Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Transformasi Tari dalam Ritual Asyeik Ke Tari Asyeik di Dusun Empih Kecamatan Sungai Bungkal Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi Nabila Eiza Frania; Afifah Asriati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis Transformasi Tari dalam Ritual Asyeik ke Tari Asyeik di Dusun Empih, Kecamatan Sungai Bungkal, Kota Sungai Penuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Instrumen penelian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan alat tulis, kamera dan flashdisk. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah menganalisis data adalah pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritual Asyeik telah bertransformasi ke bentuk tarian dan dalam bentuk penyajiannya dilihat dari segi gerak, jumlah penari, tata rias dan busana, tempat pertunjukan dan properti. Ritual Asyeik memiliki 12 ragam gerak, sedangkan tari Asyeik memiliki 11 ragam gerak. Penari pada ritual Asyeik terdiri dari 4 orang penari perempuan, yang pandu oleh seorang guriu (guru) yang sekaligus sebagai penari ritual, sedangkan penari pada tari Asyeik terdiri dari 5 orang penari, yang terdiri dari 4 orang penari perempuan dan 1 orang penari laki-laki. Pada ritual Asyeik tidak menggunakan tata rias, sedangkan pada tari Asyeik menggunakan rias sederhana. Penari perempuan pada ritual Asyeik menggunakan baju kurung, rok batik dan penutup kepala. Sedangkan penari perempuan pada ritual Asyeik menggunakan baju kurung, rok batik dan penutup kepala. Pada tari Asyeik busana laki-laki menggunakan baju teluk belango dan peci, sedangkan penari perempuan menggunakan baju kurung, kain panjang dan penutup kepala. Tempat ritual Asyeik dilaksanakan di dalam ruangan tertutup, bersih, dan tenang. Sedangkan pada tari Asyeik dilaksanakan di tempat terbuka yaitu Lapangan Merdeka. Properti ritual Asyeik menggunakan kain panjang, sorban, are pinua, karamaloa, manik basebeuh, sirih gantung, tanggo itai, keris, al-qur'an, tongkat, Amua, na meteh, aye tulong, bungo tareseh putoah, lapek sambiyang, lemang tegiak, lempe, limo guriu, nambheh khang, pisang panantek sajing nduah, tungku kemenyan, ulku gule, ulu nasi. Sedangkan properti pada tari Asyeik hanya menggunakan Manggoa Dudeuk.
Analisis Gerak Tari Rampak Saayun Di Sanggar Ijuak Sapilin Nagari Koto Tangah Simalanggang Kabupaten Lima Puluh Kota Wulan Putri Kunanti; Afifah Asriati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36496

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk gerak Tari Rampak Saayun berdasarkan unsur ruang, waktu, dan tenaga di sanggar Ijuak Sapilin Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara terstruktur dengan pelatih tari, dokumentasi audiovisual, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Rampak Saayun menonjolkan gerak yang rampak (serempak), harmonis, dan bersumber dari nilai budaya Minangkabau. Unsur ruang didominasi garis lurus, arah hadap ke depan, dan volume gerak kecil, yang dominan sedang. menggambarkan keteraturan, kerapian, dan keselarasan. Unsur waktu dicirikan oleh tempo sedang dan ritme stabil, menunjukkan dinamika gerak yang mantap dan terstruktur. Sementara itu, unsur tenaga tampak melalui intensitas kuat dan tekanan sedang, mencerminkan kekuatan ekspresi, kekompakan, dan semangat kolektif para penari. Secara keseluruhan, Tari Rampak Saayun mencerminkan perpaduan estetika gerak, nilai budaya, serta ekspresi kebersamaan masyarakat Minangkabau, sekaligus memperkuat eksistensinya sebagai tari kreasi Minangkabau yang berakar pada tradisi namun adaptif terhadap perkembangan seni pertunjukan modern.