliki nilai yang baik dan dapat diaplikasikan untuk sistem komunikasi komersil. Kata Kunci: 3D Planar Antena, Sudut, Tear Drop, Wi-Fi, CST Studio Suite 2014, 2 Seeds   ABSTRACT Abstract— This paper presents a simulation of 3D 2 seeds planar antenna with a teardrop shape that operates at Wi-Fi working frequency (2,4 GHz). Simulations performed using CST Studio Suite 2014 software to compare each angle differentiation between those seeds. The analyzed parameters included VSWR, return loss, bandwidth, gain, radiation pattern, and polarization. The presented antenna achieves low return loss, large gain, wide bandwidth, and stable omnidirectional radiation pattern across all the relevant bands. These antenna are designed with aluminum as the substrate. The conclusion obtained that all parameters have great values and can be particularly applied to commercial communication systems. Key Words: 3D Planar Antenna, Angle, Tear Drop, Wi-Fi, CST Studio Suite 2014, 2 Seeds
ANALISIS PENERAPAN MODEL PROPAGASI ECC 33 PADA JARINGAN MOBILE WORLDWIDE INTEROPERABILITY FOR MICROWAVE ACCESS (WIMAX) Siska Dyah Susanti; Erfan Achmad Dahlan; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.578 KB)

Abstract

Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) yang menggunakan standar IEEE 802.16, sejak kemunculannya telah mengalami beberapa tahapan pengembangan yang pada akhirnya sampai ke arah mobilitas yaitu standar IEEE 802.16e (mobile WiMAX). Mobile WiMAX menggunakan air interface Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) pada sisi uplink maupun downlink. Terdapat faktor-faktor penyebab penurunan performansi sistem mobile WiMAX, diantaranya adalah fading dan kecepatan pergerakan pengguna. Pada penelitian ini teknik modulasi yang digunakan adalah QPSK, 16-QAM dan 64-QAM. Dalam perhitungan pathloss digunakan model propagasi ECC 33 yang termasuk dalam model empirik. Performansi sistem yang diamati meliputi signal to noise ratio (SNR) dan bit error rate (BER) yang mensimulasikan pergerakan pengguna dengan kecepatan 3 km/jam, 60 km/jam dan 120 km/jam serta jarak base station dan user equipment yang berubah dari 700 m – 2.1 km. Nilai pathloss dalam penelitian ini adalah untuk daerah urban outdoor pada kondisi NLOS, dimana semakin jauh jarak base station dan user equipment nilai pathloss semakin besar. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kecepatan pengguna berpengaruh terhadap nilai bandwidth. Pada teknik modulasi QPSK bandwidth terbesar diperoleh ketika laju data total 4.75 Mbps untuk kecepatan pengguna 120 km/jam, yaitu 2.7185 MHz. Nilai SNR sistem dipengaruhi oleh kecepatan pengguna dan jarak base station dan user equipment. SNR sistem tertinggi diperoleh ketika menggunakan teknik modulasi 64-QAM dengan laju data 9.5 Mbps yaitu 30.8289 dB pada kecepatan 3 km/jam dan pada jarak 700 m. Sedangkan nilai BER dipengaruhi oleh jarak base station dan user equipment serta teknik modulasi yang digunakan. Nilai BER terkecil dihasilkan ketika menggunakan teknik modulasi QPSK pada jarak 700 m, yaitu 0.0086 untuk laju data total 3.17 Mbps. Kata Kunci — Mobile WiMAX, model propagasi, OFDMA, performansi
Analisis Penerapan Optical Add-Drop Multiplexer (OADM) Menggunakan Fiber Bragg Grating (FBG) pada Teknik Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) Edita Rosana Widasari; Sholeh Hadi Pramono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.013 KB)

Abstract

Optical Add-Drop Multiplexer (OADM) menggunakan Fiber Bragg Grating (FBG) merupakan passive optical device dalam sistem transmisi serat optik yang dapat melakukan multiplexing, demultiplexing, filter, dan routing pada teknik Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Hasil analisis penerapan OADM menggunakan FBG dalam sistem serat optik menunjukkan pada spasi kanal 100 GHz terjadi penurunan panjang grating 1,6048 mm sampai dengan 0,1646 mm, penurunan nilai panjang grating tersebut menunjukkan semakin besar jumlah kanal transmisi panjang gelombang yang ditransmisikan. Pada hasil analisis penurunan panjang grating dan perubahan indeks bias grating sebesar 10-3, 10-4, dan 10-5 terjadi penurunan reflektivitas dan peningkatan transmitivitas sehingga juga dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan jumlah kanal transmisi. Analisis crosstalk pada spasi kanal 100 GHz menunjukkan nilai crosstalk yang kecil antara -25,1282 dB sampai dengan -20,4846 dB, terbukti bahwa OADM menggunakan FBG pada sistem serat optik dapat mengurangi crosstalk.Kata Kunci—OADM, FBG, DWDM, reflektivitas, transmitivitas, crosstalk.I. PENDAHULUANariasi layanan dalam bentuk multimedia
PERFORMANSI LAYANAN VIDEO ON DEMAND (VOD) PADA JARINGAN TOPOLOGI STAR DAN TOPOLOGI TREE DENGAN MEDIA TRANSMISI SERAT OPTIK Aisyah Novfitri; Sholeh Hadi Pramono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

Layanan Video on Demand (VoD) adalah layanan multimedia dengan proses streaming yang saat ini menunjang layanan teknologi TV Digital. Video streaming pada VoD membutuhkan bandwidth yang lebar agar kecepatan data yang ditransmisikan maksimal. Serat optik merupakan salah satu media transmisi yang dapat memberikan bandwidth tinggi untuk kebutuhan layanan VoD. Penggunaan jaringan topologi untuk serat optik pada FTTH harus diperhatikan, topologi star merupakan topologi jaringan fisik yang menggunakan sistem terpusat. topologi tree merupakan pengembangan dari topologis star yang memiliki beberapa subsistem terpusat dan percabangan untuk client. Pada penelitian ini, menganalisis performansi layanan VoD berupa Quality of Service (QoS) pada Jaringan topologi star dan topologi tree dengan media transmisi serat optik. Pengujian menggunakan resolusi video 360p, 720p, dan 1080p. QoS yang diamati adalah throughput, delay, dan packet loss. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan jaringan topologi star dan topologi tree untuk layanan VoD tidak memiliki perubahan yang signifikan terhadap parameter QoS. Nilai throughput pada kedua jaringan topologi dengan resolusi 360p, 720p, dan 1080p secara berurutan adalah 0.41 Mbps, 1.33 Mbps dan 2.06 Mbps. Nilai delay yang diperoleh pada jaringan topologi star dan topologi tree pada saat resolusi 360p, 720p, dan 1080p secara berurutan adalah 19.5 ms, 7.4 ms, dan 4.9 ms. Nilai Packet Loss Ratio (PLR) yang diperoleh untuk jaringan topologi star dan topologi tree dengan kondisi 4 client dan 5 client pada resolusi 360p, 720p, dan 1080p memiliki PLR tertinggi adalah 0.282%.Kata Kunci – VoD, Topologi Star, Topologi Tree, QoS, ITU-T
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ANTENA MIKROSTRIP EGG DENGAN SLOT PERSEGI PANJANG YANG BEKERJA PADA FREKUENSI ULTRA WIDEBAND Michael Sony Alexander; Muhammad Fauzan Edy Purnomo; Dwi Fadila Kurniawan
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai perancangan dan pembuatan antena mikrostrip dengan patch berbentuk egg dan slot pada ground plane berbentuk persegi panjang sehingga antena tersebut dapat bekerja pada frekuensi Ultra Wideband. Dimensi antena mikrostrip diperoleh melalui perhitungan dan proses optimasi. Simulator yang digunakan dalam menganalisa performansi antena adalah CST Microwave Studio Suite. Fabrikasi antenna mikrostrip ini menggunakan bahan substrat Phenolic White Paper – FR4 dengan konstanta dielektrik (εr)= 4,5. Hasil pengukuran antena mikrostrip egg dengan slot persegi panjang menunjukkan bahwa antena tersebut dapat bekerja pada frekuensi 1800 – 2400 MHz dengan bandwidth sebesar 600 MHz. Nilai gain pada frekuensi kerja 2100 MHz sebesar 6,135 dBi. Antena memiliki polarisasi elips dengan jenis pola radiasi omnidirectional. Kata Kunci : Antena Mikrostrip, Egg, Rugby Ball, Ultra Wideband
Pengaruh Slot Rugby Ball Terhadap Antena Mikrostrip Sehingga Dapat Bekerja Pada Ultra Wideband (UWB) Prilla Ayu Wendaria; Rudy Yuwono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.394 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengaruh slot rugby ball pada antena mikrostrip annular ring sehingga dapat bekerja pada ultra wideband (UWB).  Antena mikrostrip annular ring dengan slot rugby ball ini dirancang dengan menggunakan feed line sebagai metode pencatuannya. Dimensi antena diperoleh melalui  perhitungan dan optimasi serta dilakukan simulasi dengan menggunakan software HFSS AnsoftTM versi 13. Hasil simulasi antena mikrostrip annular ring dengan slot rugby ball menunjukkan frekuensi kerja 700-2700 MHz dengan bandwidth sebesar 2000 MHz dan bandwidth fraksional sebesar 117,64%, memiliki polarisasi elips, jenis pola radiasi direksional, dan nilai gain rata-rata sebesar 4,14 dBi dengan gain maksimum sebesar 7,89 dBi pada frekuensi 1700 MHz. Variasi dimensi dan letak slot menunjukkan bahwa slot rugby ball berpengaruh terhadap bandwidth dan gain tetapi tidak berpengaruh terhadap polarisasi dan pola radiasi antena. Selain itu, dari perbandingan terhadap antena mikrostrip annular ring tanpa slot, dengan slot persegi, dan dengan slot lingkaran didapatkan bahwa antena mikrostrip annular ring dengan slot rugby ball memiliki bandwidth dan bandwidth fraksional paling besar. Kata kunci--- Ultra Wideband, Antena, Mikrostrip, Annular Ring, Slot, Rugby ball.
PENENTUAN KUALITAS JARINGAN CDMA 1xEVDO Rev.B DENGAN METODE DRIVETEST Anas Amrullah Hidayat., Amrullah Hidayat; Erfan Achmad Dahlan; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 6 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1354.769 KB)

Abstract

Mobilitas dalam berkomunikasi, sekarang ini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Kenaikan jumlah pelanggan menyebabkan terjadinya penurunan Quality of Service sehingga komplain dari pelanggan pun akan semakin banyak pula. Oleh karena itu setiap provider atau operator dituntut agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cepat dan akurat. Permasalahan pada jaringan seluler khususnya untuk koneksi internet, yaitu terletak pada keterbatasan akses dan kecepatan downlink. Permasalahan tersebut dapat diketahui dari performansi level sinyal yang diterima, dimana parameter pensinyalan merupakan kunci utama dalam menentukan permasalahan yang terjadi di dalam jaringan.Terdapat beberapa teknolgi telekomunikasi seluler yang dapat menyediakan layanan data dengan koneksi internet dan kecepatan downlink yang lebih daripada teknologi sebelumnya, contohnya CDMA 1xEvdo Revision. B. CDMA 1xEvdo Revision. B atau yang biasa disebut CDMA EVDO Rev. B merupakan pengembangan dari jaringan EVDO Rev. A yang menawarkan kecepatan maksimum 9.3 Mbps untuk mengunduh data (download) dan 5.4 Mbps untuk mengunggah (upload). Pada Jaringan EVDO Rev. B menggunakan lebih dari satu carrier dengan asumsi masing-masing carrier bernilai 3 Mbps dengan lebar spektrum 3.75 MHz. Skripsi ini mengevaluasi kualitas jaringan CDMA EVDO Rev. B dengan metode drivetest. Parameter kualitas jaringan yang dipakai adalah RX Power, TX Power, dan Troughput. Sehingga dari hasil drivetest tersebut diperoleh informasi nilai parameter dan kondisi jaringan suatu provider masih layak atau perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitasnya.Berdasarkan hasil pengukuran drivetest dan perhitungan secara matematis nilai troughput dengan factor utilisasi 0.9 diperoleh 3267.7 kbps. Sedangkan nilai troughput pada hasil pengukuran di lapangan dengan 3 kali pengukuran di jam yang berbeda, hasilnya juga berbeda yaitu : Nilai rata-rata troughput pada jam 11.00 yaitu 554.28 kbps, sedangkan nilai minimum troughput yaitu 0 dan nilai maksimum troughput yaitu 1812.16 kbps. Nilai rata-rata troughput pada jam 06.00 yaitu 754.67 kbps, sedangkan nilai minimum Troughput yaitu 0 dan nilai maksimum troughput yaitu 2183.14 kbps. Nilai rata-rata Troughput pada jam 20.00 yaitu 454.12 kbps, sedangkan nilai minimum troughput. yaitu 0 dan nilai maksimum troughput yaitu 1105.15 kbps.Kata Kunci : RX Power, TX Power, Troughput, Drivetest, EVDO
ANALISIS PERFORMANSI LAYANAN INTERNET PROTOCOL TELEVISION (IPTV) BERDASARKAN VARIASI KELAS LAYANAN (SERVICE CLASSES) PADA WIMAX 802.16D Muhamad Naufal; Wahyu Adi Priyono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IPTV merupakan layanan televisi digital yang menggunakan metode arsitektur dan jaringan Internet Protocol melalui infrastruktur jaringan packet switched. WiMAX adalah teknologi telekomunikasi yang bertujuan untuk menyediakan akses data nirkabel jarak jauh. Kemampuan WiMAX menyalurkan data hingga kecepatan 100 Mbps dan cangkupan yang cukup luas hingga radius 50 Km. Lapisan MAC pada WiMAX membuat teknologi ini memiliki fleksibilitas dalam pengaturan QoS (Quality of Service) berupa kelas layanan atau service class, Standar WiMAX IEEE802.16d  memiliki empat kategori untuk QoS kelas layanan yang disediakan: (1) Unsolicited Grant Service (UGS), (2) Real-Time Service Polling (rtPS), (3) Non-Real Time Service Polling (nrtPS), dan (4) Best Effort (BE). Analisis performansi IPTV pada WiMAX ini dilakukan dengan melihat perubahan pada parameter QoS yang akan dianalisis yaitu delay, throughput, dan packet loss. Sehingga berdasarkan hasil pengukuran yang sudah didapatkan maka delay yang paling besar diberikan saat BE sedangkan delay yang paling kecil diberikan oleh UGS. Sedangkan berdasarkan hasil pengukuran yang sudah didapatkan maka packet loss yang paling besar diberikan saat BE sedangkan packet loss yang paling kecil diperoleh oleh UGS. Throughput yang paling besar diberikan saat rtPS, sedangkan throughput yang paling kecil diberikan oleh BE. Sehingga untuk layanan IPTV, UGS memiliki parameter terbaik.   Kata Kunci - WiMAX, IPTV, UGS, BE, rtPS, nrtPS, Delay, Packet Loss, Throughput
PERFORMANSI SISTEM KOMUNIKASI KOOPERATIF MENGGUNAKAN TEKNIK AMPLIFY AND FORWARD (AF) DENGAN MODULASI QUADRATURE PHASE SHIFT KEYING (QPSK) Alvin Yazlin; Ali Mustofa; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.699 KB)

Abstract

Pada media nirkabel sinyal yangdikirimkan sering mengalami gangguan yang dapatmenurunkan kinerja sistem. Hal ini dapat membuat kondisikanal menurun, mengakibatkan kapasitas kanal dankeandalan data yang dikirimkan juga menurun. Komponenyang termasuk gangguan tersebut adalah multipath fading.Salah satu cara untuk mengurangi efek fadingadalah dengan menggunakan antena jamak pada sisipenerima, proses ini disebut sistem komunikasi kooperatif.Sistem komunikasi kooperatif digunakan untuk mengurangidata rusak pada proses pengiriman data. Pada skripsi ini akandibahas mengenai pengaruh sistem komunikasi kooperatifpada bagian penerima. Dilakukan perbandingan antara sistemkomunikasi kooperatif dengan sistem komunikasi nonkooperatif. Pada sistem komunikasi kooperatif juga diterapkanteknik amplify and forward (AF) agar sistem menjadi lebihstabil terhadap gangguan AWGN dan multipath fading.Dilakukan juga perbandingan antara sistem komunikasikooperatif dengan teknik amplify and forward (AF) dansistem komunikasi kooperatif tanpa teknik amplify andforward (AF).Dari hasil perhitungan dan analisis didapatkanbahwa sistem komunikasi kooperatif membuat sistem menjadilebih stabil terhadap gangguan AWGN dan mengurangisymbol error rate (SER) sistem. Sistem komunikasi kooperatifdengan teknik amplify and forward (AF) lebih cepatmengurangi nilai SER saat penerima memiliki Eb/N0 tinggi.Pada signal noise to ratio (SNR) 30dB, sistem komunikasikooperatif tanpa teknik amplify and forward (AF) mencapainilai SER=0,001 saat penerima memilikii Eb/N0=15dB dansistem komunikasi kooperatif dengan teknik amplify andforward (AF) mencapai SER=0,001167 saat penerimamemiliki Eb/N0=13dB.
RANCANG DAN BANGUN SMART ANTENNA SYSTEM PADA FREKUENSI 2.4 GHZ Wahyu Arrasyid., Arrasyid; Rudy Yuwono; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 6 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.989 KB)

Abstract

Pada penelitian ini lebih khusus membahas dan mempelajari pada faktor posisi pola radiasi antena penerima, dimana jika posisi main lobe pola radiasi antena tepat mengarah ke sumber sinyal maka kualitas sinyal akan baik, dan sebaliknya jika posisi minor lobe pola radiasi antena yang mengarah ke sumber sinyal. Pada penelitian ini membahas bagaimana merancang sebuah sistem yang mampu mengarahkan posisi main lobe pola radiasi antena penerima dengan frekuensi kerja 2.4 GHz ke posisi sudut terbaik. Menggunakan microcontroller sebagai pengatur sistem keseluruhan, memanfaatkan sistem ADC (Analog to Digital Converter) untuk mengubah tegangan listrik DC (analog) ke sinyal digital sehingga memudahkan microcontroller mengolah data. Untuk mengubah tegangan AC dari antena penerima ke tegangan DC mengggunakan sebuah rangkaian rectifier. Hasil pengujian menunjukkan sistem ini masih belum bekerja sesuai dengan yang diinginkan, tegangan DC keluaran rectifier masih terdapat ripple yang mengganggu proses pengolahan data microcontroller. Tetapi secara fungsi sistem per blok, sesuai dengan yang telah direncanakan. Rectifier mampu mengubah tegangan AC menjadi DC pada frekuensi 2.4 GHz dengan nilai tegangan terbesar 5.7 volt. Microcontroller mampu membaca dan mengolah sinyal analog yang diterimanya.Kata kunci – smart antenna, rectenna.