Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Dinamika Kesadaran Nasionalisme dalam Pembelajaran Sejarah: Perspektif Mahasiswa Pendidikan Sejarah di DKI Jakarta Harinaredi Harinaredi; Didin Saripudin; Leli Yulifar; Helius Sjamsuddin
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.31602

Abstract

Nationalism awareness is a vital component in history education, particularly in shaping students' national identity in the 21st century. This article aims to examine how history education students in DKI Jakarta perceive nationalism awareness through the dynamics of learning history. This study employs a qualitative approach using phenomenological methods. The participants involved are students from two higher education institutions: Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) and Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Data were collected through in-depth interviews and thematic analysis. The findings indicate that nationalism awareness emerges not only from mastering historical content but also from reflective, contextual, collaborative, and technology-based learning approaches. Students actively interpret nationalism through class discussions, digital history projects, and reflections on the current national condition. This study concludes that 21st-century history learning should foster national values through pedagogical approaches that are creative, critical, and contextual, to remain relevant to the realities of today’s young generation.
Menilik Efek Disruptif Penggunaan Teknologi Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Sejarah Silvy Mei Pradita; Didin Saripudin; Leli Yulifar; Erlina Wiyanarti
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.32748

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) has brought significant changes to the educational paradigm, including history learning, which is now shifting from a conventional model to a more adaptive and interactive digital system. This study aims to analyze the positive impacts and disruptive effects of AI implementation in history education while formulating mitigation strategies to balance technological advancement with humanistic values. Using a literature study method and a descriptive-analytical approach, the findings indicate that AI has the potential to enrich history learning through personalized learning, digital visualization based on VR and AR, and data analytics that assist teachers in understanding students’ needs more deeply. However, challenges arise in the form of shifting teacher roles, dependency on algorithmic systems, and ethical as well as privacy concerns. Therefore, strategies such as strengthening teachers’ digital literacy, implementing hybrid learning models that integrate AI with human interaction, and establishing ethical policies focusing on students’ rights protection are essential. Thus, the application of AI should be positioned as a means to reinforce the humanistic dimension and reflective character of learners, rather than merely serving as a tool for learning efficiency in the digital era.
Tradisi Labuh Saji dalam Perspektif Sejarah Kemaritiman di Palabuhan Ratu Sukabumi Mochamad Dzikri Rivaldi; Leli Yulifar
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/mwxy8502

Abstract

Tradisi Labuh Saji merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat pesisir Nusantara yang berkaitan erat dengan aktivitas kemaritiman. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh komunitas nelayan melalui ritual simbolik berupa pelarungan sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penghormatan terhadap kekuatan alam laut. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Labuh Saji dalam perspektif sejarah kemaritiman Indonesia. Data penelitian dikumpulkan melalui studi literatur terhadap buku, artikel jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan sumber-sumber sejarah yang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan historis-interpretatif untuk menelusuri makna, fungsi, serta dinamika tradisi Labuh Saji dalam berbagai periode sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Labuh Saji tidak hanya merepresentasikan sistem kepercayaan masyarakat maritim, tetapi juga mencerminkan hubungan historis antara manusia, laut, dan struktur sosial-budaya masyarakat pesisir sejak masa praaksara hingga periode Islam dan kolonial. Selain itu, tradisi ini berperan sebagai mekanisme sosial dalam memperkuat solidaritas komunitas serta membangun kesadaran ekologis dalam pemanfaatan sumber daya laut. Dengan demikian, tradisi Labuh Saji dapat dipahami sebagai bagian integral dari sejarah kemaritiman Indonesia yang memperlihatkan kesinambungan dan adaptasi nilai-nilai budaya maritim dari masa ke masa.  
Reinterpretating pembelajaran sejarah kritis dalam rekonstruksi strategi pendidikan sejarah Leli Yulifar
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 2 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i2.130

Abstract

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu pilar dalam pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yang diharapkan akan bermuara kepada peningkatan sumber daya manusia yang kompetitif secara global. Penegakkan pilar tersebut di antaranya melalui pembelajaran sejarah yang kritis, dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang analitis sehingga peserta didik memiliki keterampilan berpikir yang visioner dan mengglobal, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Pendidikan sejarah yang menggunakan strategi pembelajaran kritis muncul sebagai tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi. Sebab, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang nyaris tanpa sekat, peserta didik dituntut untuk dapat memahami masa lalunya melalui pemahaman yang multidimensi, sehingga para siswa dapat melakukan "dialog" dengan masa lampaunya, seperti yang dimaksudkan E. H. Carr (1982) secara holistik, dan dapat memaknai setiap peristiwa tersebut bukan hanya deretan cerita yang disusun secara kronologis, tetapi juga dapat menganalisis peristiwa secara struktural. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dan model pembelajaran yang kritis dan analitis, sebagaimana perkembangan studi sejarah yang sudah jauh lebih awal diprakarsai Sartono Kartodirdjo pada karyanya dengan judul The Peasant Revolt of Banten in 1888 (1966). Beberapa ahli pendidikan telah menawarkan tentang model dan pendekatan sejarah secara kritis. Namun demikian, masih diperlukan penafsiran ulang (reinterpretating) terhadap pendekatan tersebut, mengingat kondisi peserta didik yang dinamis, sejalan dengan perkembangan iptek yang senantiasa bertransformasi. Diharapkan, melalui penafsiran dan kaji ulang ini, dapat berkontribusi terhadap rekonstruksi strategi pendidikan sejarah bangsa kita. Tulisan ini di dalamnya akan mencoba menghadirkan beberapa pendekatan pembelajaran sejarah kritis beserta contoh kasusnya, dan refleksinya terhadap rekonstruksi strategi Pendidikan sejarah.
Membangun wirausahawan baru yang kreatif dan berdaya saing Leli Yulifar; Desfina Desfina; Farida Sarimaya
Jurnal Abmas Vol. 17 No. 1 (2017): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v17i1.36863

Abstract

Munculnya Perpres No. 27/2013 tentang wirausahawan muda semakin memperkuat upaya-upaya penciptaan wirausahawan muda pada berbagai lembaga, termasuk Perguruan Tinggi (PT). Hal ini antara lain ditandai dengan munculnya Program Pelatihan Kewirausahaan yang dilanjutkan dengan Mentoring dan Coaching, diharapkan akan melahirkan para wirausahawan yang berdaya saing global dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diterapkan pada akhir tahun 2015. Di samping itu, program ini akan menjadi "soft skill" bagi lulusan UPI yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan pengajaran, sehingga akan dapat mengurangi angka pengangguran terdidik di negara ini, karena mereka memiliki kemampuan sebagai pencipta lapangan kerja, bukan semata pencari kerja. Dengan demikian, penerima manfaat langsung dari program ini adalah para mahasiswa UPI baik yang berkompetensi pendidikan maupun non-kependidikan.
Mengembangkan wirausahawan muda yang kreatif dan terdidik formal melalui program inkubator bisnis UPI Leli Yulifar; Suwirta Suwirta; Farida Sarimaya; Didin Budiman; Moch Eryk Kamsori
Jurnal Abmas Vol. 18 No. 1 (2018): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v18i1.36615

Abstract

Kemajuan suatu negara sering diukur dari kemajuan perekonomiannya. Salah satu indikatornya, menurut McClelland, minimal 2% penduduknya adalah entrepreneur. Saat ini, Indonesia baru berada pada angka di bawah 1%, yang didominasi lulusan SD. Untuk bisa berkontribusi pada neraca perdagangan internasional sebagai sumber devisa, maka tuntutan para entrepreneur yang terdidik formal menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Untuk itulah peran Perguruan Tinggi (PT) termasuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dituntut untuk dapat melahirkan para wirausahawan yang terdidik formal. Seiring dengan itu, keluarnya Kepres No. 27/2013 tentang Inkubator Wirausaha telah memperkokoh upaya-upaya ke arah penciptaan wirausahawan muda melalui program inkubasi. Oleh karena itu, melalui program ini diharapkan terlahir wirausahawan yang kreatif dan terdidik formal sehingga dapat bersaing dalam tataran global pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan menjadi "soft skill" bagi lulusan UPI dengan kompetensi utama di bidang pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, angka pengangguran terdidik di negara ini akan berkurang, karena mereka memiliki kemampuan sebagai pencipta lapangan kerja, bukan semata pencari kerja. Dengan demikian, penerima manfaat langsung dari program ini adalah para mahasiswa UPI baik yang berkompetensi Pendidikan maupun Non Kependidikan.
Potensi Sumber Daya Kelautan Dalam Implementasi SDGs 14: Life Below Water Di Indonesia Meida Rahmalia; Budi Kusuma; Leli Yulifar
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 8, No 1 (2026): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v8i1.14035

Abstract

AbstrakIndonesia memiliki kekayaan laut yang sangat besar, Nilai ekonominya diperkirakan lebih dari USD 1,2 triliun per tahun, terutama dari sektor perikanan, pariwisata bahari, dan energi terbarukan. Namun, pemanfaatan kekayaan ini belum sepenuhnya mengikuti prinsip keberlanjutan sesuai target SDGs 14: Life Below Water. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potensi kelautan Indonesia, tantangan lingkungan yang dihadapi, dan strategi penerapan SDGs 14 dalam kerangka ekonomi biru. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan data dari jurnal ilmiah dan laporan resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah menetapkan kawasan konservasi laut seluas 28,4 juta hektare dan menerapkan sistem pengawasan seperti Vessel Monitoring System (VMS), ancaman berupa polusi plastik, IUU Fishing, dan degradasi terumbu karang masih menghambat pencapaian target SDGs 14. Diperlukan reformasi tata kelola berbasis ekosistem, penguatan partisipasi masyarakat pesisir, dan sinergi lintas sektor untuk memastikan pemanfaatan potensi kelautan secara adil, adaptif, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan transformasi kebijakan maritim Indonesia harus didorong melalui integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, kearifan lokal, dan kemitraan global.