Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Ulkus Kaki Diabetik Kanan dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 Muhartono Muhartono; I Ratna Novalia Sari
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia dan intoleransi glukosa yang terjadi karena kelenjar pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara adekuat yang atau karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif atau kedua-duanya. Prevalensi menurut World Health Organization, bahwa sekitar 150 juta orang menderita diabetes melitus di seluruh dunia, dan jumlah ini mungkin dua kali lipat pada tahun 2025. Diabetes tipe 2jauh lebih umum dan menyumbang sekitar 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia. Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi akibat gejala neuropati yang menyebabkan hilang atau berkurangnya rasa nyeri dikaki, sehingga apabila penderita mendapat trauma akan sedikit atau tidak merasakan nyeri sehingga mendapatkan luka pada kaki. Pasien wanita, usia 54 tahun datang dengan keluhan luka pada kaki kanan yang sulit sembuh yang semakin memberat sejak 1 minggu. Luka mengeluarkan nanah yang bau, bengkak, hiperemis, nyeri, dan tampak terlihat otot sekitar. Keluhan disertai demam yang hilang timbul danpasien memiliki riwayat DM yang tidak terkontrol sejak 3 tahun yang lalu. Penatalaksanaan ulkus kaki diabetik harus dilakukan dengan segera meliputi kendali metabolik terutama pengendalian kadar glukosa darah, kendali vaskular, kendali infeksi, kendali luka, kendali tekanan, dan penyuluhan.Kata Kunci: diabetes melitus, ulkus diabetik, ulkus kaki
Peran Estrogen Receptor (ER), Progesteron Receptor (PR), dan Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER-2) untuk Memprediksi Stadium Klinis Kanker Payudara Singgih Suhan Nanto; Muhartono Muhartono; Anggraeni Janar Wulan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker payudara adalah suatu penyakit yang banyak menyerang wanita dan merupakan penyebab kematian terbesar pada wanita. Diagnosis kanker payudara sendiri diperoleh dengan cara pengambilan biopsi jarum halus sebelum prosedur bedah. Kemudian dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan reseptor penanda dari kanker seperti pemeriksaan Estrogen Reseptor (ER), Progesteron Reseptor (PR), dan Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER-2). Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara status ER, PR, HER-2 dengan status stadium klinis pasien kanker payudara. Penelitian ini dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2015 di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Bandar Lampung menggunakan metode Observasional Analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling, didapatkan sebesar 68 responden. Pada penelitian hubungan status ER dan PR dengan status stadium klinis didapatkan hubungan antara status ER dan PR dengan status stadium klinis bermakna dibuktikan dengan nilai (p=0,015) dan (p=0,019), untuk nilai korelasinya didapatkan (r=-0,293) dan (r=-0,283) hubungan bersifat terbalik, sedangkan untuk hubungan status HER2 dengan stadium klinis didapatkan nilai tidak bermakna dibuktikan dengan nilai (p=0,195).Kata kunci: estrogen receptor, human epidermal growth factor receptor 2, kanker payudara, progesteron receptor
Dampak Penggunaan Pestisida Organoklorin terhadap Risiko Kanker Payudara Reni Agustin; Muhartono Muhartono
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pestisida selain untuk mengontrol hama dan penyakit pada tanaman, pestisida juga berdampak negatif pada kesehatan. Jenis pestisida yang paling banyak digunakan ialah insektisida. Insektisida dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu pestisida organoklorin, organofosfat dan karbamat. Pestisida organoklorin seperti Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) yang sudah dilarang penggunaannya di Indonesia tetapi dari beberapa penelitian masih ditemukan. Organoklorin secarakimia tergolong toksisitasnya yang relatif rendah akan tetapi mampu bertahan lama dalam lingkungan. Berbagai penelitian menemukan kadar DDT yang tinggi pada sampel darah pasien kanker payudara. Paparan organoklorin dalam lingkungan kemungkinan memiliki efek signifikan terhadap risiko kanker payudara. Ahli toksikologi telah menemukan bahwa bahan kimia sintetis (DDT) dapat meniru aksi hormon estrogen yang diduga hal ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga terjadi peningkatan proses proliferasi sel pada payudara.Kata kunci: DDT, pestisida organoklorin, risiko kanker payudara