Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Optimizing the Use of History Textbook through Brain-Based Learning Fauzi, Wildan Insan; Santosa, Ayi Budi; Tarunasena, Tarunasena
Paramita: Historical Studies Journal Vol 29, No 2 (2019): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v29i2.15729

Abstract

This research was conducted based on the researchers' assumption to low optimal use of history textbook in school. Such ineffective condition was indicated from functioning book only as a resource material for examination. Even, the existence of the book tends to be a burden either for the teachers and the students. Therefore, brain-based learning can be an alternative to optimize the textbook to improve students’ historical thinking and understanding. To achieve this goal, inquiry naturalistic model proposed by Licoln and Guba (1985) was employed in history learning in one SMA in Bandung. Data were collected through observing, tracing and witnessing to historical learning by implementing brain-based learning approach carried out in the classroom. The analysis results revealed that this model brings several impacts, namely: (1) Students are not familiar to express their emotions during their history learning. However, applying cognitive and emotion aspects of the students may help them remember historical facts more easily, (2) the use of cognitive and emotional learning system also facilitates the students to improve their ability in identifying and classifying the facts from the textbook, (3) students still find difficulties in associating one fact to the others, and (4) generally, this model affects students’ historical understanding which is indicated from their ability to comprehend the history subject well, to obtain valuable life values, to figure out historical figures, social conflicts, and to understand social changes in the society. Penelitian ini dilakukan berdasarkan asumsi peneliti terhadap rendahnya penggunaan optimal buku teks sejarah di sekolah. Bahkan, keberadaan buku cenderung menjadi beban baik bagi guru maupun siswa. Oleh karena itu, brain-based learning  dapat menjadi alternatif untuk mengoptimalkan buku teks untuk meningkatkan pemikiran dan pemahaman historis siswa. Untuk mencapai tujuan ini, model naturalistik inkuiri yang diajukan oleh Licoln dan Guba (1985) digunakan dalam pembelajaran sejarah di satu SMA di Bandung. Data dikumpulkan melalui pengamatan, penelusuran, dan saksikan pembelajaran sejarah dengan menerapkan pendekatan brain-based learning yang dilakukan di kelas. Hasil analisis mengungkapkan bahwa model ini membawa beberapa dampak, yaitu: (1) Siswa tidak terbiasa mengekspresikan emosi mereka selama pembelajaran sejarah mereka. Namun, menerapkan aspek kognitif dan emosi siswa dapat membantu mereka mengingat fakta sejarah lebih mudah, (2) penggunaan sistem pembelajaran kognitif dan emosional juga memfasilitasi siswa untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasikan fakta dari buku teks, (3) siswa masih menemukan kesulitan dalam mengaitkan satu fakta dengan yang lain, dan (4) umumnya, model ini mempengaruhi pemahaman historis siswa yang ditunjukkan dari kemampuan mereka untuk memahami subjek sejarah dengan baik, untuk mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang berharga, untuk mencari tahu tokoh-tokoh sejarah , konflik sosial, dan untuk memahami perubahan sosial di masyarakat. 
Novel Study in Learning History (Descriptive Analytical Study of the Ability of the History Education Department Students in Appreciating Novel) Fauzi, Wildan Insan
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 14, No 2 (2013): Pembelajaran sejarah berbasis budaya
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.06 KB) | DOI: 10.17509/historia.v14i2.2030

Abstract

The background of this study is the writer’s concern about history learning which only focuses on rote learning and textbook that makes the student drown in the sea of facts. Therefore, it is true what Tolstoy said that history is nothing but a useless collection of stories which aimed is only for “entertainment.” The aim of Novel study can balance the intellectual side and the value of learning, give a better chance to remind various historical facts, and make history learning more enjoyable. However, the history teacher’s ability to appreciate the historical novel needs to support these purposes. The focus of this paper is “how good are the History Education Department students appreciating novels in history learning?” This research study used a qualitative approach to find a complex and holistic picture of the studied subject. Besides, the researcher also uses the phenomenology approach, which is used to understand how the students sense their experience when studying the novel and use it to observe the perception, ideas, imagination, emotion, desire, willingness, and action they showed when they analyzed the historical novel.
Haji Agus Salim: Diplomat dari Negeri Kata-Kata Fauzi, Wildan Insan
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 2, No 2 (2019): Pendidikan Sejarah abad 21
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.638 KB) | DOI: 10.17509/historia.v2i2.16625

Abstract

Artikel ini membahas Haji Agus Salim serta peranannya dalam upaya memperoleh pengakuan kedaulatan Indonesia pada peristiwa Inter Asian Relation Conference (Konferensi Antar Asia) dan pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN). Metode yang digunakan adalah metode historis dengan pendekatan interdisipliner. Hasil penelitian menyimpulkan beberapa hal. Pertama, keunggulan Haji Agus Salim dalam berdebat, rasa humor yang tinggi serta kepribadiannya yang hangat, tidak bisa dilepaskan dari struktur budaya yang membesarkannya. Sebagai tokoh yang dibesarkan dalam adat Minangkabau, Haji Agus Salim menonjol dalam tiga hal, yaitu: pandai berkata-kata, dinamis, dan kosmopolit. Kedua, diutusnya Haji Agus Salim ke Konferensi Antar Asia yang dilanjutkan dengan perjalanan diplomatiknya ke negara-negara Arab dalam rangka upaya memperoleh pengakuan kedaulatan adalah tepat. Selain dikenal sebagai diplomat, Haji Agus Salim juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai pengetahuan yang luas tentang Islam. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan antara Indonesia-Mesir pada tanggal 10 Juni 1947, dipandang sebagai kemenangan diplomasi Indonesia. Ketiga, dengan upaya pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN), maka permasalahan Indonesia-Belanda menjadi permasalahan internasional. Dampak positif dari terbentuknya Komisi Tiga Negara yang terdiri dariAustralia, Amerika Serikat dan Belgia, maka pertikaian antar Indonesia-Belanda dapat ditengahi. Hal inilah yang menyebabkan terlaksananya Konferensi Meja Bundar yang merupakan puncak pengakuan kedaulatanIndonesia dari Belanda.
SOCIAL STUDIES COMIC: APPLICATION OF NEUROPEDAGOGY APPROACH TO SOCIAL STUDIES TEXT BOOK OF SMP KELAS VII Supriatna, Nana; Fauzi, Wildan Insan; Holilah, Mina
International Journal Pedagogy of Social Studies Vol 4, No 2 (2019): Research Social Studies
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijposs.v4i2.21705

Abstract

Research on brain based learning began intensive since the 1990s and mostly revolves around the teaching and learning process. The abundance of research on neuorsains has a profound effect on the speed of brain-based learning research. Meanwhile, research on history textbooks mostly takes the theme of historiography and minimal research on its use in learning. This is where the importance of research is brain based learning and social studies textbooks. Textbook research related to brain-based learning has been initiated by the team since 2013. This year's research, researchers will conduct further research on brain-based learning as the basis for making IPS comic textbooks. Based on the study of previous research findings, the application of Neuropedagogy in IPS textbooks in the form of comics includes: time line, a glimpse of info, historical lessons, behind characters, mind maps, historical caricatures, historical humor, historical mysteries, contemporary issues, if history, and memorizing strategies . The main limitation of this research problem is how is the application of brain-based learning in social studies text books VII class? This research uses a research and development approach model with the steps in this process referring to the form of a cycle.
Kehidupan Sosial Budaya Masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942) dari Sudut Pandang Novel Sejarah Fauzi, Wildan Insan; Santosa, Ayi Budi
Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah Vol 3, No 2 (2020): Pembelajaran Sejarah dan Kearifan Lokal
Publisher : Prodi. Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dan APPS (Asosiasi peneliti dan Pendidik Sejarah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.83 KB) | DOI: 10.17509/historia.v3i2.21675

Abstract

Novel-novel sejarah membantu dalam mengisi kekurangan dalam menggali fakta fakta sosial atau fakta-fakta mental yang tidak terekam dalam sumber-sumber dokumen. Sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini secara makro adalah “Bagaimana narasi pergerakan nasional Indonesia (1900-1942) dari sudut pandang novel sejarah?”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti akan mendeskripsikan gambaran apa adanya terhadap realitas masa Pergerakan Nasional di Indonesia (1900-1942) dari Sudut Pandang Novel Sejarah. Peneliti memilih metode historis sebagai metode penelitian dan studi litelatur sebagai teknik penelitian. Hasil penelitian menunjukan setting sosial dan budaya yang digambarkan pada novel sejarah antara lain: modernisasi, westernisasi, romantisme, arogansi Barat,  pers dan gagasan, rasa rendah diri bangsa terjajah, stratifikasi social dan diskriminasi, pendidikan, suasana politik etis, munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi, serta munculnya sentiment anti-tionghoa
Representation of the Indonesian Revolution in the Novel Di Tepi Kali Bekasi by Pramoedya Ananta Toer Gunawan, Rudy; Bandarsyah, Desvian; Fauzi, Wildan Insan; Rachmah, Huriah
Paramita: Historical Studies Journal Vol 31, No 2 (2021): History of Asia and Indonesia
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v31i2.28748

Abstract

Writing a historical novel is one of an author’s attempts to engage readers emotionally. A history written in the form of a story can prove to be more interesting since it consists of beautifully arranged words that can vividly draw the past. Even though both novels and textbooks issue certain life of communities, historical novels may encourage their readers to see a phenomenon found in history from different perspectives than those of historians’. For example, a romance novel entitled “Bekasi River” was written based on Pramoedya Ananta Toer’s experience of being isolated during the war against the British army. The problem discussed in this article is about the representation of Indonesia’s history during the war of independence in the novel “Di Tepi Kali Bekasi?”. This study used a qualitative content analysis method to understand and present ideas and examine historical elements within the novel. This study used content analysis to describe the details and characteristics of historical narratives. The historical narratives were then compared with historians’ study of the revolution in Bekasi. This comparison will show the relationship between the facts and the fiction found in the novel. There are five patterns of the relationship between those facts and fiction: first, the fictionalization of the characters is an imitation of the reality observed by the author. Second, the historians’ description clarifies the novel’s depiction of historical facts. Third, the historians’ narration is depicted in much more detail in the novel; Fourth, the description of facts in the novel consists of historical facts that historians also revealed; Fifth, the novel brings emotional elements to life, which are difficult to be found in historians’ work.Menulis novel sejarah adalah salah satu upaya penulis untuk melibatkan pembaca secara emosional. Sebuah sejarah yang ditulis dalam bentuk cerita bisa menjadi lebih menarik karena terdiri dari kata-kata yang disusun dengan indah yang dapat menggambarkan masa lalu dengan jelas. Meskipun baik novel maupun buku teks mengangkat kehidupan masyarakat tertentu, novel sejarah dapat mendorong pembacanya untuk melihat fenomena yang ditemukan dalam sejarah dari perspektif yang berbeda dari sejarawan. Sebagai contoh, sebuah novel roman berjudul “Sungai Bekasi” ditulis berdasarkan pengalaman Pramoedya Ananta Toer yang diisolasi selama perang melawan tentara Inggris. Masalah yang dibahas dalam artikel ini adalah tentang representasi sejarah Indonesia pada masa perang kemerdekaan dalam novel “Di Tepi Kali Bekasi?”. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk memahami dan menyajikan gagasan serta mengkaji unsur-unsur sejarah dalam novel. Penelitian ini menggunakan analisis isi untuk mendeskripsikan detail dan karakteristik narasi sejarah. Narasi sejarah tersebut kemudian dibandingkan dengan studi sejarawan tentang revolusi di Bekasi. Perbandingan ini akan menunjukkan hubungan antara fakta dan fiksi yang ditemukan dalam novel. Ada lima pola hubungan antara fakta dan fiksi tersebut: pertama, fiktifisasi tokoh merupakan tiruan dari realitas yang diamati oleh pengarang. Kedua, deskripsi sejarawan memperjelas penggambaran novel tentang fakta sejarah. Ketiga, narasi sejarawan digambarkan lebih detail dalam novel; Keempat, deskripsi fakta dalam novel terdiri dari fakta sejarah yang juga diungkapkan sejarawan; Kelima, novel menghidupkan unsur-unsur emosional yang sulit ditemukan dalam karya sejarawan.
CHAOS, MORAL DECADENCE, AND BETRAYAL (SATIRE IN "DI TEPI KALI BEKASI" NOVEL BY PRAMOEDYA ANANTA TOER) Rudy Gunawan; Desvian Bandarsyah; Wildan Insan Fauzi
LITERA Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v18i1.21146

Abstract

Indonesian revolution in 1945-1949 is a remarkable moment for all of Indonesian people which is full of heroic spirit. Interestingly, Pramoedya portrayed the revolution moment in the novel entitled “Di Tepi Kali Bekasi” with different point of view in which he used a sarcasm style of language to depicts the conditions and deliver his critics about behaviors of people from various clusters at that time. Therefore, this current study is motivated by interest to explore how satirical narrative is used in the novel. A qualitative content analysis with context unit was employed as a research method to describe and analyze in detail the description and characteristics of satire in the novel. Specifically, a concept of satire intended in this study is sarcasm, social criticism, and irony. Based on the results of analysis, there are some satirical elements in the novel namely social chaos, public unrest, bandits and robbery, betrayal, generation conflicts, youth nationalism, and immoral behavior and corruption of the army. In addition, according to Pramoedya's view, revolution is considered as an animalistic age where the revolution of soul is more important and needed by the nation instead of the armed revolution. Due to those facts, independence remains as a fake independence where unheard voice of the periphery and moral destruction are still the main problem. Generally, it is found that the satirical root in the novel is laid on two things namely Pramoedya's direct experience as a soldier and his ideas he wants to convey in the novel.Kata Kunci: Di Tepi Kali Bekasi, novel sejarah, Pramoedya Ananta Toer, satireCHAOS, DEKANDENSI MORAL, DAN PENGKHIANATAN(Satir dalam Novel Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer)AbstrakRevolusi fisik 1945-1949 merupakan periode yang disakralkan dan digambarkan penuh dengan semangat kepahlawanan. Namun, Pramoedya menggambarkan revolusi Indonesia dalam novel di Tepi kali Bekasi dengan gaya bahasa satir yang berisi kritikan tajam dan ironi terhadap perilaku berbagai kalangan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan narasi satir dalam novel Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk menggambarkan dan menganalisis secara detail deskripsi dan karakteristik satir dalam novel. Analisis data yang digunakan adalah unit konteks. Konsep satir yang dimaksud adalah sindiran, kritik sosial, dan ironi. Unsur satir yang terdapat dalam novel adalah kekacauan sosial (chaos), keresahan masyarakat, bandit dan rampok, pengkhianatan, konflik generasi, nasionalisme pemuda, serta perilaku amoral dan korupsi tentara. Cara pandang Pramoedya mengenai revolusi adalah revolusi sebagai zaman kebinatangan, revolusi jiwa lebih berhasil daripada revolusi bersenjata, kemerdekaan hanya kemerdekaan semu, suara kaum pinggiran, dan kehancuran moral. Akar satir dalam novel Di Tepi Kali Bekasi bertumpu pada dua hal, yaitu pengalaman langsung Pramoedya sebagai tentara dan gagasan-gagasan yang ingin disampaikannya dalam novel.Kata Kunci: Di tepi kali bekasi, novel sejarah, Pramoedya Ananta Toer, Satir
Pendidikan Nilai dari Karakter Sutan Syahrir Wildan Insan Fauzi; Iing Yulianti; Firizki Parawita
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v9i1.24883

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya penggalian karakter tokoh bangsa yang diperuntukan untuk generasi muda yang sedang dalam proses mencari jati diri. Mereka memerlukan “contoh” yang akan dijadikan model dalam membangun kepribadiannya. Pendidikan Nilai dari tokoh tokoh bangsa tersebut memberi bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Batasan utama masalah penelitian ini adalah “nilai-nilai apa saja yang dapat digali dari kehidupan Sutan Syahrir untuk dapat dikembangkan dalam pembelajaran sejarah[”?. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan analisis isi untuk mendapatkan gambaran mengenai karakter Sutan Syahrir. Terdapat delapan buku yang ditelaah yang menulis biografi Syahrir, antara lain karya Anwar (2011), Firdaus (2015), Indro (2009), Legge (2003), Masyhudi (1997), Mrazek (1996), Romandhon (2018), dan Santoso  (2014). Analisis kajian sejarah Sutan Syahrir memberikan gambaran mengenai pendidikan, idealisme dan kepemimpinan, sikap pemalu dan pendiam, diplomat ulung, percintaan dan hubungan sosial, perilaku kebarat-baratan dan kecintaan pada seni, konflik dengan Seokarno, serta keaktifan di organisasi.
ALAM BERKEMBANG MENJADI GURU (Nilai-Nilai Kehidupan Buya Hamka sebagai Sumber Pembelajaran Nilai di IPS) Wildan Insan Fauzi; Yusuf Faisal Ali
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.141 KB) | DOI: 10.15408/sd.v4i2.7991

Abstract

Assessing the thinking of a character is one of the attempts to decipher history in the form of biography that is necessary as a value-based subject matter in social studies, which is historical consciousness and wisdom about how we should treat life. This article uses a historical approach to analyze Hamka's personality in his youth until he becomes chairman of the MUI. Hamka is known as a rhetorical figure, firm, flexible and independent mindeness. A flexible personality coupled with his charismatic figure, friendly, humble attitudes and names known to everyone make him acceptable to all. The character of Hamka and how the characters are formed are values that are very useful for students to understand in Social Studies.
Penggunaan Komik Bertema Mitigasi Bencana Alam pada Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Siswa Shabirah Sulistiyani; Nana Supriatna; Wildan Insan Fauzi
ENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v4i2.6952

Abstract

Penelitian ini bermula dari urgensi penerapan pendidikan mitigasi di persekolahan, terlebih wilayah yang memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana. Pada dasarnya di Indonesia kurikulum mitigasi bencana diterapkan dengan diintegrasikan dalam mata pelajaran, termasuk IPS. Berdasarkan letak geografisnya SMPN 3 Cibadak Kabupaten Sukabumi, merupakan wilayah yang dilintasi Sesar Cimandiri, sehingga rentan akan bencana gempa bumi. Selain itu wilayah tersebut rentan bencana pada peringkat ketiga secara nasional. Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada subjek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiaagaan bencana siswa dengan menggunakan komik bertema mitigasi bencana yang dirancang peneliti. Metode yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Mc. Taggart. Hasil penelitian menunjukkan dengan penggunaan komik dan langkah perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana siswa. Peningkatan kesiapsiagaan disimpulkan berdasarkan hasil observasi dan juga tes yang dilakukan. Hal yang mempengaruhinya yaitu cerita yang mengaitkan dengan aspek yang dekat dengan siswa dan menarik bagi siswa. Sehingga siswa memiliki minat mempelajari komik dan pemahaman siswa meningkat. Selain itu dipengaruhi dengan konsep yang ada didalam komik, seperti “if history” atau membawa siswa masuk kedalam materi sejarah yang diintegrasikan disajikan dalam mata pelajaran yang juga berkontribusi dalam memahami isi komik. Disamping itu diperlukan metode pembelajaran yang tepat serta tidak hanya aktifitas membaca komik tetapi diarahkan terhadap aktifitas lain seperti diskusi, tanya jawab, games, simulasi atau bermain peran dengan komik sebagai skenario.