Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Spasial Jasa Ekosistem Pendukung Pembentukan Lapisan Tanah dan Pemeliharaan Kesuburan Serta Siklus Hara untuk Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup di Kabupaten Simeulue Siti Olia Sari; Yulia Dewi Fazlina; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.386 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18402

Abstract

Abstrak. Jasa ekosistem merupakan suatu solusi permasalahan dalam penyusunan dan penetapan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup secara lengkap dan menyeluruh sehingga sangat penting digunakan dalam inventarisasi khususnya pada jasa ekosistem pendukung. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan teknik analisis spasial menggunakan overlay intersect. Data atribut yang di overlay berupa peta ekoregion dan peta tutupan lahan yang sebelumnya masing-masing telah diisi dengan nilai pakar dari jasa ekosistem pendukung. Hasil overlay tersebut berupa nilai indeks jasa ekosistem yang sebelumnya di peroleh menggunakan rumus yang telah ditentukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa jasa ekosistem pendukung pembentukan lapisan tanah dan pemeliharaan kesuburan untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di Kabupaten Simeulue didominasi oleh kelas sangat tinggi mencapai 173.190,78 ha (81,50%)  Sedangkan yang memiliki luas wilayah terkecil berada pada kelas sedang dengan luas mencapai 68,08 ha (0,03%) dari wilayah keseluruhan Kabupaten Simeulue. Sedangkan pada jasa ekosistem pendukung siklus hara untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di Kabupaten Simeulue didominasi oleh kelas sangat tinggi mencapai 173.455,98 ha (81,62%) dari wilayah keseluruhan Kabupaten Simeulue. Abstract. Ecosystem services are a solution to problems in the preparation and determination of the carrying capacity and capacity of the environment in a complete and thorough manner so it is very important to use in inventory, especially in supporting ecosystem services. The study used descriptive analysis methods with spatial analysis techniques using overlay intersects. Attribute data overlayed in the form of ecoregion maps and land cover maps that have previously each been filled with expert value from supporting ecosystem services. The overlay results are in the form of ecosystem service index values that were previously obtained using a predetermined formula. The results of the analysis showed that ecosystem services supporting soil layer formation and fertility maintenance for carrying capacity and environmental capacity in Simeulue Regency were dominated by a very high class reaching 173,190.78 ha (81.50%) while those with the smallest area were in the moderate class with an area reaching 68.08 ha (0.03%) of the overall area of Simeulue Regency. While thereare nutrient cycle supportecosystem services for carrying capacity and environmental capacity in Simeulue Regency dominated by a very high class reaching 173,455.98 ha (81.62%) of the overall area of Simeulue Regency.
Automatic Palm Counting Menggunakan Citra Resolusi Spasial Tinggi Dea Ultami; Yulia Dewi Fazlina; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.04 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.18990

Abstract

Abstrak. Perkebunan kelapa sawit Batee Puteh merupakan daerah pengembangan luas lahan kelapa sawit yang berada di PT ASN Perkebunan Kelapa Sawit Batee Puteh. Perkembangan tersebut menjadi salah satu masalah yang perlu dilakukannya monitoring lahan secara akurat dan berkala untuk mengontrol produktivitas kelapa sawit dengan menerapkan konsep “Automatic Palm Counting”. Untuk mendapatkan hasil perhitungan automatic palm counting menggunakan metode template matching. Metode ini memerlukan tiga tahapan yaitu seleksi sampel, hasil sampel dan test template. Hasil penelitian automatic palm counting dibagi menjadi dua kategori area yaitu berdasarkan citra resolusi tinggi (google earth) dan foto udara (drone). Untuk automatic palm counting berdasarkan citra resolusi tinggi (google earth) yaitu area blok 12 AU diperoleh jumlah pohon sebanyak 1.274 dan area blok 12 AV diperoleh jumlah pohon sebanyak 1.811 sedangkan untuk hasil automatic palm counting berdasarkan foto udara (drone) yaitu area blok 12 AU diperoleh jumlah pohon sebanyak 1.531 dan area blok 12 AV diperoleh jumlah pohon sebanyak 2.149.Automatic Palm Counting Using High Spatial Resolution ImageAbstract. Batee Puteh oil palm plantation is a development area of oil palm area located in PT ASN Batee Puteh Palm Oil Plantation. This development is one of the problems that requires accurate and periodic land monitoring to control oil palm productivity by applying the concept of "Automatic Palm Counting". To get the results of automatic palm counting calculations using the template matching method. This method requires three stages, namely sample selection, sample results and test templates. The results of automatic palm counting research are divided into two area categories, namely based on high resolution images (google earth) and aerial photos (drones). For automatic palm counting based on high resolution imagery (google earth) namely the 12 AU block area, 1.274 trees were obtained and the 12 AV block area obtained 1.811 trees, while for automatic palm counting results based on aerial photography (drone) namely the 12 AU block area, the number of trees as many as 1.531 and the area of block 12 AV obtained the number of trees as much as 2.149.
Analisis Penggunaan Lahan Basah Eksisting Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kawasan Peri Urban Kota Banda Aceh (Studi Kasus: Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar) Desra Sahputra; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.683 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5211

Abstract

Abstrak. Penyimpangan penggunaan lahan sangat sering terjadi terhadap rencana tata ruang wilayah (RTRW). Daerah pinggiran kota merupakan wilayah yang banyak mengalami perubahan penggunaan lahan terutama perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian. Adapun tujuan penelitian untuk menganalisis tingkat keselarasan penggunaan lahan basah eksisting di Kecamatan Darul Imarah berdasarkan RTRW. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survai. Sedangkan analisis data spasial menggunakan SIG dengan konsep extract, overlay dan reclassify. Hasil kajian menunjukkan sebesar 583,94 ha (86,68%) sawah eksisting di kawasan kajian telah selaras dengan RTRW dan yang tidak selaras yaitu sebesar 0,15 ha (0,02%). Sementara 89,57 ha (13,3%) sawah eksisting lainnya ditemukan belum selaras dengan RTRW Kabupaten Aceh Besar tahun 2012-2032.The Use of Existing Wetland Analysis Based On Spatial Planning in Peri Urban Area in Banda Aceh (Case study: Darul Imarah Subdistrict Aceh Besar Regency)Abstract. The deviation of land use is very frequent happened to spatial planning. Suburban areas are areas which undergo many changes in land use, especially changes in the use of agricultural land to non-agricultural. The purpose of the research is to analyze the aligned level of the existing wetland use in Darul Imarah sub-district based on spatial planning. The method used in this research was descriptive method with survey technique. While the spatial data analysis was using GIS with extract, overlay and reclassify concept. The result of the study showed that 583.94 ha (86.68%) of the existing fields in the study area were aligned with the RTRW and the non-aligned ones were 0.15 ha (0.02%). Meanwhile, 89.57 ha (13.3%) of other existing rice fields had not been aligned with the spasial planning of Aceh Besar Regency in 2012-2032.
Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Pengembangan Sere Wangi Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di kecamatan Tripe Jaya Kabupaten Gayo Lues M Rusdi Abduh Hasim; Sugianto Sugianto; Abubakar Karim
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.355 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20037

Abstract

Abstrak. Sere Wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan salah satu tanaman atsiri dari famili Gramineae yang banyak digunakan dalam berbagai industri parfum, kosmetik, makanan, minuman dan obat-obatan. Selain itu, juga digunakan sebagai bahan pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman. Minyak sere wangi merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang banyak dikembangkan di Indonesia. Melihat potensi minyak sere wangi di pasar dengan harga yang sangat menjanjikan, maka perlu dilakukan kajian kesesuaian lahan sebagai arahan pengembangan sere wangi, baik areal yang sudah ditanami maupun areal baru yang berpotensi dikembangkan di sentraproduksi sere wangi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan tanaman sere wangi, di Kecamatan Tripe Jaya Kabupaten Gayo Lues. Penelitian telah dilaksanakan di Kecamatan Tripe Jaya Kabupaten Gayo Lues dan pengolahan data telah dilaksanakan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi,Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan metode survai lahan melalui deskriptif kuantitatif serta melakukan analisis terhadap data dan informasi yang didapatkan di lapangan. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan, yaitu persiapan, pra pengolahan citra, kegiatan lapangan (ground check), analisis data, melakukan metode tumpang susun (overlay) dengan menggunakan analisis SIG, dan membandingkan (matching) antara karakteristik lahan dan persyaratan tumbuh tanaman sere wangi. Hasil penelitian diperoleh bahwa kelas kesesuaian lahan aktual untuk sere wangi di kawasan pengembangan sere wangi di Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo lues secara aktual dapat dikatagorikan sebagai sesuai marginal (S3) dengan faktor pembatas paling dominan adalah lereng l Lebihdari 30%. Setelah dilakukan usaha perbaikan, secara potensial kesesuaian lahan pada pengembangan sere wangi di kawasan tersebut dalam digolongkan kedalam kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), yaitu dengan usaha pada faktor pembatas lereng dapat diperbaiki dengan mengatur jarak tanam dan penanaman mengikuti konturLand Suitability Evaluation for the Citronella Development Using Sytems Information Geospatial in Tripe Jaya Sub-District, Gayo Lues Regency.Abstract. Sere Wangi (Cymbopogon nardus L.) is one of the essential plants of the Gramineae family that is widely used in various perfume, cosmetics, food, beverage and pharmaceutical industries. In addition, it is also used as a vegetable pesticide material for pest control and plant diseases. Perfumed sere oil is one type of essential oil that is widely developed in Indonesia. Seeing the potential of fragrant air oil in the market at a very promising price, it is necessary to study land suitability as a directive on the development of fragrant batteries, both planted acreage and new areas that have the potential to be developed in the center of the fragrant sere production. This research aims to determine the level of suitability of fragrant sere plant land, in Tripe Jaya District of Gayo Lues Regency. Research has been conducted in Tripe Jaya District of Gayo Lues Regency and data processing has been carried out at remote sensing and cartography laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. This research uses land survey methods through quantitative descriptive and conducts analysis of data and information obtained in the field. Research is carried out through several stages of activities, namely preparation, pre-image processing, field activities (ground check), data analysis, performing the overlay method using SIG analysis, and comparing (matching) between the characteristics of the land and the growing requirements of fragrant sere plants. The results of the study obtained that the aktual land suitability class for fragrant sere in the fragrant sere development area in Tripe Jaya District, Gayo Lues Regency. Aktual can be categorized as corresponding marginal (S3) with the most dominant limiting factor being slope l More than 30%. After improvement efforts, potentially the suitability of the land in the development of fragrant sere in the area in classified into the appropriate land suitability class (S2), namely with efforts on slope limiting factors can be improved by regulating planting distance and planting following contours.
Identifikasi Kebakaran Hutan dengan menggunakan Citra Sentinel-2 pada Kawasan Hutan Seulawah Agam, Aceh Besar Indri Arizky; Muhammad Rusdi; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.019 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20977

Abstract

Abstrak. Kebakaran hutan merupakan suatu bentuk bencana yang di picu oleh faktor alam maupun faktor kelalaian manusia, bencana ini mempunyai dampak terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat. Salah satu dampaknya adalah degradasi hutan dan lahan terutama keanekaragaman hayati didalamnya. Untuk dapat menyusun rencana rehabilitasi pasca kebakaran pada wilayah yang luas dibutuhkan data area terbakar yang sudah terklasifikasi tingkat keparahan terbakarnya Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2021 di Kawasan Hutan Seulawah Agam dan analisis data serta pembuatan peta dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Pada penelitian ini akan melakukan perhitungan tingkat keparahan terbakar pada kebakaran tahun 2018 di kawasan hutan seulawah agam. Data areal terbakar dianalisis dengan metode Normalized Burn Ratio dari Citra sentinel-2 yang menggunakan kanal Near Infra Red (NIR) dan kanal Short Wave Infra Red (SWIR). Metode NBR memiliki 4 kelas yaitu Tidak Terbakar, Tingkat Keparahan Rendah, Tingkat Keparahan Sedang, Tingkat Keparahan Tinggi. Hasil analisis uji akurasi pada tahun 2018 overall accuracy NBR memiliki nilai sebesar 86,05% dan nilai kappa accuracy nya 79,60%Forest fire identification using sentinel-2 imagery Seulawah Agam Forest, Aceh BesarAbstract. Forest fire is a form of natural disaster that is triggered by naturals factor or human mistaken; this disaster has an impact on society. Forest-land degradation and extinction of biodiversity are one or more impacts of a forest fire. Post-fire forest rehabilitation planning as a solution has to stack by Land forest fire area as an essential data that has been classification the level of a forest fire. The research has been carried out from February to May 2021 in the Seulawah Agam Forest area. Data analysis and mapping were formed in the Remote sensing and Carthograpy laboratory of the Agriculture Faculty of Syiah Kuala University. The research prefers to count forest fire levels in 2018 in the Seulawah Agam Forest area. Normalized Burn Ratio in Citra Sentinel-2 Near Infra-Red (NIR) and Short Wave Infra-Red (SWIR) was used for data analysis. NBR Methode uses 4 class levels: un-fire level severity, low-level severity, medium level severity, and high-level severity. The accurate analisy result in 2018 is overall accuracy which is 86% point result and Kappa Accuracy is 79,60% points.
Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Kopi Robusta (Coffea canephora) Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara Ilham Raobi; Yulia Dewi Fazlina; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.346 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18442

Abstract

Abstrak. Kabupaten Aceh Tenggara ingin merencanakan kawasan pengembangan kopi robusta di Kecamatan Darul Hasanah yang banyak didominasi pada Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan yang akan dijadikan pengembangan kopi robusta di Kecamatan Darul Hasanah telah menjadi kawasan kemitraan konservasi, Untuk menjamin kelestarian lingkungan maka perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lahan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis dalam analasisnya untuk mendapatkan hasil peta kesesuaian lahan untuk pengembangan kopi robusta. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan kopi robusta dan mengetahui luas lahan yang berpotensi untuk pengembangan kopi robusta di Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei deskriptif. Pencocokan (matching) dilakukan dengan menggunakan data karakteristik lahan dengan syarat tumbuh tanaman kopi robusta untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan. Pengolahan data pemetaan dilakukan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis. Lokasi rencana pengembangan kopi robusta di Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara memiliki 10 satuan peta lahan dengan tingkat kesesuaian lahan aktual tergolong cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3) dengan faktor pembatas curah hujan (wa), kemiringan lereng (eh), batuan di permukaan (lp) dan retensi hara (nr). Tingkat kesesuaian lahan potensial tergolong cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas curah hujan (wa). Kawasan yang berpotensi untuk pengembangan kopi robusta di kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara memiliki luas 353,76 hektar.Evaluation of Land Suitability for Robusta Coffe (Coffea canephora) Development using Geographic Information System in Darul Hasanah Sub-District of Southeast Aceh RegencyAbstract. Southeast Aceh Regency wants to plan a robusta coffee development area in Darul Hasanah District, which is mostly dominated by the Gunung Leuser National Park Area. The area that will be used as robusta coffee development in Darul Hasanah District has become a conservation partnership area. To ensure environmental sustainability, it is necessary to evaluate land suitability by utilizing Geographic Information Systems in its analysis to obtain land suitability maps for robusta coffee development. This study aims to determine the level of suitability of robusta coffee land and determine the area of land that has the potential for robusta coffee development in Darul Hasanah District, Southeast Aceh Regency. This research was conducted with a descriptive survey method. Matching is done by using data on land characteristics with the conditions for growing robusta coffee plants to determine the level of land suitability. Mapping data processing is done by utilizing the Geographic Information System. The location of the Robusta coffee development plan in Darul Hasanah District, Southeast Aceh Regency has 10 land map units with the actual land suitability level classified as quite suitable (S2) and marginally suitable (S3) with limiting factors of rainfall (wa), slope (eh), rocks on the surface (lp) and nutrient retention (nr). The level of potential land suitability is quite suitable (S2) with the limiting factor of rainfall (wa). The area that has the potential for robusta coffee development in Darul Hasanah sub-district, Southeast Aceh district has an area of 353.76 hectares.
Pemetaan Kebun Kopi Rakyat dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Nagan Raya Devi Andriani; Sugianto Sugianto; Abubakar Karim
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.625 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22148

Abstract

Abstrak. Kopi merupakan komoditas ekspor terpenting kedua dalam perdagangan global. Saat ini lebih dari 90% dari areal pertanaman kopi Indonesia terdiri atas kopi robusta. Di Provinsi Aceh petani telah lama mengembangkan kopi robusta namum belum dikelola secara baik. Tujuan penelitian ini adalah memetakan kebun kopi rakyat eksisting dan potensi pengembangannya di Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini menggunakan metode survei dan analisis deskriptif. Luas kebun kopi rakyat eksisting dipetakan berdasarkan teknik klasifikasi visual on screen. Untuk memastikan klasifikasi kebun kopi rakyat eksisting di lapangan di awali dengan pengambilan titik koordinat di lapangan dan menggunakan kunci interpretasi citra. Hasil analisis menghasilkan 37 hamparan dan luasan kebun kopi rakyat eksisting di Kabupaten Nagan Raya seluas 245,60 ha. Hamparan kebun kopi rakyat terluas berada di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang seluas 152,53 ha (62,12%), sedangkan hamparan kebun kopi rakyat terkecil terdapat di Kecamatan Kuala Pesisir dengan luas 0,04 ha (0,02%).Mapping the People's Plantation and its Development Potential in Nagan Raya DistrictsAbstract. Coffee is the second-most exported commodity based on global trade. Nowadays, more than 90% of the coffee farming area in Indonesia is Robusta. Farmers in Aceh have long developed Robusta, but it was not yet manageable in a proper manner. The primary purpose of this research was to map the area of coffee farming and its potential in the Nagan Raya regency. This research was conducted using the analysis descriptive survey method with a classification technique of visuals on screen and based on the taking of coordinates in the field and the key of (image) interpretation. The result showed that 37 coffee area was detected. There are 245,60 hectares of coffee farming in Nagan Raya. The largest area was found in Beutong Ateuh Benggalang, within 152,53 hectares or 62% of the overall area. In contrast, the smallest area was found in Kuala Pesisir, within 0,04 hectares or 0,02% of the overall area.
Perubahan Penggunaan Lahan Kabupaten Simeulue Tahun 2017-2022 menggunakan Metode Maximum Likelihood Kirana Putri Amalia; Yulia Dewi Fazlina; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.934 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24288

Abstract

Abstrak. Penggunaan lahan bersifat dinamis, dapat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan penggunaan lahan biasanya disebabkan oleh aktivitas manusia di muka bumi untuk memenuhi kebutuhan lahan untuk activitas kehidupnya, terutama untuk daerah-daerha yang terus mengalami perkembangan pembangunan. Kabupaten Simeulue merupakan daerah yang sedang berkembang, sehingga dalam pembangunannya memerlukan lahan. Perubahan penggunaan lahan dapat diketahui dengan cara melakukan pemetaan perubahan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan penggunaan lahan Kabupaten Simeulue dalam kurun waktu5 tahun (2017-2022) menggunakan metode Maximum Likelihood dengan mengacu pada  sistem klasifikasi Standar Nasional Indonesia Tahun 2014. Hasil penelitian didapat 8 kelas penggunaan lahan Kabupaten Simeulue pada periode 2017-2022. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Simeulue pada tahun 2017-2022 luas perubahan penggunaan lahan terbesar adalah hutan seluas 6.41% (10.010,99 Ha) dan areal perubahan yang kecil adalah Perkebunan yaitu seluas -3,15% (178,59 Ha) dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Simeulue.Changes in Simeulue Regency Land Use in 2017-2022 using the Maximum Likelihood MethodAbstract. Land use is dynamic and subject to change over time. Human activities on earth usually cause changes in land use to meet the needs of their activities on land. Simeulue Regency is a developing area, so it requires land. Land use change can be identified by mapping land use change. This study aims to see land use changes in Simeulue Regency within 5 years (2017-2022) using the Maximum Likelihood Classification method and referring the  2014 Indonesian National Standard classification system standard. The results indicated 8 classes of land use of Simeulue Regency in the 2017-2022 period. From the result, it can be concluded that the land use change in Simeulue Regency in 2017-2022 the largest area of land use change is a forest covering an area of 6.41% (10,010.99 Ha),  and a small area of change is plantations, which is an area of -3.15% (178.59 Ha) of  the total area of Simeulue Regency
Analisis Spasial Tanaman Kopi Arabika Berdasarkan Ketinggian Tempat di Kabupaten Gayo Lues Tada Syalahuddin; Sugianto Sugianto; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.334 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.11039

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan luas dan sebaran tanaman kopi arabika berdasarkan ketinggian tempat di Kabupaten Gayo Lues. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan teknik survei yang terdiri dari empat tahapan yaitu tahapan persiapan, pra pengolahan citra satelit, survey lapangan dan analisis data spasial. Adapun hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sebaran tanaman kopi arabika yang dibudidayakan diatas ketinggian 1200 – 1400 m dpl memiliki luas 757,83 ha, sedangkan tanaman kopi arabika yang ditanam di atas ketinggian 1600 – 1800 m dpl memiliki luas 0,48 ha.Spatial Analysis of Arabica Coffee Plants Based on Altitude Place  in Gayo Lues RegencyAbstract. This study aims to map out the area and distribution of arabica coffee plants by altitude in the district of Gayo Lues. This research was conducted with descriptive methods with survey techniques consisting of four stages, namely the preparation stage, pre-processing of satellite images, field surveys and spatial data analysis. The results of this research note that the distribution of arabica coffee plants are cultivated on an altitude of 1200 - 1400 m dpl has an area of 757.83 ha, while arabica coffee plants grown above an altitude of 1600 to 1800 m dpl has an area of 0.48 ha.
Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) di Pesisir Timur Kota Sabang Zikri Lazuardi; Abubakar Karim; Sugianto Sugianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1428.251 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18872

Abstract

Abstrak. Garis pantai merupakan batas antara air laut dan daratan. Batas ini selalu berubah dengan sangat dinamis dan saling berintersaksi, perubahan secara sementara seperti adanya pasang surut maupun perubahan akibat abrasi dan akresi dalam kurun waktu yang lama. Perubahan garis pantai disebabkan oleh proses alami maupun aktivitas manusia dalam memanfaatkan kawasan pantai guna memenuhi kebutuhannya (Niya, et al., 2013). Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui terjadinya perubahan garis pantai, lebar perubahan garis pantai dan faktor penyebabnya. Analisis perubahan garis pantai diawali dengan pengumpulan data skunder, yaitu data citra landsat 5, 7 dan 8. Kemudian dilanjutkan dengan analisis menggunakan tools Digital Shoreline Analysis System  (DSAS). Hasil analisis menunjukan bahwa terjadi perubahan garis pantai dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Sebagian besar perubahan garis pantai mengalami abrasi dan hanya sebagian kecil yang mengalami akresi. Abrasi terjadi secara alami disebabkan oleh energi kinetik air laut sedangkan akresi terjadi di kawasan terbangun, yaitu pembangunan infrastruktur seperti di pelabuhan, dermaga dan kawasan-kawasan yang dibangun Seawall.Abstract. The coastline is the boundary between sea water and land. This boundary is always changing very dynamically and interacting with each other, temporary changes such as tides and changes due to abrasion and accretion over a long period of time. Changes in coastlines are caused by natural processes and human activities in utilizing coastal areas to meet their needs (Niya, et al., 2013). The purpose of this study is to determine the occurrence of shoreline changes, the width of shoreline changes and the factors causing it. The analysis of shoreline changes begins with the collection of secondary data, namely Landsat 5, 7 and 8 imagery. Then proceed with analysis using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) tools. The results of the analysis show that there has been a change in the coastline in the last 20 years. Most of the changes in the shoreline undergo abrasion and only a small part undergoes accretion. Abrasion occurs naturally due to the kinetic energy of seawater while accretion occurs in built-up areas, namely infrastructure development such as ports, docks and areas built by Seawall.