Pengelolaan bank sampah di tingkat desa masih menghadapi kendala berupa pencatatan manual, keterbatasan literasi digital, serta rendahnya efisiensi dalam pelaporan kegiatan. Kondisi tersebut juga ditemukan pada unit-unit bank sampah di Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang telah menjalankan kegiatan pemilahan dan penimbangan sampah secara rutin tetapi belum didukung sistem administrasi digital yang memadai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada sosialisasi digitalisasi bank sampah sebagai tahap awal penguatan kapasitas mitra sebelum implementasi teknologi dilakukan secara penuh. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan kader mengenai pemilahan sampah, dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, serta memperkenalkan rancangan aplikasi bank sampah digital sebagai solusi atas permasalahan pencatatan dan pelaporan. Metode kegiatan dilakukan melalui survei awal, penyusunan materi edukasi, pelaksanaan sosialisasi, diskusi interaktif, serta evaluasi pemahaman peserta. Sosialisasi dilaksanakan pada 4 Juli 2025 di Balai Desa Rawapanjang dan diikuti oleh 32 kader dari setiap unit bank sampah. Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi peserta yang tinggi, peningkatan pengetahuan kader berdasarkan hasil tes setelah pemaparan materi, serta munculnya antusiasme kader terhadap penggunaan aplikasi untuk mendukung pengelolaan bank sampah yang lebih tertib dan transparan. Kegiatan ini menegaskan bahwa sosialisasi digitalisasi bank sampah memiliki peran penting dalam membangun kesiapan sosial, teknis, dan kelembagaan masyarakat menuju pengelolaan sampah berbasis teknologi di tingkat desa. Waste Bank, Digitalization, Cadres, Environmental Literacy, Socialization. Waste bank management at the community level still faces obstacles such as manual recording, limited digital literacy, and low efficiency reporting. This condition is also found in waste bank units in Desa Rawapanjang, Bojonggede District, Bogor Regency, which routinely carry out waste sorting and weighing activities but lack an adequate digital administration system. This community service activity focuses on the socialization of waste bank digitalization as an initial stage of strengthening partner capacity before full technology implementation. The objective of the activity is to increase cadres' knowledge about waste sorting, the impact of waste management on health and the environment, and introduce a digital waste bank application design as a solution to recording and reporting problems. The activity method is carried out through an initial survey, development of educational materials, implementation of socialization, interactive discussions, and evaluation of participant understanding. The socialization was held on July 4, 2025, at the Rawapanjang Village Hall and was attended by 32 cadres from each waste bank unit. The activity results showed high participant participation, increased cadre knowledge as evidenced by post-presentation test results, and cadres' enthusiasm for using the application to support more orderly and transparent waste bank management. This activity confirms that the socialization of waste bank digitalization has a crucial role in building the social, technical, and institutional readiness of the community towards technology-based waste management at the community level.